Lokomoteks Edisi 2 / Mei 2017: Menafsir Joko Pinurbo




Dari Kami

Merayakan Joko Pinurbo

Oleh Dedy Tri Riyadi

MERAYAKAN Joko Pinurbo adalah merayakan puisi Indonesia hari-hari ini. Kemana pun mata kita memandang di negeri puisi kita hari ini, tak bisa kita untuk tak terpandang pada sajak penyair yang bermukim di Yogyakarta ini. Joko Pinurbo berdiri, duduk, tegak, atau berjalan dengan langkah tegas tapi santai dan ketika kita mengira dia telah sampai, dia ternyata membuat rute perjalanan baru.

Sepertinya mudah menjajari langkahnya, tapi ternyata itu perlu stamina yang tangguh, stamina seorang pejalan jauh. Memasuki dunia puisi, bagi Joko Pinurbo, bukan keputusan yang main-main, meskipun di dunia itu, Joko Pinurbo tak berhenti mengajak pembacanya untuk bermain-main dengan sungguh-sungguh.

Selengkapnya baca Merayakan….


Esai

Dedy Tri Riyadi: 10 Sajak Joko yang (menurut kami) Paling Pinurbo

Arco Transept: Mengimani Sepakbola dan Ibadah Puisi ala Jokpin

Astrajingga Asmasubrata: Ranjang Ibu dalam Tas Seminar


Wawancara

Dedy Tri Riyadi:  Joko Pinurbo –  Tidak Ada Puisi yang Jatuh dari Langit 

Drama

Muhammad Sadli: Lakon Eskperimental – Kamar 1105 

 


Puisi

Sajak Nanang Suryadi: Gulali Itu Pinurbo

Sajak Hasta Indriyana: Misalnya

Sajak F Aziz Manna: Rokok Jokpin, Kopi Jokpin

Sajak Cunong Nunuk Suradja: Mengemut Luka Suryadi di Gulali Pinurbo

Sajak Alex Robert Nainggolan: A.S.U., Penyadap Makna

Sajak Erik Nusantara: Pidato Presiden Pak Joko

Sajak Agus R Sarjono: Dongeng Setengah Baya

Sajak Agustinus Rangga Respati: Puting Ibu, Pada Bulan Oktober, Teras Hujan, Sanjak Buku

Sajak Puput Amiranti: Hikayat Pinurbo, Joko

Sajak Eko Ragil Al-Rahman: Ranjang Celana

Sajak Muhammad Daffa: Pasar Malam, Kitab Suci Bermimpi Buruk, Putaran Waktu, Bermain di Matamu, Telepon, Celana Koyak

Sajak Budhi Setyawan: Kibaran Celana Waktu, Asu Padamu, Menjelang Magrib, Sebelum Lupa Waktu, Sajak Doa, Pelukan

Sajak Galuh Puspita: Setelahnya, Sekelumit Doa, Irreversible, Pada Akhirnya, Takdir

Sajak Maulidan Rahman Siregar: Celana, Ada yang Diam Dalam Celana

Sajak Alfian Dippahatang: Berterima Kasih kepada Coto


SESUDAH masa mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu, dengan Penghargaan, Mimpi, Pengharapan, Cinta dan Dendam manusia. Kata ialah Kebenaran! –  Chairil Anwar dalam “Hoppla! 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s