Cerpen Bernard Malamud

Bernard Malamud
Sang Pengungsi
(Pernah dimuat di Saturday Evening Post dengan judul “The Refugee”, namun dimuat dalam buku “The Complete Stories dengan judul “The German Refugee”)

Aku pikir aku telah tahu ceritanya. Namun ada rahasia yang dipendamnya dalam-dalam yang tak pernah ia ceritakan kepadaku.

OSKAR Gassner yang mengenakan kaus singlet jala-jala berbahan katun di bawah mantel mandi musim panas duduk di jendela sebuah kamar hotel yang pengap, panas, dan gelap di West Tenth Street ketika aku pelan-pelan mengetuk pintu kamar itu.  Di luar, cahaya berwarna kehijauan dari langit di akhir Juni yang melintasi langit perlahan menghilang di kegelapan. Keluarga-keluarga pengungsi memandang cahaya itu dan menatap ke arahku, menyembunyikan perasaan putus asa tetapi tak tersembunyikan rasa sakit yang mereka rasakan.

Pada masa itu, aku bisa berada di sana karena aku pelajar miskin yang rela mengajari apa saja pada mereka untuk satu dolar selama satu jam sebisaku, meskipun pada akhirnya aku benar-benar belajar bagaimana melakukannya dengan baik. Aku lebih sering mengajari mereka bahasa inggris, terutama bagi para pengungsi yang baru sampai. Sekolahku yang mengatur ini semua, hitung-hitung aku punya pengalaman. Beberapa dari murid-muridku mulai menggunakan bahasa inggris dengan terbata-bata seperti yang aku ajarkan dan mereka terima di tempat perbelanjaan milik orang Amerika. Saat itu aku berumur dua puluh tahun, mau tingkat terakhir di program diploma, bertubuh ceking, bisa dibilang setiap hari harus menahan lapar, dan mencari nafkah dari apapun yang berhubungan dengan akan terjadinya perang dunia selanjutnya. Boleh dibilang itu betul-betul curang. Namun itulah yang benar-benar terjadi padaku. Aku selalu berdebar setiap kali memikirkan bahwa aku telah menyeberangi lautan. Adolf Hitler, dengan sepatu bot warna hitam dan kumis kotaknya telah menceraiberai kehidupan. Dapatkah aku lupakan yang telah terjadi di suatu musim panas di Danzig?

Setelah depresi melanda Amerika, kehidupan masih terasa berat, tetapi aku masih beruntung bisa mendapatkan nafkah dari para pengungsi malang ini. Mereka ada di mana-mana di tengah kota Broadway di tahun 1939. Aku punya empat orang yang kuajari saat itu – Karl Otto Alp, mantan bintang film; Wolfgang Novak, pernah menjadi ahli ekonomi yang cemerlang; Friedrich Wilhelm Wolff, pengajar ilmu sejarah abad pertengahan di universitas Heidelbergl dan, Oskar Gassner, orang Berlin, seorang kritikus dan jurnalis, yang pernah disebut dalam Acht Uhr Abendblatt, yang semalam aku jumpai di kamar hotelnya yang berantakan. Mereka semua orang-orang yang terbaik di bidangnya. Aku berani berhubungan dengan mereka, karena keadaannya memang dibuat demikian oleh krisis yang melanda dunia ini – mereka harus mendapatkan pelajaran.

Oskar mungkin berumur limapuluhan, rambut lebatnya telah berubah menjadi kelabu. Wajahnya lebar dan tangannya berat. Pundaknya bungkuk. Kedua matanya juga terlihat berat, berwarna biru keruh, dan ketika memandangku setelah aku memperkenalkan diri, segera dipenuhi oleh keraguan, seperti arus di bawah air. Sepertinya jika ia memandang padaku ia merasa telah kalah. Karenanya aku tetap berada di depan pintu tanpa suara. Jika boleh memilih, aku lebih baik tak berada di sini karena kekikukan itu. Namun aku perlu nafkah. Akhirnya ia membuka pintu dan aku pun masuk. Ia segera menutup pintu begitu aku masuk, “Dzudzuk…” Ia menawariku kursi dan aku tak tahu di mana ia akan duduk. Ia hendak berbicara lagi tetapi berhenti, sepertinya menyadari hal itu tak perlu dikatakan. Kamar itu dipenuhi dengan baju-baju, berkardus-kardus buku yang telah ia atur sebelum meninggalkan Jerman dan beberapa lukisan. Oskar duduk di atas kardus dan mulai mengipasi tubuhnya dengan tangannya yang gemuk. “Panaz di zini,” ia menggerutu, menampakkan perasaannya dengan perbuatan. “Muztahil. Aku tak tahu kalau biza panaz begini.” Hal itu cukup buruk bagiku, tapi tampak menyedihkan baginya. Ia kesulitan bernapas. Ia mencoba berbicara sekali lagi, mengangkat sebuah tangannya dan menjatuhkannya seperti seekor bebek mati. Ia bernapas seolah-olah baru habis-habisan berkelahi; dan sepertinya ia menang karena sepuluh menit dari kami duduk, kami berbincang perlahan.

