Cerpen Yudhi Herwibowo: Kucing Ketiga Madam Sukotjo

Oleh Yudhi Herwibowo

KAMI memanggilnya Madam Sukotjo. Agak terdengar tak biasa memang tapi begitulah adanya. Ia perempuan Belanda yang sejak puluhan tahun lalu tinggal di Indonesia dan menikah dengan laki-laki Jawa bernama Sukotjo. Ia punya nama Belanda yang tertulis di kartu penduduknya tapi orang-orang tetap saja memanggilnya: Madam Sukotjo.
Kami tinggal di komplek yang sama. Ayah dulu pegawai Bapak Sukotjo di perusahaan permen milik Belanda yang kemudian diakuisisi pengusaha lokal. Hampir 13 tahun lalu Bapak Sukotjo meninggal. Madam Sukotjo tetap tinggal di Indonesia.
Sejak kecil aku sudah mengenal Madam Sukotjo. Di antara semua rumah yang ada di komplek perumahan ini, rumah Madam Sukotjo adalah yang terbesar. Luasnya hampir tiga kali lipat dari rumah-rumah lainnya. Halaman rumahnya begitu luas.
Sepeninggal suamiya, Madam Sukotjo tinggal seorang diri, hanya ditemani kucing-kucingnya. Tak ada lagi koki dan pembantu yang menginap. Ia hanya memakai pembantu pocokan, datang pagi dan pulang sore.
Tentang kucing-kucingnya ini, sejak dulu aku sering melihatnya. Sepertinya mereka berjenis campuran antara kucing persia dan kucing kampung biasa. Badannya gemuk, tapi bulunya tak begitu tebal. Seekor berwarna putih dengan belang hitam di beberapa bagian, yang satu lagi berwarna burik, persis bulu kucing kampung kebanyakan. Dua kucing itu saja yang kerap kulihat. Namun entah mengapa, sejak beberapa tahun terakhir, sering kudengar cerita tentang kucing ketiga setelah dua kucing ini.
Sungguh, kami semua tak pernah melihat kucing itu. Bahkan dua pembantu setia Madam Sukotjo yakin bila sejak bertahun-tahun lalu mereka hanya memberi makan dua kucing saja.
“Mungkin dia sudah mulai pikun. Umurnya kan sudah hampir 80 tahun, wajar bila ia mulai pelupa…,” tak sengaja kudengar ayah bicara pada ibu.
“Aku jadi kasihan, Yah. Kudengar kucing-kucing itu adalah hadiah bapak Sukotjo sehari sebelum ia meninggal,” ibu berkata pelan. “Sekarang ia pasti sangat kesepian. Tinggal di negara asing tanpa sanak saudara. Tak ada suami dan anak-anak…”
Ayah tertawa, “Kau ini. Madam Sukotjo bukan tinggal di negara asing. Ia sudah lama jadi warga negara di sini. Bila ke Belanda, ia malah menjadi orang asing!”

