Cerpen Triyanto Triwikromo: Lembah Kematian Ibu

Cerpen Triyanto Triwikromo

TAK ada malaikat yang tersesat di sebuah apartemen di Sun Valley. Karena itu, saat hujan reda, kau dan aku tidak akan mendapatkan perempuan bersayap indah tertatih-tatih mengetuk pintu rumah. Kau juga tidak akan bertemu dengan aurora kuning gading yang melingkar di kepala perempuan itu. Sudah pasti, kau pun tak bakal bisa mendengarkan suara merdu dari bibir ranum bau jambu yang mengingatkan siapa pun pada bunyi lonceng di Katedral Notre Dame itu. Akan tetapi, malaikat tak hanya lahir di surga. Di ruang tamu Tanti ada tiga kucing bernama Angeli, Angelo, dan Angelu, yang dalam waktu kapan pun menjadi malaikat-malaikat penyelamat kehidupan perempuan yang bekerja sebagai asisten dokter gigi di Melrose itu.

“Ayolah, Angeli, katakan pada Ibu, kau sangat mencintai aku bukan?”

Angeli tentu saja tak menjawab.

“Dan kau, Angelo, setelah Yesus, hanya kaulah yang pantas disebut sebagai penyelamat. Kau telah menggagalkan Ibu untuk melakukan bunuh diri yang memalukan itu.”

Angelo mengeong pelan dan menjilat-jilat pipi Tanti.

“Uhhhh, jangan menangis, Angelu, meskipun paling bungsu, kau tetap malaikat kecil yang tak mungkin kulupakan sepanjang hidupku.”

Angelu tak menanggapi belaian Tanti. Ini membuat perempuan muda yang tak mau berpisah dari kucing-kucing kesayangan itu mencoba mencari akal agar Angelu mau diajak bercakap-cakap barang sejenak.

“Aduh, kamu ingin lebih pintar, lebih perkasa, dan lebih sayang pada Ibu ketimbang Angeli dan Angelo, ya? Baiklah, akan kuberi kau susu paling banyak. Akan kuberi kau makanan kesukaanmu….”

Oo, kucing pun mengerti bahasa manusia. Angelu berjingkat-jingkat mendekati Tanti dan bersama Angeli dan Angelo mulai bercanda dengan perempuan yang sejak tiga tahun lalu bercerai dari Kim Sam-Soon, pria Amerika keturunan Korea, yang kini mendapat hak perwalian untuk mengasuh Kim Jun-young, Kim Jae-woong, dan Kim Hwang-bo di Las Vegas itu.

Yang kutahu kemudian, pisah dari anak-anak memang membuat Tanti kelimpungan. Hari-hari pertama setelah Kim merenggut anak-anak dari dekapan, ia tidak mau makan. Segala makanan yang disajikan oleh pembantu ia acak-acak sehingga kamar penuh lendir kuah mi instan, bubur, atau nasi. Sprei di ranjang juga penuh bercak saus, susu, dan karena itu beberapa tikus leluasa bersliweran, mengendus-endus makanan basi, menggerogoti bantal, serta sesekali menggigit-gigit jempol Tanti.

Tanti juga tak mau mandi. Rambutnya awut-awutan dan setelah sebulan ia mulai merobek-robek pakaian yang dikenakan. Andai saja rumah Tanti berubah menjadi akuarium, kau akan melihat ikan hiu hitam terdampar dengan luka tak beraturan di sekujur tubuh amis yang tak pernah terbasuh oleh sejuk air atau dingin lumpur sekalipun.

Tanti mungkin memang tak makan nasi atau roti. Namun, tak menutup kemungkinan ia menyantap serangga, kalajengking, atau tikus-tikus kecil yang takjub melihat seorang anak manusia hanya berdiam diri di kamar sambil memandang potret tiga anak kecil yang, menurut pandangan Tanti, memiliki sayap-sayap halus di kedua belah bahu.

“Siapa pun tak boleh merenggut sayap kalian. Juga Kim…,” desis Tanti pelan.

Anak-anak di potret itu hanya tersenyum. Mereka memang selalu tersenyum saat fotografer memotret mereka di Long Beach dua bulan lalu. Mereka memang selalu tersenyum saat bersama Tanti dan Kim berkejaran di bawah pohon oak ketika berlibur dari pantai ke pantai, dari taman ke taman di sekitar Palos Verdes.

