Cerpen Haruki Murakami: Kota Kucing

Oleh Haruki Murakami

DI stasiun kereta Koenji, Tengo naik kereta cepat Chuo Line.  Gerbongnya kosong. Ia tak sedang merencanakan apa-apa hari itu. Mau ke mana atau mau berbuat apa semuanya terserah dia. Waktu itu sekitar jam sepuluh pagi di suatu musim panas tak berangin, dan matahari terik. Kereta telah melalui Shinjuku, Yotsuya, Ochanomizu, dan tiba di Stasiun Pusat Tokyo, di akhir perjalanan. Semua orang turun dan Tengo pun ikut turun. Lalu ia duduk di bangku berpikir sejenak hendak kemana ia saat itu. “Aku bisa pergi ke mana pun aku ingin pergi,”katanya meyakinkan dirinya sendiri, “dan karena nampaknya hari sangat panas, lebih baik aku pergi ke pantai.” Ia mendongak dan mempelajari petunjuk peron.

Saat itulah, ia sadar apa yang akan ia lakukan seharian.

Berkali, ia coba menggelengkan kepala menolak kesadaran itu, tapi apa yang telah diputuskannya itu tak mau beranjak. Barangkali memang saat ia tadi naik kereta Chou Line di Koenji, tanpa sadar telah memutuskan hal ini. Maka, sambil mengela napas panjang, ia berdiri dari bangku, dan bertanya pada petugas stasiun bagaimana caranya bisa cepat sampai di Chikura. Petugas tadi membuka buku jadwal kereta yang tebal sebelum berkata, “Ada kereta ekspres khusus ke Tateyama pukul 11:30, lalu dari sana pindah ke kereta setempat, dan kau akan tiba di Chikura kira-kira jam dua siang.” Tengo pun membeli tiket Tokyo-Chikura pulang-pergi. Kemudian ia pergi ke restoran di stasiun memesan nasi dengan kari dan sepiring salad.

Sebenarnya, ide mengunjungi ayahnya adalah hal yang sangat merisaukan. Ia tidak pernah suka dengan ayahnya, dan sebaliknya ayahnya pun seolah tak pernah benar-benar mengasihinya. Empat tahun lalu, ayahnya pension, dan segera mengasingkan diri ke Sanatorium yang dikhususkan bagi penderita kekacauan berpikir. Tengo pernah mengunjunginya, tapi tak lebih dari dua kali, pertama ketika ayahnya baru masuk tempat itu, dan itu pun karena ada masalah dengan prosedur yang memaksa Tengo sebagai satu-satunya kerabat harus ada di sana. Kunjungan kedua juga masih berhubungan dengan masalah administrasi. Ya. Hanya dua kali.

Sanatorium itu berdiri pada sebidang tanah yang cukup besar di sebelah pantai. Bangunannya terlihat aneh karena perpaduan dari bangunan kayu tua yang elegan dan tiga lantai bangunan beton bertulang baru. Udaranya terasa segar dan juga terasa tenang seolah jauh dari hingar debur ombak. Deretan pohon pinus menjajari pagar sepanjang taman menjadi penahan deru angin. Fasilitas medis di sini juga sangat baik. Dengan asuransi kesehatan, bonus pensiun, tabungan, dan uang pensiunnya, Ayah Tengo mungkin bisa hidup nyaman di sini di akhir hayatnya. Barangkali tak banyak warisan yang akan ditinggalkannya, tapi setidaknya dikarenakan ia akan mendapat perawatan yang baik, Tengo patut bersyukur. Apalagi Tengo tak pernah berniat meminta sesuatu bahkan memberikan sesuatu kepada ayahnya. Mereka berdua benar-benar seperti dua orang asing yang berasal dari – dan nantinya pun tetap berada di – dua tempat yang benar-benar berbeda. Hanya kebetulan, selama bertahun-tahun, mereka pernah bersama-sama, itu saja. Dan itu seperti sebuah aib, meskipun tak ada yang bisa Tengo lakukan atasnya.

Setelah membayar tagihan, Tengo menuju peron tempat kereta ke Tateyama akan berhenti. Satu-satunya teman sesame perjalanannya adalah sebuah keluarga yang terlihat bahagia karena akan piknik di pantai beberapa hari lamanya.

Kebanyakan orang berpikir hari Minggu adalah saatnya istirahat. Namun bagi Tengo, apalagi melihat masa kanak-kanaknya, tak pernah sedikitpun terlintas untuk bisa menikmati hari Minggu. Baginya, hari Minggu seperti sisi bulan tergelap yang menampakkan bentuk yang cacat. Saat akhir pecan tiba, seluruh tubuhnya terasa lemas dan sakit, dan seluruh nafsu makannya hilang. Ia bahkan pernah berdoa agar hari Minggu itu tidak pernah ada, meskipun ia tahu hal semacam itu tak akan terjadi.

Saat Tengo masih anak-anak, ayahnya bekerja sebagai penagih bea langganan untuk NHK – Jaringan televisi dan radio milik pemerintah Jepang – dan, setiap hari Minggu, ayahnya akan mengajak Tengo pergi menagih dari rumah ke rumah. Kebiasaan ini telah dimulai sejak Tengo masuk ke TK sampai kelas 5 SD tanpa pernah berhenti sama sekali setiap minggunya. Ia tak pernah tahu apakah karyawan lain di NHK bekerja di hari Minggu juga sama seperti ayahnya, tapi yang ia tahu pasti ayahnya selalu bekerja di hari Minggu, bahkan ayahnya terlihat lebih bersemangat dari hari-hari lain, karena di hari Minggu mereka bisa bertemu dan menagih orang-orang yang pada hari biasa tidak ada di rumah.

Ada beberapa alasan mengapa ayah Tengo selalu mengajaknya melakukan itu. Salah satunya adalah karena ia tak bisa meninggalkan Tengo sendirian di rumah. Pada hari biasa dan Sabtu, Tengo bisa pergi sekolah atau dibawa ke penitipan anak, tapi tempat itu tutup di hari Minggu. Alasan lain adalah, kata ayah Tengo, sangat penting menunjukkan pekerjaan apa yang dilakukan seorang ayah. Anak bisa belajar secara dini kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk membantu ayahnya, dan ia juga bisa menyadari pentingnya pekerjaan itu. Dulu, ayah Tengo juga dikirim ke ladang oleh ayahnya, di hari Minggu seperti di hari-hari biasa, sejak saat ia dianggap cukup umur untuk mengetahui segalanya. Bahkan, pada musim-musim tanam dan panen, ayah Tengo membolos sekolah. Baginya, kehidupan seperti itu harus diteruskan.

Alasan ke tiga dan alasan terakhir yang diperhitungkan, dan yang menyebabkan luka mendalam di hati anaknya adalah membawa Tengo kecil saat menagih justru memudahkan pekerjaannya. Orang-orang yang biasanya menunda pembayaran dengan macam-macam alasan akan trenyuh jika melihat tatapan mata Tengo, dan karena inilah ayah Tengo selalu menyisakan menagih mereka yang sulit ditagih di hari Minggu. Tengo sebenarnya sudah tahu sejak awal tugasnya itu, dan ia sangat benci melakukannya. Namun ia juga merasa jika ia pandai melakukannya, ia bisa menyenangkan hati ayahnya. Jika ia menyenangkan hati ayahnya, ia akan diperlakukan baik sekali hari itu. Agaknya, bagi ayahnya, ia tak lebih seperti seekor monyet sirkus.