AKU sebenarnya tak ingin mengurusi persoalan Madam Sukotjo dan kucing-kucingnya, tapi karena aku selalu bertemu dengannya, mau tak mau aku jadi ikut memikirkannya. Sejak tak lagi memiliki koki, Madam Sukotjo memang memesan makanan dari ibu. Dulu, ibu memang memiliki bisnis katering, namun beberapa tahun lalu terpaksa ditutup karena merasa telah terlalu tua. Tapi khusus untuk Madam Sukotjo, ibu masih mau memasakkannya dua atau tiga lauk setiap hari. Maka itulah, setiap sore aku yang selalu mengantarkan makanan untuknya. Tugas mengantar pagi hari biasanya dilakukan oleh ibu sendiri.
Setiap mengantar, aku biasanya langsung masuk melalui pintu belakang. Di sana Madame Sukotjo sudah menungguku di waktu yang sama.
“Selamat sore, Madam,” aku menyerahkan tumpukan rantang padanya.
“Hari ini ibumu masak apa?” tanyanya dengan tersenyum.
“Semur tahu, perkedel jagung dan tempe balado,“ ucapku. Sudah sekian lama Madam Sukotjo memang tak lagi makan daging.
“Ah, aku sudah bisa menduga dengan menciumnya saja.” Ia membuka satu per satu tutup rantang. “Apakah kau sibuk?” tanyanya kemudian.
Aku menggeleng. Di sore seperti ini kuliah selalu sudah berakhir, sehingga aku memang tak memiliki kesibukan apa-apa lagi.
“Mau di sini dulu menemaniku makan?”
Aku mengangguk, teringat kata ibu beberapa hari lalu tentang kesepiannya Madam Sukotjo sekarang. Kupikir tak ada salahnya menemaninya mengobrol beberapa menit. Toh, walau sering bertemu, aku sebenarnya jarang sekali bicara panjang dengannya. Hanya kalimat-kalimat basa-basi saja.
“Bagaimana kuliahmu?” tanyanya sambil menyiapkan sendok dan garpu.
“Ini masih awal semester, masih lancar-lancar saja.”
Ia tersenyum, “Tak menyangka kau tumbuh dengan cepat. Sepertinya baru kemarin melihatmu memanjat pagar untuk mengambil layang-layang.”
Aku tersenyum. Ya, dulu layang-layang memang kerap jatuh di halaman rumah ini. Mau tak mau, aku dan kawan-kawan harus memanjat pagar untuk mengambilnya.
Kuamati Madam Sukotjo makan perlahan-lahan. Walau setiap hari berada di ruangan di sini, namun baru sekarang aku bisa mengamati rumah ini dengan lebih detail. Rumah ini memang tak banyak yang berubah. Seingatku, tatanan ruang tamu masih sama seperti b beberapa tahun lalu. Sebuah sofa tua besar berwarna coklat tua, tivi tabung ukuran besar, dan pigura-pigura beraneka ukuran yang memenuhi dinding. Di situ ada banyak foto-foto Madam Sukotjo saat muda bersama suaminya. Kupikir – kalau boleh kukatakan- mereka pasangan yang sedikit kurang pas. Pak Sukotjo jauh lebih pendek sehingga di beberapa foto kulihat Madam Sukotjo sedikit membungkukkan tubuh agar wajahnya bisa sejajar dengan suaminya.
Dan di beberapa foto terbaru, yang warnanya masih sangat cerah, kulihat Madam Sukotjo bersama kucing-kucingnya. Saat itulah baru kusadari kalau dua kucing Madam Sukotjo yang gemuk dan lambat telah berada di dekatku. Mereka tak bersuara. Hanya terus mengusel-ngusel di kaki Madam Sukotjo.
“Aku suka sekali masakan ibumu,” ujar Madam Sukotjo. “Dulu suamiku pernah memintaku belajar masak pada ibumu. Tapi aku tak terlalu berbakat memasak.”
Aku hanya tersenyum. Saat itulah secara mengejutkan, seekor kucing melompat di pahaku. Ini membuatku kaget. Aku tak terlalu suka pada kucing. Kenanganku pada kucing begitu buruk. Dulu, Iin – adik terkecilku – memelihara seekor kucing. Kucing ini begitu menyebalkan. Ia hanya manja pada Iin dan ibu, dan selalu memandang sinis padaku. Yang paling menyebalkan, ia selalu membuang kotoran di dekat jendela kamarku. Sialnya ia selalu melakukannya bila aku sedang melihatnya. Seperti sengaja menunggu. Lalu dengan wajah menyebalkannya, ia akan ngangkang begitu saja di depanku. Bila aku mencoba mengusirnya, ia nampak tak peduli. Pernah satu kali aku berniat melempar batu, tapi Iin langsung menahan gerakanku. Dengan wajahnya yang menggemaskan ia langsung mengingatkanku seperti ini: “Coba bayangkan, kalau kakak yang sedang asyik di toilet, lalu seseorang melempar batu pada kakak, apa yang kakak rasakan?”
Aku pun tentu saja langsung mengurungkan niat burukku. Namun sebenarnya, sejak itulah ketidaksukaanku pada kucing dimulai.
“Hush, hush!” Melihat kekagetanku, Madam Sukotjo segera mengusir kucing-kucingnya
“Ia memang nakal,” ujarnya. “Tapi tak senakal Bupi…”
Ah, akhirnya nama Bupi disebut. Itu adalah nama kucing ketiga yang belakangan ini menjadi pembicaraan para tetangga.
“Ah, jadi ingat, di mana kucing itu? Apakah kau melihatnya?”
Aku hanya menggeleng saja.
“Akhir-akhir ini ia memang sering keluyuran,” Madam Sukotjo menggeleng-geleng kepalanya. “Bayangkan, saat saudara-saudaranya sudah tak lagi berniat main jauh-jauh, ia masih saja pergi entah ke mana.”
Madam Sukotjo menambahkan, “Nanti bila kau melihatnya, bisakah kau memberitahu aku?”
Aku hanya bisa mengangguk .

