Wendy Fermana – Perang Lebah

menguak-misteri-lebah-penyerang-manusia[1]

Perang Lebah

Oleh Wendy Fermana

“Kyai Tembesu Batu menolak perang ini, karena Kyai memihak Belanda!”

Kami rusuh seperti dengung lebah mendengar tuduhan lancang Nawawi Dumai. Tak
menghiraukan suara kami, ia katakan, sikap ragu-ragu Kyai Tembesu Batu adalah tanda yang mesti dibaca semua orang, “Ada yang sedang disembunyikan orang tua alim itu.”
Telinga Jemair Sulaiman panas, mengingatkan Nawawi Dumai bahwa beberapa puluh tahun lalu, kyai merupakan salah seorang yang turut serta dalam musyawarah ulama di Semende.

Pertemuan penting yang mengeluarkan fatwa, Belanda adalah musuh bersama yang harus diperangi seluruh umat!

“Jangan terkejut macam itu, Kak, sudah banyak orang alim yang kemudian berubah jadi
zalim.” Kami terperangah mendengar keberanian, atau barangkali ketidakberadaban mulut

Nawawi Dumai. “Kyai sudah terperdaya! Ia telah lupa pada perbuatannya pada masa lalu!”

“Ia tak mungkin lupa. Kautahu perkataanmu itu tak pantas.”

“Tak pantaskah mengatakan kenyataan?”

“Jangan memancing keributan dan membuat keruh keadaan,” bentak Ahmad Harun, meminta Jemair Sulaiman dan Nawawi Dumai tenang. Orang-orang yang berbisik-bisik tak ketinggalan kena semprot. Suara ricuh di lingkaran kembali reda.

Akan tetapi, Jemair Sulaiman dan Nawawi Dumai makin menjadi-jadi, tak berkenan mendengar. Ahmad Harun bingung sendiri, setelah tiga kali memberi peringatan.

Ahmad Harun mengingatkan, lebah-lebah langit bakal turut serta dalam peperangan ini,
seperti pasukan ababil menjadikan pasukan gajah jadi daun busuk yang dimakan ulat. Ia mengulang kisah lama yang dipercaya oleh banyak orang tua, lebah-lebah dari penjuru langit itu akan datang ikut menyerbu pasukan musuh.

Jemair Sulaiman bersumpah, usai perang melawan Belanda ini, bakal ada perang untuk
menebas kepala Nawawi Dumai.

Seketika aku teringat satu hari sebelum berangkat, saat aku menyempatkan pulang untuk menjenguk ayah. Ia sudah sakit-sakitan dan tak lagi berkewajiban turut berperang. Kalau pun dipaksa, kehadirannya hanya akan menyusahkan pergerakan.

Ia menyambutku dengan sedih. Ia takut kalau aku mati lebih dulu, artinya tak ada yang bakal mengurus kematiannya nanti.

Aku tak bakal mati, sebelum ayah mati, kataku. Kami berhenti membicarakan kematian.
Perkara ini menakutkan dan tak bakal berujung jika diteruskan.

Kuceritakan situasi dusun saat itu tak lagi aman. Hasil bumi mulai sering hilang dalam
pengiriman. Beberapa orang dusun juga menghilang dan tak juga kembali. Karena itulah
perang ini harus dikobarkan. Semuanya memang menjadi semakin sulit. Ditambah pasukan telah terbelah, bahkan sebelum perang ini pecah.

“Itu hal biasa,” katanya.

“Bukan hal biasa kalau ayah tahu kepercayaan orang-orang kepada Kyai Tembesu Batu mulai memudar. Pesirah Musi Raya menyebar kabar kyai terlibat dalam persekutuan dengan para penjajah. Itu tak mungkin, pasti ayah berpikir pesirah berbohong, tetapi ia berhasil menangkap seorang juru kabar asing yang selama ini menjadi penghubung antara kyai dan orang Belanda. Kami sempat melihat orang asing itu. Kyai membantah tuduhan tersebut, tapi kyai tidak marah. Seharusnya kalau ia benar-benar tak bersalah, ia lantak saja pesirah.”

“Begitulah orang-orang muda melihat dunia.”

Jika sudah keluar kata orang muda, aku tahu arah percakapan ini bakal kembali ke kejayaan masa silam. Selanjutnya, bakal keluar kata dulu kami …, sebentar lagi, tinggal tunggu waktu.

Orang tua memang suka sekali mempengaruhi. Kalau sudah menjadi tua, mereka suka
menggurui, menasihati, mendikte, kadang kala membuatnya jadi sangat memuakkan. Aku berusaha mengalihkan lagi pembicaraan ke soal lain, tapi gagal.

“Dulu itu kami juga pernah melewati jalan yang sama ….”

Apa kataku!

“Semua orang tua pernah berpikir seperti yang anak muda pikirkan. Merasakan hal yang sama. Dan rasanya menyenangkan sekali dapat menyalahkan dan mengalahkan orang tua.”

Aku terkesiap. “Menyenangkan?!”

“Bukankah menyenangkan mengalahkan orang tua?”

“Ti … dak … ju … ga ….”

“Jawablah jujur dalam benakmu saja.”

Aku diam.

“Tapi orang muda akan jadi orang tua juga.”

Aku diam.