Satu-satunya yang membuat Tengo gembira adalah jalur menagih ayahnya cukup jauh dari rumah. Mereka tinggal di perkampungan di daerah pinggiran kota Ichikawa, sedangkan rute perjalanan ayahnya ada di tengah kota. Setidaknya ia bisa mengindar dari menagih di rumah-rumah teman sekolahnya. Meski begitu, ketika mereka berjalan di area perbelanjaan di kota, ia bisa melihat teman sekolahnya di jalan. Kalau sudah begitu, ia akan menyembunyikan diri di balik punggung ayahnya daripada ketahuan.

Senin pagi biasanya teman-teman sekolahnya bercerita dengan penuh semangat ke mana mereka pergi dan apa yang mereka perbuat di hari minggu lalu. Pergi ke taman bermain atau kebun binatang atau melihat pertandingan baseball. Kalau musim panas, mereka berenang, sedang pada musim dingin mereka pergi bermain ski. Namun Tengo tak punya bahan cerita seperti itu. Dari pagi sampai sore di hari Minggu, ia dan ayahnya membunyikan bel pintu rumah orang yang tak dikenal, menundukkan kepala, dan mengambil uang dari siapa saja yang membukakan pintu. Jika ada orang yang tidak mau membayar, ayahnya akan mengancam atau mengiba pada mereka. Kalau mereka beralasan macam-macam, suara ayahnya akan meninggi. Kadang ia memaki mereka seperti anjing jalanan. Pengalaman seperti itu tentu bukanlah pengalaman yang mungkin akan Tengo bagi dengan teman-temannya. Ia tidak tahan merasa seperti orang asing di tengah anak-anak kelas menengah pekerja kantoran itu. Ia seperti hidup di dunia yang benar-benar berbeda. Untungnya, nilai-nilai pelajarannya menonjol, sebagaimana kemampuan atletiknya. Jadi meskipun ia seperti orang asing tapi ia tak pernah benar-benar terasing dari pergaulan. Pada banyak kesempatan ia malah diperlakukan teman-temannya dengan penuh rasa hormat. Namun kapanpun anak-anak lain mengajaknya pergi atau bermain ke rumah mereka di hari Minggu ia akan menolak. Akhirnya, teman-temannya pun tak pernah lagi melakukannya.

Lahir sebagai anak ke tiga dari keluarga petani di daerah Tohoku yang keras, Ayah Tengo harus pergi dari rumah secepat mungkin, bergabung dengan Kelompok transmigran dan pergi ke Manchuria pada tahun sembilan belas tiga puluhan. Ia tak pernah percaya propaganda pemerintah bahwa Manchuria adalah surga dengan tanah yang subur dan kaya. Ia sangat tahu kalau surga tak akan pernah diketemukan di mana pun. Yang jelas ia adalah orang miskin dan lapar. Satu-satunya alasan untuk pergi ke hanyalah jika ia tetap tinggal di rumah maka hidupnya sangat dekat dengan kelaparan. Di Manchuria, ia dan para transmigran lainnya diberi perkakas dan sarana produksi pertanian, dan bersama-sama mereka mulai melakukan pengerjaan lahan. Tanahnya ternyata berbatu dan tidak subur, lalu jika musim dingin tiba semuanya membeku. Saking kelaparannya, mereka kadang memakan anjing liar. Meskipun demikian, mereka berhasil melewati tahun-tahun pertama mereka dengan bantuan dari pemerintah. Hidup mereka mulai stabil ketika, pada bulan Agustus 1945, Uni Sovyet melancarkan serangan besar-besaran ke Manchuria. Ayah Tengo telah mengetahui hal ini akan terjadi, karena secara diam-diam ia mendapatkan informasi tentang situasi apa yang akan terjadi dari seorang pejabat yang telah berkawan dengannya. Begitu didengarnya kabar bahwa Sovyet telah memasuki daerah perbatasan, segera ditungganginya kuda, dan dikebutnya sampai stasiun kereta setempat, lalu berangkat dengan kereta kedua terakhir ke Da-lien. Ia menjadi satu-satunya orang dari rombongan petani transmigran yang berhasil kembali ke Jepang sebelum akhir tahun.

Setelah perang, ayah Tengo pergi ke Tokyo dan mencoba peruntungan sebagai pedagang di pasar gelap sekaligus sebagai pembantu tukang kayu, tapi ternyata kurang berhasil. Saat bekerja sebagai pengantar barang di toko minuman di Asakusa, ia bertemu dengan temannya yang seorang pejabat yang dikenalnya di Manchuria. Mengetahui bahwa ayah Tengo mengalami nasib yang kurang beruntung dan pekerjaan yang kurang memuaskan, pejabat itu merekomendasikannya pada seorang teman yang bekerja pada bagian pelanggan di NHK, dan ayah Tengo menyambut baik tawaran itu. Padahal, ia tak tahu apa-apa tentang NHK, tapi ia akan berusaha sekeras mungkin selama ia mendapatkan penghasilan yang cukup dan rutin.

Di NHK, ayah Tengo bekerja dengan giat. Ia pantang menyerah. Dibandingkan dengan kesulitannya mencari makan sejak kecil, pekerjaan menagih di NHK bukanlah pekerjaan yang sulit. Makian orang paling pedas pun tak berarti apa-apa baginya. Lebih lagi, ia merasa puas bekerja untuk perusahaan besar, meskipun ia tergolong karyawan kelas rendah. Kinerja dan perilakunya yang baik membuatnya cepat diangkat sebagai karyawan tetap meskipun baru setahun bekerja di bagian penagihan, ini sesuatu yang langka di NHK. Ia pun mendapat fasilitas tinggal di apartemen milik perusahaan dan mendapat tunjangan kesehatan dari perusahan. Ini menjadi hal paling menggembirakan yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Ayah Tengo tak pernah meninabobokan dirinya, tak pernah membacakan buku cerita saat malam. Padahal, ia sering bercerita tentang pengalaman pribadinya. Sesungguhnya ia seorang pencerita yang hebat. Pengalaman masa kecil dan mudanya tak benar-benar mengandung nilai-nilai luhur, tapi bagaimana rinci dia menceritakan begitu hidup. Ada cerita lucu, cerita tentang perjalanan, dan ada juga tentang kekerasan. Jika hidup bisa dilukiskan dengan warna dan macam pada tiap bagiannya, hidup ayah Tengo punya karakteristik yang menarik untuk dipandang, mungkin. Namun begitu ceritanya sampai pada periode di mana ia telah menjadi karyawan NHK, kemenarikan hidupnya tiba-tiba lenyap. Ia bertemu dengan seorang perempuan, lalu menikahinya, dan punya anak – Tengo. Beberapa bulan setelah Tengo lahir, ibunya sakit lalu meninggal. Sambil tetap bekerja di NHK, ayahnya membesarkan Tengo sendirian. Tamat. Bagaimana ceritanya ia bisa bertemu dengan ibu Tengo lalu menikahinya, seperti apa perempuan itu, apa yang menyebabkan ia meninggal, apakah ia begitu menderita atau meninggal secara tiba-tiba – tak pernah ayah Tengo ceritakan. Jika Tengo bertanya, ayahnya selalu menghindar. Saban ada pertanyaan tentang itu semua, ia menjadi kesal. Tak pernah ada satu pun foto ibu Tengo di rumah.

