Cerpen Agus Noor – Pencuri Salib

Agus Noor
Pencuri Salib

pick_up_your_crossBAGAIMANA bisa beribadah dengan tenang bila Tuhan pun mereka curi! Pendeta Joshe tak bisa menyembunyikan kejengkelan pada dua polisi yang baru muncul, setelah enam jam lalu ia menelepon. Sikap tak acuh dua polisi itu –yang hanya mengangkat bahu– seolah menegaskan mereka punya banyak urusan lebih penting ketimbang salib yang hilang.

Polisi yang agak gemuk dan terkesan lebih malas hanya duduk-duduk ketika rekannya yang sedikit lebih pendek dan bermata setengah mengantuk berkali-kali menguap mendengarkan penjelasan Pendeta Joshe. Itu membuat sang pendeta makin sebal.

“Pak Pendeta selalu merasa persoalan gereja ini lebih penting dari kasus-kasus lain yang harus kami tangani,” suara polisi itu datar.

“Tiap hari ada banyak kejahatan di luar sana, Pak Pendeta. Pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan. Apa Pak Pendeta berpikir itu tidak lebih gawat dari persoalan salib yang hilang? Jumlah kejahatan di kota ini jauh lebih banyak dari jumlah polisi. Itu masalahnya. Dan, yang menyebalkan, semua orang mengingat polisi hanya saat ada masalah!”

Pendeta Joshe mengelap keringat di kepalanya yang mulai botak. la pernah mendengar lelucon: ada persamaan polisi dan pendeta, hanya dibutuhkan ketika ada masalah. Bedanya pendeta bisa meringankan masalah, sementara polisi malah sering membuat masalah menjadi tambah bermasalah. Lelucon itu membuat Pendeta Joshe tersenyum dalam hati, namun tak membuatnya kehilangan kejengkelan pada dua polisi itu.

Pendeta Joshe menunjuk tembok di belakang altar, meyakinkan pada polisi bermata mengantuk, “Di situlah sebelumnya salib itu berada.”

Si polisi tersenyum, karena mendapati tak ada bekas paku yang dicopot paksa. Bahkan tak ada tanda-tanda apa pun yang dapat membuktikan bahwa di tembok itu sebelumnya pernah terpasang salib. Pendeta Joshe seperti berada dalam posisi seorang yang datang melaporkan kehilangan, tetapi dituduh berbohong. Berurusan dengan polisi memang tidak pernah gampang. Bila kau kehilangan pintu rumah dan melaporkannya ke polisi, kau akan kehilangan rumahmu.

Ini memang delapan tahun menyedihkan bagi gerejanya. la merasa bagai Musa yang terusir ketika gerejanya diharuskan pindah. Gereja dengan pilar-pilar ghotik dan portico di dua sisi dindingnya, yang sudah lebih 70 tahun berdiri di sudut alun-alun dan kubahnya yang megah telah menjadi lanskap kota, dianggap menyalahi tata ruang, bahkan disalahkan karena tak memiliki izin bangunan. Itu jelas tuduhan sewenang-wenang. Tapi wali kota sudah menetapkan surat keputusan pemindahan gereja. Dan surat keputusan wali kota itu seperti kitab yang tak boleh dibantah. Para jemaat menolak ketidakadilan ini. Ketika akhirnya gereja itu disegel, para jemaat tetap bertahan beribadah di halaman gereja. Berkali-kali terjadi penyerangan dan pengusiran –beberapa jemaat bocor kepalanya terkena batu– dan itu makin membuat Pendeta Joshe khawatir. la menghadap wali kota. la sudah mendengar bila di tanah gereja itu akan dibangun mal dan hotel.

“Gereja itu tak akan dirubuhkan,” kata wali kota, “hanya dipindahkan. Kami akan menyiapkan lokasi terbaik sebagai gantinya.”

Ketika Musa terusir Tuhan menjanjikan tanah terbaik. Dan Tuhan pasti akan memberikan tempat terbaik bagi gereja kita, ujar Pendeta Joshe kepada jemaat. Wali kota memang telah menjanjikan pembangunan gereja baru, tapi berhadapan dengan birokrasi selalu lebih susah dibanding menghadap Tuhan. Izin pembangunan gereja selalu ditolak, dengan alasan masyarakat sekitar keberatan, dan bila itu dipaksakan akan mengganggu kerukunan. “Pak Pendeta pasti setuju kalau kita harus menghargai toleransi.” ujar wali kota.

