Aoh K. Hadimadja: Pengalaman Saya Sekitar Proses Penciptaan Sebagai Penyair

Catatan: Artikel ini disampaikan oleh Aoh K. Hadimadja dalam Pertemuan Sastrawan Indonesia 1972, di Taman Ismail Marzuki, 10 Desember 1972. Lalu dimuat di Budaja Djaja, No. 57, Tahun Keenam, Pebruari 1973.

Pengalaman Saya Sekitar Proses Penciptaan Sebagai Penyair
Oleh Aoh K. Hadimadja

SATU-SATUNYA buku puisi yang saya tulis adalah Pecahan Ratna, lahir di masa Jepang, yaitu dalam tahun 1944. Saya bekerja di pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidhosho). Kawan saya yang paling akrab, ialah Amal Hamzah. Untuk melupakan kegetiran hidup sering kami baca ciptaan-ciptaan Rabindranath Tagore, malah Amal Hamzah di masa itu pernah menerjemahkan Gitanjali ke dalam bahasa Indonesia. Saya rasa penyair-penyair Pujangga Baru, juga Noto Soeroto yang menulis dalam bahasa Belanda, banyak terpengaruh pujangga India itu. Abang Amal Hamzah, Amir Hamzah pernah menyalin karya-karya Rabindranath Tagore, yang dikumpulkannya dalam Setanggi Timur. Mengenai saya sendiri, tatkala Rabindranath Tagore meninggal dalam tahun 1936, pernah saya menulis sajak untuk mengenangkan penyair besar itu dan sajaknya dimuat dalam majalah Pujangga Baru. Maka tidak mengherankan, kalau kumpulan sajak saya Pecahan Ratna gayanya, yaitu iramanya, dipengaruhi oleh Rabindranath Tagore, bahkan bunyi salah-satu judul bagiannya: Di bawah kaki Kebesaran-Mu.

Itulah keterangan tentang back-ground kumpulan sajak-sajak itu, akan tetapi bagaimana proses penciptaannya?

Sudah setahun lebih saya menulis dalam harian Indonesia Raya, menerangkan tentang maksud-maksud penyair dalam sajak-sajaknya. Banyak syair yang gelap bagi saya, maka saya tanya penyair-penyairnya apa yang dimaksud oleh mereka. Tetapi mereka cuma tersenyum. Kalau pun mereka menjawab, katanya: Apa yang harus diterangkan lagi oleh saya, bukankah sajak-sajak itu sudah jelas, sudah berbicara dengan sendirinya?

Penyair memang tidak suka menerangkan tentang karyanya. Dia merasa malu, disebabkan yang tersembunyi di balik kata-katanya adalah private, soal-soal yang terlampau menyangkut kepribadian: dengan perkataan lain, soal-soal yang tidak ingin diucapkan kepada orang lain, oleh karena demikian pribadinya, oleh karena begitu private-nya. Betul juga sebagaimana kata seorang penyair asing, sajak itu ekspresi individu yang paling individuil.

Maka begitulah malunya mereka dan saya tidak terkecuali. Demi ilmu pengetahuan melulu saya korbankan perasaan saya dan dengan ini saya coba menerangkan sejujur-jujurnya, bagaimana sajak-sajak Pecahan Ratna itu timbul.

Pada tahun 1943, yaitu pada waktu saya berusia 32 tahun, timbullah perubahan besar dalam diri saya. Hadirin yang mulia tidak akan percaya, bahwa sampai usia itu saya tidak pernah berjumpa dengan seorang gadis, yang betul-betul saya cintai. Timbullah anggapan dalam diri saya, bahwa cinta murni itu omong kosong dan hanya terdapat dalam buku-buku belaka.

Terjadilah suatu kejadian yang tidak disangka-sangka di tempat kediaman ayah saya di Pasundan. Di tempat itu saya ingin menjumpai doktor, yang telah lama saya kenal. Beliau berpengetahuan luas, maka saya senang mengobrol. Di depan rumah tidak ada orang; berjalanlah saya ke belakang dan dari jendela yang terbuka tampaklah seorang gadis hitam-manis tertawa riang dengan seorang di seberang meja makan. Saya terpesona melihatnya sampai dalam tujuh tahun perhubungan, penglihatan saya yang pertama kali itu dengan yang terakhir tidak berubah. Namun demikian, Tuhan tidak mengizinkan kami menjalin kasih dalam hubungan yang syah dan kisah merupakan kisah sedih, yang tergambar dalam Pecahan Ratna dan kumpulan cerpen saya Manusia dan Tanahnya. Pecahan Ratna akhir-akhir ini diterbitkan oleh “Pustaka Jaya” dan Manusia dan Tanahnya oleh Balai Pustaka. Keduanya mengalami cetak ulang.

Kasih saya kepadanya bukan tidak bersambut. Beberapa sajak menunjukkan berbagai pertemuan dan surat-surat, yang diterima. Sajak-sajak itu semua ditulis menurut denyutan hati, tidak diubah-ubah, semuanya diliputi kemurungan, disebabkan di luar kekuasaannya agaknya dia tidak bisa menerima saya. Perhatikan keluhan Karlin yang sering diucapkan di depan kelas dalam cerpen Gelria dalam Manusia dan Tanahnya dan gantilah Akhmad dengan nama saya:

“Akhmad, akh, namamu keluhan belaka….”

