Artie Ahmad – Kudapan Hati Kekasih

Artie Ahmad
Kudapan Hati Kekasih

f4d93353a8dd6299d81438a87f4e7e26

APA yang ada di pikiranku ketika mengingatnya? Membunuhnya atau setidaknya membuatnya tak bahagia. Membuatnya sengsara sampai mati, dan menyesali semua yang pernah dia lakukan kepadaku waktu itu. Ketololan seorang perempuan memang tatkala dia jatuh cinta dengan seorang laki-laki dengan teramat besar. Cinta yang keterlaluan seringnya memang membuat kedua mata seolah buta meski tak ada penyakit glaukoma yang diderita. Lebih menyakitkan lagi, ketika cinta yang tolol itu kutebus dengan sangat mahal, meski dia menjualnya tak ubahnya barang rombengan.

Setiap kali duduk di depan cermin, aku selalu berpikir, andai saja aku ini Resi Kindama. Andai aku Kindama, tentu aku akan menjatuhkan hukuman untuknya ketika dia asyik masyuk bersenggama dengan perempuan lain. Aku bisa membunuhnya dengan mudah, tanpa harus mengerat urat nadinya, atau membubuhkan racun ke dalam minumannya. Tapi nyatanya aku hanya seorang perempuan biasa, bukan seorang resi yang bisa mendatangkan kematian untuk Pandu Dewanata.

*

Kami berdua menjalani hubungan sebagaimana layaknya manusia pada umumnya. Kami bertemu pertama kali di sebuah acara milik sahabat, saling bertukar nomor ponsel, sering bertukar kabar, dan jatuh cinta. Selepas jatuh cinta tentunya kami meneruskan ke jenjang pernikahan. Hal yang semestinya dijalani oleh sepasang kekasih yang telah bersama selama beberapa tahun. Menikah dengannya bukan sekadar pilihanku, tapi tentu dia yang meminangku kala itu. Di depan penghulu, janji suci itu dia ucapkan, aku percaya kepadanya dan semakin jatuh cinta.

Ketika berdua dengannya di atas ranjang setiap malam, aku merasakan bahwa takdirku adalah memilikinya. Aroma cologne yang selalu dia kenakan adalah candu. Opium yang ingin aku hirup setiap hari, setiap waktu. Aroma musk dengan aroma rempah sedikit citrus selalu membuatku gila. Tatkala mendaki tubuhnya, aku merasakan tubuhku seakan melekat di dirinya. Dimulai malam pertama aku menjadi miliknya secara utuh, aku berjanji kepadaku diriku, akan menjaga setiap inci tubuhnya.

Kata seorang pujangga yang entah dari mana itu, dia berkata bahwa cinta yang tulus haruslah berkalang pengorbanan dan penebusan. Aku membayar cinta lelaki yang kupilih itu dengan mahal. Bukan sekadar materi, tapi melainkan dengan hatiku sendiri.

Satu malam ketika aku mendaki tubuhnya di puncak malam, yang didesahkan bibirnya bukan namaku, melainkan nama perempuan lain. Nina. Entah siapa perempuan itu, ketika esoknya aku bertanya, jawabnya sangat sederhana.

“Nina pengasuhku dulu, Sayang. Dia yang menggantikan mami merawatku. Kau tahu kan, mami dulu sangat sibuk bekerja. Aku menghabiskan banyak waktuku dengannya. Entah, semalam aku memimpikan dia. Mungkin aku kangen.” Ucapnya sembari menghirup kopi jahe dengan nikmat.

Tak lama setelahnya, dia menceritakan tentang Nina, pengasuhnya saat kanak dulu. Ceritanya mengalir seperti air sungai yang melata di lembah. Aku mendengarkan ceritanya dengan khidmat. Gelombang suaranya ketika bercerita, membuatku terpana. Betapa dekatnya dia dengan Nina. Setelah waktu berlalu, inilah ketololanku yang pertama.

Malam selanjutnya dia yang meminta kami bersama. Di atas gemuruh cinta, kami mengawali semuanya dengan lembut. Namun tatkala mencapai puncak itu, dia menyebut nama perempuan lain. Mesalina. Lagi-lagi aku tak tahu, siapa itu Mesalina.