Seperti kebanyakan orang Jerman yang terpelajar, Oskar telah belajar bahasa Inggris paling tidak sekali dalam hidupnya. Meskipun begitu, tampak jelas kalau ia tidak bisa berbicara sedikitpun dalam bahasa Inggris. Kadang ia seperti mengatur kata-kata yang gampang secara bersamaan, atau lucunya, ia lakukan juga pada kalimat-kalimat berbahasa inggris itu. Konsonannya kerap terbalik, keliru tentang kata kerja, kata benda, dan penggunaan idiom-idiom. Meski begitu, kami paling tidak bisa berkomunikasi. Kami berbincang lebih sering dengan bahasa Inggris, tapi seringnya aku bantu menjelaskan dengan bahasa Jerman pijin atau dengan Yiddi, yang sering ia sebut Jiddi. Sebenarnya ia pernah pergi ke Amerika tahun lalu dalam sebuah kunjungan singkat. Ia pergi sebulan sebelum Kristallnacht, saat Nazi memecahkan kaca jendela toko orang Yahudi dan membakar semua sinagog. Ia menjajaki pekerjaan untuknya di Amerika. Karena tak punya saudara di sini, maka ia harus segera mendapatkan izin kerja agar ia bisa cepat berada di Amerika. Ia telah dijanjikan sebuah pekerjaan, tidak di bidang jurnalistik tapi pada sebuah yayasan, sebagai dosen. Lalu ia balik ke Berlin, setelah enam bulan yang menakutkan dalam penantian sebelum izin imigrasinya ke luar. Ia telah menjual apa saja yang bisa ia jual, mengatur agar lukisan-lukisannya, pemberian dari teman-teman Bauhaus-nya, juga beberapa kardus buku-bukunya agar bisa dibawa ke luar dengan menyogok dua penjaga perbatasan Nazi; ia sudah berpamitan pada istrinya dan meninggalkan negeri yang dikutuk itu. Ia menatapku dengan mata yang berkabut, “Kami berpisah baik-baik,” katanya dalam bahasa Jerman. “Istriku kafir. Mertua perempuanku juga agaknya anti-semit. Mereka memutuskan kembali ke Stenttin.” Aku diam saja. Orang kafir ya orang kafir, Orang Jerman ya orang Jerman, tidak ada hubungannya.

Pekerjaannya yang baru untuk Institute for Public Studies di New York sini. Ia mengajar selama seminggu di masa kuliah di musim gugur, dan pada kursus selama musim semi mendatang, dengan terjemahan bahasa Inggris untuk mata ajar Sastra Republik Weimar (Jerman tahun 1919 sampai tahun 1933). Ia sebenarnya belum pernah belajar itu dan takut untuk mengajarkannya. Ia selalu dalam keadaan seperti itu ketika dikenalkan pada masyarakat, tapi memikirkan mengajar menggunakan bahasa Inggris membuatnya membeku. Ia tak bisa bayangkan hal itu terjadi. “Bagaimana biza? Aku bahkan tak bisa berkata lebih dari dua kata. Aku tak biza mengeza. Aku akan terlihat tolol.” Ia berkata seperti merajuk. Dua bulan semenjak ia datang dan seputaran tinggal di hotel-hotel yang tarifnya makin lama makin murah,  ia telah mendapatkan dua tutor bahasa Inggris, dan aku adalah yang ke tiga. Yang lain menyerah, katanya, dikarenakan kemajuannya sangat lamban, dan ia pikir juga karena ia terlalu keras pada keduanya. Ia menanyakan apakah aku merasa bisa berbuat sesuatu untuknya, atau ia harus pergi ke spesialis pidato – seseorang, yang disebut, akan mengenakan tarif padanya lima dolar sejam – dan mengiba pertolongannya? “Kau bisa saja mencoba mereka,” kataku, “lalu setelahnya kau balik lagi padaku.” Aku katakan hal itu untuk mengujinya. Ia pun tersenyum. Aku ingin ia berubah pikiran, kalau tidak kepercayaan diriku akan jatuh. Akhirnya, setelah terdiam sekian lama, ia berkata bahwa ia akan tetap menggunakan jasaku. Kalau ia menggunakan jasa professor seharga lima dolar sejam itu ia akan melancarkan lidahnya tetapi menyurutkan urusan perut. Ia bisa kehabisan uang sampai tak bisa bisa makan. Yayasan tempat ia bekerja telah membayarnya di muka untuk pengajaran di musim panas, sebesar tiga ratus dolar, dan hanya itu yang ia punya.

Ia menatapku dengan tatapan bosan, “Ahku takh tahu bagaimana untukh melanzutkhannya.

Aku tahu ini saatnya untuk melewati tahap pertama. Kalau tidak cepat dilakukan, hal ini akan seperti membor batu karang yang amat keras. “Mari berdiri di depan cermin,”kataku.

Ia bangkit dengan enggan dan kemudian berdiri di sebelahku. Aku telihat kurus, tinggi, berambut merah, dan antusias untuk keberhasilannya dan keberhasilanku; Oskar terlihat rumit, ketakutan, enggan untuk menatap wajah kami pada cermin bulat di atas lemarinya.