SEPERTINYA topik tentang Bupi, memang yang paling suka diceritakan oleh Madam Sukotjo.
“Dari kecil ia memang sudah berbeda. Terlalu aktif bila dibandingkan saudara-saudaranya. Sehingga dialah yang paling menghiburku…”
Bila sudah begitu, Madam Sukotjo akan menceritakan kelucuan-kelucuan Bupi. Bagaimana ia hanya mau tidur bersamanya di ranjang tanpa mau di tempat yang sudah disediakan, bagaimana saat ia memberinya kado seorang anak ayam milik tetangga, dan masih banyak cerita lainnya. Aku hanya mendengar dengan sabar, karena kadang beberapa cerita diulangnya di hari yang lain.
Tapi hari ini, cerita tentang Bupi sedikit berbeda.
“Kau tahu, semalam Bupi kembali membuat ulah,” sambil makan dengan perlahan, Madam Sukotjo mulai bercerita. Walau bagi sebagian orang Eropa makan sambil bicara satu hal yang tidak sopan, tapi nampaknya Madam Sukotjo nampaknya tak terlalu memikirkan itu. Ia nampaknya sudah menyerap kebiasaan orang Indonesia dengan baik. “Ia tiba-tiba membawa sebuah perhiasan, sebuah kalung emas. Aku tentu saja segera menyuruh mengembaikannya. Tapi tentu saja ia tak peduli dengan itu. Ia mungkin berpikir, kalung itu hadiah untukku.”
“Lalu bagaimana akhirnya?” aku ikut terpancing juga.
“Untungnya saat menjelang malam, kulihat ia keluar rumah. Dan kalung itu sudah tak ada lagi di meja. Jadi kupikir, ia pastilah sudah mengembalikannya.”
Walau membuatku terpancing, tapi itu belum apa-apa. Di hari yang lain, Madam Sukotjo menyambutku dengan cerita yang lebih heboh.
“Hari ini, Bupi membuat ulah lagi.”
Sambil meletakkan rantang di meja, aku membuat ekspresi bertanya.
“Dialah yang menyebabkan kebakaran di ruko Koh San!”
Aku teringat semalam memang ada kebakaran di depan kompleks. Ruko Koh San, pemilik salah satu toko kelontong yang biasa kami kunjungi, nyaris habis terlalap api di lantai duanya. Sempat kudengar petugas polisi menyimpulkan penyebab kejadiannya. Maka itulah aku langsung membantah ucapan Madam Sukotjo.
“Kudengar penyebabnya karena korsleting,” ujarku.
“Ya, memang. Tapi itu karena ulah Bupi. Kemarin karena ia tak pulang-pulang, aku mencarinya sampai ke depan. Karena mendengar panggilanku, ia muncul dari lantai dua ruko Koh San. Dan hanya beberapa detik setelah ia turun menghampiriku, kulihat api di ruko itu….”
“Tapi… itu bisa saja kebetulan?”
“Ada bagian bulu Bupi yang terbakar. Jadi jelas ia ada di sana saat kejadian. Aku tahu bila selama ini ia memang mengejar-ngejar kucing milik Koh San. Pastilah saat pengejaran itu, ia tak sengaja menarik salah satu kabel, seperti yang sering dilakukannya di rumah, sehingga kebakaran pun terjadi.”
Kali ini, walau aku masih merasa kesimpulan Madam Sukotjo masih berbau dugaan, aku tak berkata apa-apa.
“Huh, menjengkelkan sekali. Kucing itu semakin tua, semakin bandel saja…”
Aku diam saja.