Pada dasarnya Tengo tak percaya dengan cerita-cerita ayahnya. Ia sudah tahu kalau ibunya tak meninggal beberapa bulan setelah ia lahir. Dalam ingatannya akan ibunya, ia berumur setahun setengah dan ibunya berdiri di dekat tempat tidurnya bersama seorang lelaki yang bukan ayahnya. Ibu menanggalkan pakaiannya, meloloskan tali kutangnya dan membiarkan lelaki yang bukan ayahnya itu mengisap payudaranya. Tengo tertidur di samping mereka, napasnya terdengar teratur. Namun sebenarnya, saat itu, ia tak tidur. Ia memperhatikan ibunya.

Inilah ingatan fotografik Tengo tentang ibunya. Kilasan peristiwa tak lebih dari sepuluh menit merasuk ke dalam otaknya dengan begitu jelas. Inilah satu-satunya informasi yang begitu nyata yang ia punya tentang ibunya, hubungan terlemah yang ia punya dengan ibunya. Ia dan ibunya terhubung dengan tali pusar hipotetis. Ayahnya, tentu saja, tak tahu gambaran yang jelas itu hidup dalam kepala Tengo, atau mungkin, seperti seekor sapi di padang yang memamah biak rerumputan terus menerus sampai begitu lembut dan bisa diserap nutrisi pentingnya. Ayah dan anak: masing-masing terkurung dalam rahasia yang gelap dan dalam.

Sebagai orang dewasa, Tengo sering bertanya apakah lelaki muda yang mengisap payudara ibunya dalam gambarannya itu adalah ayah biologisnya. Hal ini karena Tengo sama sekali tidak mirip dengan ayahnya, bintang NHK dalam urusan penagihan itu. Tengo bertubuh jangkung tegap dengan dahi yang lebar, hidungnya lancip, dan kedua telinganya tidak caplang. Sedangkan ayahnya pendek dan gemuk dan benar-benar tidak menarik. Dahinya kecil, berhidung pesek, dan telinganya begitu mencuat hingga mirip telinga kuda. Kalau Tengo punya tampang yang santai dan kalem, ayahnya seperti orang yang mudah gugup dan pemberang. Secara blak-blakan orang sering mengatakan perbedaan-perbedaan mereka ketika membandingkan keduanya.

Namun, bukan soal perbedaan fisik yang membuat Tengo merasa sulit untuk meyakini bahwa lelaki itu adalah ayahnya tapi masalah psikologis. Ayahnya tak pernah sedikitpun menaruh minat pada apa yang berkenaan dengan pengetahuan. Benar, bahwa kalau lahir dalam kemiskinan pasti tak punya pendidikan yang cukup. Tengo merasa kasihan sekali pada keadaan ayahnya itu. Bagi Tengo kebutuhan orang akan mendapatkan pengetahuan itu cukup penting, tapi hal itu tidak terlihat pada ayahnya. Meskipun dia telah berhasil menyintas kondisi yang buruk selama hidupnya dengan hal-hal praktis, tapi Tengo tak melihat tanda-tanda keinginan dari ayahnya untuk memperdalam pengetahuannya, untuk bisa melihat lebih luas dunia ini. Ayahnya tak pernah terlihat merasa tidak nyaman dengan keadaan hidupnya yang biasa-biasa saja bahkan terlalu sederhana itu. Tengo tak pernah melihat ayahnya membaca buku. Tak ada minat pada music atau film, bahkan ia tak pernah berwisata. Satu-satunya hal yang tampaknya menarik perhatiannya adalah jalur penagihannya. Ia bisa membuatnya seperti peta, memberinya tanda dengan pena-pena berwarna, dan memeriksanya jika ia senggang, seperti seorang ahli biologi mempelajari kromosom.

Hal ini jelas bertentangan dengan Tengo yang selalu penasaran dengan hal apapun. Ia menyerap pengetahuan dari beragam ranah secara cepat seperti menyekop tanah. Ia dikenal sebagai calon ahli matematika sejak anak-anak, dan ia dapat menyelesaikan soal matematika tingkat SMA ketika ia kelas 3 SD. Matematika, bagi Tengo saat itu, adalah pintu pelepasan dari hidup dengan ayahnya. Di dunia matematika, ia bisa melenggang sepanjang lorong, membuka satu per satu pintu bernomor. Setiap menjumpai satu soal yang rumit, jejak jelek dari dunia nyata itu seolah menghilang. Sepanjang ia terus mengeksplorasi ranah konstanta tak terbatas itu, ia merasa begitu bebas.

Jika matematika seperti bangunan imajiner megah bagi Tengo, sastra adalah hutan magis yang luas. Jika matematika membentang jauh ke atas ke arah surga, sastra menyajikan aneka cerita yang terhampar di depannya, akar-akarnya kokoh menghunjam bumi. Di hutan ini tak ada peta, tak ada pintu. Ketika beranjak dewasa, Tengo merasa hutan cerita itu telah menariknya lebih kuat dan lebih dalam daripada dunia matematika. Dan tentu saja, membaca novel hanyalah sebuah bentuk pelarian saja – begitu selesai membaca ia akan kembali ke dunia nyata. Namun pada beberapa titik ia memperhatikan bahwa kembali ke dunia nyata dari sebuah novel tidaklah begitu mengecewakan dibandingkan jika kembali dari dunia matematika. Kenapa bisa begitu? Setelah berulangkali memikirkan, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa sejelas-jelasnya sesuatu itu terjadi pada hutan cerita, tak akan pernah ada satu pemecahan yang sempurna seperti di dalam dunia matematika. Fungsi dari cerita adalah, pada ranah yang lebih luas, memberi gambaran suatu masalah ke dalam bentuk yang lain. Tergantung dari sifat dan arah dari masalah tersebut, pemecahannya mungkin disarankan di dalam penceritaannya. Tengo akan kembali ke dunia nyata ini dengan sebuah saran yang ia dapatkan di sana. Jadi semacam mantra yang telah diterjemahkan dalam selembar kertas. Ia mengandung sebuah kemungkinan, meskipun tak bakal bisa dipergunakan seketika.

