Afrizal Malna: Kucing Berwarna Biru

Kucing Berwarna Biru
Afrizal Malna

sudah tiga malam ini seekor kucing sakit, selalu tidur di depan pintu rumah saya. Ia mengeluh dan mengerang suaranya seperti keluar dari rumpun gelap di halaman rumah kadang seperti makhlus halus yang sedang membuat perjanjian dengan pohon nangka di halaman rumah saya orang bilang, kucing itu kena teluh. Saya mencoba mengusirnya. Tetapi kucing itu menatap saya seperti mata ibu saya. Katanya dirinya adalah roh saya sendiri yang sedang sakit. Ia mohon agar bisa tidur dalam kamar saya. Saya tak tega mengusir kucing itu. Bulu-bulunya seperti kenangan saya pada kasih sayang.

Malam berikutnya saya mulai terganggu. Keluhnya berbau darah. Ia mulai menginap dalam pikiran saya. setiap malam, seperti ada rumpun gelap dalam diri saya, menyerupai kucing yang sakit itu. Suara gaib di depan pintu. setiap malam, seperti ada pohon nangka yang berjalan-jalan dalam tubuh saya, menyerupai kucing yang mengaku sebagai roh saya yang sedang sakit itu. Akhirnya saya membunuh kucing itu. menjerat lehernya dengan tali plastik. matanya seperti kematian yang mengetuk kaca jendela.

besok pagi saya temukan mulut, telinga dan lubang hidung kucing itu telah mengeluarkan tanah, berwarna merah. rumput-rumput tumbuh di atasnya. Saya lihat ikan-ikan juga telah berenang dalam perut dan tengkorak kepalanya. Dan seperti seluruh surat kabar, matahari tidak terbit pagi ini.

Iklan