“Coba,” kataku padanya, “bisa kaukatakan ‘benar’?”

Benarkh,” ia bersuara seperti orang berkumur.

“Bukan, ‘Benar,’ Kau harus buat lidahmu begini,” Kuperlihatkan padanya bentuk lidahku. Ia memperhatikan dengan saksama di cermin, aku juga memperhatikan ia dengan saksama. “Ujung lidah itu digetarkan sedikit di belakang gigi depan rahang atas, seperti ini.”

Ia melakukan persis apa yang kulakukan.

“Coba lagi,” kataku, “sekarang katakan ‘benar’?”

Lidah Oskar bergetar, “Benarr.”

“Bagus. Sekarang katakan ‘harta’ – ini agak sulit.”

“Gharta.”

“Lidahnya maju, jangan ditekuk ke belakang. Lihat.

Ia mencoba, alisnya basah, matanya melotot.

“Harrta.”

“Ya. Betul.”

“Ajaib.” Oskar menggumam.

Aku katakan kalau ia bisa melakukan itu maka ia akan dengan mudah melakukan hal-hal selanjutnya.

Kami pergi untuk naik bus ke arah Fifth Avenue dan berjalan-jalan sebentar mengitari danau di Central Park. Ia menggunakan topi Jermannya, yang ada pita melingkar dengan ikatan di belakang. sebuah mantel wol berkerah lebar, dasi yang lebarnya dua kali dari dasi yang aku pakai, dan berjalan dengan langkah pendek-pendek.

Malam itu tidak terlalu buruk, ada sedikit angin dingin berembus. Ada beberapa bintang besar terlihat di langit dan itu membuat aku merasa sedih.

“Kau pikhir akhu akhan berkhazil?”

“Kenapa tidak?” tanyaku balik.

Akhirnya ia membelikanku sebotol bir.

Banyak dari orang-orang sepertinya, bicara sebagaimana biasanya, kerugian terbesarnya adalah ketakmampuannya beradaptasi ketika bicara – mereka tak bisa bicara sebagaimana mereka bicara sebelumnya. Mereka bisa, tentu saja, berkomunikasi, tapi berkomunikasi secara menyedihkan. Seperti Karl Otto Alp, mantan bintang film yang menjadi buyer untuk Macy, mengatakannya bertahun lalu, “Aku merasa seperti anak kecil, atau buruknya, seringnya seperti orang bodoh. Aku membiarkan diriku tak berkembang. Apa yang kutahu, tentu, bahwa aku, akhirnya terbeban. Lidahku tergantung tak berguna.” Hal yang sama yang Oskar keluhkan. Ada perasaan menakutkan mengenai ketakbergunaan akibat tak bisa berbicara dalam bahasa inggris, dan aku pikir alasan kesulitannya dengan tutor-tutor lain adalah cara mereka mengejar kemampuannya berbahasa dalam waktu yang singkat seperti menelan isi lautan dalam sekali teguk; hari ini mereka baru belajar bahasa Inggris dan besoknya akan dikagetkan dengan kata-kata dalam pidato hari kemerdekaan yang mengagumkan, lalu diberi gambaran bagaimana mengajar dengan sukses pada Institute of Public Studies.

Kami melakukan kegiatan belajar mengajar dengan sangat lambat, bertahap, beraturan. Setelah Oskar pindah ke apartemen dua kamar di sebuah rumah di West Eighty-fifith Street, dekat dengan Drive, kita bertemu tiga kali seminggu pada jam setengah lima sore, belajar satu setengah jam; lalu, karena hari itu terlalu panas untuk memasak, kami makan malam di kedai di Seventy-second Street dan berbincang dengan leluasa. Kegiatan belajar mengajar kami bagi dalam tiga bagian: latihan diksi dan melafalkannya kencang-kencang, lalu berlatih tata bahasa, sebab Oskar merasa perlu menguasai hal itu, lalu pembetulan komposisi: dengan berbincang, seperti yang aku lakukan sekarang, saat makan malam.  Sepengetahuanku, ia bisa mengikutinya. Tak satu pun dari latihan itu membuatnya kesulitan seperti sebelum-sebelumnya. Meski ada beberapa kali dialek Jermannya membuat beberapa kata mengambang seperti mengucapkan karam menjadi karang.  Setidaknya ia sudah berhenti menganggap dirinya “takh biza apa-apa.

Tak seorang pun dari kami banyak menyoal mata kuliah yang akan ia ajarkan di awal Oktober, dan aku juga terus mengupayakan apa yang aku lakukan padanya berhasil pada akhirnya. Namun hal itu terus membayangiku setiap hari, setiap kali aku bertemu dengannya dalam sesi pengajaran itu, aku merasakan ketakutan itu, meski aku tak mau mengatakannya pada Oskar. Sejak pertemuan pertama itu sampai sepuluh pertemuan berikutnya. Sampai akhirnya kutemukan ia telah mencoba menulis dalam bahasa inggris, dibantu dengan kamus, yang menghasilkan “muzibah zempurna.” Aku menyarankan agar ia tetap menggunakan bahasa Jerman, lalu bersama-sama kami mencoba untuk menjelaskan dengan bahasa inggris yang sederhana. Aku sedikit berlaku curang mengingat bahasa Jermanku juga tidak bagus. Ide itu nyatanya membuat Oskar merasa dan ia sangat ragu jika akhirnya memang harus menerjemahkan setiap perkataannya itu nantinya. Ia terus memikirkannya dengan sungguh-sungguh dari pagi hingga malam, berkutat dengan bahasa inggris dan jerman, walaupun ia adalah penulis profesional yang terkemuka dalam generasinya yang tahu mata kuliahnya itu sulit, maka ia tak banyak mengalami perkembangan. Bulan Juli yang gerah dan lembab, membuat panasnya benar-benar tak membantu.

