Dari Kami: Berbelok untuk Lurus

Dari Kami

Berbelok untuk Lurus

oleh
Dedy Tri Riyadi

DUNIA mungkin sejatinya memerlukan pengkhianatan agar apa yang timbul pada akhirnya adalah akhir cerita yang indah. Di lembaran kitab suci, kita temukan beragam pengkhianatan mulai dari bagaimana Kain (Qabil) membunuh Abel (Habil) lantaran persembahan korbannya merasa tidak diterima Allah, lalu ada Musa yang “ditelikung” kepolosan Harun sehingga terselenggaralah upacara penyembahan pada patung sapi oleh kaum Yahudi, belum lagi Yusuf Si Pemilik Jubah Warna-Warni dimasukkan ke sumur oleh saudara-saudaranya, sampai pada Yudas yang mencium Guru Isa sebagai tanda orang yang harus ditangkap prajurit-prajurit Herod di taman Getsemani. Dalam wiracarita Mahabarata, Sri Khrisna yang seharusnya tidak turut campur malah akhirnya berhasil membujuk kakaknya Baladewa agar tidak membela siapa-siapa di Kurusetra, hal ini agar – tentunya – Pandawa mengalami kemenangan atas saudara-saudaranya wangsa Kuru. Sedang dalam sejarah kerajaan Nusantara, kita akan mengenang bagaimana licik Raden Wijaya memperalat pasukan-pasukan kaisar Tiongkok, yang datang untuk menghukum Singasari, dipergunakannya untuk memukul pasukan Kediri lalu setelahnya ia ganti pukul pasukan Tiongkok itu dan berdirilah kerajaan Majapahit.

Pengkhianatan menjadi satu hal yang sangat penting di dalam kehidupan. Semacam twist menjelang akhir cerita yang membuat pembaca merutuk karena tak berhasil menebaknya. Bagaimana kegilang-gemilangan Julius Caesar yang dikira-kira banyak pihak akan menaklukkan dunia tiba-tiba harus padam karena tusukan belati Brutus. Menimbang sebuah pengkhianatan adalah memandang kembali sebuah relasi. Seperti di dalam sajak Irma Argyanti “Melankoli Ingatan” atau sajak Gratiagusti Chananya Rompas “Garis/Tangan.” Relasi yang – dalam pengkhianatan – tentu mengakibatkan ada pihak yang menjadi korban, dan pihak yang lain seolah hanya melawat seperti dalam sajak Budiman S. Hartoyo, atau dalam sajak M. Aan Mansyur “Sejam Sebelum Matahari Tak Jadi Tenggelam.”

Karena suatu pengkhianatan, kita pun jadi paham untuk bertindak lebih hati-hati dan lebih mawas diri akhirnya. Sesuatu yang tersirat dalam sajak Mustafa Ismail “Jembatan Besi” seolah menyerukan hal ini. Demikian juga dengan sajak Heru Joni Putra “Membunuh Pujangga Istana” maupun sajak Ahda Imran “Ludah Orang Suci.” Kearifan dan kelegaan, barangkali, adalah hal terakhir yang timbul setelah adanya pengkhianatan. Atau, adakalanya, meresponinya dengan dendam, seperti dalam cerita pendek Artie Ahmad yang berakhir dengan tragis.

Apapun pilihan langkah kita setelah satu peristiwa pengkhianatan, tentunya harus dipertimbangkan pada hal-hal yang “menguntungkan” diri kita.  Bisa jadi juga yang tidak merugikan siapa-siapa. Berdamai. Seperti sebuah rekonsiliasi atas masa lalu. Seperti permohonan kata maaf, meski entah siapa yang akan mengatakannya lebih dulu. Mungkin, inilah yang yang perlu kita bangkitkan lagi. Jiwa-jiwa pemberi maaf atau sekadar kesadaran bahwa sebuah pengkhianatan merupakan teguran kecil agar kita bisa berkata, “Oalah kecelik.”

Jakarta, September 2017

Iklan