Cerpen Gerson Poyk

Gerson Poyk
Rumah Sukun
(Pernah terbit di harian Kompas tanggal 28 Mei 2017)

Pagi itu ketika Adam dan istrinya Adama bangun, air di halaman rumah mereka sudah setinggi tiga meter. Hujan yang turun semalam suntuk menyebabkan banjir besar yang merendam seluruh perkampungan kumuh. Manusia bagaikan tikus yang lari pontang-panting, mengungsi ke mana-mana.

Adama yang bangun lebih dulu tidak bisa berbuat banyak untuk menolong tetangganya yang kena musibah karena tangga rumahnya yang terletak di atas meja beton raksasa setinggi tujuh meter itu, sudah diangkat. Para perempuan dan anak-anak berada di atas rakit batang pisang, dibawa ke tanah yang lebih tinggi. Ia berpikir, kalau tangganya diturunkan maka pengungsi akan naik ke atas atap rumah, di atas meja beton raksasa itu. Di atas meja beton raksasa seluas sepuluh kali lima belas meter, terletak rumah yang terbuat dari bambu kuning berukuran sembilan kali enam meter. Rumah itu tak dapat menampung banyak orang. Akan tetapi, ketika ia melihat lima orang ibu duduk menggendong lima bayi yang semuanya basah kuyup, ia menurunkan tangga lalu beberapa lelaki menolong mereka menaiki tangga dan masuk ke dalam rumah bambu kuning itu.

Adam, sang suami terbangun oleh tangis lima bayi. Ia segera meminta pertolongan istrinya menyediakan pakaian kering untuk kelima bayi itu. Setelah tubuh bayi-bayi dan ibu mereka kering, Adama menghidupkan api dengan kayu bakar di atas tungku, menggoreng sukun, memasak bubur dan membuat susu untuk bayi-bayi itu.

Tidak lama kemudian Mpok Uni, pembantu rumah-tangga datang dengan kendaraan rakit batang pisang yang didorong memakai galah bambu yang panjang. Setelah membersihkan rumah, Adama memberinya uang belanja lalu ia menuruni tangga, naik rakit batang pisang lagi untuk berbelanja ke pasar. Kembali membawa belanjaan, Mpok Uni memasak makanan yang cukup untuk dimakan oleh lima orang ibu pengungsi termasuk tuan rumah dan Mpok Uni, pembantu mereka.

Sehabis makan siang, tiba-tiba terdengar bunyi motor air. Adam dan Adama melihat keluar. Ada perahu karet yang dipenuhi oleh orang berpakaian seragam pemerintahan.

“Siapa mereka itu?” tanya Adam kepada istrinya.

“Rombongan Gubernur,” jawab istrinya.

“Masa Gubernur berbanjir-banjir,” kata Adam.

“Itu Gubernur sungguhan,” kata Adama.

“Bukan, ah,” bantah suaminya.

Sementara itu perahu karet bermotor itu sudah bersandar ke tangga. Gubernur dan rombongan menaiki tangga, menjabat tangan Adam dan Adama, lalu mereka dipersilakan masuk oleh tuan rumah.

Setelah rombongan itu duduk, Gubernur berkata. “Rumah ini indah sekali. Ada pohon sukun keliling rumah. Ada totem-totem ekspresif. Ada lukisan besar-besar primitif artistik. Dari mana benda-benda seni ini?” tanya gubernur.

“Dibuat sendiri, Pak.”

“Dan lukisan-lukisan lebar ini?”

“Hasil karya istri saya, Pak. Istri saya pelukis,” kata Adam.

“Pantas. Istri pelukis dapat membuat rumah dan halaman menjadi taman, mungkin sang suami seorang arsitek pertamanan. Lihat saja pohon-pohon sukun yang buahnya lebat dan daunnya yang rimbun bergantungan, lihat saja rumpun-rumpun pohon bambu kuning, rumpun pisang yang buahnya bergelantungan. Taman ini dilukis oleh nyonya rumah. Lihat lukisan daun sukun dan buahnya dengan wanita cantik yang gemuk. Tidak kalah dengan lukisan Gaguin yang pernah saya lihat di museum luar negeri.”

“Saya bukan arsitek pertamanan, Pak. Saya mantan guru di sebuah dusun hutan Papua,” kata Adam.