Aku bertemu Oskar akhir Juni dan pada tanggal tujuh belas Juli kami sudah tak melakukan kegiatan belajar mengajar lagi. Kegiatan kami telah menghasilkan sesuatu yang “muztahil” Ia melakukannya dengan heboh dan putus asa setiap harinya. Setelah menulis lebih dari seratus halaman pembukaan dari mata kuliah yang hendak diajarkannya itu, ia melemparkan penanya ke dinding, berteriak kalau ia tidak akan pernah menulis dengan bahasa yang sulit bagi lidahnya itu. Ia mengutuki bahasa Jerman. Ia membenci negeri terkutuk dan orang-orangnya yang terkutuk itu. Lalu yang buruk bertambah buruk. Ia menyerah untuk menuliskan materi kuliahnya itu dalam bahasa Inggris, ia menghentikan semua kemajuannya berbahasa Inggris. Ia bahkan seperti lupa pada apa yang pernah ia ketahui. Lidahnya kembali kaku dan dialeknya kembali pada dialek bahasa ibunya. Ia mengatakan secara singkat bahwa ia telah terbelenggu dan tersiksa dengan bahasa Inggris. Satu ketika aku dengar ia bicara bahasa Jerman itupun seperti ia tengah berbisik pada dirinya sendiri. Aku ragu ia sendiri tahu apa yang dikatakannya. Secara formal kami sudah selesai dalam kegiatan belajar mengajar itu meskipun aku sering mampir untuk duduk berbincang dengannya. Selama berjam-jam ia duduk tak bergerak di kursi besar berlengan berwarna hijau, seperti ayam yang sedang mengerami telurnya, dan melalui sebuah jendela yang tinggi ia melongok langit tak berwarna di atas Eighty Fifth Street dengan mata basah yang terlihat tertekan.

Lalu akhirnya ia berkata padaku, “Kalau zaza aku tak haruz mengerzakan mata kuliah ini, mungkin aku zudah bunuh diri.”

“Ayo, Oskar kita mulai,”kataku, “Kau dikte, aku yang tulis.Yang penting gagasannya, bukan ejaannya.”

Ia tak menjawab maka aku pun menghentikan bicara.

Ia tenggelam dalam semacam melankolia. Kami duduk berjam-jam, dan jelas dalam keheningan. Ini sangat mengejutkanku, meskipun aku telah mengalami depresi semacam ini. Wolfgang Novak, ahli ekonomi, meskipun bahasa Inggris lebih mudah buatnya, tapi ada hal yang lain. Masalahnya kebanyakan timbul dari penyakit fisik, pikirku. Dan ia merasakan lebih dalam daripada Oskar mengenai kehilangan atas negaranya. Seringnya pada sore hari aku membujuk Oskar untuk bersamaku jalan-jalan singkat di Drive. Ketika matahari telah terbenam, cahayanya yang mengenai tiang-tiang selalu menarik perhatiannya. Setidaknya ia selalu memandanginya. Ia akan mengenakan kelengkapan kebesarannya seperti topi, mantel jas, dasi, bagaimanapun panasnya hari itu atau saranku terhadap pakaiannya dan ketika kami berjalan menuruni anak tangga, aku penasaran apakah ia akan bisa sampai ke bawah.

Kami berjalan pelan ke tengah kota, berhenti sejenak untuk duduk di bangku dan memandangi malam yang bangkit di atas Hudson.

Saat kami kembali ke kamarnya, kalau aku rasa dia sudah agak sedikit mengendur, kami mendengarkan musik dari radio; tapi kalau mencari tahu siaran berita, ia berkata kepadaku, “Tolonglah, aku tak tahan mendengar penderitaan dunia ini.” Aku mematikan radio. Ia benar, saat itu tak ada berita bagus. Aku berpikir keras. Bagaimana cara memberitahunya? Bukankah tetap hidup adalah berita yang bagus? Siapa bisa mendebat hal itu? Kadang aku membaca keras-keras padanya – Aku ingat ia suka bagian pertama dari Life on the Mississippi. Kami tetap pergi ke kedai sekali atau dua kali seminggu, baginya mungkin ini di luar kebiasaannya, mengingat ia tidak pernah suka pergi kemanapun – Akulah yang membuatnya ke luar dari kamarnya. Oskar makan sedikit, dimainkannya makanannya dengan sendok. Matanya terlihat seperti telah diwarnai dengan pewarna gelap.

