10 Puisi Joko yang (Menurut Kami) Paling Pinurbo

Oleh Dedy Tri Riyadi

KARENA puisi-puisinya banyak yang mengandung humor atau satire, ada saja yang menduga begitulah keseharian Joko Pinurbo, padahal ia sangat serius dalam urusan berpuisi. Meski ia mengatakan berpuisi itu merayakan kehidupan, namun ia juga kerap menganggap puisi adalah ibadah, lewat ungkapannya “Selamat menunaikan ibadah puisi.” Ia bahkan membaca kembali puisi-puisinya yang sudah pernah dibukukan atau dimuat di media massa sebelum membuat sebuah puisi.

Karena keseriusannya itulah, puisi-puisi Joko Pinurbo selalu kaya dalam aneka macam hal. Alat-alat bahasa seperti majas, perumpamaan, dan alat-alat puitika seperti metafora, rima, dan lainnya, selalu mengisi dalam penulisan puisinya. Uniknya lagi, ia pun sering menyisipkan istilah-istilah kekinian untuk menyegarkan puisinya. Belum lagi dengan membuat kreasi baru dari peribahasa yang pernah ada.

Berikut adalah 10 puisi Joko Pinurbo (oh ya, judul berisi tautan ke puisi masing-masing, jadi klik saja) yang menjadi pilihan redaksi LOKOMOTEKS:

  1. Mei

Puisi ini ia gubah untuk menggambarkan Jakarta tahun 1998 di saat terjadi kerusuhan yang melanda ibukota. Salah satu situasi terparah pada saat itu adalah pemerkosaan dan pembunuhan suku Tionghoa yang sampai sekarang belum rampung penyelidikannya. Mei sebagai nama bulan dituliskan seolah Mei sebagai nama seorang perempuan Tionghoa yang berarti indah atau cantik. Mei pamit untuk mandi api. Kerusuhan dan pembakaran serta penjarahan dituliskan dengan cara yang biasa sekali terjadi sehari-hari yaitu mandi. Dan mandi itu sendiri punya tujuan untuk membersihkan diri dari kotoran. Namun, apa yang terjadi setelah Mei itu mandi api? Tubuhnya hancur dan lebur bersama tubuh bumi. Mei dipermuliakan dalam ketiadaan.

  1. Di Salon Kecantikan

Keabadian, adalah harapan bagi setiap karya sastra, dan harapan bagi penulisnya untuk dikenang. Ini adalah motivasi yang menggoda, sampai-sampai Chairil menulis “aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Namun Joko Pinurbo dalam puisi ini justru seolah menarik-ulur keabadian tersebut. Apakah memang itu yang diinginkan? Mengapa takut tak kekal? Tulisnya. Bahkan Joko Pinurbo menyederhanakan atau malah melebih-lebihkan “keabadian” menjadi “kecantikan”. Sesuatu yang lebih ditakutkan memudar ketika orangnya masih hidup. Hingga di puisi ini pun ia menulis, “Kecantikan dan kematian bagai saudara kembar yang pura-pura tak saling mengenal.” Di akhir puisi, ia seperti memberi tekanan bahwa pada akhirnya setiap orang pasti punya gambaran bagaimana ia akan dikenangkan orang, dan itu memang sangat manusiawi.

  1. Kamus Kecil

Banyak orang selalu mengatakan bahwa karya seni, termasuk karya sastra, lahir dari bakat seseorang. Hal ini bisa jadi benar, meskipun sebenarnya keliru. Karya sastra tentu lahir dari kerja sastra. Bekerja, artinya mengumpulkan bahan, mengolahnya, hingga lahirlah hasilnya. Kerja sastra termasuk di dalamnya adalah mempelajari kata-kata. Joko Pinurbo lewat puisi ini membuktikan bahwa kejelian seorang penyair adalah mencari hubungan antar kata, menempatkannya dalam sebuah sintaksis sehingga beroleh arti baru, atau paling tidak menimbulkan kebaruan dalam persepsi pembaca. Semisal, “sumber segala kisah adalah kasih, ingin berawal dari angan, ibu tak pernah kehilangan iba.”

  1. Tuhan Datang Malam Ini

Dalam puisi ini, Joko Pinurbo mempertentangkan beragam keadaan. Kita bisa lihat bagaimana ketakutan dan kegemetaran disandingkan dengan perayaan. Permainan paradoks dan ironi dalam sajak ini masih ditambah dengan penggunaan majas litotes ketika “Tuhan” menuliskan tentang dirinya,”Saya ini cuma jejak-jejak kaki musafir pada serial catatan pinggir, dst.” Hal yang menyerempet pada inisial GM yaitu Goenawan Mohamad yang menulis rubrik Catatan Pinggir di Majalah Tempo.