“Hanya iblis yang memisahkan aku dari kalian. Hanya iblis yang tak memberi kesempatan seorang ibu untuk mengasuh anak-anaknya….”

Lalu bayangan tentang peradilan di Los Angeles pun meletup-letup. Waktu itu dengan sangat ketus jaksa penuntut umum bertanya, “Apakah kau pernah meninggalkan anak-anakmu di taman saat badai mendera Los Angeles?”

“Ya. Saya pernah meninggalkan mereka. Tapi saat itu ada hal lebih penting lain yang harus kulakukan….”

“Persoalan penting? Menolong seekor kucing dan membawa binatang tak berguna itu kepada seorang dokter hewan kauanggap sebagai persoalan penting?”

“Anak-anakku adalah malaikat-malaikat kecil yang kuat. Meninggalkan mereka tidak terlalu berisiko ketimbang membiarkan seekor kucing terbunuh oleh pengendara sepeda motor yang tak tahu aturan.”

“Malaikat-malaikat kecil? O, betapa fantastis sebutan itu. Bukankah geledek menyambar-nyambar pepohonan di taman dan bahkan merobohkan pohon oak di Palos Verdes?”

“Ya, badai memang menghajar apa pun, tetapi malaikat-malaikat kecilku begitu mudah menghalau badai. Mereka berlarian ke toilet dan berdoa agar segala marabahaya berhenti begitu sang ibu berhasil mendekap mereka kembali.”

“Apakah saat itu Anda sedang mabuk?”

“Aku hanya menenggak sedikit Martini.”

Setelah memberikan kesaksian semacam itu, aku tahu Tanti tak tertarik mendengarkan pernyataan Kim dan pembelaan pengacara. Ironisnya semua pembelaan Tanti dan pengacara kandas.

Karena itu pula, saat Kim bersikukuh mengajak Tanti bercerai, hakim meluluskan permintaan itu. Bahkan Tanti tak diberi kesempatan sedikit pun untuk mengasuh anak-anaknya hanya lantaran hakim menganggap tak mungkin pemabuk dan pengganja dan pemakan tikus muda seperti Tanti akan mampu mengasuh malaikat-malaikat kecil yang sedang lucu-lucunya itu.

“Hmmm, Los Angeles, Kota Bidadari itu, ternyata tak memihak pada perempuan malang. Kota ini hanya indah untuk para laki-laki,” desis Tanti setelah hakim memberikan kemenangan telak kepada Kim.

Ya, sejak saat itulah Tanti merasakan kehilangan segala-galanya. Untunglah pada saat gawat, Sari, sang ibu, membelikan tiga kucing Persia yang lucu-lucu dan membawa segepok Alkitab ke rumah yang kian mirip pekuburan kuno di Jawa yang kotor dan angker itu. Kata Sari, “Hanya Alkitab dan tiga kucing ini yang akan menyelamatkan kehidupanmu. Ayo segeralah temukan kisah-kisah para martir Tuhan yang lebih tersiksa daripada kamu. Rasakan luka Kristus. Pahami derita Musa. Setelah itu, asuhlah kucing ini sebagaimana kau mengasuh anak-anakmu.”

Setelah bergaul dengan kucing-kucing itu, lambat laun Tanti mulai mau mandi. Dengan pakaian indah, ia juga rajin ke gereja. Ia mau menyentuh makanan apa pun yang disediakan oleh pembantu. Ia merasa menemukan dunia baru setelah memiliki Angeli, Angelo, dan Angelu –kucing-kucing kesayangan– yang selalu mengingatkan ia pada Jun-young, Jae-woong, dan Hwang-bo.

“Ayolah, Angeli, ambilkan Ibu benang-benang rajutan, aku akan membuat kain penghangat untuk Choi.”

Angeli seperti biasa hanya mengiau! Tapi ia segera menggonggong benang dan dengan cekatan segera memberikan benda indah itu kepada Tanti.

“Dan kau, Angelo, sini temani Ibu. Aku juga akan memberikan sepasang lukisan anjing kepada Sim pada hari ulang tahunnya. Ambilkan Ibu cat air di meja belajar!”