Suatu hari setelah hujan lebat sebentar kami duduk dengan selembar surat kabar pada bangku memandangi sungai dan Oskar akhirnya mulai berbicara. Dengan bahasa Inggris yang dipaksakan ia menyampaikan perasaannya dan kebenciannya yang tak pernah hilang pada Nazi yang telah menghancurkan karirnya, mencabut hidupnya, dan mencampakkannya seperti seberkas daging mentah ke dalam paruh elang. Ia menyumpahi mereka, negara Jerman, bukan manusia, kedegilan, orang-orang tanpa belas kasih. “Dazar babi yang menyamar zadi merag,” katanya. “Aku yakin kalau iztriku, jauh dalam hatinya, adalah pembenci orang Yahudi.” Ada kepahitan dan kekelaman yang sangat dari kata-kata yang diucapkannya. Ia diam lagi. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang istrinya tetapi tak berani menanyakannya.

Setelah hari menjadi gelap, Oskar mengaku kalau ia pernah mencoba bunuh diri pada minggu pertama berada di Amerika. Saat itu, akhir bulan Mei, ia tinggal di sebuah hotel kecil, dan satu malam ia menenggak obat bius; tetapi telefonnya terjatuh dari meja dan operator hotel mengirimkan seorang petugas elevator, yang kemudian menemukannya dalam keadaan tak sadarkan diri lalu memanggil polisi. Ia terbangun di sebuah rumah sakit.

“Aku tak bermakzud melakukannya,” katanya, “itu zebuah kezalahan.”

“Jangan pernah memikirkannya,” kataku, “itu kekalahan yang fatal.”

“Tidak.” Katanya dengan nada rapuh, “karena aku meraza zulit zekali untuk biza hidup lagi.”

“Untuk alasan apapun, sebaiknya jangan.”

Setelah agak lama berjalan, ia mengejutkanku dengan mengatakan, “Mungkin ada baiknya kita lakukan lagi kegiatan belajar mengazarnya.”

Kami agak tergesa ke rumah dan ia duduk menghadapi mejanya yang panas, aku membaca sepelan mungkin dan ia memulai kembali menuliskan halaman pertama dari mata kuliahnya. Ia menulis, tentu saja, dalam bahasa Jerman.

Ia berkutat di situ-situ saja. Kami kembali duduk dalam keheningan di dalam panas. Kadang, setelah beberapa menit, aku harus melepaskan diriku sebelum perasaannya mengalahkanku. Satu siang aku tak sengaja menaiki tangga—saat itu perasaanku tidak enak mengenainya – dan begitu menakutkan begitu tahu kalau pintu kamarnya tak tertutup. Saat aku ketuk tak ada yang membuka. Aku mematung di depan pintu, lantas menyadari kalau terpikir olehku sebuah kemungkinan ia melakukan usaha bunuh diri kembali.

“Oskar?”  Aku masuk ke dalam apartemennya, melongok ke kamar-kamar dan kamar mandi, tapi tak ada ia di sana. Aku pikir ia mungkin buru-buru pergi membeli sesuatu ke kedai sambil berkeliling sebentar. Aku cek ke kotak obatnya, tak ada obat-obatan selain aspirin, tak ada obat merah. Aku berpikir soal senjata, entah kenapa, jadi aku telisik laci-lacinya. Di dalamnya aku temukan surat tipis pos udara dari Jerman. Surat itu ditulis tangan, agak susah bagiku untuk membacanya, tapi begitu kuamati surat itu, terbaca:  Sudah tujuh tahun aku menantimu. Tak kutemukan senjata di lacinya. Aku menutup laci itu dan berhenti mencari-cari. Bagiku, jika ingin bunuh diri pasti aku akan gunakan alat yang paling tepat. Saat Oskar kembali ia berkata kalau ia betah di perpustakaan umum, tapi tak bisa membaca. Akhirnya kami sekali lagi berada dalam pemandangan yang berulang kali terjadi, tirai dibuka dengan dua karakter tak berbincang sama sekali pada sebuah kamar apartemen yang berperabotan, di mana aku duduk pada kursi yang keseluruhannya hitam, Oskar duduk pada sofa bertangan besar yang tak menyokongnya melainkan membuatnya terlihat lemah, dengan tubuhnya terlihat abu-abu, dan wajahnya yang tertutup cahaya keabuan tak jelas, berguncang-guncang. Aku meraih kenop radio untuk menyalakannya tetapi ia menatapku begitu rupa seolah memelas padaku untuk tidak melakukannya. Aku bangkit untuk meninggalkannya tapi Oskar berdehem dan suaranya terdengar berat mengharap aku tetap tinggal. Aku diam, berpikir, apakah ada yang tidak aku mengerti di sini? Masalahnya, Tuhan juga tahu, cukup jelas, tapi apakah ada yang lain terjadi di sini selain masalah keberadaan pengungsi yang merasa salah tempat, terasingkan, ketakpastian keuangan, menjadi liyan di negara yang tak ada satupun teman atau orang yang bisa berbahasa yang sama dengannya? Aku berspekulasi ini adalah sesuatu yang pernah aku alami: tak semuanya karam di lautan, mengapa ia harus mengalami hal yang sama? Setelah aku membentuk pemikiranku lantas kutanyakan padanya apakah ada sesuatu yang aku tak tahu, yang tak kelihatan? Aku selalu memikirkan hal ini sejak di sekolah, dan penasaran bahwa ada sesuatu yang tak diketahui darinya yang membuatnya depresi yang mungkin hanya psikiater yang bisa menolongnya, supaya ia bisa memulai mengajarkan mata kuliahnya nanti.

