Dari Kami: Cermin, Stiker, dan Sudah Puisikah Anda?

cermin

Dari Kami: Cermin, Stiker, dan Sudah Puisikah Anda?
Oleh Dedy Tri Riyadi

Everything’s mine but just on loan,
nothing for the memory to hold,

though mine as long as I look.

(Travel Elegy, Wizlawa Szymborska)

PADA zaman stiker begitu berjaya untuk ditempel pada cermin, salah satu yang paling sering dilihat adalah stiker dengan tulisan “Sudah rapikah Anda?” Di dekat toilet kantor atau sekolah biasanya cermin berukuran agak panjang dengan stiker bertulisan tersebut selalu ada. Tujuannya adalah agar kita menyempatkan untuk mematut diri, merapikan lipit kerah baju, atau paling tidak bersisir sebelum bertemu dengan orang lain terutama atasan atau guru. Sebab jika dilihat oleh mereka kita tidak rapi, kita akan dicap sebagai pemalas, ceroboh, atau brengsek.

Ode, memang terkenal rumit penulisannya karena sesuai dengan namanya seharusnya bisa dinyanyikan, dan di dunia ini meskipun teknik penulisannya ada yang disebut irregular atau tidak beraturan, tetapi masih punya aturan yaitu pada iambic atau panjang pendek nadanya. Oleh karenanya, sebenarnya kami tidak mensyaratkan bentuk puisinya harus ode.

Terlepas dari pengertian dan aturan penulisan ode itu sendiri, tema LOKOMOTEKS di bulan Juni ini yaitu “Ode bagi Diri Sendiri” sebenarnya sama fungsinya dengan stiker itu, untuk mengingatkan pada diri kita sendiri pada pertanyaan-pertanyaan yang sering sekali sebenarnya kita tanyakan, seperti “Apa cita-cita kita? Seperti apakah yang kita mau untuk hidup kita ini?” Atau paling gampang misalnya, “Kita mau jadi seperti siapa (yang kita anggap sebagai role model)?”

Biasanya ode ditulis untuk orang atau pihak lain. Untuk memuji fisik atau perangai orang tersebut yang telah membuat kita merasa jatuh hati. Dan penulisan ode tentu diperkaya dengan pengandaian-pengandaian. Namun, karena setelah kata “ode” dalam tema itu adalah frasa “bagi diri sendiri” maka tujuan dari penulisan ode itu adalah untuk diri kita sendiri.

Entah karena pemahaman bahwa ode itu harusnya untuk pihak lain, atau tema yang diusung kurang dipahami, kami justru kebanjiran puisi-puisi yang tidak sejalan dengan tema yang telah ditentukan. Ini menimbulkan pertanyaan apakah kita memang mudah dihinggapi krisis kepercayaan pada diri sendiri? Bahkan lebih jauh lagi apakah kita memang belum beranjak dari perasaan dijajah sehingga untuk membanggakan diri saja kita masih belum yakin? Padahal ada pasemon, “Siapa yang tidak bangga pada diri sendiri selain diri kita sendiri, orang lain belum tentu mau membanggakan kita.”

Pada akhirnya banyak juga yang selaras dengan tema. Namun jika dilihat dari diksi yang mereka gunakan dalam puisi-puisi mereka rasanya masih sangat perlu untuk ditingkatkan. sebagian kami terpaksa tidak angkut dalam gerbong LOKOMOTEKS edisi Juni ini karena kelemahan ini. Sayang memang.

Pada awal perumusan tema, sebenarnya yang kami mau adalah puisi yang begitu angkuh, setidaknya bangga akan diri aku lirik di dalam puisi itu seperti puisi Chairil Anwar, Aku. Kami mau ada banyak puisi-puisi semacam itu. Karena semestinya penyair harus sudah selesai menilai dirinya sendiri sebelum menilai persoalan-persoalan di luar dirinya, dan bersikap atas persoalan-persoalan itu. Saya teringat bagian refrain lagu religi yang diambil liriknya dari kitab Mazmur. Sebagaimana ode, mazmur adalah juga nyanyian, dan Daud adalah penulis mazmur paling banyak pada zamannya. Demikian sebagian liriknya, “Siapakah aku ini, Tuhan, jadi biji mata-Mu, dengan apakah kubalas, Tuhan, selain puji dan sembah Kau.” Daud memosisikan diri sebagai kesayangan dari Tuhannya. Dia menganggap diri begitu istimewa di hadapan Tuhannya, sehingga apapun yang ia peroleh dalam hidupnya akan dianggap sebagai hadiah dari Tuhannya. Dan hampir keseluruhan kitab mazmur selalu berisi hal-hal yang menceritakan keindahan dan kebaikan Tuhan.

Jika dibandingkan dengan petikan elegi perjalanannya Wislawa Szymborska di atas kita bisa menduga bahwa puisi-puisi Szymborska akan memuat hal-hal yang ia temukan, jumpai, rasakan, dan yang paling selalu memuat cara pandangnya pada hal-hal itu. Itulah pentingnya mengapa penilaian kita sendiri terhadap diri kita sendiri adalah sesuatu yang patut dikemukakan. Jadi, sudahkah Anda berbangga pada pencapaian Anda sampai hari ini? Dengan kata lain tema bulan ini sebenarnya seperti stiker di batin kita: Sudah puisikah Anda? Mari kita renungkan bersama.

Di edisi ini kami menampilkan juga beberapa puisi terjemahan. Setidaknya itu bisa jadi perbandingan bagi kita, bagaimana tema “diri sendiri” digarap oleh penyair lain. Kami juga menampilkan dua esai klasik dari Aoh K Hadimadja dan Kuntowijoyo. Aoh bicara soal bagaimana buku puisinya satu-satunya “Pecahan Ratna” ia tulis. Kuntowijoyo kami anggap menarik tulisannya karena bicara soal pentingnya seorang penulis memiliki agenda besar dalam perjalanannya menjadi penulis.

Jakarta, 1 Juni 2017

Iklan