Angelo sangat mengerti pada segala hal yang diinginkan oleh Tanti. Ia juga dengan sigap menggigit sekotak cat air dan segera memberikan alat penggambar itu kepada perempuan tulus yang sangat mencintainya itu.

“Ho ho ho, kau juga mau berjasa untuk Hwangbo, Angelu? Ayo, ambilkan pena. Aku akan menulis puisi terbagus untuk anakku yang paling manja itu!”

Aha! Ketiga kucing itu kemudian memang berlomba menjadi anak-anak manis yang berusaha sebaik mungkin membahagiakan ibu mereka. Ketiga kucing itu memang pada saat-saat tertentu berusaha menjadi malaikat penyelamat bagi perempuan malang yang disepelekan oleh suami dan peradilan Los Angeles yang brengsek dan menenggelamkan para perempuan ke comberan.

***

KIM dan suamiku memang bajingan. Sebagaimana Kim, Rob telah mencuri anakku dari gendongan. Laki-laki sinting Los Angeles itu sungguh tak tahu diuntung. Aku sudah bekerja keras mengantar koran dari rumah ke rumah untuk menambah biaya hidup di Glendale yang cukup mahal, ia masih selingkuh dengan Jane, perempuan Argentina, teman sekantornya. Aku sudah mengalah melepaskan pekerjaanku sebagai pemasar butik terkenal, ia main gila dengan perempuan yang jelas-jelas tak lebih cantik dariku.

Aku memang kemudian melepaskan anakku ke Las Vegas. Aku memang kemudian berlayar ke negeri-negeri yang jauh untuk melupakan Los Angeles yang brengsek, untuk sekadar membuktikan betapa tak mungkin seorang ibu melupakan malaikat terkasih yang lahir dari rahim emas yang dijaga setiap hari sepanjang waktu. O, apakah setelah besar nanti Emanuel akan mengingkari cintaku?

Aku mengenal Tanti setahun lalu saat memeriksa gigiku. Umur Tanti mungkin tak kurang dari 30 tahun, tetapi wajahnya mengingatkan aku pada perempuan-perempuan Sunda 40 tahunan yang kehilangan kesegaran dan jauh dari cahaya matahari.

“Serangan jantung bisa dimulai dari kesalahan merawat gigi lo, Teh!” kata dia waktu itu setelah kami saling memperkenalkan diri sebagai mojang Priangan yang tersesat di Kota Bidadari.

“Aku tak takut pada serangan jantung. Aku takut kalau tak bisa membahagiakan anakku,” kataku keceplosan.

Wajah Tanti jadi tegang.

“Memangnya ada apa dengan anak Teteh?”

Sial! Ganti aku yang tegang mendengar pertanyaan tak terduga itu.

“Ngomong-ngomong soal ketakutan, aku lebih ngeri karena tak bisa mendekap ketiga malaikat kecilku. Anak Teteh berapa? Ada apa dengan mereka?”

Tak kujawab pertanyaan itu. Jika kuceritakan juga, toh perempuan usil ini tak akan mampu membebaskan aku dari cengkeraman persoalan.

“Setelah bercerai dari suamiku, aku kesulitan mendekap malaikat-malaikat kecilku. Tapi sekarang aku punya anak-anak lain,” desis Tanti lagi.

“Anak-anak lain?”

“Ya. Aku memelihara tiga kucing Persia yang setia menemaniku sepulang dari bekerja.”

“Kucing-kucing itu bisa menggantikan keindahan anak-anakmu?”

“Tentu tidak! Tapi kita tak mungkin menunggu mati hanya dengan meratapi perlakuan buruk suami bukan?”

Benar juga perkataan perempuan hitam manis itu. Akan tetapi, sangat tidak mungkin aku mengganti Emanuel dengan anjing atau kambing. Aku sama sekali tak menyukai binatang.

“Dalam sebulan aku akan pinjamkan kucing-kucing itu kepada Teteh. Setelah itu, karena Teteh akan ke Las Vegas mengunjungi anak semata wayang, aku berharap bisa menitipkan kucing-kucing itu untuk Jun-young, Jae-woong, dan Hwang-bo.”

“Kau tak memerlukan kucing-kucing itu lagi?”