TAPI kejadian itu begitu memukul Madam Sukotjo. Ia ternyata merasa sangat bersalah. Walau sudah berkali-kali kuyakinkan kalau bukan Bupi penyebabnya, ia tak menggubrisku. Ia bahkan berencana meminta maaf pada Koh San secara langsung. Tentu saja ibu dan beberapa tetangga terdekat menyuruhnya mengurungkan niat itu.
Lama-lama aku jadi merasa kasihan padanya. Bagaimana pun tak ada seorang pun yang pernah melihat Bupi. Namun efek kejadian itu benar-benar membuat Madam Sukotjo sedemikian tertekan. Inilah yang membuatku sempat berpikir sesuatu yang selama ini tak pernah kupikirkan: bisa jadi Bupi memang benar-benar ada!
Selama ini, bila tak ada yang melihatnya, ia mungkin memang selalu pergi. Atau, ini kemungkinan lain yang sangat imajinatif, bisa jadi Bupi memang bukan kucing biasa. Ia kucing yang tak kasat mata? Dan hanya Madam Sukotjo yang bisa melihatnya,
Bukankah kejadian yang mirip kejadian ini pernah terjadi? Aku pernah mendengar cerita tentang seorang ibu yang menjalani hidup bersama anak yang sangat disayanginya. Walau semua orang tahu, anaknya telah lama meninggal. Perasaan cinta dan tak bisa menerima kenyataan, mungkin sama seperti yang kini dialami Madam Sukotjo sekarang. Bukankah ketiga kucing miliknya merupakan pemberian terakhir suaminya sebelum ia pergi untuk selamanya?
Tapi tentu saja, kesimpulan seperti ini tetap saja tak bisa kuterima dengan akal sehat. Ini terlalu absurd.
Belum juga mereda kejadian itu, kudengar lagi kabar selanjutnya: kedua kucing Madam Sukotjo yang lain ditemukan mati hari ini. Saat aku datang, Madam Sukotjo meminta tolong padaku untuk menguburkannya.
Aku menggali sebuah lubang untuk kedua kucing itu. Setelah menutupinya dengan selembar kain putih, Madam Sukotjo sendiri yang meletakkan kedua kucing itu di sana.
Sambil melihat tanah yang mulai kuurug, Madam Sukotjo mendesah pelan, “Sekarang, hanya tinggal Bupi…”
Saat itulah, aku ingin sekali bicara tentang Bupi. Kata-kata seperti sudah ada di ujung lidahku. Tapi melihat keadaan Madam Sukotjo yang nampak rentan, aku memilih diam.

