Cerpen Jamil Massa – Tadi Tidur di Mana?

Jamil Massa
Tadi Tidur di Mana?

KATA Guru, pertanyaan paling penting sekaligus paling sukar dijawab dalam sejarah manusia adalah pertanyaan tentang siapa diri kita. Pertanyaan berbunyi: “Siapa aku?”

Baiklah, mungkin benar itu adalah pertanyaan paling penting, tetapi aku tak akan ragu berdebat jika yang dipermasalahkan adalah predikat sukar. Bagiku, kesukaran pertanyaan itu masih kalah satu tingkat di bawah pertanyaan “Tadi tidur di mana?”

astral

Aku percaya tingkat kesulitan suatu pertanyaan tidak berasal dari pertanyaan itu sendiri, melainkan dari seberapa banyak jebakan yang dipasang di sekitar pertanyaan tersebut oleh siapa pun yang sedang bertanya kepadamu. Misalnya, aku pernah amat gugup saat seorang gadis yang kusukai bertanya siapa aku. Waktu itu aku kelas III SMP, dan pertanyaan brengsek itu keluar dari mulutnya tepat setelah aku menyatakan cinta.

Kegugupanku itu manusiawi. Khas remaja. Perasaan yang disangga dengan rapuh oleh ketakutan akan penolakan. Jawaban atas pertanyaan tentang siapa diri ini harus aku sesuaikan dengan harapan dan imajinasi si gadis tentang seorang pacar, atau minimal lelaki ideal. Jika meleset, ia bukan hanya akan menolakku, lebih dari itu, ia akan memandangku rendah lalu menendangku kuat-kuat.

Tidak, ia tidak bertanya “Siapa sih?”, melainkan “Siapa ya?”. Keduanya mungkin memiliki makna yang sama, tetapi dengan tekanan tertentu, kalimat pertama seolah dilepaskan dengan segenap rasa muak, kening berkedut, dan langkah mundur seperempat depa. Dia bertanya dengan kalimat kedua, namun tetap saja rahangku gemetar.

Belakangan pertanyaan semacam itu berulang lagi, dan berulang berkali-kali manakala aku menjadi satu di antara 1,5 juta pencari kerja terdaftar di negeri ini. Dengan setelan kantor yang rapi, wangi, dan biasanya berwarna gelap, seseorang dari perusahaan menyorongkan kepadaku sebuah kalimat berbunyi perintah, yang pada dasarnya adalah pertanyaan. Kalimat yang seolah disusun sekenanya. tapi penuh daya lesak sehingga mampu mempreteli bangunan kepercayaan diriku dalam sekali pukul. Kalimat berbunyi: “Deskripsikan diri Anda!”.

Dapat kukatakan, aku berkali-kali lipat lebih gugup dibanding saat aku menyatakan cinta dahulu. Selain karena takut ditolak, derajat pertanyaan itu rasanya makin keramat karena kata ganti orang kedua yang digunakan pewawancara untuk merujukku bukan lagi kau, tetapi Anda. Sebuah kata yang dingin dan berjarak. Satu-satunya kata ganti orang kedua dalam bahasa Indonesia yang diawali huruf kapital.

“Silakan mulai, kapan pun Anda siap,” ujar pewawancara itu, lebih serius.

Alih-alih menjawab aku malah mengerjap-ngerjap agar lensa mataku semakin basah dan objek di depan terlihat semakin cerah. Tindakan itu aku lakukan bukan untuk penglihatan, melainkan memoriku. Aku tersenyum saat yakin ingatanku tidak salah.

“Ayu? Kau lupa padaku?” tanyaku kepada pewawancara.

Perempuan muda itu kelihatannya kaget. Kemudian situasinya pun berbalik. Ia yang kemudian ganti mengerjap-ngerjap, terpicing, lalu mengerjap, sebelum akhirnya menggeleng. “Maaf, siapa ya?”

“Baim. SMP 2. Kelas IIIA.”

Kau ingat gerakan mekar bunga yang dipercepat dalam film-film dokumenter di saluran Discovery? Kira-kira begitulah gerakan mata Ayu yang membeliak perlahan seiring dengan makin melebarnya senyumnya. Ekspresi yang aku duga terpantik bukan oleh nama yang aku sebutkan, melainkan dua informasi terakhir yang kemudian mengingatkannya pada suatu kejadian konyol di masa lalu.

“Astaga, Kak Baim! Yang dulu nembak saya?” Tanyanya terkejut seraya menutup mulut, menjaga keanggunan yang seolah hendak dirusak oleh gelak tawanya sendiri.