“Aku sangat menyayangi mereka. Tapi malaikat-malaikat kecilku ingin memelihara Angeli, Angelo, dan Angelu. Kata mereka, dengan mencintai kucing-kucing itu, kasih sayang mereka pada sang ibu akan lebih tersalurkan. Ada bau ibu dalam setiap bulu kucing. Ada wangi cinta ibu dalam setiap jilatan kucing di pipi anak-anak.”

“Baiklah, Tanti… akan kuberikan kucing-kucing indahmu itu untuk malaikat-malaikat kecilmu di Las Vegas….”

Hmm… dua hari kemudian aku masih bisa melihat kebahagiaan tiada tara saat Tanti memberikan kucing-kucing itu kepadaku.

***

AKU mulai meninggalkan Glendale dengan perasaan mangkel. Semalam Rob menelepon dan mengatakan Emanuel tak mau bertemu dengan ibu yang kejam. “Ia tidak mau kautendang-tendang lagi. Ia tak mau merasakan tinju di mulutnya lagi. Gigi-giginya telah rompal. Ayolah, Arsih, kau tak perlu menemui Emanuel meskipun kau akan berlayar ke negeri-negeri yang jauh….”

“Tak mungkin Emanuel berkata semacam itu, Rob. Aku ibunya… aku bukan buaya yang begitu mudah ngremus anak-anaknya sendiri.”

“Nyatanya dia tak mau kautemui.”

“Rob, please, izinkan aku bertemu dengannya. Sekali ini saja. Seandainya aku mati di laut, Emanuel telah melihat ibunya untuk kali terakhir,” aku mulai merajuk.

“Kamu sedang sakit jiwa, Arsih. Aku akan memanggil polisi kalau sampai kau datang ke rumahku atau menculik secara paksa Emanuel.”

“Rob!”

Rob tak menjawab. Dari seberang kudengar ia membanting gagang telepon.

Untuk urusan satu ini… aku tak menyerah. Enak saja Rob memperlakukan aku dengan adab yang ia ciptakan sendiri. Enak saja ia merebut Emanuel dari dekapanku. Karena itu, jika ia tak mau baik-baik menyerahkan anakku, aku tak segan-segan melawan dengan cara apa pun. Kalau perlu aku akan menembak mulutnya agar dia tak bisa berteriak-teriak semau gue saat aku merebut Emanuel dari rengkuhan palsu tangannya yang penuh tipu daya.

Aku telah menyiapkan pistol di mobil. Aku memang akan berusaha untuk tak menggunakan benda mengerikan yang bisa menghabisi apa pun yang kaubenci itu. Bahkan aku juga tak akan menggunakan untuk menembak perampok jika seandainya saat melewati padang batu yang membujur dari Los Angeles ke Las Vegas mereka menabrakkan mobil buruknya ke mobilku. Aku hanya ingin berjaga-jaga agar Rob tak menembakku terlebih dulu. Jika sebutir peluru harus menghunjam ke dada atau ke mulut orang lain, aku berharap orang itu hanyalah Rob. Bukan perampok. Bukan apa pun atau siapa pun yang kubenci di jalanan.

Aku tak sedang berada di Death Valley ketika bulan tepat menyinari gurun yang berisi batu melulu. Aku tak sedang berada di tempat terpanas yang bisa membakar kulitmu ketika lintasan-lintasan kekejaman Rob melukai ingatan. Aku ingat benar hanya karena aku salah memberi gula di orange juice yang ia pesan, ia mengguyurkan cairan kental itu ke wajah dan membanting gelas tepat dua sentimeter dari ibu jariku. Setelah itu, kau tahu, Rob menyeretku ke toilet. Menceburkan aku ke bath tub. Mengguyurkan air dingin pada musim dingin yang membekukan tulang dan mengunci toilet itu semalam. Jadi, jika pada akhirnya aku harus membunuh Rob, tak seorang pun berhak menangisi nasib laki-laki bajingan itu. Juga Emanuel. Jika Emanuel ingin meratapi kematian ayahnya, aku tak segan-segan akan menghardiknya. Rob hanyalah binatang rakus. Tak seorang pun perlu memberikan rasa iba kepadanya.