“Siapa itu Mesalina, Sayang? Semalam kamu memanggil-manggil namanya?” aku berusaha setenang mungkin. Rasa cemburu aku tekan sedemikian rupa. Tugas istri adalah menjaga hati suami. Bagiku seperti itu.

“Mesalina? Astaga! Apa aku menyebut namanya?” kedua matanya yang selalu bersorot tajam itu membeliak.

“Ya, kamu memanggilnya,” sahutku sabar.

“Oh, Mesalina itu ibu angkat mami, Sayang. Kamu belum tahu ya? Dia salah satu nenek angkatku yang terbaik. Dia sangat menyayangiku, dan tentunya aku sangat menyayanginya.”

Lalu cerita tentang Mesalina pun mengalir. Mesalina, nenek angkatnya yang entah bagaimana rupanya. Aku mendengarkan ceritanya dengan patuh. Sesekali aku menggenggam tangannya, ketika matanya terlihat berkaca-kaca disekat keharuan mengingat Mesalina. Setelah waktu bergulir, aku sadar bahwa cerita tentang Mesalina adalah ketololanku yang kedua.

*

Kudapan yang sangat digemarinya salah satunya hati angsa. Makanan-makanan dari hati hewan adalah kesukaannya. Bertahun menjadi kekasih dan istrinya, aku tahu tentang banyak kesukaannya, meski entah apakah dia tahu apa kesukaanku.

“Aku ingin memakan hati, Sayang,” ujarnya ketika kami berdua terkapar di atas ranjang malam itu selepas penat bekerja seharian.

“Hati apa? Bebek, ayam, atau pelanduk?” jawabku setengah bergurau.

Andai dia memang menginginkan hati seekor pelanduk, tentu aku akan mencarikannya. Demi dia, apa saja akan aku lakukan. Tentu saja sebelum aku tahu siapa sebenarnya Nina dan Mesalina. Pengasuh dan nenek angkatnya itu.

“Tidak. Bukan pelanduk. Tapi aku ingin hati angsa, Sayang.”

Aku mengernyit. Hati angsa? Di mana aku membelinya?

“Kamu ingin makan foie gras? Di restoran Perancis di ujung jalan itu mungkin menjualnya,”

“Bukan makanan itu, Sayang. Aku ingin makan hati angsa dirica-rica, seperti makanan pada umumnya.”

emi menebus cintanya, keesokannya aku bertemu kawan lamaku, Dalai. Dalai bekerja di sebuah peternakan milik keluarga. Tentu aku merasa, mencari hati angsa akan lebih mudah dengan bantuannya. Hati angsa yang lembut dan segar, yang sesuai selera kekasihku itu. Hari itu juga, rica-rica hati angsa segera tersaji di meja makan. Dia kekasihku itu, teramat menyukainya. Meski setelahnya, aku tahu jika bukan hati angsa saja kegemarannya. Melainkan hati lain. Hati perempuan di pinggiran jalan yang dijual murah meriah. Hati milik Nina dan Mesalina, perempuan yang diam-diam didakinya ketika dia merasa bosan denganku.

*

Hati angsa itu tersaji di meja. Dengan bumbu yang tentunya akan menggetarkan lidah penggemarnya. Tapi aku tak berselera. Sejak kecil, aku bukanlah penggemar makanan dari hewan, terlebih hati dari unggas cantik itu. Tapi lantaran lelaki yang pernah menjadikanku kekasih itu, aku terpaksa menjadikan hati angsa sebagai kudapan. Perlahan aku menutup tudung saji, dan melemparkan tubuhku di sofa ruang keluarga.

Pertengkaran itu pecah seperti bisul bernanah. Aku tak bisa lagi menghendaki kehadirannya di rumahku. Dia, lelaki yang kujadikan suami itu ternyata menjual madu murahan di bibirnya. Tak ada pengasuh atau nenek angkat di hidupnya. Nina dan Mesalina adalah perempuan yang ditemuinya di sebuah kedai kopi, lalu diajaknya menginap di sebuah kamar hotel di ujung jalan.