Satu kemungkinan pemecahan masalah yang ia dapatkan dari uraian-uraian yang telah ia baca adalah: Ayahku yang asli pasti berada di suatu tempat. Seperti anak malang dalam novel Dicken, Tengo merasa dirinya dalam keadaan yang aneh telah dibesarkan oleh seorang penipu. Semacam berada di antara mimpi buruk dan sebuah harapan. Setelah membaca “Oliver Twist,” Tengo selalu terbawa dalam cerita novel-novel Dicken yang ia baca dari perpustakaan. Ia memosisikan dirinya pada sebuah versi yang ia reka ulang dari hidupnya sejalan dengan pengembaraannya pada cerita-cerita Dicken. Khayalan-khayalan ini tumbuh makin lama makin besar dan makin rumit. Mereka mengikuti satu pola, tapi punya banyak variasi. Dalam semua cerita itu, Tengo meyakinkan dirinya sendiri bahwa rumah ayahnya bukan tempat untuk dirinya. Bahwa ia tanpa sengaja telah terpenjara di dalamnya, dan suatu saat nanti orangtua aslinya akan menemukannya dan menyelamatkannya. Lalu ia akan memiliki hari Minggu yang paling indah, paling damai, dan begitu bebasnya, yang bisa ia bayangkan.

Ayah Tengo sangat bangga melihat nilai-nilai anaknya yang begitu bagus, dan memamerkan kepintaran anaknya itu pada orang-orang di lingkungan sekitar. Namun, di saat yang sama, ia memperlihatkan ketaksukaan tertentu pada bakat dan kepintaran yang Tengo miliki. Seringkali jika Tengo sedang belajar di mejanya, ayahnya mendatanginya, lalu menyuruh mengerjakan sesuatu atau mengomelinya jika ia dianggap telah membangkang perintah ayahnya. Bahan omelan ayahnya itu-itu saja: “Lihat ayahmu, pontang-panting cari uang, jalan jauh-jauh setiap hari, dimaki-maki orang, lihat kamu, dari tadi diam saja, bersantai, enak-enakan. Dari dulu, sejak seusiamu, aku telah banting tulang mencari makan, kalau dianggap tak becus ayahku dan abang-abangku akan memukuliku sampai lebam-lebam badanku. Aku tak pernah dapat makanan yang cukup. Diperlakukan seperti binatang. Aku tak mau kau berpikir bahwa kau perlu diistimewakan lantaran kau punya nilai bagus.”

Ayah iri padaku, begitu yang Tengo pikirkan satu saat. Ia cemburu entah karena sebagai orang aku lebih baik darinya atau dari kehidupanku. Tapi apakah benar ada ayah yang cemburu pada anaknya? Tengo tak bermaksud menuduh demikian buruk pada ayahnya, tapi ia mengiranya karena ucapan dan perbuatan jahat ayahnya kepadanya yang ia anggap justru menyedihkan. Ada yang membuat ayah Tengo membencinya, tepatnya ayah Tengo tidak membenci Tengo tapi sesuatu yang ada dalam diri Tengo, sesuatu yang tak dapat ia maafkan.

Saat kereta meninggalkan stasiun Tokyo, Tengo membawa sebuah buku. Sebuah antologi cerita pendek dengan tema perjalanan, dan termasuk di dalamnya sebuah cerita berjudul “Kota Kucing,” sebuah dongeng yang ditulis seorang penulis Jerman yang belum dikenal Tengo. Menurut kata pengantarnya, cerita ini ditulis pada suatu masa di antara dua perang dunia.

Dalam cerita itu, ada pemuda yang bepergian sendiri tanpa tujuan pasti dalam pikirannya. Ia naik kereta dan turun pada tempat yang menurutnya menarik. Ia menyewa kamar, berjalan-jalan melihat pemandangan, dan menginap selama ia suka. Ketika dirasa cukup, ia akan naik kereta lainnya. Ia menghabiskan setiap perjalanannya dengan cara begitu.

Suatu hari, ia melihat sungai yang indah dari jendela kereta. Sepanjang sungai itu terdapat garis perbukitan yang hijau, dan di bawah perbukitan itu ada satu kota cantik dengan sebuah jembatan batu tua. Kereta itu berhenti pada stasiun kota itu, dan pemuda itu turun dengan barang bawaannya. Tak ada orang lain yang turun, dan, begitu pemuda itu turun, kereta pun berangkat kembali.

Tak ada pekerja di stasiun itu, karena memang hampir tak ada kegiatan di sana. Pemuda itu melintasi jembatan dan berjalan masuk ke dalam kota. Semua toko di kota itu tutup, balai kotanya sepi. Meja resepsionis satu-satu hotel di kota itu kosong melompong. Tempat itu tampaknya benar-benar tak berpenghuni. Mungkin semua orang di kota itu sedang tidur siang di suatu tempat. Tapi ini baru jam setengah sebelas, terlalu dini untuk tidur siang. Barangkali sesuatu telah terjadi sehingga semua orang meninggalkan kota ini. Karena kereta selanjutnya tidak akan sampai di kota itu sebelum besok pagi nanti, pemuda itu tak punya pilihan selain menginap di kota itu. Ia pun berjalan-jalan mengelilingi kota untuk menghabiskan waktu.

Nyatanya, ini adalah kota kucing. Saat matahari mulai tenggelam, beragam kucing segera memenuhi jembatan – kucing dengan aneka jenis dan warna. Mereka lebih besar dari kucing-kucing biasa, tapi mereka tetaplah kucing. Pemuda itu kaget melihatnya. Ia berlari ke arah menara lonceng di tengah-tengah kota dan memanjatnya untuk bersembunyi di sana. Kucing-kucing itu menjalankan usahanya, membuka toko atau memulai pekerjaan mereka di meja mereka masing-masing. Tak lama, banyak lagi kucing yang datang, melintasi jembatan dan memasuki kota seperti yang lainnya. Mereka masuk toko untuk membeli sesuatu atau pergi ke balai kota untuk mengurus administrasi atau makan di restoran hotel atau minum bir di tavern dan menyanyikan lagu-lagu kucing. Karena kucing bisa melihat dalam gelap, mereka tak perlu lampu, hanya malam itu cahaya bulan purnama memenuhi penjuru kota, sehingga pemuda itu bisa melihat apa yang terjadi di kota itu dengan jelas dari persembunyiannya di menara lonceng. Saat fajar menjelang, kucing-kucing itu menyelesaikan pekerjaannya, menutup toko-toko, dan berkerumun kembali melintasi jembatan.

Begitu matahari meninggi, kucing-kucing itu telah lenyap, dan kota itu sepi kembali. Pemuda itu menuruni menara, lalu tidur di sebuah ranjang hotel. Saat ia merasa lapar, ia makan beberapa roti dan ikan yang tersisa di dapur hotel. Ketika gelap mulai membayang, ia bersembunyi kembali di menara lonceng dan mengamati kegiatan para kucing sampai fajar. Kereta-kereta api berhenti di stasiun sebelum siang dan menjelang sore. Tak ada penumpang yang turun, dan tak ada juga yang naik. Pemuda itu harus naik salah satu kereta itu dan meninggalkan kota kucing yang menyeramkan itu. Namun pemuda itu tidak melakukannya. Sebagai pemuda, ia begitu penasaran dan ingin sekali berpetualang. Ia menginginkan tantangan yang begitu pelik. Kalau bisa, ia ingin mengetahui kapan dan bagaimana tempat ini menjadi kota kucing.