“Pantas. Rumah ini mirip rumah pohon, seperti rumah orang Papua. Tapi ini rumah Papua modern. Sekarang masih mengajar?”

“Tidak lagi. Di Papua saya dipecat,” kata Adam.

“Sedih sekali, saya dipecat karena harus meninggalkan rumah sukun saya di sana. Rumah sukun saya di Papua, semuanya terbuat dari kayu kelas satu anti rayap anti lapuk. Buah-buah sukun bahkan masuk bergelantungan sampai ke depan jendela dan pintu rumah seperti rumah ini. Tiap hari saya makan buah roti, makan breadfruit, Pak. Saya juga makan hamburger karena daging datang sendiri ke kolong rumah sukun saya. Puluhan celeng, rusa, ular, biawak, buaya, tokek, tikus, kodok datang bermain di kolong rumah. Tinggal dipanah lalu daging binatang itu diasap menjadi smoked beef. Hutan Papua adalah firdaus gizi,” kata Adam menggeleng-gelengkan wajahnya, “Kini dusun hutan saya sudah menjadi pusat ekowisata. Orang asing yang datang, ramai-ramai bersama penduduk membangun banyak rumah sukun. Mereka memakai koteka supaya kulit dan telapak kaki mereka tebal, memanjat pohon, bergelantung, berayun di akar-akar seperti Tarzan, berteriak-teriak meniru suara binatang hutan, bersiul meniru suara burung, mendesis meniru suara ular, mendengung-dengung meniru suara kodok. Pesawat-pesawat terbang kecil mendarat di sungai dan terbang kembali. Saya ingin kembali ke sana….”

“Mengapa sampai dipecat lalu meninggalkan Papua?” tanya Gubernur lagi.

“Saya diusir,” jawab Adam.

“Siapa yang mengusir?” tanya Gubernur.

“Pemerintah.”

“Ah, tidak mungkin. Pemerintah tidak mungkin mengusir seorang guru. Papua sangat memerlukan guru.”

“Atas hasutan pengembang proyek transmigrasi, kaki tangan kapitalisme myopic. Mereka datang ke Papua membawa mesin-mesin raksasa menghancurkan hutan, mengubahnya menjadi sawah monokultur sehingga top soil tak dilindungi akar hutan. Saya tidak setuju lalu saya mengerahkan massa Papua berdemonstrasi. Sayangnya massa jadi anarkistis, membakar alat-alat berat dan gudang-gudang. Saya ditahan, dipenjarakan, dipecat dan begitu keluar dari penjara, diusir lalu terdampar di sini. Di sini saya membeli tanah satu acre yakni sekitar empat ribu meter, lalu saya tanami sukun, bambu, pisang, nangka, pepaya, duren, jambu, sirsak, delima dan lain-lain. Saya hidup dari hasil kebun saya dan kebun saya hidup dari tanah. Saya seorang Adam yang hidup dari Adama yang berarti tanah. Adam dan Adama adalah bahasa Ibrani, Pak. Saya mendapat istri bernama Adama. Mula-mula ia bernama Maria Tzu tetapi kemudian diubah menjadi Adama.”

“Dari mana modal untuk membeli tanah dan membangun rumah sukun ini?” tanya Gubernur.

“Waktu saya diusir saya menghilang, bergabung dengan penduduk pendulang emas di sungai pembuangan sampah tambang emas. Tiga tahun mendulang, hasilnya satu setengah kilogram emas. Siang malam saya mendulang di terik matahari dan angin dingin, pakai koteka saja sehingga kulit saya tebal. Waktu saya kena malaria atau apa, seorang misionaris dokter menyuntik saya. Jarumnya patah. Sang misionaris membakar tang dan pisau, lalu kulit saya dikerok dan jarumnya dicabut. Dia kagum dan berkata bahwa saya harus menjadi instruktur pasukan khusus Tentara Nasional Indonesia,” Adam berkisah.

Gubernur tertawa, “Insinyur siapa yang membangun rumah ini?”

“Saya dan istri saya dibantu tukang kampung, bukan insinyur. Awalnya istri saya gemuk sekali tetapi setelah bekerja setiap hari mencampur semen untuk membuat tiang beton tulang besi kaki ayam, ia jadi kurus, langsing seperti sekarang,” kata Adam.

Sang istri yang duduk di samping suaminya mendorong bahu suaminya.