“Akan jadi …, apa yang kaubilang tadi,” ia mengingat-ingat. “Akan memuakkan juga.”

Pos-pos pertahanan berhasil direbut. Berondongan peluru melesat, menembus dinding kayu, bersarang di kendi air minum. Strategi segera berubah. Tapi, pemimpin tak didengarkan.

Kami sibuk berlarian menyelamatkan diri, bersembunyi di balik pepohonan. Merayap di
tanah, luka. Melintas semak, kulit beret. Tertusuk duri, darah menetes dari wajah, lengan, kaki, dan anggota tubuh lain. Sekian detik sebelum tembakan pertama dilepas, saat aku mengintip keluar belasan pucuk senapan telah mengepung markas. Kami tak percaya bakal diserang habis-habisan macam ini, tapi dalam peperangan semua kemungkinan dapat terjadi.

Seseorang, entah siapa, berteriak, “Jangan takut, ada pasukan lebah yang akan membantu kita.”
Aku tertegun di balik semak. Agak ragu. Lalu merayap saat melihat kawan-kawanku yang lain menjauh.

Tiba-tiba aku teringat pada Kyai Tembesu Batu yang menantang Pesirah Musi Raya agar
pasukan dibelah dua; separuh dipimpin pesirah, separuh ikut dengannya, agar dapat terlihat siapa yang berkhianat. Tak ada yang setuju. Pasukan menolak. Jangan pikirkan kepentingan diri sendiri, cetus sekelompok pemuda. “Pembangkangan terhadap pemimpin telah terjadi, perpecahan benar-benar tinggal menunggu waktu,” rutuk Kyai. Andaikata pasukan jadi dibagi, aku tahu keadaan akan lebih parah dari sekarang.

Walaupun begitu, sebelum penyerbuan Kyai Tembesu Batu melangkah ke hadapan pasukan, tepat setelah Pesirah Musi Raya menyelesaikan pidato pendeknya. Ia berseru agar kami bersiap menghadapi perang badar, perang yang besar; perang jihad, perang habis-habisan demi kemerdekaan. Kami menyimak penuh rasa kagum, terbawa suara Kyai yang berat dan dalam. Kami berdoa bersama, dan berlarian menuju pasukan musuh.

Namun, seperti yang telah kutakutkan. Pasukan Belanda datang dengan senjata api. Kami yang menyerang, kami yang kabur tunggang-langgang.

Lebah-lebah berputar di langit, makin kuat aku berusaha berlari hendak menyelamatkan diri.

Lagi-lagi, ada yang berteriak mengingatkan. “Mereka hanya akan menyerang pengkhianat. Tenang saja.”

Sekawanan lebah, ratusan lebah, ribuan lebah beterbangan di angkasa menuju pasukan
Belanda. Aku ternganga, lebah-lebah itu sungguh datang membantu peperangan. Mayat-mayat tentara bertumpuk di hadapan kami. Merah bengkak mengembung. Sekawanan
lebah masih berkerubung di tubuh orang Belanda yang merintih kepedihan, lebah lainnya membumbung lagi ke atas. Kami ternganga tak percaya. “Belanda sudah kalah.”

Mereka telah menyelesaikan tugas dan bakal kembali ke sarang mereka di cabang pohon, di celah-celah tebing, di puncak perbukitan. Namun, tiba-tiba sekawanan lebah, ratusan lebah, ribuan lebah yang beterbangan di angkasa, turun menuju arah Pesirah Musi Raya. Kami terkesiap. Sigap ia mengisi peluru terakhir yang ia punya. Belum sempat senjata itu dikokangnya, ribuan lebah telah lebih dulu menyerbu. Pesirah Musi Raya roboh, berdebam seperti buah nangka runtuh ke tanah. Senapan yang dipegang pesirah tak lagi berguna, ia menggeliat lemah dikerubungi pasukan lebah.

Nawawi Dumai terpana. Kami tercekat. “Pesirah Musi Raya pengkhianat?!”

Jemair Sulaiman memandang kami dengan raut muka seperti hendak mengatakan, sudah kubilang pesirah itu yang bersekutu dengan kompeni!

Belum hilang keterkejutan kami, sekawanan lebah, ratusan lebah, ribuan lebah itu bangkit, beterbangan, meninggalkan tubuh pesirah yang habis kena sengat. Kali ini menderu-deru menyerbu Kyai Tembesu Batu yang seketika menjerit-jerit histeris.
Aku menatap Nawawi Dumai, lalu Jemair Sulaiman, lalu orang-orang lain. Kami hanya bisa saling pandang.

Hari ini melelahkan sekali. Rasanya semakin lelah tatkala mengetahui segala macam
persekongkolan ini dilakukan oleh orang-orang tua kami. Aku amat lelah dan curiga, barangkali besok kami akan menghadapi hari yang sama melelahkan, di dunia yang begitu rumit dan membingungkan, dan penuh persekongkolan yang tak pernah terbayangkan.

Jakarta—Palembang, Agustus 2015
(Pernah dipublikasikan di harian Berita Pagi, 29 Mei 2016)

Wendy Fermana, lahir di Palembang, 10 November 1994. Alumnus FKIP Universitas
Sriwijaya. Pegiat literasi di Komunitas Kota Kata. Buku cerita pendek pertamanya Kawan
Lama (Teras Budaya, 2017).

Iklan