Pada malam ke tiga, keriuhan pecah di alun-alun di bawah menara lonceng. “Hei, kau mencium bau manusia?” seekor kucing bertanya. “Ah kau merasakan juga ya? Aku rasa kemarin-kemarin itu ada bau yang aneh,” sahut satunya, sambil mengendus-endus. “Aku juga,” kata yang lainnya. “Aneh. Seharusnya tak ada manusia di sini,” yang lain menambahkan. “Tentu. Tentu tak ada manusia di sini. Tak ada ceritanya manusia bisa masuk kota kucing ini.” “Tapi, aku mencium bau manusia di sini.”

Kucing-kucing itu lalu membentuk kelompok dan memulai menyisir seluruh kota seperti para peronda. Hanya butuh waktu sebentar bagi mereka untuk mengetahui bahwa sumber bau itu berasal dari menara lonceng. Pemuda itu mendengar langkah-langkah lembut kucing-kucing itu menaiki tangga menara. Celaka, mereka menemukanku! Pikirnya. Bau tubuhnya tampaknya telah membuat kucing-kucing itu marah. Manusia tidak seharusnya menjejakkan kakinya di kota ini. Kucing-kucing itu punya cakar yang tajam dan besar serta taring yang mengkilat. Ia tak tahu nasib buruk apa yang terjadi jika ia diketemukan tapi yang ia tahu pasti mereka tak akan pernah melepaskannya hidup-hidup dari kota ini.

Tiga ekor kucing memanjat pucuk menara lonceng dan mengendus udara. “Aneh,” kata seekor kucing, menggerakkan kumisnya, “Aku mencium bau manusia, tapi tak ada seorang pun di sini.”

“Ya. Aneh,” kata yang ke dua. “Benar tak ada seorang pun di sini. Mari kita pergi dan mencari di tempat lain.”

Kucing-kucing itu menegakkan kepala, kebingungan, lalu menuruni anak tangga. Pemuda itu mendengar langkah-langkah mereka mejauh ke kegelapan malam. Ia bernapas lega, tapi ia tak mengerti apa yang telah terjadi. Tidak mungkin mereka tak bisa menemukannya. Namun entah kenapa mereka tidak bisa melihatnya. Daripada sesuatu buruk terjadi, pemuda itu bertekad bahwa besok pagi ia akan pergi ke stasiun untuk naik kereta meninggalkan kota ini. Ia tahu keberuntungan tidak selamanya terjadi.

Pagi harinya, entah mengapa, kereta tak berhenti di stasiun. Ia melihat kereta itu melintasi stasiun tanpa melambat sedikitpun. Kereta siang pun demikian. Ia bisa melihat pekerjanya duduk di loko. Namun kereta itu tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Seolah-olah tak seorang pun melihat dirinya yang tengah menunggu kereta itu – atau bahkan mereka tak melihat adanya stasiun ini. Ketika kereta siang telah tak kelihatan lagi pada relnya, tempat itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Matahari mulai tenggelam. Ini saatnya bagi para kucing untuk datang. Pemuda itu sadar bahwa inilah saat terakhir baginya. Ia sadar bahwa tak mungkin ada kota kucing. Ini adalah tempat di mana ia akan dihilangkan. Ini dunia yang lain yang telah dipersiapkan untuknya. Tak akan pernah ada lagi, selama-lamanya, kereta yang berhenti di stasiun ini untuk membawanya kembali ke dunia di mana ia berasal.

Tengo membaca cerita itu dua kali. Kalimat “tempat di mana ia akan dihilangkan” menarik perhatiannya. Ia menutup buku itu dan membiarkan matanya menjelajah pemandangan pabrik-pabrik yang menjemukan yang melintasi jendela kereta. Beberapa saat setelahnya, ia tertidur –bukan tidur siang yang panjang tapi cukup nyenyak. Ia bangun dengan penuh keringat. Kereta itu bergerak sepanjang garis pantai selatan di Semenanjung Boso pada pertengahan musim panas.

Satu saat ketika ia kelas 5 SD, setelah ia hati-hati berpikir, Tengo menyatakan bahwa ia akan berhenti mengikuti ayahnya bekerja di hari Minggu. Ia mengatakan pada ayahnya bahwa ia ingin menggunakan waktunya untuk belajar dan membaca buku dan bermain bersama teman-temannya. Ia ingin punya kehidupan yang normal seperti anak-anak lainnya.

Tengo mengatakan apa yang ingin ia katakan dengan ringkas dan teratur.

Ayahnya, tentu saja, marah. Ia memang tak pernah memperhatikan apa yang keluarga lain lakukan, katanya. ”Kita punya cara tersendiri untuk melakukan sesuatu. Dan jangan berani-beraninya kami berkata padaku soal ‘kehidupan yang normal,’ Tuan Tahu Segalanya. Apa yang sebenarnya kau ketahui tentang ‘kehidupan yang normal’?” Tengo tak mau membantahnya. Ia hanya menatap ayahnya dalam diam, tahu bahwa apa yang ia katakan tak ada gunanya bagi ayahnya. Akhirnya, ayahnya mengatakan bahwa ia tak akan pernah mendengarkan omongan Tengo lagi bahkan tak hendak menafkahinya. Tengo harus pergi.

Tengo melakukan apa yang diperintahkan. Pikirannya telah pasti. Tak ada yang ia takutkan. Kini ia beroleh izin untuk meninggalkan kurungannya, ia merasa lebih lega daripada siapapun. Namun bagaimana anak umur sepuluh tahun hidup sendiri. Di hari sekolah, setelah kelasnya usai, ia menceritakan kesulitannya pada gurunya. Gurunya adalah seorang perempuan berumur tiga puluhan, berpikiran terbuka, dan berkepribadian hangat. Ia mendengarkan Tengo dengan penuh simpati, dan sore harinya ia mengantar Tengo pulang ke rumah ayahnya untuk berbicara dengannya.

Tengo diminta meninggalkan ruangan, sehingga ia tak tahu pasti apa yang dibicarakan mereka berdua, tapi akhirnya ayahnya harus mencabut ancamannya. Biar bagaimana pun marahnya, ia tak akan dapat meninggalkan anak umur sepuluh tahun menggelandang di jalanan sendirian. Sudah tanggungjawab bagi orang tua untuk mendukung anaknya.

Sebagai hasil perbincangan guru dan ayahnya, Tengo bebas menghabiskan hari-hari minggu sesukanya. Ini adalah hak nyata yang ia miliki sejak peperangannya dengan ayahnya. Ia telah mengambil langkah pertama menuju kebebasan dan kemerdekaan.

Di meja resepsionis sanatorium, Tengo memberitahu namanya dan nama ayahnya.

Perawat itu bertanya, “Apakah kau telah memberitahu kami mengenai kunjunganmu hari ini?” Ada nada gusar pada pertanyaannya itu. Perawat itu perempuan bertubuh kecil, mengenakan kacamata dengan bingkai logam, dan rambutnya yang pendek sudah mulai ditumbuhi uban.

“Tidak, aku baru berpikir akan berkunjung ke sini tadi pagi ketika aku sudah berada dalam kereta,“ Tengo berkata apa adanya.