“Mengapa Saudara tak setuju dengan program transmigrasi di Papua?” tanya Gubernur lagi.

“Saya setuju dengan transmigrasi tapi transmigran yang datang ke Papua harus seperti saya. Membangun rumah sukun di tengah hutan. Soalnya kalau di hutan, kita banyak makan daging perburuan sehingga sedikit memperoleh anak. Orang Jawa dan Sunda hidup dari sawah. Setiap hari makan nasi sehingga jadi banyak anak. Lihat saja tikus sawah yang mewabah karena makan padi. Perempuan Jawa dan Sunda yang banyak makan nasi potensial banyak anak sehingga bisa menjadi wabah di tanah Papua, wabah yang memusnahkan orang Papua. Percaya atau tidak, orang Papua akan punah kalau transmigrasi sawah merebak. Padahal perempuan Jawa dan Sunda itu arif dalam perkara makanan,” kata Adam. “Perempuan Jawa suka makan gado-gado, perempuan Sunda punya kearifan budaya lokal di bidang kuliner bernama lalap. Kata orang, kawin dengan perempuan Sunda sangat enak dan gampang. Lepas dia ke hutan hanya dengan modal sambal, tiap hari ia akan bersenandung kecapi Sunda sambil makan lalap!”

Gubernur tertawa, “Bisa aje Kang Adam ini. Kata siapa makan nasi jadi wabah tikus?”

“Kata literatur, kata para ahli. Lihat orang Eropa. Mereka makan daging setiap hari sehingga anaknya sedikit,” kata Adam.

“Dari mana orang Indonesia memperoleh daging setiap hari? Daging manusia banyak karena makan nasi,” kata Gubernur terbahak-bahak.

“Indonesia tidak kekurangan protein sebenarnya. Ikan tak akan habis di laut. Di sawah banyak tikus, kodok, belut, ular, biawak dan sebagainya. Semua itu protein. Banjir ini membawa protein setiap hari setiap jam. Saya dan istri membuat jaring yang ditaruh di banjir. Waktu diangkat, ada ikan, ada biawak, ada ular. Banyak sekali. Karena banyaknya kami awetkan,” kata Adam.

“Diawetkan dengan apa?” tanya Gubernur.

“Dengan asap. Asap berfungsi selain membuat daging asap, juga mengusir petir. Kalau hujan petir dan halilintar kami mengasapi ikan, ular, biawak. Maaf, saya undang Bapak melihat ke dapur. Ada tergantung banyak ular, tokek dan biawak dibawa banjir yang sudah diasap,” Adam mengundang Gubernur.

Ketika gubernur dan stafnya melihat binatang-binatang yang sudah awet itu mereka berseru, “Astaganaga!”

“Daging yang paling enak melebihi daging binatang ternak adalah daging ular, Pak. Juga ekor buaya, rasanya gurih, kenyal. Bapak-Bapak mau coba daging ular dan biawak?”

Serentak pejabat-pejabat itu ngeong, “No. No, no….”

Kembali ke kamar tamu Adam berkata, “Sebentar lagi kita angkat jaring yang terpasang kemarin. Pasti akan terjaring banyak protein yang dibawa banjir tadi malam. Itu di sana, di selokan yang banjirnya deras kami pasang jaring besar di sana,” kata Adam.

Gubernur, sambil bersandar, berkata, “Saya salah, mengapa saya membangun tidak rumah sukun. Mengapa baru sekarang kita bertemu dan melihat rumah ini. Kalau dulu saya melihat rumah dan taman sukun ini, saya akan bangun banyak rumah dan taman sukun.”

“Begini, Pak,” kata Adam. “Baik rumah susun, baik rumah sukun di kota besar ini, semuanya menyenangkan setan.”

“Maksudnya?” tanya Gubernur.

“Manusia akan berbondong ke kota. Urbanisasi makin membengkak. Seperti kata literatur, urbanisasi dan pengangguran adalah setan yang paling buas. Sebaiknya transmigrasi gaya rumah sukun disebarkan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Akan tetapi semua ini, mestinya jadi urusan Departemen Transmigrasi dan Tenaga-Kerja. Sayangnya departemen ini hanya mengurus babu-babu dan budak upah. Di hutan, manusia adalah manusia, adalah bos atas dirinya sendiri. Saya pikir dalam tempo sepuluh tahun, kalau ada program transmigrasi rumah sukun, negeri ini akan maju, orang miskin dan penganggur akan lenyap dan kalau ada industri berat kita akan menjadi bangsa adidaya,” kata Adam.

