Lokomoteks Edisi Khusus – Serawan Sajak-sajak Perempuan

Dari Kami:

Menjelajah Wilayah Tema
Sajak-Sajak Perempuan Penyair
Indonesia

Dalam sebuah pertemuan di sekitar peringatan Hari Puisi Indonesia, di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu silam, kami mendengar penuturan dari seseorang yang diam-diam mengamati sajak-sajak perempuan penyair di Indonesia, yang menurutnya belum banyak perubahan dari tema yang diangkat. “Masih sekitar sini,” katanya sambil menunjuk dada. Maksudnya, tema-tema yang diangkat oleh perempuan penyair Indonesia masih soal perasaan. Kami tak membantah saat itu. Kami penasaran. Benarkah tema-tema perempuan penyair Indonesia hanya berputar soal emosi, perasaan? Namun,  bukankah puisi memang sangat bertalian erat dengan emosi, dengan perasaan?

Menjelang akhir tahun, kami melakukan riset kecil-kecilan terhadap sajak-sajak ataupun puisi-puisi yang ditulis oleh para perempuan penyair Indonesia. Kami mulai dari Isma Sawitri, dan Siti Nuraini. Dua perempuan penyair yang namanya muncul buku Tonggak 2. Ternyata, puisi-puisi mereka berbicara tentang alam. Lanjut, kami baca sajak Toeti Heraty yang bicara soal eufimisme dalam perkataan.

Selanjutnya…


Serawan Sajak-sajak Perempuan Penyair Indonesia

  1. Agnes Sri Hartini Arswendo – Sajak di Sembarang Kampung
  2. Arahmaiani – Komposisi
  3. Avianti Armand – Tentang Sebuah Rumah
  4. Cynthia Hariadi – Duduk dan Berpikir
  5. Dina Oktaviani – Stasiun yang Kering
  6. Dorothea Rosa Herliany – Tidur Berdiri di Sebuah Plaza
  7. Diah Hadaning – Sebidang Tanah Luluh dalam Geguritan
  8. Evi Idawati – Dari Kekosongan
  9. Frischa Aswarini – Petang Penuh Pujaan
  10. Gratiagusti Chananya Rompas – Kota ini Jatuh
  11. Hanna Fransisca – Surat Buat Pahlawan
  12. Inggit Putria Marga – Bola Kristal
  13. Irma Agryanti – Upacara Tahun Baru
  14. Isma Sawitri – Pantai Utara
  15. Komang Ira Puspitaningsih – Impermanence
  16. Lan Fang – Tangis Belibis
  17. Laksmi Pamuntjak – Tentang Cahaya
  18. Mezra E Pellondou – Huma
  19. Nana Riskhi Susanti – Kepada Sangkuriang
  20. Nenden Elis Aisyah – Penjemput Maut
  21. Ni Made Purnamasari – Demam
  22. Nur Wahida Idris – Ketugtug
  23. Oka Rusmini – Ritus
  24. Pranita Dewi – Weton
  25. Rayani Sriwidodo – Percakapan Hawa dan Maria
  26. Saras Dewi – Agamaku
  27. Siti Nuraini – Buih
  28. Toeti Heraty – Post Scriptum
  29. Ulfatin Ch. – Aku Kota Sunyi
  30. Upita Agustine – Rinduku
  31. Yona Primadesi – Kampung Janda, 1983

For a while, I’ll let it make you strong,
make your heart lion,
then I’ll take it back.

(AI, Woman to Man)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s