Perawat itu melihatnya dengan pandangan sedikit merendahkan. Lalu katanya, “Kalau mau menjenguk seharusnya beritahu kami sebelumnya. Kami punya jadwal berkunjung, dan apa-apa saja yang diharapkan pasien kalau menerima kunjungan.”

“Maaf. Saya tidak tahu.”

“Kapan terakhir kau ke mari?”

“Dua tahun lalu.”

“Dua tahun lalu,” katanya sambil memeriksa dengan pena di tangannya daftar pengunjung. “Maksudmu dalam dua tahun terakhir kau tak pernah berkunjung sekalipun?”

“Benar.”

“Menurut catatan kami, kau satu-satunya keluarga Tuan Kawana.”

“Benar.”

Perawat itu melihat pada Tengo tapi tak berkata apa-apa. Pandangannya tak menghakimi, sekadar memperhatikan seksama. Nampaknya, apa yang terjadi dengan Tengo bukan sesuatu yang heboh.

“Saat ini, ayahmu dalam kelompok rehabilitasi. Setengah jam lagi kelar. Kau boleh menjenguknya.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Secara fisik, sehat. Hanya ininya kadang suka kumat,” katanya, mengetuk jidatnya dengan jari telunjuk.

Tengo mengucap terima kasih padanya dan pergi ke ruang tunggu yang ada di dekat pintu masuk, membaca lagi bukunya. Angin bersiut sesekali membawa aroma lautan dan derau pohon-pohon pinus yang mengalangi angin di luar sana. Tonggeret hinggap di cabang pepohonan, bersuara nyaring sekali. Saat ini sedang puncak musim panas, tapi tonggeret-tonggeret itu seolah tahu bahwa saat semacam ini tak akan berlangsung lama.

Akhirnya, perawat berkacamata itu memberitahu bahwa Tengo sudah bisa menjenguk ayahnya. “Mari aku antar ke kamarnya,” katanya. Tengo bangkit dari sofa dan begitu melewati cermin besar di ruangan itu, ia sadar betapa aneh dandanannya: kaus Jeff Beck Japan Tour dengan kemeja yang warnanya hampir pudar dengan kancing lain-lain, celana chinos lengkap dengan bercak saus pizza pada lututnya, topi baseball – yang tak pantas dikenakan seorang berusia tiga puluh sembilan tahun yang hendak berkunjung pertama kalinya dengan ayahnya di rumah sakit setelah dua tahun lamanya. Dan lagi ia tak punya apa-apa yang bisa diberikan sebagai hadiah. Pantas saja jika perawat itu melihatnya dengan pandangan yang terasa merendahkannya.

Ayah Tengo ada di kamarnya, duduk pada sebuah kursi yang mengadap jendela terbuka, kedua tangannya berada pada lututnya. Pada meja di dekatnya ada pot dengan tanaman yang berbunga kuning menyegarkan mata. Lantai ruangan itu dibuat dari bahan yang lembut agar mencegah cedera ketika jatuh. Tengo tidak segera menyadari bahwa orang tua yang duduk dekat jendela adalah ayahnya. Ia telah mengkerut – ‘layu” mungkin lebih tepatnya. Rambutnya dipotong pendek dan berwarna putih seperti rumputan dibekukan salju. Pipinya terlihat cekung sehingga lubang matanya seolah nampak lebih lebar daripada biasanya. Tiga kerutan dalam nyata di dahinya. Alisnya begitu panjang dan tebal, dan telinganya yang mencuat ke luar kelihatan jauh lebih besar dari sebelumnya; sehingga seperti sayap kelelawar. Dari kejauhan, ia kurang mirip manusia tapi lebih seperti mahluk semacam tikus atau tupai – binatang yang punya banyak kelicikan. Ia, biar bagaimanapun, adalah ayah Tengo – atau, lebih seperti, reruntuhan ayah Tengo. Dalam ingatan Tengo, ayah adalah orang yang kuat, pekerja keras. Mawas diri dan imajinasi mungkin terasa asing baginya, tapi ia punya aturan moralnya sendiri dan keinginan atas tujuan hidupnya yang kuat. Namun, lelaki yang tengah Tengo lihat di hadapannya tak lebih seperti sebuah cangkang kosong.

“Tuan Kawana!” kata perawat itu pada ayah Tengo dalam nada yang renyah, jelas bahwa ia telah dilatih bagaimana berkata-kata dengan para pasiennya. “Tuan Kawana! Lihat siapa yang datang! Putramu, datang dari Tokyo!”

Ayah Tengo menoleh padanya. Matanya yang tanpa ekspresi mengingatkan Tengo pada dua sarang walet yang kosong dan menggantung di atap.

“Halo,” Tengo menyapa.

Ayahnya tak berkata apa-apa. Namun, pandangannya lurus pada Tengo seolah ia sedang membaca sebuah bulletin yang ditulis dalam bahasa asing.

“Makan malam dimulai jam enam tiga puluh,” kata perawat itu pada Tengo. “Silakan manfaatkan waktu sebelum itu.”

Tengo kikuk beberapa saat lamanya setelah perawat itu pergi, lalu ia mendekati ayahnya, duduk di kursi yang berhadapan dengannya –sebuah kursi berlapis kain, pudar warnanya, bagian kayunya cacat garis karena usang. Mata ayahnya mengikuti gerakannya.

“Apa kabar, Ayah?” tanya Tengo.

“Baik, terimakasih,” kata Ayahnya begitu formal.

Tengo tak tahu lagi apa yang hendak dikatakan setelah itu. Sambil memainkan kancing ke tiga dari bajunya, ia memutar pandangannya ke arah pohon-pohon pinus di luar sana sebelum balik lagi melihat ayahnya.

“Kau datang dari Tokyo, ya?” tanya ayahnya.

“Ya. Aku dari Tokyo.”

“Pasti kau naik kereta cepat.”

“Betul,” kata Tengo. “Hanya sampai Tateyama. Lalu aku pindah ke kereta biasa ke sini dari Chikura.”

“Kau datang untuk berenang?” Ayahnya bertanya.

“Aku Tengo. Tengo Kawana. Putramu.”

Keriput di dahi ayahnya terlihat makin dalam. “Banyak orang berbohong karena mereka tidak mau bayar tagihan bea langganan NHK.”

“Ayah!” teriak Tengo padanya. Rasanya sudah sekian lama ia tak mengatakan kata itu. “Aku Tengo. Putramu.”

“Aku tak punya anak,” kata Ayahnya.

“Ayah tak punya anak,” Tengo mengulang ucapan ayahnya itu.

Ayahnya mengangguk.

“Jadi siapa aku?” tanya Tengo.

Sambil menggeleng kepala dua kali, ayahnya berkata, “Kau bukan si apa-siapa.”

Tengo menahan napas. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ayahnya juga tak punya apa-apa lagi untuk dikatakan. Masing-masing duduk dalam keheningan, mencari jalan ke luar dari pikirannya yang kusut. Suara tonggeret terdengar begitu nyaring, nyaris tak berjeda.

Ayahnya mungkin berkata sebenarnya, pikir Tengo. Ingatannya mungkin telah hancur, tapi kata-katanya mungkin kebenaran.

“Apa maksud Ayah berkata begitu?” tanya Tengo.