Pendeta Joshe dan jemaat harus berpindah-pindah melaksanakan ibadah gereja, di ballroom hotel atau kompleks pertokoan yang bisa disewa. Beberapa kali ruko yang digunakan peribadatan sementara diancam akan dibakar. Sampai kemudian pemerintah kota berbaik hati mempersilahkan bekas gudang pengalengan ikan dekat pelabuhan untuk digunakan sebagai gereja.

Gudang itu berdiri di antara gedung-gedung tua yang tak terawat, tak jauh dari jalan yang menghubungkan pelabuhan kontainer dengan jalan lingkar kota. Jalanan itu berlubang-lubang, penuh genangan air; bahkan saat tak musim penghujan pun air selalu meluap dari gorong-gorong yang mampet, hingga udara berbau bacin dan amis. Siang hari bising oleh truktruk lalu-lalang. Malam hari jalanan itu nyaris tanpa penerangan, menjadi tempat mangkal para pelacur, warung-warung tenda liar, parkir motor dan mobil yang serampangan, musik dangdut yang disetel keras-keras.

Hampir setiap malam terjadi perkelahian orang-orang mabuk. Tak jauh dari situ ada kampung kumuh yang dikenal menjadi sarang pencoleng, maling, residivis yang berkali-kali keluar masuk penjara. Inikah tempat yang layak bagi rumah Tuhan? Pendeta Joshe yakin, Tuhan bersama orang-orang miskin dan pendosa, tapi ia tetap saja tak bisa mengerti kenapa wali kota memilih tempat ini untuk gerejanya.

Setelah gudang menjadi gereja, lima kali terjadi pencurian dalam sebulan. Tembok depan sudah penuh corat-coret cat pilox. Yang makin menjengkelkan: orang-orang selalu kencing sembatangan di depan gereja. Pernah belasan pemabuk mendobrak masuk, merusak kursi-kursi gereja, mengambil uang kolekte. Keadaan kian mencemaskan ketika seorang jemaat perempuan pulang ke malaman setelah latihan koor, nyaris diperkosa. Pendeta Joshe sudah mengadukan semua itu ke wali kota, tetapi hanya dijawab, “Bukankah memperbaiki moral memang sudah menjadi tanggung jawab gereja, Pak Pendeta?!” Sementara polisi selalu menanggapi setiap laporan sambil lalu. Rasanya ia tak lagi mampu memanggul salib ini sendirian.

Sampai semalam, ketika hujan turun deras, penjaga gereja terbangun karena mendengar suara mencurigakan: suara kayu yang dicopot paksa di antara gemuruh air menerpa tembok. Lalu terdengar suara kayu berat jatuh ke lantai, kemudian diseret pelan. Penjaga gereja tak berani keluar kamar tidurnya. Ia menduga ada orang masuk ke dalam gereja ketika didengarnya pintu terbuka. Seorang pencuri! Tapi penjaga gereja tak berani memeriksa, karena ia teringat berita di koran sore: seorang satpam ditemukan mati terpotong-potong kawanan perampok. Pagi harinya, penjaga mendapati salib itu sudah tak ada. Pendeta Joshe buru-buru datang ketika penjaga itu memberitahunya.

Ketika gereja lama di alun-alun kota dibongkar –“direnovasi dan disesuaikan” istilah wali kota– hanya salib itu satu-satunya yang bisa diselamatkan. Salib kayu jati setebal 30 cm, tinggi lebih 2 meter dengan replik tubuh Kristus yang tersalib. Banyak jemaat yang bersaksi ketika berdoa di bawah salib itu mereka melihat air mata menetes dari mata Kristus. Puluhan orang sakit yang diberkati di hadapan salib itu telah tersembuhkan.

“Salib itu bukan sekadar pajangan bagi gereja kami.” Pendeta Joshe menatap polisi yang sedang mengamati dan menorehkan kapur pada jejak goresan panjang di lantai.