  1. Dangdut

Sebagai penyair, tentu yang di-“main-main”-kannya adalah kata(-kata). Pergulatan dengan kata dalam puisi ini digambarkan sebagai joget dangdut. Kelihaian semacam ini belum pernah dimunculkan oleh penyair selain Joko Pinurbo di Indonesia. Bagaimana kata “dang” dan “dut” yang muncul dari bunyi tabla atau kendang itu ditarik ulur menjadi, “memburu dang dang dang dan ah susah benar mencapai dut” untuk membuktikan bahwa pergulatan penyair dengan kata itu sungguh asyik meskipun susah. Dan pada akhirnya kesabaran adalah kata kunci yang harus menjadi sikap penyair untuk terus bisa melahirkan puisi-puisinya.

  1. Celana, 2

Celana bagi Joko Pinurbo adalah metafora dari sesuatu yang tak habis-habis digali dalam puisi-puisinya. Celana bisa berarti apa saja. Dalam puisi ini, celana dijadikan sebagai batas. Dan kebebasan yang absurd justru lahir dari batasan itu. Sayangnya, orang-orang tak pernah belajar atau diajari dua sisi dari setiap keping batasan tersebut, sehingga pada akhirnya kita sering menemukan orang-orang yang berpemikiran jauh melebihi gambaran tentang kebebasan itu. Contohnya adalah Stephen Hawking yang melahirkan teori tentang terjadinya alam semesta dan lubang hitam. Pemikiran-pemikiran seperti ini mungkin menimbulkan lahirnya puisi Celana, 2 ini. Memainkan paradoks antara kesopanan, kemanisan dengan penakut dan pengecut, coretan dan gambar porno yang dibuat justru membuat orang cabul terhadap diri sendiri, dan kebebasan itu sering digembar-gemborkan sebagai produk asing utamanya dari Amerika. Benua yang ditemukan oleh Christopher Columbus.

  1. Lebih Dekat Dengan Engkau

Puisi ini ditulis dengan gaya eksperimental. Gabungan antara cerita pendek, reportase atau wawancara, dan tentunya, puisi. Yang suka pasa sajak dengan pengucapan yang padat pasti akan melewatkan sajak ini.  Ini sajak mungkin lahir di era-era ketika Joko Pinurbo berada di puncak renjana bereksperimen dengan beragai gaya ucap dan bentuk.

  1. Kamar 1105

Di dalam puisi ini, Joko Pinurbo kembali melakukan eksperimen dengan “membelah dirinya” sehingga tampil tokoh-tokoh bernama dirinya sendiri. Bahwa hidup dan (atau) mati ada seperti undian atau hadiah itu baru suatu hal yang bisa dipetik dari sajak ini tanpa kesan menggurui.

  1. Ranjang Ibu

Puisi ini sebenarnya hanya menyelaraskan perjalanan seorang anak yang hendak pergi tidur menaiki ranjang dengan kasih ibunda yang dirasakannya. Namun justru kesederhanaan dalam puisi ini terasa lembut sekaligus begitu dalam dan terasa sekali kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh kedua tokoh dalam puisi itu. Dan karena itulah, dua awak Lokomoteks ternyata pernah menangis membaca puisi ini.

  1. Perjamuan Petang

Celana kali ini muncul sebagai kenangan. Muncul juga sebagai sebuah patronage di dalam kehidupan. Sesuatu yang ditambahkan kemudian ke dalam kehidupan kita. Ada dua kunci untuk lebih jauh meneropong puisi-puisi Joko Pinurbo yang diperlihatkan dalam puisi ini, yaitu tubuh yang tidak butuh lagi celana adalah sakramen atau pengorbanan, sedangkan celana yang tak (pernah) kembali adalah testamen atau kesaksian. Dengan dua kunci itu, kita bisa sedikitnya terbantu dalam menelaah, misalnya, tubuh yang dimandikan itu sebagai hidup yang masih perlu diingatkan kembali pada hakikatnya, atau celana yang dipakai untuk mejeng di kuburan adalah sebuah kesaksian yang memperkuat kenangan kita akan seseorang yang telah tiada.

Iklan