“Kau bukan siapa-siapa,” ulang Ayahnya, datar. “Dulu kau bukan siapa-siapa, sekarang pun tidak, dan sampai kapan pun kau bukan siapa-siapa.”

Saat itu Tengo ingin segera bangkit dari kursinya, bergegas ke stasiun, dan kembali secepatnya ke Tokyo. Namun ia merasa tak kuasa berdiri. Ia merasa seperti pemuda yang tersesat di kota kucing. Ia penasaran. Ia ingin jawaban yang jelas. Meski ia tahu, ada sesuatu yang menakutkan. Namun jika ia lepaskan kesempatan ini begitu saja, ia tak akan pernah punya kesempatan lagi untuk mengenali sejarah kelam dari dirinya. Tengo berusaha keras menyusun kata-kata dalam kepalanya sampai ia siap untuk bisa menyuarakannya. Ini adalah pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan bahkan sejak ia masih kanak-kanak, hanya ia belum bisa mengutarakannya, “Jadi, jika Ayah berkata demikian, berarti kau bukan ayah kandungku, begitu? Atau Ayah memang ingin mengatakan bahwa di antara kita tak pernah ada hubungan darah?”

“Mendengar siaran radio tanpa membayar itu sama seperti mencuri,” kata ayahnya sambil sorot matanya seolah menghunjam Tengo, “Tak ada bedanya dengan mencuri uang atau barang-barang, bukan begitu?”

Tengo tak punya alasan untuk tidak menyetujui perkataan ayahnya itu, “Mungkin benar begitu, Ayah.”

“Kau tahu, siaran radio itu tidak jatuh begitu saja dari langit seperti hujan atau salju,” katanya lagi.

Tengo memandangi tangan-tangan ayahnya. Tangan-tangan yang ditumpu dengan rapi di atas lututnya. Tangan yang kecil, hitam terbakar matahari, dan barangkali tulang-tulang di dalamnya pun hitam karena bertahun-tahun bekerja di luar ruangan.

“Ibu tidak meninggal karena sakit, ketika aku masih kecil, bukan?” Pelan Tengo bertanya.

Ayahnya tak menyahut. Raut wajahnya tak berubah, dan tangan-tangannya tetap di atas lutut. Kini matanya memperhatikan Tengo seolah tengah mengamati sesuatu yang baru ia lihat.

“Ibu meninggalkanmu. Meninggalkan ayah dan aku. Ibu pergi dengan pria lain. Benar begitu?”

Ayahnya menggangguk. “Tak baik mendengar siaran radio tak membayar. Kau tak akan bisa lepas dari tanggungjawab, lakukanlah apa yang kau inginkan.”

Ayah mengerti pertanyaanku dengan sangat baik. Hanya saja ia tak mau menjawabnya secara langsung, begitu pikir Tengo.

“Ayah,” kata Tengo lagi, “Kau mungkin bukan benar-benar ayahku, tapi aku menyebutmu ayah karena aku tak tahu lagi harus memanggilmu apa. Jujur, aku tak pernah suka denganmu. Barangkali sepanjang hidupku aku membencimu. Ayah tahu itu, bukan? Meski, jika di antara kita memang tak ada hubungan darah, tak ada alasan bagiku untuk membencimu. Aku juga bagaimana caranya agar aku bisa menyukaimu, tapi setidaknya aku bisa mengerti Ayah lebih baik dari yang aku lakukan sekarang. Aku selalu ingin tahu kebenaran tentang siapa aku dan dari mana aku berasal. Itu saja. Jika saat ini, di tempat ini, Ayah bisa menjawabnya, aku tak akan pernah membencimu lagi. Malahan, aku sangat senang jika aku tak punya kebencian terhadapmu lagi.”

Ayah Tengo tetap menatapnya dengan mata tanpa ekspresi, tapi Tengo merasa ia melihat ada kilau kecil dari cahaya yang berada jauh pada kedalaman sangkar walet yang kosong itu.

“Ayah benar, kata Tengo. “Aku bukan siapa-siapa. Aku seperti seseorang yang dilempar ke dalam lautan di tengah malam, mengapung sendirian. Aku menggapai, tapi tak seorang pun di sana. Aku benang putus tak bertalian. Orang yang paling dekat dan kuanggap keluarga hanyalah Ayah, tapi Ayah memendam rahasia. Sementara ingatan Ayah terus memburuk seiring waktu. Seiring dengan itu, kebenaran tentang diriku akan hilang. Tanpa bantuan dari kejujuran, aku bukan siapa-siapa, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Ayah benar.”

“Pengetahuan adalah kekayaan berharga dari masyarakat,” kata ayahnya datar, suaranya terdengar lebih lirih dari sebelumnya, seperti seseorang habis berteriak lalu tersadar hingga ia pelankan lagi suaranya. “Kekayaan yang harus terus ditambah agar melimpah dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Lalu akan diturunkan pada generasi selanjutnya dalam bentuk-bentuk yang berkembang. Karena itulah, NHK mengharuskan adanya bea berlangganan dan —“

“Seperti apa ibuku?” Tengo memotong perkataan ayahnya. “Ke mana ibu pergi? Apa yang terjadi padanya?”

Ayah Tengo menutup bibirnya rapat, itu tanda bahwa ia akan berhenti bicara.

Memelankan suaranya, Tengo melanjutkan, “Ada gambar yang sama, dan berulang-ulang terus datang. Kuduga ini adalah gambar dari peristiwa yang benar-benar terjadi. Saat itu aku berusia satu setengah tahun, dan ibu berada di dekatku. Dia saling berpegangan tangan dengan seorang lelaki muda. Lelaki itu bukan ayah. Siapa dia aku tak tahu, tapi yang jelas dia bukan ayah.”

Ayahnya tetap tak bicara, tapi matanya jelas seperti tengah melihat sesuatu – sesuatu yang tak ada di sana.

“Aku ingin kau membacakan aku sesuatu,” kata Ayah Tengo dengan nada yang biasa setelah jeda panjang. “Penglihatanku memburuk sampai-sampai aku tak bisa lagi membaca buku apapun. Ada banyak buku di dalam peti buku itu. Pilihlah sesukamu.”

Tengo bangkit untuk melihat judul-judul buku pada peti buku itu. Kebanyakan adalah novel sejarah yang mengambil waktu ketika para samurai masih berkuasa. Tengo tak mau memaksa dirinya membaca cerita tua yang penuh bahasa kuna.

“Kalau kau tak keberatan, aku akan membacakan cerita tentang kota kucing,” kata Tengo. “Ada dalam buku yang aku bawa untuk kubaca sendiri.”

“Cerita tentang kota kucing,” kata ayahnya, seperti mencerna kata-kata itu. “Silakan. Bacakan untukku, kalau tak merepotkanmu.”

Tengo melihat jam tangannya. “Tentu tak merepotkan. Aku punya cukup waktu sampai keretaku berangkat nanti. Ini cerita yang aneh. Aku tak tahu apakah kau akan menyukainya.”