Tentang titipan kucing dari Tanti, oo, aku tentu tak melupakan amanat suci itu. Lihatlah kucing-kucing itu begitu manis dan menurut duduk di samping kananku. Angeli tampak tak sabar untuk segera menemukan keluarga baru. Angelo tampak cuek. Ia hanya miau miau melulu. Dan Angelu, aha, ia sebenarnya ingin mlungker di pangkuanku, tetapi tak kuberi kesempatan sedikit pun untuk bermanja-manja denganku.

“Apakah kau tak takut jika sewaktu-waktu aku menembakmu, Angeli?”

“Miau!”

“Apakah kau tak takut jika saat ini kurobek mulutmu, Angelo?”

“Miau!”

“Apakah kau juga tak takut kucekik, Angelu?”

“Miau!”

Karena bosan mendengar jawaban yang miau miau melulu, aku kemudian memutar lagu-lagu rap Fugees yang penuh letupan dan teriakan kesakitan. Untuk sejenak lagu itu menjadi semacam oasis di tengah-tengah gurun batu di jalan lurus yang membosankan siapa pun yang hendak memburu apa pun di Las Vegas itu.

Mendadak aku mendengar suara Rob menyusup dalam lagu riuh itu.

“Jangan pernah mengambil Emanuel dari dekapanku, Arsih!”

Edan! Bagaimana mungkin Rob bisa memarahiku dari dalam tape recorder.

“Jangan pernah bermimpi membawa Emanuel ke Los Angeles, Arsih!” Rob berteriak lagi.

Tak tahan mendengarkan teror yang berulang-ulang itu, aku kemudian menutup telinga dengan satu tangan, sedangkan tangan lain tetap mengendalikan kemudi agar mobil tidak oleng.

“Pulang saja ke Los Angeles, Arsih. Kau tak bakal bisa merebut Emanuel dariku!”

Edan! Sungguh edan! Ini tak bisa dibiarkan. Karena itu, aku segera mematikan tape recorder. “Kau memang iblis, Rob! Kau memang bajingan!” teriakku panik.

Karena ingin mendapatkan ketenangan, aku kemudian meminggirkan mobil, minum sedikit air mineral, dan meletakkan kepala di kemudi. Lampu kubiarkan menyala. AC kubiarkan hidup. Dan kesunyian pun mulai merambat. Aku merasa berada di lembah kematian.

“Miau!” Angelo mengeong.

“Miau!” Angeli mengikuti dengan suara yang lebih menyayat.

“Miau!” Angelu meratap tak keruan.

Tak bisa kuhentikan eong mereka. Tanganku tak cukup untuk menutup tiga mulut sekaligus. Meskipun demikian, karena dengan cepat kulekatkan jari telunjuk di kedua bibir, kucing-kucing yang tahu bahasa isyarat para manusia itu kemudian terdiam.

Uhhh, tak lama kucing-kucing itu menuruti perintahku. Mendadak Angeli mengeong dan seperti menirukan suara Rob, “Pulanglah, Arsih! Miau!”

“Jadilah ibu bagi tikus-tikus di comberan! Miau!” Angelo menimpali.

“Ya… jangan jadi matahari bagi Emanuel. Miau!” teriak Angelu tak mau kalah.

Hmm, Rob mungkin mulai mengirim sihir busuk. Bagaimana kucing-kucing ini bisa berbicara jika tak ada cenayang yang menyusupkan suara Rob ke taring-taring runcing? Aku tak mau menjawab pertanyaan itu. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus segera mengambil pistol dan menarik pelatuk. Aku harus membunuh Rob sekaligus menghabisi cenayang sialan. Ya, ya, karena Angeli memaki-maki lebih keras daripada yang lain, sebutir peluru kulesatkan ke kepalanya terlebih dulu. Setelah itu, kuarahkan pistol ke perut Angelo, dan terakhir ke dada Angelu. Aku puas. Rob dan cenayang telah mati!

Lalu kurasakan gurun batu ini kian sunyi. Kurasakan lembah kematian ini kian menyiksa seorang ibu yang kehilangan cara untuk mencintai malaikat kecil yang teramat dikasihi. Ya, Tuhan, inikah lembah kematian seorang ibu?

 

 

 

 

 

 

Iklan