***

HARI itu aku meminta Ayu menghentikan wawancara dan mencoret namaku dari daftar pelamar. Sungguh mati aku tak merajuk, dan tak merasa perlu bilang kepadanya kalau aku tak merajuk. Aku hanya menyatakan, dengan segala hormat, wawancara tersebut telah terlanjur dibuka dengan suatu tindakan kurang profesional. Dengan intonasi seramah dan setulus mungkin, aku ungkapkan rasa bersalahku, terutama untuk pelamar-pelamar lain yang barangkali mengharapkan sebuah persaingan yang jujur. Aku bilang kepadanya, di kota ini pekerjaan masih banyak, dan aku merasa tidak masalah menganggur lebih lama lagi.

Ia menghargai keputusanku sembari meminta maaf. Aku katakan: “Tidak apa-apa, semua murni salahku. Namun, jika tidak keberatan, aku ingin mengajakmu makan malam. Aku masih penasaran akan pertanyaanku yang sampai sekarang belum kau jawab.”

Kau mungkin akan memaki-maki aku sebagai bangsat gendut yang beruntung. Aku gagal mendapatkan pekerjaan dari department store itu, tapi kemudian aku mengencani manajer personalianya. Perempuan cantik yang juga cinta monyetku.

Makan malam itu seharusnya adalah tentang dua orang yang melakukan penjajakan perlahan-lahan, atau setidaknya tentang seorang bekas kakak kelas yang melakukan pengakuan dosa atas lirikan-lirikan jauh yang penuh pengharapan di masa lalu. Namun, situasi berubah chaos setelah aku memesan alkohol untuk diriku sendiri, dan dia minta diberikan minuman yang sama, meskipun, seingatku, kami tidak betul-betul mabuk saat tangan-tangan kami saling meraba, bibir-bibir kami saling mengecup, dan berahi memacu tubuh bergegas mencari kamar hotel.

“Aku bisa meladeni percakapan romantis selepas bercinta, tapi tidak mungkin melakukannya semalaman.”

“Kau tertidur?” tanya Theo di ujung telepon.

“Tidak mungkin tidak,” jawabku.

Aku dapat mendengar erang tertahan sahabatku itu. Ia tahu benar apa yang terjadi tiap kali aku tertidur. Kami pernah tinggal dalam satu kamar asrama.

“Terus bagaimana?” tanyanya lagi.

“Entah. Tahu-tahu sudah pagi. Ia tak ada di kamar. Tagihan hotel juga sudah terbayar, mungkin dia pikir aku kabur.”

Aku mendengar erang tertahan itu lagi. “Kau harusnya mendatanginya. Jelaskan. Ceritakan segalanya. Perempuan ini sepertinya akan memahami dan menerima keadaanmu.”

“Tidak ada perempuan yang sudi berkomitmen denganku,” sahutku.

Alah, ada juga kau sendiri yang malas komitmen. Kau hanya mau cinta satu malam saja kan?”

Aku terkekeh. “Bukan begitu, Sobat. Lima orang terlalu banyak.”

“Lima orang terlalu banyak,” ulangnya, meledekku.

***

SAAT tidur, aku menghilang. Itulah rahasiaku. Bisa kau bayangkan? Setiap kali kesadaranku lingsir ke fase tidur lelap, seluruh ragaku ambyar seperti jin lampu yang baru saja meluluskan tiga permintaan. Benar-benar tak ada jejak. Namun, ketika aku terjaga, partikel-partikel dan sel-sel tubuhku menyatu kembali dalam satu kedipan.

Mungkin yang paling mendekati anganmu adalah Harry Potter saat memakai jubah ajaib, atau Susan Storm dari Fantastic Four. Namun kasusku tidak seperti keduanya. Baik Potter maupun Storm tidak benar-benar menghilang, mereka cuma tidak kelihatan. Saat mereka sedang beraksi, kau masih mungkin secara tidak sengaja bertubrukan dengan mereka. Sementara aku, puff! Saat tidur aku benar-benar tiada.

Energi itu kekal. Jumlahnya dalam semesta selalu tetap, tidak bertambah, tidak berkurang, hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, itu yang aku tahu. Yang tidak aku tahu adalah berubah menjadi energi apa diriku saat tidur. Betapa ngeri membayangkan tubuhku tidak berubah menjadi apa pun atau, bisa saja, berpindah ke semesta lain yang tidak pernah akan aku ketahui selamanya. Itulah mengapa pertanyaan “Tadi tidur di mana?” adalah pertanyaan paling sukar buatku. Aku sama sekali tak punya petunjuk mengenai di mana aku berada saat aku terlelap.