Si Polisi lalu mencatat di buku kecilnya. Dari pengalamannya polisi itu bisa memastikan: baret-baret memanjang di lantai memang berasal kayu berat yang terseret menuju pintu keluar. Aneh. Karena tak ada tanda-tanda apa pun kalau pintu gereja dibuka paksa dari luar. Rasanya ini kasus paling misterius yang pernah ditanganinya. Kesaksian penjaga geteja tak banyak membantu untuk memecahkan misteri ini.

Polisi itu menghampiri Pendeta Joshe dengan sorot menyelidik. “Jika mencermati tempat kejadian, apa yang Pak Pendeta ceritakan pada kami sama sekali tak sesuai bukti. Kami bisa saja menuduh Pak Pendeta melakukan laporan palsu.”

Mata Pendeta Joshe berkaca-kaca, rahangnya mendadak gemetar. Leher gempalnya makin terbenam ke dalam tubuhnya yang tambun. la berusaha menahan emosinya.

“Jadi beginikah perlakuan polisi pada orang-orang yang taat membayar pajak seperti kami? Saya yang bohong atau kalian yang menganggap sepele urusan salib hilang ini?”

Polisi yang sejak tadi terlihat malas langsung bangkit dan mendekati Pendeta Joshe. “Dengar, Pak Pendeta! Kami telah menyelidiki tempat ini dengan teliti. Kami tak menemukan bukti apa pun kalau salib itu hilang atau dicuri! Kami bahkan tak yakin kalau sebelumnya ada salib di tembok itu!”

“Sabar…” Polisi yang satu menepuk pundak rekannya. “Saya yakin, sebagai pendeta, Bapak percaya keajaiban.”

“Tuhan adalah sumber mukjizat.”

“Baiklah, Pak Pendeta. Mari pikirkan dengan jernih. Tak ada bukti bahwa seseorang pernah mendobrak masuk pintu gereja yang terkunci dari dalam, dan Pak Pendeta lihat sendiri, kunci itu masih utuh. Dari jejak di lantai kami bisa membuktikan bahwa semalam tak ada yang masuk. Jejak jejak ini justru memperlihatkan ada yang menyeret kayu, dipanggul menuju pintu dan keluar. “Kau pikir salib itu bisa keluar sendiri?!”

“Bila Bapak memang percaya keajaiban. Seperti Kristus, yang bangkit di hari ketiga setelah kematian-Nya”

Polisi bermata mengantuk itu tersenyum. “Saya seorang Katolik. Saya mengerti perasaan Bapak. Saya percaya laporan Bapak. Nanti kami akan menyelidiki lebih lanjut…”

Pendeta Joshe hanya diam ketika dua polisi itu melangkah keluar. Tapi, polisi yang bertubuh lebih pendek itu tiba-tiba berhenti, dan berbalik menatap Pendeta Joshe. “Pernahkah Pak Pendeta merenungkan, siapakah sesungguhnya yang mencuri salib? Apalah artinya salib bila hanya terkunci dalam gereja. Saya ingat yang diucapkan Paus Fransiskus: ketika kita berjalan tanpa salib, ketika kita membangun gereja tanpa salib dan ketika kita percaya Kristus tanpa salib, kita bukanlah murid-murid Tuhan. Ketika kita hanya menyimpan salib untuk diri kita sendiri, kita tak mencintai Tuhan. Barangkali, salib itu tidak hilang, Pak Pendeta. Salib itu memilih berjalan keluar gereja. Karena di luar sana, salib itu lebih dibutuhkan…”

Kedua polisi itu berjalan menuju mobil patroli yang terparkir di seberang gereja dan Pendeta Joshe terus memandangi jalanan terlihat semakin kotor ketika beberapa truk melintas dan debu beterbangan bercampur asap hitam, beberapa gelandangan berteduh di bawah pohon yang nyaris mati, sementara di kejauhan para buruh pelabuhan terbungkuk dengan karung di punggung. Dalam pandangan Pendeta Joshe, di antara buruh-buruh yang lalu-lalang itu ia melihat bayangan berjalan kepayahan terseok-seok memanggul salib.

Jakarta, 2013-2014
Cerita buat Romo Mudji Sutrisno

Sumber : Jawa Pos 25 Januari 2015

Iklan