Dari Kami: Agar Meletup Lagi yang Redup, Memijar Lagi yang Hendak Pudar

SAMPUL LOKO 5 AGUSTUS 2017

Dari Kami

Agar Meletup Lagi yang Redup,
Memijar Lagi yang Hendak Pudar
oleh
Dedy Tri Riyadi

DALAM sajak Tuti Artic, Chairil Anwar menulis “Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu” yang menunjukkan bahwa ego atau ke-aku-an sebagai ambisi, tekad, cita-cita, harapan, visi dari seseorang bisa hilang, lenyap, dalam sekejap. Meredup dan pudar adalah suatu yang tak mungkin bisa dihindar, itulah makna hidup jika dilihat dari kenyataan bahwa “semua yang bernapas akan mati.”‘ Namun hendaklah kita tidak melupakan bahwa harapan dan cita-cita itu juga semacam tongkat estafet dalam sebuah lomba lari jarak jauh. Harapan bisa diteruskan jika terus digelorakan, dikomunikasikan, dipatrikan ke dalam dada setiap insan. Contohnya seperti cita-cita yang tertulis dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang menginginkan Indonesia menjadi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Artinya, setiap anak negeri wajib meneruskan apa yang sudah dicita-citakan oleh para founding-father kita itu supaya ke depannya nanti yang terjadi bukan hal-hal yang sebaliknya.

Lalu, bagaimana cara agar apa yang tadinya sudah meletup, yang sudah memijar, tidak menjadi redup dan pudar? Karena peringatan yang diisyaratkan oleh Chairil Anwar dalam sajak Tuti Artic adalah “sorga hanya permainan sebentar,” dan “cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.” Barangkali, yang harus kita lakukan adalah selalu menanyakan, meng-afirmasikan kembali, pada diri kita sendiri seperti yang ditulis Walt Whitman dalam sajaknya “O, Me! O, Life!” Atau seperti puisi Louis MacNeice “Plurality” yang justru memandang pada hidup dengan segala keragaman di dalamnya agar kita menemu pada pemahaman kita bagaimana sebenarnya kita memaknai kehidupan ini. Bisa juga agar yang redup bisa meletup lagi dan yang pudar bisa berpendar atau berpijar lagi dengan cara berkaca kembali pada proses kelahiran kita di dunia seperti dalam sajak Pranita Dewi “Kelahiran,” atau justru berpegang teguh pada harapan itu, seperti sajak “Pi” karya Pringadi Abdi Surya,  mengenangkan juga sebuah titik dalam kehidupan baik saat senang maupun saat berduka. Sampai pada kedewasaan berpikir bahwa yang letup dan yang pijar itu rasanya baru saja kita nyalakan kemarin, dan itulah sebabnya kita bersemangat lagi untuk menjaganya.

Jika ditanya apa yang kita pijar dan letupkan lagi, maka jawabannya bisa sangat beragam. Di bulan Agustus, berkenaan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta, kita bisa anggap itu sebagai jiwa patriotisme, cinta tanah air, kebanggaan dan tekad untuk kembali membangun negeri ini dengan apa yang kita bisa lakukan. Untuk yang sifatnya pribadi, jawabannya akan lebih banyak lagi, bisa hanya soal keinginan untuk menulis sesuatu yang lebih baik dari karya-karya sebelumnya, atau sekadar “cinta sekolah rendah” yang pernah mampir dalam ingatan.

 

Iklan