Ibuku adalah orang pertama yang mengetahui keadaanku. Dimulai ketika usiaku sekitar lima tahun. Dua tahun setelah bapak ke Sumatera untuk menjadi buruh perkebunan kelapa sawit. Reaksi ibu pertama kali adalah panik. Tentu saja, memangnya ibu mana yang tidak? Anak sendiri menghilang justru di ranjang dan kamar yang dibagi bersama. Di dalam rumah yang semua pintu dan jendelanya terkunci rapat-rapat.

Tengah malam itu, ibu menjerit-jerit memanggil namaku, membangunkan seisi rumah, tak terkecuali aku. Dan saat Kakek dan Nenek memasuki kamar, aku sedang mengucek-ngucek mata di atas ranjang.

Kakek dan Nenek berusaha memaklumi kondisi ibu yang baru tiga hari sebelumnya menerima kabar duka. Bapak tewas di Sumatera, dalam sebuah konflik antara perusahaan sawit dan petani plasma. Sambil memelukku, Ibu menangis seraya berkali-kali memintaku tak pernah meninggalkannya sendiri.

Situasi telah dipastikan baik-baik saja. Semua orang ingin tidur kembali di kamar masing-masing. Aku pun kembali terlelap. Maka, lagi-lagi, aku lenyap. Namun berbeda dengan sebelumnya, Ibu berusaha menahan diri. Ia biarkan dirinya tak tidur, ditatapnya aku yang mulai  menguap.

Menurut Ibu, tahap-tahap pelesapanku berjalan cepat tapi runtut. Dimulai dari kepala, lalu dada, kedua tangan, panggul, paha, betis dan akhirnya ujung jari-jari kaki. Ia bisa saja menceritakan hal ini kepada Kakek atau Nenek, namun ia tak melakukannya. Ia lebih percaya kepada seorang lelaki tua yang hidup sebatang kara sebagai penjaga mesjid kampung kami.

“Sepertinya ini efek dari suatu ilmu hitam yang dianut suamimu di Sumatera sana,” duga lelaki itu sementara jemarinya memijit-mijit pusaran rambutku. “Beruntung sekali.”

“Apa untungnya bisa menghilang saat tidur?” tanya ibu, bersungut-sungut.

***

SEJAK hari itu aku lebih sering menginap di tempat lelaki tersebut, yang cuma berupa sebuah bilik kecil di belakang mesjid. Ini dilakukan karena dua hal: Pertama, agar jiwa ibu tak terus-terusan terguncang setiap melihatku menghilang; kedua, supaya aku memiliki seorang pembimbing sekaligus pelindung. Kepada lelaki itu aku belajar bela diri, mengaji, dan berbagai falsafah hidup. Kadang-kadang, aku memanggilnya Guru.

Bertahun-tahun kemudian aku lulus ujian masuk sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar. Berat hati ibu melepaskanku, tapi Guru berhasil meyakinkannya. Merantau, menurutnya, adalah cara paling normal untuk menikmati perasaan berada di sini dan di sana—apa pun maksudnya. “Lagi pula masih satu pulau. Masih bisa dipantau,” ujarnya menenangkan ibu.

Aku rasa kau paham sekarang, ibuku orang pertama, aku orang kedua, Guru orang ketiga, dan Theo adalah orang keempat. Pertemuanku dengan Theo ada kaitannya dengan sebuah film yang diputar di tengah-tengah sebuah seminar. Aku tak hadir di sana. Namun, kata seorang teman, seminar itu tidak terlihat seperti seminar sungguhan. Hanya ada pembicara yang berkoar-koar pendek dan berkoar-koar panjang.

Layar lalu dibentangkan. Seperangkat proyektor dinyalakan. Sebuah film diputar berisi adegan demi adegan yang berganti-gantian membangkitkan jeri. Bangunan-bangunan terbakar; mobil dan sepeda motor terbakar; tubuh-tubuh manusia yang tak lagi lengkap saling bertumpukan, juga terbakar.

Lalu ada pemandangan bukit, orang-orang berdiri dan beberapa orang lain berlutut. Orang-orang yang berdiri meremas rambut orang-orang berlutut seraya memaksa orang-orang berlutut mengucapkan kata-kata tertentu. Belum selesai orang-orang berlutut berkata-kata, orang-orang berdiri melayangkan parang yang sedari tadi mereka pegang. Kepala orang-orang berlutut menggelinding menuruni lereng bukit.