Dia, ternyata telah lama mendaki tubuh-tubuh perempuan lain tatkala tak berada di sampingku. Hatiku yang utuh kuberikan untuknya, ternyata tak lebih barang rongsokan yang bisa digunakan dalam waktu-waktu tertentu saja. Lebih menyakitkan lagi, ketika dia mengaku bahwa tak hanya perempuan-perempuan yang dibayarnya yang dia daki, melainkan juga tubuh sahabatku sendiri, Casandra. Saat itu, untuk pertama kalinya aku memikirkan bagaimana cara membunuh seorang manusia. Bukan seorang, melainkan beberapa orang sekaligus.

Selepas pertengkaran yang meluapkan kebusukannya itu, lelaki yang kuanggap kekasih itu pergi dan tak ingat kembali. Aku tak berusaha mencarinya. Namun setiap kali mengingatnya, aku ingin membunuhnya. Betapa kurang ajarnya lelaki tak tahu diri seperti dirinya. Lelaki yang doyan memakan hati apa saja. Bahkan hatiku, perempuan yang dulu dikencani dan didakinya setiap malam pun diganyang begitu rupa.

Andai aku Resi Kindama, tentu aku sudah menjatuhkan tulah kepadanya. Biar dia mati berkali-kali ketika bersenggama dengan perempuan-perempuan luar sana. Dia lebih kejam ketimbang Pandu Dewanata, seharusnya tulah yang menyakitkan pantas untuknya. Semakin aku memikirkan tentang dirinya, aroma tubuhnya dengan cologne berarorama musk yang sering dia kenakan, semakin aku ingin membunuhnya. Semakin besar hasratku untuk mengambil hatinya, lalu memasak rica-rica seperti kegemarannya.

*

Bunga rose pemberian terakhirnya sudah lama layu. Bunga yang dulu segar menjadi hitam dan rapuh. Aku tak berniat menyingkirkan bunga-bunga itu dari meja kamar. Kelopak-kelopak yang rontok aku biarkan begitu saja. Begitulah tampak hatiku sekarang. Dia mungkin sedang berkelana mendaki satu tubuh ke tubuh yang lain.

Tapi ternyata, setelah tiga tahun lebih menghilang, dia kembali. Aku nyaris tak mengenalinya. Dia layaknya kerangka hidup. Entah, ke mana perginya lelaki perkasa yang bisa mendaki tubuh-tubuh banyak perempuan itu. Tak ada lagi gambaran segarnya tubuh lelaki yang doyan memakan kudapan dari segala hati hewan.

“Aku meminta maaf, Sayang. Aku sedang sekarat.” Ucapnya dengan terbata.

Ternyata aku tak perlu menjadi Resi Kindama untuk mengutuknya. Di hadapanku, seolah aku sedang berdiri menatap Aswatama yang dikutuk Krishna menjadi mayat hidup. Entah kapan Cakra Baskara itu menghantam kening lelaki yang dulu kupilih menjadi suami ini, tapi keadaannya sungguh menyedihkan. Tulah dari Krishna, ternyata membalas pengkhianatannya.

“Tak mudah menebus maafku,” sahutku datar.

“Apa yang kau inginkan dariku agar bisa menebus maafmu?”

“Aku ingin hatimu. Mungkin hati seorang pendusta akan segurih hati angsa. Mungkin,”

Mendengar ucapanku, dia terlihat sedikit menggigil. Matanya yang terlihat redup sedikit membeliak, seperti orang yang tersedak.

“Apakah hati seorang penderita syphilis sepertiku akan segurih hati angsa?”

Jawabannya itu membuatku tersenyum. Perlahan aku mendekatinya.

“Kenapa tidak kita coba dulu? Memasak hatimu itu.”

Perlahan, aku meraih pisau buah yang terletak tak jauh dari jangkauanku.

 

Salatiga, Agustus 2017.

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga, 21 November 1994. Saat ini berdomisili di Salatiga. Sering berselancar di instagram dengan akun @artieahmad21.

Iklan