Setelah berdiam beberapa lama, ia mengaku pernah berobat untuk masalah kejiwaan dan telah dilakukan psikoanalisa padanya saat ia masih muda dulu di Wina. “Hanya tez biaza,” katanya, “Ketakutan dan bayangan-bayangan yang zetelah pengobatan itu tak lagi mengganggu.”

“Mereka yang merekrutmu tak tahu?”

“Tidak.”

“Kau telah menulis banyak artikel dan bahan perkuliahan sebelumya,’ kataku. “Yang aku tak mengerti, meski aku tahu situasinya memang berat adalah, mengapa kau tak pernah bisa menyelesaikan satu halaman pun?”

Ia sedikit mengangkat tangannya. “Ada yang membuatku behku. Kezeluruhan bahan kuliah itu zelaz bagiku, tapi zaat aku menuliz zatu kata zaza – baik dalam bahaza Inggriz atau Jerman – aku langzung ketakutan kalau aku tak biza meneruzkannya. Bahkan zika ada zezeorang melempari zendela dengan batu atau zeluruh rumah ini—kezeluruhan gagazanku hanzur. Ini berulang, zampai aku putuz aza.”

Ia berkata ketakutannya itu adalah mengenai kematian yang membuatnya tak bisa menyelesaikan mengajar, atau jika bukan soal itu, adalah tulisannya akan menjadi sesuatu yang sangat buruk sampai ia merasa harus mati saja. Ketakutan itu membuatnya tak bisa melakukan apa-apa.

“Aku telah kehilangan keperzayaan. I tidak – tak lagi memilikhi nilai-nilai yang dulu kuyakini. Dalam hidupku ada terlalu banyak iluzi.”

Aku mencoba agar ia mempercayai perkataanku: “Percayalah, maka perasaan seperti itu akan berlalu.”

“Aku tak punya lagi keperzayaan. Untuk zemazam ini dan hal lainnya aku tak lagi punya keperzayaan gara-gara Nazi.”

Saat itu pertengahan Agustus dan segalanya berkembang dengan buruk ke mana pun orang melihat. Orang-orang Polandia telah dimobilisasi untuk perang. Oskar sulit untuk digerakkan. Aku penuh dengan kecemasan meskipun aku pura-pura tenang.

Ia duduk pada sofanya yang besar, bernapas seperti binatang terluka.

“Ziapa yang biza menuliz tentang Walt Whitman pada maza-maza zeperti ini?”

“Mengapa kau tak ubah saja temanya.”

“Ini bukan mazalah temanya. Zemua ini tak berghuna.”

 Aku mendatanginya setiap hari, sebagai teman, mengacuhkan murid-muridku yang lain dan tentu dengan kehidupanku. Aku dilanda kepanikan bahwa jika semua ini berjalan sebagaimana mestinya akan berakhir dengan kematian Oskar akibat bunuh diri; dan aku begitu heboh memikirkan apapun untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi. Lebih lagi, kadang aku taku kalau aku jadi seorang yang melankolis, sesuatu yang baru, katakanlah, mengurangi kegembiraanku pada kegembiraanku yang terlalu sedikit ini. Dan kepanasan ini berlanjut, menekan, tak pernah reda. Kami telah berpikir untuk bisa melarikan diri ke negeri ini, tapi tak seorang pun dari kami punya uang. Satu hari aku membelikan Oskar kipas angin bekas – penasaran mengapa tak seorang pun dari kami pernah memikirkannya – dan ia duduk berjam-jam lamanya di depan kipas angin itu setiap hari, sampai seminggu setelahnya, di mana Soviet dan Nazi menandatangani pakta tidak saling menyerang, kipas angin itu mati. Ia tak bisa tidur saat malam dan duduk di mejanya dengan handuk basah di atas kepalanya, masih berusaha menuliskan bahan ajar kuliahnya. Ia menulis seperti berlatih, tapi tak pernah selesai. Saat ia tertidur karena kelelahan ia bermimpi yang sangat menakutkan yaitu tentara Nazi melakukan penyiksaan, kadang memaksanya memandangi mayat-mayat dari orang-orang yang mereka bantai. Dalam satu mimpi yang ia ceritakan padaku ia kembali ke Jerman menjenguk istrinya. Namun tak terlihat istrinya di rumah sampai ia diarahkan pada sebuah pemakaman. Di sana, meskipun pada batu nisan tertulis nama orang lain, tapi ia lihat istrinya bersimbah darah tergeletak di dalam lubang kubur yang dangkal. Ia meraung ketika menceritakan hal itu. Setelah itu ia menceritakan padaku mengenai istrinya. Mereka bertemu saat mereka masih bersekolah, kemudian mereka hidup bersama, lalu menikah selama dua puluh tiga tahun. Namun itu bukanlah pernikahan yang bahagia. Istrinya sakit-sakitan, tak bisa punya anak.