Balairung tempat diskusi digelar mendadak riuh. Entah siapa yang memulai terdengarlah pekik nama Tuhan ditingkahi sumpah serapah. Kerumunan itu berhamburan dan mulai memeriksa Kartu Tanda Penduduk milik siapa saja yang mereka temui di luar. Menjelang malam, Gereja di depan kampus terbakar. Asapnya menabun ke angkasa, sementara aku menikmati lagu-lagu Firehouse di kamar asrama. Seseorang memukul-mukul pintu. Dua orang berwajah tak sabar berdiri di depan kamar.

“KTP!” sergah salah satu di antara mereka.

Aku memberikan apa yang mereka mau dengan gerak yang dilambat-lambatkan, mencoba  bercanda. Namun agaknya dua perazia itu menganggap waktu adalah sesuatu yang sangat serius. Mereka menyidik nama dan, terutama, kolom agama yang tertera di kartu, lalu mengembalikannya kepadaku. Tak ada masalah.

Aku bergegas menutup pintu setelah mereka pergi. Andai saja mereka sedikit lebih gigih memeriksa beberapa tempat dalam kamarku, mungkin mereka akan menemukan sesuatu. Lemari asrama cukup besar untuk menampung seekor gajah yang mengalami masalah pertumbuhan. Tapi bukan gajah pigmi yang bersembunyi dalam lemariku, melainkan tubuh kerempeng Theo yang meringkuk dengan wajah sepucat tahu mentah. Keringatnya merembesi seragam imitasi Manchester United milikku.

Sekitar lima menit sebelum orang-orang itu menggedor pintu, Theo telah mengetuknya lebih dulu. Terengah-engah ia mempercayakan nyawanya kepadaku. Theo Teknik Geologi, aku Teknik Elektro, tetapi, jika seminar itu tak pernah ada, mungkin kami tak akan ditakdirkan jadi sahabat. Dan dia mungkin tidak akan pernah mendengar cerita tentang pengangguran gendut yang menyublim selepas bercinta dengan perempuan dari masa lalu.

***

“PIKIRKAN saja saranku.” Theo masih di ujung telepon. Sepertinya dia sedang mengemudi. Sayup-sayup lagu When I Look Into Your Eyes terdengar dari tape mobil.

“Baiklah,” jawabku sebelum menutup telepon.

Aku beranjak dari koridor dan memasuki kamar rumah sakit tempat ibu sedang terbaring. Ia sedang menonton televisi. Gurat-gurat usia di wajahnya tampak makin kentara saat ia menoleh ke arahku.

 “Theo kirim salam.”

 Ibu tersenyum. “Bagaimana kabarnya?”

 “Baik. Pekerjannya baik. Proyeknya lancar. Bulan depan menikah,” jawabku.

 “Syukurlah…”

 Aku dan ibuku bertukar pandangan agak lama, lalu entah mengapa kami tertawa.

 “Jangan ada beban. Ibu tidak mengharapkan apa-apa darimu.”

“Siapa juga yang terbebani?” timpalku seraya meraih apel dari atas meja. Aku melemparkan pantatku ke pangkuan kursi di samping kiri ranjang ibu, lalu mulai mengupas apel itu dengan santai.

Perhatian ibu tersedot televisi, sebuah acara bincang-bincang tentang perkembangan kasus seorang akitivis HAM yang diracun di pesawat beberapa tahun lalu. Kasusnya belum benar-benar tuntas. Sebuah tim pencari fakta pernah dibentuk, dan sekarang suatu komisi yang menangani masalah keterbukaan informasi publik meminta berkas laporan tim itu dibuka ke publik. Namun, semua pihak yang berwenang menyatakan berkas tersebut telah hilang.

Aku ingin mengatakan sesuatu kepada ibu, tentang perkembangan penyakit kanker payudara yang ia derita, tentang hasil wawancara kerjaku, dan juga tentang Ayu. Namun, ibu keburu bersuara, melontarkan pernyataan yang terdengar seperti keluhan: “Di negeri ini, menghilang kayaknya sudah jadi kebiasaan.”

Aku pura-pura tak mendengar.

Gorontalo, Juni 2017

 

 

 

Jamil Massa, lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Menulis puisi cerpen dan esai. Sekarang tinggal di Gorontalo dan aktif dalam sejumlah kegiatan literasi di kota tersebut. Telah menerbitkan dua buku berjudul Sayembara Tebu (2016) dan Pemanggil Air (2017). Keduanya adalah buku puisi. Aktif di Facebook sebagai Jamil Massa, di twitter sebagai @jamil_massa, dan blog http://www.jamilmassa.wordpress.com.

Iklan