TIGA hari kemudian, Madam Sukotjo menyambutku dengan tangisannya.
“Sudah tiga hari ini, Bupi tak pulang. Aku merasa ia juga sudah mati di luar sana. Ketiga kucing ini kubawa bersamaan, dan kupikir mereka punya garis hidup yang sama. Tiga belas tahun adalah waktu yang panjang untuk seekor kucing. Mungkin itu adalah waktu puncak bagi mereka…”
Aku hanya terdiam membiarkan Madam Sukotjo menangis panjang.
Saat itulah, keinginan untuk bicara tentang Bupi kembali muncul. Aku merasa sekaranglah waktu yang paling tepat untuk itu.
“Maafkan aku, Madam,” ujarku akhirnya. “Aku sebenarnya ingin sekali bicara tentang ini sejak dulu. Ini tentang Bupi, kucing Madam. Sungguh, sebenarnya aku dan semua tetangga di sini, tak pernah yakin bila Bupi… benar-benar ada…”
Madam Sukotjo menatapku tak mengerti.
“Dari dulu kami selalu mendengar cerita tentang Bupi. Tapi tak ada satu pun dari kami yang pernah melihat kucing itu…”
“Itu karena Bupi memang selalu pergi keluyuran….”
“Tapi dua pembantu yang selama bertahun-tahun bersama madam, juga tak pernah melihatnya. Mereka yakin, kalau sejak dulu, hanya dua kucing saja yang dibawa ke rumah ini. Bahkan selama ini, mereka juga hanya memberi makan untuk dua kucing…”
Kali ini, Madam Sukotjo terdiam.
“Selama ini, kami para tetangga tak pernah mengatakan apa-apa soal Bupi, karena kami mencoba menjaga perasaan Madam.”
“Jadi selama ini kalian diam karena… menjaga perasanku?”
Aku hanya bisa mengangguk perlahan. “Kami pikir itu mungkin kehilangan yang dalam bagi Madam. Bagaimana pun kami tahu, ketiga kucing itu adalah hadiah terakhir dari suami madam sebelum meninggal…”
Madam Sukotjo menatapku dengan tak percaya. “Tapi ini tak ada hubungannya dengan itu. Ah, bagaimana aku harus mengatakannya? Tapi… Bupi memang benar-benar ada…”
Tapi pandangannya kemudian nampak menerawang, “Atau… selama ini… aku yang memang telah salah melihat?”
Aku hanya bisa menelan ludah, tak berani menjawabnya. Sungguh, sedih melihat keadaan Madam Sukotjo seperti ini.
“Maafkan kami…” ujarku pelan.
Madam Sukotjo tak berkata apa-apa.

SEJAK itu Madam Sukotjo tak lagi bicara tentang Bupi. Setiap aku mengantarkan makanan, ia juga tak mengajakku bicara. Ia hanya mengambil makanan itu, tersenyum sekilas, lalu menutup pintu.
Sedikit aku merasa sangat bersalah. Tapi kupikir ini yang terbaik bagi keadaan ini. Setidaknya ia tak lagi menyalahkan diri atas kebakaran ruko Koh San, juga tak lagi menjadi pembicaraan para tetangga.
Sayangnya, sebelum keadaan membaik, Tuhan memanggil Madam Sukotjo lebih dulu. Ia meninggal saat tidur, sama seperti dua kucingnya.
Karena tak punya siapa-siapa, penguburannya diurus oleh para tetangga. Kami menguburkannya di pemakaman di dekat komplek.
Saat tubuhnya dikuburkan, kami para tetangga yang tak seberapa ini, menemani detik-detik jenzahnya ditelan tanah merah. Mungkin di antara semua pelayat yang hadir, aku yang paling kehilangan. Sekian tahun, aku mengantarkan makanan. Tapi ternyata tak banyak yang kuketahui tentangnya.
Setelah prosesi penguburan selesai, satu persatu dari kami beranjak pergi. Aku sengaja menjadi orang terakhir yang akan pergi. Secara mengejutkan, seorang anak kecil – mungkin berumur empat tahun – menunjuk ke arah gundukan tanah merah itu. “Mama, lihat!” serunya, menahan tarikan tangan mamanya. “Ada kucing, Mama…!”
Aku terkejut. Tapi aku tak melihat apa-apa di gundukan itu. Hanya saja, mataku tak bisa mengelak melihat sebagian tanah di puncak gundukan itu sedikit berjatuhan, seakan-akan ada sesuatu yang membuatnya jatuh.
Jantungku seakan terhenti.

 


Yudhi Herwibowo telah menulis 28 buku, fiksi maupun nonfiksi. Berumah di www.yudhiherwibowo.wordpress.com dan bisa dihubungi lewat pos-el hikozza@yahoo.com.

 

Iklan