“Ada yang zalah di khandungannya.”

Meski aku tak bertanya, Oskar mengatakan, “Aku zudah mengazaknya pindah ke zini berzamaku, tapi ia menolak.”

“Kenapa?”

“Ia tak yakin kalau aku menginginkannya ke zini.”

“Benarkah?”

“Tidak benar itu,” katanya.

Ia menjelaskan kalau ia telah hidup dengannya hampir dua puluh tujuh tahun dalam keadaan yang sulit. Istrinya bersikap mendua jika mengenai teman-teman dan saudara-saudara Yahudinya, meskipun dari luar ia tampak sebagai orang yang bijak. Namun mertua perempuannya begitu membenci orang Yahudi.

“Aku tak biza menyalahkan diriku sendiri,” kata Oskar.

Ia berbaring di ranjangnya. Aku pergi ke Perpustakaan Umum New York. Aku membaca beberapa penyair Jerman yang ingin ia tuliskan, dalam terjemahan bahasa Inggris. Lalu aku baca Leaves of Grass dan menyalin satu dua puisi yang aku pikir mereka tulis karena puisi-puisi Whitman. Satu hari, di akhir Agustus, aku bawakan pada Oskar apa yang telah aku salin. Meski hal itu baik, tapi gagasanku tak berhubungan dengan mata kuliah yang akan ia ajarkan. Ia berbaring, tak bergerak, dan mendengarkan dengan sedih apa yang telah aku salin itu.  Lalu katanya, tidak, itu bukan cinta pada kematian yang para penyair itu dapatkan dari Whitman—itu murni puisi-puisi Jerman—yang isinya berkenaan dengan tema Brudermensch. Isu kemanusiaan.

“Tapi tak ada lagi kemanuziaan di bumi Jerman,” katanya, “Zebentar lagi hanzur.”

Aku minta maaf padanya karena telah salah, tapi ia berterima kasih padaku biar bagaimanapun itu.

Aku menyingkir, merasa kalah, dan begitu aku menuruni tangga kudengar suara isak. Aku ingin menghentikan ini semua, pikirku, ini sudah terlampau besar bagiku. Aku tak mau turut tenggelam bersamanya.

Aku diam di rumah esok harinya, merasa bahwa jenis baru kepedihan yang pribadi itu terlalu tua bagi seseorang seusiaku, tapi pada malam yang sama Oskar menelefonku, mengatakan bahwa ia telah membaca semua catatan yang pernah kuberikan padanya. Ia telah menulis surat yang menyatakan letak kesalahanku itu di mana dan pada akhirnya ia mengatakan telah menuliskan separuh dari mata kuliah yang akan ia ajarkan. Ia telah tidur seharian dan mala mini ia ingin menyelesaikan tulisannya.

“Terima kazih,” katanya, “untuk banyak hal, termasuk memperzayaiku.”

“Puji Tuhan,” kataku, kusembunyikan kenyataan bahwa aku hampir saja kehilangan kepercayaanku.

Oskar menyelesaikan tulisannya – menulis dan menuliskan ulang – selama minggu pertama September. Nazi telah menginvasi Polandia, dan meski kami semua dalam keadaan yang gawat, ada perasaan yang terlepaskan; barangkali orang-orang Polandia yang gagah berani akan mengalahkannya. Perlu satu minggu lagi untuk menerjemahkan mata kuliah itu, tapi kami telah mendapatkan bantuan dari Friedrich Wilhelm Wolff, ahli sejarah, orang baik, pria terpelajar yang suka menerjemahkan dan menjanjikan pada Oskar bantuannya untuk mata kuliah selanjutnya. Akhinrya kami sampai pada dua minggu sampai Oskar mengajar. Cuaca sudah berubah, dan begitu juga, pelan-pelan, Oskar berubah. Ia telah bangkit dari perasaan kalah, babak belur, setelah perang yang melelahkan. Ia hampir kehilangan berat badannya sepuluh kilogram. Coraknya masih tetap abu-abu; saat kulihat pada wajahnya berharap bisa melihat lukanya, tapi sudah tak kentara. Matanya yang biru kembali hidup dan ia berjalan dengan langkah yang cepat, seperti mengejar langkah-langkah yang tak dilakukannya sepanjang hari-hari panas saat ia terbaring dalam kamarnya.

Kami kembali pada rutinitas kami dulu, bertemu tiga kali menjelang sore untuk belajar diksi, tata bahasa, dan latihan lainnya. Aku mengajarinya abjad fonetik dan menyalin kata-kata yang ia suka keliru mengeja. Ia berlatih berjam-jam untuk mencocokkan setiap suara pada tempatnya, menggunakan batang korek api antara gigi-giginya agar menjaga rahangnya terbuka saat ia melatih lidahnya. Ini semua akan jadi pekerjaan yang sangat membosankan jika kau tidak memikirkan tentang ke depannya. Melihatnya, aku merasakan apa yang diartikan jika seseorang disebut “orang yang lain.”

