Agnes Sri Hartini Arswendo – Sajak di Sembarang Kampung

Agnes Sri Hartini Arswendo
Sajak di Sembarang Kampung

Di sebuah kampung di kota metropolitan
tak diperlukan sajak, karena anak-anak
bagai ayam. Dilepas waktu dini
dan baru larut malam nanti dipaksa tidur dengan tangis
setelah sepanjang siang mengais dan melengking

Di sebuah kampung itu, tak ada batas-batas
ruang tidak ialah tempat makan dan marah
kamar mandi milik bersama, dan bau pesing
disumbangkan beramai-ramai
desas-desus berlalu lalang dengan deras

– kau tak mengenal lagi
apakah yang tergantung itu boneka atau bayi

Tak ada ejek-mengejek, tapi semua merasa tersindir
tak ada pekerjaan, tapi semua kelelahan, pusing
bahkan hampir pingsan, katanya karena penyakit jantung
perut selalu lapar, meskipun hutang semakin menggunung

– Sepuluh tikus dalam kotak sabun
tak membayangkan bakal rukun

Di seberang kampung, di kota metropolitan dan bukan
harapan telah lama dibunuh oleh mimpi, lewat badai iklan
Harga diri telah terbeli, di antaranya secara resmi

adakah kau masih menulis puisi
pada saat seharusnya menyusui?

Iklan