Memang kalimat itu pernah diucapkan kepada saya dalam salah satu suratnya. Dan betul, ia seorang guru, guru adik-adik saya, yang menjadikan hubungan kami lebih mudah dan ibu saya setuju sekali, kalau saya mendapatkan dia. Akan tetapi seperti sudah dikatakan, kami tidak ada izin Tuhan untuk menjalin cinta dengan hubungan yang syah. Dugaan saya semula berat adatlah yang tidak mengizinkan dia menerima tawaran saya, sebab seperti terduga dalam sajak VI dengan ucapan “Tak lekang di panas tak lapuk di hujan”, dia seorang puteri Minang, yang karena peperangan tidak bisa kembali ke Sumatera sesudah menamatkan H.I.K. di Bandung dan menerima jabatan menjadi guru di sebuah kota kecil di Pasundan, di mana saya berjumpa untuk pertama kali itulah. Akan tetapi tampaknya dia sudah bertunangan sebelum bertolak ke Jawa seperti tergambar dalam cerpen saya Jalan Birugo, nama sebuah jalan di Buktitinggi.

“Pernahkah Tuan rasakan api yang menghangus melidah-kilat, pernahkah Tuan rasakan pahit segetir pahit, pernah Tuan rasakan yang membekam-peram, mengoyak-renggut, memerah-remas?
Berbahagialah Tuan yang terasing penykit itu!”

Saya kira hanya yang pernah mengenalnya jua, maka cinta itu nikmat akan tetapi menggetirkan. Kebahagian-kebahagiaan saya terlukis dalam pertemuan-pertemuan yang sesekali itu atau dalam menerima surat, walaupun tidak ada kabar sampai setahunpun dari padanya.

Inilah buktinya:

Gemuruh deguman hatiku,
surat jatuh tak tersangka,
setahun lama,
terasing tulisan merelung-gelung.

Yang menggambarkan pertemuan-pertemuan di antaranya berbunyi seperti berikut:

Bagai langit melengkung kelam penuh bintang bertabuh mewah
wahai adinda, demikian halus jaring rambutmu.
Hitam-ikal rambut tertutup, bertebar bunga sutera biru, aduh
juita, patah kalam tak sampai kata.
Hanya kenangan meliput senja, mentari turun, engkau pergi….

Sebagian besar buku itu diliputi kenangan, kenangan-kenangan pertemuan yang hanya sebentar-sebentar di zaman Jepang, oleh karena tidak mudah untuk mengunjungi tempatnya dan dia sendiri jarang datang di Jakarta.

Sendiri aku mengayuh sepeda,
Langit cerah, air berkilat ditimpa cahaya,
Gelak dan bisik tiba terdengar. Beca lalu,
Ah, terayun aku ke alam kenangan, di dalam keretek, hujan lebat…

Sajak itu dituliskan sesudah saya naik sepeda di Jalan Veteran, waktu berpapasan dengan sebuah becak dan di dalamnya ada seorang pemuda dan seorang pemudi,yang sedang berpacaran. Maka terbang saya ke alam yang sudah lampau di Bandung, di mana saya pun pernah tergelak-gelak bersama dalam keretek, yaitu bendi di tengah hujan lebat. Setiap yang tampak, setiap yang tercium menjadikan seseorang yang dimabuk cinta teringat kepada kekasihnya:

Wangi pandan di depan rumah, harum tanjung di tepi jalan,
ah, mengapa yang jernih mewangi membawa aku mengalun jauh?

Ingatan itu hanya mengalunkan kenangan dan kepahitan, disebabkan cita-cita yng tidak terkabul itu, menimbulkan ucapan yang tidak berbeda di dalam sajak atau pun prosa. Contohnya di dalam cerpen Gelria:

Dalam kelesuan yang memutuskan harap terhanyutlah ia dibawa nasib ke Leles. Dinaikinya beberapa bukit, tetap hatinya bertambah remuk melihat sawah tersusun, menghampar di bawah naungan langit yang memutih.

Bahwa cinta saya murni, yang juga melukiskan kenangan ke masa suatu pertemuan, dapat diketahui dari bait di bawah ini:

Adakah masih, Adinda, rambut sehelai jatuh di bahu kukuh,
terentang hitam di baju putih?
Ditahan-tahan gelora hati, kubiarkan sesalan kini…..

Suatu bait yang tidak memerlukan keterangan, betapa menyesal saya, rambut dibiarkan tidak sampai menyentuh badannya, yang niscaya menimbulkan ejekan di hati pemuda pemuda zaman sekarang, betapa naif saya pada umur lewat 30 tahun masih kemurni-murnian. Padahal di luar dia saya pun seorang bajingan yang ganas:

Tertawa aku mendengar keluhmu; maaf, adik.
Belum tahu masih engkau, siapa aku.
Merampas, memeras, merompak kerjaku dahulu. Istana,
mahligai orang kurebut, kupakai untuk kesenanganku melulu.

Tidak seorang pun akan mengharap, pada usia tiga puluhan itu saya akan tetap membujang. Karena letih saya pun kawin dengan gadis lain dengan harapan, mudah-mudahan saya dapat melupakan dia. Tetapi malah bayangannya yang mengisi rongga saya, tatkala berhadapan dengan kadi! Semua itu diguriskan dalam cerpen Gelria itu juga, di mana terdapat kalimat: “Karlinlah yang menarik, mengulur dan menarik lagi.” Saya letih ibarat layang-layang, yang ditarik, diulur dan ditarik lagi. Perkawinan yang hanya ingin melupakan seseorang itu ternyata tidak benar dan tidak sehat dan beberapa lama kemudian perkawinan itu pun pecah-poranda. Kalimatnya berbunyi dalam cerpen itu pula: “Sejarah rumah tangga yang tiada berlantaikan kasih terulang dan berapa puluh ribu kalikah lagi manusia akan mendirikan gedung riwayatnya denganhati yang tidak jujur?”

Jakarta, 10 Desember 1972

Iklan