Pengajaran kuliahnya, yang kutahu pasti, berlangsung dengan baik. Direktur institut telah mengundang orang-orang yang pas dibidangnya. Oskar adalah pengungsi pertama yang mereka pekerjakan, dan hal itu adalah gerakan yang bisa dilihat oleh masyarakat luas sebagai hal yang baru di dalam kehidupan bangsa Amerika. Dua orang wartawan datang dengan seorang juru foto perempuan. Auditorium institute itu dipenuhi oleh orang. Aku duduk pada barisan bangku terakhir, berjanji mengangkat tanganku jika ia tak bisa terdengar, tapi itu tak perlu. Oskar, dengan kemeja biru, rambut yang dipangkar, terlihat canggung, tapi tak kentara jika kau tak mengenalnya. Ketika ia berdiri di atas mimbar, membagikan tulisannya, dan berbicara kalimat pertama berbahasa Inggris di hadapan umum, jantungku berdebar; hanya dia dan aku, dari orang-orang yang ada di sana, tahu bahwa betapa telah menderitanya ia untuk melakukannya. Pelafalannya tak buruk-buruk amat – ada sedikit bunyi mendesis untuk kata berakhiran th, dan ia sekali menyebut bag untuk kata back, tapi selebihnya ia melakukannya dengan baik. Ia membaca puisi dengan baik – dalam dua bahasa – dan menyampaikan pemikiran Walt Whitman menurut kata-katanya yang terdengar seperti seorang pengungsi Jerman yang mendarat di pantai Long Island, tapi puisi tetaplah puisi:

And I know the Spirit of God is the brother of my own,
And that all the men ever born are also my brothers,
and the women my sisters and lovers,
And that the kelson of creation is love …

Oskar membacanya seperti ia mempercayainya. Warsawa telah jatuh, tapi kata-kata itu seolah menjaga. Aku duduk menyadari dua hal: bagaimana mudanya menyembunyikan luka-luka terdalam; dan kebanggaan telah melakukan pekerjaan yang telah kulakukan.

Dua hari kemudian aku muncul di tangga menuju apartemen Oskar dan menjumpai ada kerumunan di sana. Pengungsi itu, wajahnya semerah bit, bibirnya kebiruan, bekas buih ludah di sudut mulutnya, terbaring di atas lantai dalam piyamanya yang lusuh, dua orang petugas kebakaran berlutut memasang inhalator. Jendela-jendela kamarnya terbuka dan udara berbau.

Seorang petugas kepolisian bertanya kepadaku siapa kamu tetapi aku tak bisa menjawab.

“Tidak, o tidak.”

Aku berkata tidak tapi itulah yang terjadi. Ia bunuh diri – gas – aku bahkan tak pernah memikirkan tentang kompor di dapur.

“Mengapa?” Aku bertanya sendiri.

“Mengapa ia melakukannya?”

Mungkin memang sudah suratan untuk Polandia di atas segala yang terjadi, tapi satu-satunya jawaban yang mungkin muncul adalah catatan yang ditulis Oskar bahwa ia tidaklah sehat, dan mewariskan semua miliknya pada Martin Goldberg.

Akulah Martin Goldberg.

Aku sakit selama seminggu, tak punya keinginan apakah mewarisi atau menyelidiki, tapi aku merasa harus mencari tahu apa saja miliknya sebelum pengadilan menyitanya, jadi aku habiskan satu pagi duduk di kedalaman sofa Oskar, mencoba membaca surat-suratnya.

Aku menemukan di laci atas satu bundel tipis surat-surat dari istrinya dan sebuah surat udara baru-baru ini dari mertuanya. Ia menulis dengan tulisan yang rapat sehingga membuatku berjam-jam untuk membacanya bahwa anak perempuannya, setelah Oskar meninggalkannya, melawan alasan-alasan kuat dan derita ibunya, telah menganut agama Yahudi oleh seorang rabi yang dendam. Suatu malam Pasukan Berbaju Coklat datang, dan meskipun ibunya dengan marah menunjukkan salib perunggu ke wajah mereka, mereka menyeret Frau Gassner, dan bersama dengan orang-orang Yahudi lainnya, dibawa ke luar dari rumah apartemen dan mengangkutnya dalam gerbong-gerbong ke kota kecil di perbatasan Polandia yang telah ditaklukkan. Di sana, menurut kabar, ia ditembak kepalanya dalam keadaan tak berbusana ia dicampakkan ke lubang terbuka bersama lelaki-lelaki Yahudi, istri-istri mereka, dan anak-anak mereka, beberapa tentara Polandia, dan sekelompok Gipsi.

1963


Bernard Malamud lahir di Brooklyn, New York pada 26 April 1914 dari keluarga imigran Yahudi-Rusia. Tahun 1940-an ia menjadi pengajar di sekolah malam dan di tahun 1949 mengajar di University of Oregon. Kumpulan cerpennya yang berjudul “The Magic Barell” mengantarnya mendapatkan penghargaan National Book Award di tahun 1959. Ia menjadi dosen di Bennington sejak tahun 1961 sebelum pensiun 20 tahun kemudian. Ia meninggal di New York pada tanggal 18 Maret 1986 silam.

 

Iklan