Tengo mengambil bukunya dan mulai membacanya dengan pelan, dengan suara yang jelas dan mudah untuk didengarkan, ia mengambil dua atau tiga kali jeda untuk mengatur napasnya. Ia melirik ke arah ayahnya ketika ia berhenti membaca namun tak juga terlihat ada reaksi di wajah ayahnya. Ia jadi bertanya, apakah ayahnya menyukai cerita ini?

“Apakah ada televisi di kota kucing?” tanya ayahnya begitu Tengo selesai membaca.

“Cerita ini ditulis di Jerman sekitar tahun tiga puluhan. Waktu itu belum ada televisi. Tapi mereka punya radio, mestinya.”

“Kucing-kucing itu yang membangun kota? Atau orang yang membangunnya sebelum kucing-kucing itu datang dan tinggal di sana?” Ayahnya bertanya lagi tapi seperti sedang bicara sendiri.

“Aku tak tahu,” kata Tengo. “Nampaknya dibangun oleh manusia. Mungkin ada alasan tertentu sehingga mereka pergi—mungkin, mereka semua mati dalam penyakit epidemis—lalu kucing-kucing itu datang untuk tinggal di sana.

Ayahnya mengangguk. “Ketika kekosongan terjadi, sesuatu harus datang untuk mengisinya. Inilah yang orang-orang lakukan.”

“Itu yang mereka lakukan?”

“Tepat.”

“Kekosongan semacam apa yang Ayah isi?”

Ayahnya merengut. Lalu dengan suara bernada sedikit mengejek ia berkata, “Masak kau tak tahu?”

“Aku tak tahu,” kata Tengo.

Lubang hidung ayahnya memerah. Satu alisnya naik sedikit. “Kalau kau tak bisa mengerti sesuatu tanpa penjelasan, kau juga tak bisa mengerti hal itu dengan penjelasan.”

Tengo menyipitkan matanya, mencoba membaca ekspresi lelaki itu. Rasanya belum pernah sekali pun ayahnya melakukan hal semacam ini, memberi saran dengan bahasa yang aneh. Biasanya ia selalu bicara yang jelas dan praktis.

“Aku mengerti. Ayah mengisi beberapa jenis kekosongan,” kata Tengo. “Baiklah, lantas, siapa yang harus mengisi kekosongan yang kau tinggalkan?”

“Kau,” kata ayahnya, mengangkat jari telunjuknya dan menuding lurus ke arah Tengo. “Tidakkah ini kentara? Aku telah mengisi kekosongan yang dibuat orang lain, maka kau yang akan mengisi kekosongan yang aku buat.”

“Itu caranya kucing-kucing itu mengisi kota setelah semua penghuninya menghilang.”

“Benar,” kata ayahnya. Kemudian ia memandang dengan kosong jari telunjuknya yang tadi ia angkat seperti melihat sesuatu yang misterius, benda yang salah tempat.

Tengo mendesah. “Lalu, jadi, sebenarnya siapa ayahku?”

“Hanya sebuah kekosongan. Ibumu menyatukan tubuhnya dengan kekosongan lalu lahirlah kamu. Aku mengisi kekosongan itu.”

Setelah berkata panjang, ayahnya menutup matanya dan mengunci mulutnya.

“Dan kau membesarkanku setelah ia pergi. Begitu maksud Ayah?”

Setelah berkali-kali berdehem, seperti membersihkan tenggorokannya dari sesuatu yang menyangkut, ayahnya berkata, ini seperti mencoba menjelaskan sesuatu yang sederhana pada anak berpikiran lamban, “Itulah sebabnya aku katakan, ‘kalau kau tak mengerti sesuatu tanpa penjelasan, kau tak akan bisa mengerti sesuatu dengan penjelasan.”

Tengo melipat kedua tangannya di pangkuan dan memandang lurus pada wajah ayahnya. Ternyata lelaki ini bukan cangkang kosong, pikirnya. Lelaki itu manusia lengkap berdarah dan berdaging dengan pikiran sempit, jiwa yang keras kepala, bisa bertahan dalam kondisi apapun, dan bisa tumbuh begitu saja begitu bertemu dengan daratan di tepi laut. Ia tak punya pilihan selain harus berdampingan bersama kekosongan yang perlahan menjalar di dalam dirinya. Pada akhirnya, kekosongan itu akan menelan seluruh dari kenangan yang tersisa. Ini hanya soal waktu.

Tengo berpamitan pada ayahnya sebelum pukul 6. Sembari ia menunggu taksi datang, Tengo dan ayahnya duduk saling berseberangan dekat jendela, tanpa berkata apa-apa. Tengo punya banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, tapi ia tahu bahwa apapun yang ia tanyakan tak akan pernah mendapat jawaban. Itu terlihat jelas dari bibir ayahnya yang terkatup begitu erat. Seperti yang ayahnya tadi katakan padanya, “Jika kau tak bisa mengerti sesuatu tanpa penjelasan, kau juga tak akan pernah mengerti meskipun itu telah dijelaskan.”

Saat waktu untuk pergi sudah dekat, Tengo berkata, “Ayah sudah mengatakan banyak hal padaku hari ini. Meski secara tak langsung dan kadang aku sulit untuk memahaminya, tapi mungkin itu yang bisa Ayah lakukan sejujurnya dan seterbuka ini. Seharusnya aku berterimakasih untuk itu semua.”

Ayahnya masih bergeming dan tak berkata apa-apa, matanya seolah terpaku pada pemandangan seperti prajurit jaga yang begitu awas pada sinyal suar yang hendak dikirimkan suku liar di bukit jauh. Tengo berusaha menyamakan garis pandangan ayahnya untuk melihat apa yang sebenarnya tengah dipandangi ayahnya itu, tapi yang terlihat hanya pucuk-pucuk pinus ditingkahi warna senja.

“Maafkan kalau aku mengatakan bahwa tampaknya tak ada yang bisa aku lakukan untukmu, kecuali berharap agar proses pembentukan ruang kekosongan dalam diri Ayah adalah hal yang tak menyakitkan. Aku tahu Ayah sudah lama menderita. Ayah mencintai ibu begitu dalam, dan itu hanya Ayah sendiri yang bisa rasakan. Sungguh, aku pun bisa merasakan itu. Tapi dia telah pergi, dan itu begitu menyakitkan bagimu – seperti tinggal di dalam kota yang kosong. Namun, Ayah juga membesarkan aku dalam kota kosong yang sama.”

Segerombolan gagak melintasi langit, berkoak. Tengo berdiri, mendekat ayahnya, dan meletakkan tangannya pada bahu ayahnya. “Aku pamit, Ayah. Segera aku akan kembali lagi.”

Dengan tangan masih pada gagang pintu, Tengo berbalik untuk terakhir kali dan ia terkejut melihat ada air mata jatuh dari mata ayahnya. Bulir air mata itu berwarna perak kusam terkena cahaya neon dari langit-langit. Air mata itu bergulir pelan di pipi lalu jatuh di pangkuan ayahnya. Tengo membuka pintu dan meninggalkan kamar. Ia memanggil taksi menuju stasiun untuk kembali menaiki kereta yang telah membawanya kemari.

(Dialih-bahasakan oleh Dedy Tri Riyadi dari versi Bahasa Inggris oleh Jay Rubin.)

Iklan