“Akan tetapi kita perlu banyak kapal untuk mengangkut berjuta transmigran,” kata Gubernur.

“Soal kapal tirulah Jepang. Ketika Jepang diusir dari Port Arthur, dalam tempo sembilan tahun saja Jepang bangun industri besar, kapal besar, mesin besar, meriam besar dan sebagainya lalu menenggelamkan armada kapal perang Rusia. Kita ini punya batubara, minyak, besi, timah, nikel, tembaga dan sebagainya. Tinggal memasak logam dan mengecornya menjadi kapal, mobil, pesawat terbang dan sebagainya. Dalam tempo sembilan tahun, Pak Gubernur, sembilan tahun Jepang jadi raksasa. Kita ini seperti India. Ketika Jepang sibuk dengan teknologi, dengan mesin-mesin besar, India sibuk memperbanyak sarjana hukum. Indonesia pun demikian tetapi hanya mencetak sarjana hukum yang tidak mampu menegakkan hukum, kecuali mafia hukum. Ekonomi Amerika dikemudikan oleh pemikir bernama Keynes dan filsafat pragmatisme. Intelektual dunia melawan fundamentalisme agama yang mengandalkan eros dan thanatos, yakni naluri kehidupan syahwat dan naluri kematian, dengan karya para filsuf antara lain John Locke, Descartes, Kant dan lain-lain. Begitu yang saya baca dari literatur yang saya bawa ke hutan Papua, hutan yang memberikan waktu senggang untuk belajar karena tidak mempergunakan waktu menggarap sawah. Di Amerika ada kampus di tengah hutan buatan tetapi tidak ada sagu, sukun dan binatang perburuan. Kalau ada kampus di tengah hutan Papua, maka mahasiswa akan tertolong,” celoteh Adam. “Menurut perhitungan China sebelum perang, biaya untuk seorang mahasiswa dalam setahun setara dengan 30 tahun kerja petani. Kalau ia kuliah 5 tahun sampai tamat maka seorang sarjana menghabiskan 150 tahun kerja petani. Bayangkan, di negeri ini ada jutaan sarjana nganggur,” Adam merenung. “Soal mengatasi banjir, panggil insinyur kanal Belanda. Orang Belanda bisa mengalahkan Atlantik dengan membuat bantaran raksasa sehingga memperoleh tanah pertanian yang lebih rendah dari permukaan samudra. Indonesia tak mampu melawan segumpal awan yang menurunkan hujan cuma satu atau dua jam,” tambah Adam.

Gubernur melihat jam di tangan, “Oke, nanti saya sediakan ruangan dan waktu untuk acara diskusi macam ini secara berkala, tapi mari kita lihat jaring yang ditaruh tadi malam. Saya ingin lihat ikan yang dibawa banjir.”

Ketika jaring diangkat, tampak ikan menggelepar. Ada beberapa ular dan biawak tetapi jaringnya agak berat. Tiba-tiba tampak dua tengkorak manusia, yang satu besar, yang satu kecil.

“O, Tuhan, di atas sana ada kuburan yang dikuras banjir dan membawa tengkorak ke jaring ini,” kata Adam dengan suara keras.

Gubernur mengambil kedua tengkorak itu dan berkata, “Blessing in disguise, banjir membawa ikan untuk pengungsi tapi juga tengkorak buat saya. Saya bawa dua tengkorak ini ke kantor, ya!”

“Jangan dilihat wartawan. Nanti Bapak dicap dunia sebagai Gubernur Tengkorak!”

“Bungkus!” titah Gubernur.

Waktu Gubernur pergi, terdengar ciap-ciap kelima perempuan pengungsi dan bayi-bayi mereka….***

 

Catatan:

Cerpen ini ditulis beberapa bulan sebelum Gerson Poyk meninggal karena sakit. Pengarang kelahiran Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, ini wafat, 24 Februari 2017. Ia lahir pada 16 Juni 1931. Gerson menghabiskan lebih dari separuh hidupnya dengan menulis. Ia mulai dikenal dalam dunia penulisan kreatif di Tanah Air sejak tahun 1950. Kritikus HB Jassin menempatkan dia sebagai salah satu eksponen sastrawan Angkatan 66.

Iklan