Fernando Pessoa, Empat Namanya, Satu Orangnya

Oleh Habel Rajavani

EMPAT penyair terbesar yang lahir di negeri Portugis adalah Fernando Pessoa, Fernando Pessoa, Fernando Pessoa dan Fernando Pessoa. Ini benar-benar benar! Saya tidak bilang Pessoa empat kali lebih besar dari penyair manapun di Portugal, tapi Pessoa memang berhasil memecah dirinya menjadi empat penyair hebat: Fernando Pessoa sendiri, lalu Ricardo Reis, Alberto Caeiro, Alvaro de Campos.

 

Itu saja sudah bikin geleng-geleng kepala, tapi jangan berhenti kagum dulu! Pessoa menulis karya dalam 86 nama samaran lain, meskipun tak semuanya sempat tersiarkan! Tapi, tiga nama tadilah alteregonya Pessoa yang paling “berhasil” dan ia besarkan. Ketiganya punya latar belakang kehidupan dan menulis karya dengan gaya masing-masing. Tak terbayangkan itu lahir dari tangan dan pikiran satu orang saja. Itulah kegilaan Pessoa.

Bagaimana Pessoa mempublikasikan karya-karya di bawah sosok-sosok itu? Ia terbitkan sendiri sebuah jurnal puisi. Namanya “Athena”. Di media itulah, dia eh mereka saling menulis kritik, dan bergantian membahas sajak.

Nama samaran? Pseudonim? Ini heteronim, sebab nama-nama itu benar-benar tampil sebagai sosok yang lain daripada Pessoa, si pribadi asli. Pessoa tidak menyamar dalam sosok-sosok alteregonya. Dia dengan meyakinkan menampilkan sosok yang lain, yang menulis karya-karya yang berbeda dan tak bisa ia tulis dibawah nama Fernando Pessoa.

Alberto Caeiro, orangnya rada udik, tak berpendidikan tapi punya ide-ide puisi hebat dan menulis dalam sajak bebas; Ricardo Reis, tampil sebagai seorang berlatar belakang sains, khususnya fisika, yang menggubah sajak dalam bentuk ode di bawah pengaruh Horace; Alvaro de Campos? Ia seorang petualang berasal dari London, juru mesin kapal. Karya-karya Campos dipengaruhi oleh penyair Amerika Walt Whitman dan gerakan Futuris Italia. Seperti Ricardo Reis, Alvaro de Campos, selain menulis puisi, juga menulis belasan halaman prosa.

Bandingkan dengan penyair lain. Ezra Pound dalam karyanya pernah tampil sebagai Mauberley. Rainer Maria Rilke sebagai Malte Laurids Brigge. Keduanya tetaplah Pound dan Rilke yang memakai nama lain. Pessoa tidak sekadar begitu. Ia ciptakan tokoh-tokohnya dalam suasana psikologi, kecenderungan estetika dan pandangan politik sendiri!

Pessoa bukan penyair yang menawarkan “satu ruang baru”. Ia Menawarkan “sebuah planet baru”! Pessoa hidup sendiri di dalam dunia puisinya. Ia mempelopori sebuah gerakan sastra seorang diri, yaitu gerakan dirinya sendiri.

Siapakah Pessoa? Nama lengkapnya Fernando António Nogueira Pêssoa. Ia lahir di Lisbon, 13 Juni 1888. Keluarganya borjuis kaya. Ayah dan satu-satunya suadara laki-lakinya meninggal sebelum dia berumur enam tahun. Pada usia itulah kira-kira ia mulai membayangkan sosok kawan-kawan imajiner.

Ibunya menikah dengan seorang konsul untuk Afrika Selatan. Mereka menetap di Durban, di sana ia masuk sekolah yang diantara dalam Bahasa Inggris. Pada umur tiga belas, dia sempat pulang ke Portugal dan menetap selama setahun. Ia kembali lagi dan menetap seterusnya di Lisbon tahun 1905, saat berusia 17 tahun.

Ia sempat belajar sebentar di University of Lisbon, dan mulai menulis kritik, prosa dan puisi. Ia hidup dari bekerja sebagai penerjemah profesional.

Ia hidup dengan nafkah dari kerja sebagai penerjemah dan juru tulis. Pada usia muda ia terlibat gerakan sastra Modernis. Ketika itu, sesekali ia mempublikasikan karya sesekali. Sementara itu, kawan-kawan imajinernya mulai tumbuh menjadi penyair.

***

Ketika Pessoa meninggal, dia meninggalkan satu koper penuh manuskrip. Tepatnya 27,543 naskah. Naskah itu ditandatangani 86 nama yang berbeda: penyair, lelaki, wanita, anak muda, orang tua. Nama-nama itu – semuanya nama heteronim dari seorang Fernando Pessoa – saling mengilhami, mereka juga saling menulis kritik.

Itu saja? Tidak, masih ada beberapa karya yang ditemukan menyusul kematiannya. Sebagian lagi masih terus ditemukan jauh setelah kematiannya. Karya-karya yang ditulis oleh satu orang, di bawah banyak nama itu benar-benar seperti karya yang ditulis oleh penyair-penyair yang berbeda.

Masing-masing nama punya aliran berbeda. Mereka seakan-akan menempuh perjalanan keliling dunia, ke tempat-tempat yang berbeda, beragam petualangan, dengan kecenderungan seksual yang macam-macam, homoseks, poliseks, semua terekspresikan dan menjadi ciri khas masing-masing penyair dalam karya-karyanya. Mereka masing-masing menulis kredo masing-masing; punya kehidupan dan percintaan sendiri.

Karya dalam koper itu benar-benar seperti sebuah temuan dari penggalian situs arkeologi. Pessoa adalah penyair sejati. Ia tak pernah beranjak dari ruang kepenyairan dan perpuisian: dia menciptakan kata menjadi dunia-dunia, dunia kata-kata. []

Iklan