Dari Kami: Membenahi Diri Menyambut Pengungsi

pengungsibujursangkar


Dari Kami

Membenahi Diri Menyambut Pengungsi
oleh
Dedy Tri Riyadi

ADA banyak kaitan ketika tema Pengungsi diusung untuk bulan Juli ini, salah satunya adalah berkaitan dengan fenomena mudik di hari Lebaran yang baru lalu. Merantau, barangkali, merupakan salah satu upaya mengungsi, karena menurut definisinya mengungsi adalah “pergi menghindarkan (menyingkirkan diri) dari bahaya atau menyelamatkan diri (ke tempat yang dirasa aman)” meskipun tujuan dari merantau tentu bukanlah menyelamatkan diri atau menghindar dari bahaya tetapi lebih ke mencari penghidupan yang lebih baik. Meski begitu, merantau jelas membawa diri ke suatu tempat yang baru. Tempat yang asing, barangkali. Tempat yang baru, tentu, menyisakan satu masalah yang baru –rindu. Kerinduan pada keluarga yang ditinggalkan, teman-teman, juga kenangan. Karena itulah tema pengungsi bisa didekatkan pada peristiwa mudik.

Hal yang lain dari tema pengungsi yang lebih kental untuk dibahas adalah masalah pergulatan semasa proses perpindahan itu. Teringat soal nasib bocah Aylan Kurdi yang secara mengenaskan tewas di pantai Bodrum, Turki, dalam perjuangannya mengungsi dari Suriah ke Yunani, atau Italia di Eropa. Hal semacam itu yang ditulis oleh Antonio Machado atau Warshan Shire. Ketika sampai di tanah tujuan pun problematika para pengungsi tidak pernah berhenti, cerita pendek Triyanto Triwikromo menyoal kegaduhan dan kecurigaan dari penduduk lokal pada mereka yang disebut para pengungsi itu, juga seperti dalam cerita pendek Bernard Malamud mengenai perjuangan para pengungsi untuk menyesuaikan diri dengan tempat baru, terutama soal bahasa yang harus mereka pelajari. Seperti juga disoal dalam sajak Li-Young Lee.

Barangkali, persoalan pengungsi bukanlah semata-mata persoalan mereka saja, tetapi bagaimana kita – yang merasa bukan pengungsi – memandang mereka dan persoalan mereka. Pada akhirnya, gelombang itu memukul balik pada diri kita. Bagaimana kita bisa berempati, merasakan derita dan kesulitan mereka, bagaimana kita menganggap mereka adalah bagian dari derita dan kesulitan kita sebagai sesama manusia.  Jika C. D. Wright menulis dalam sajaknya Obscurity and Empathy mengenai apa yang harus bisa kita indera pada cahaya yang merembes dari luar menembus kegelapan itu sebagai sesuatu yang “biru, biru dan kelabu,” sebaliknya Chairil Anwar dalam sajaknya Yang Terempas dan Yang Putus justru menekankan agar Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang. Sebab memandang sesuatu tanpa merasa terlibat dan terbuka tentu hanya akan menyebabkan terjadinya prasangka dan curiga.

Pada akhirnya, jika kita menyadari, hidup yang sedang kita jalani adalah suatu rute pengungsian yang kita tak pernah tahu bagaimana akhir ceritanya, nanti. Bukankah kita hidup selalu berupaya sekuat tenaga menghindari bahaya? Bukankah kita dalam menjalani hidup selalu mencari tempat yang aman, bahkan dalam doa kita selalu ingin dalam kondisi yang selamat di dunia (bahkan di akhirat!). Kita memang tak pernah menyadari hal semacam ini, sebagaimana ditulis oleh Thomas W. Shapcott, penyair Australia itu, bahwa kita baru sadar akan adanya perubahan jika kita telah melihat sekeliling kita. Dan pengungsi adalah apa yang sekarang ini sedang dunia hadapi, dan jumlahnya menurut catatan PBB ada 65,6 juta jiwa dipaksa dan terpaksa pergi dari tempatnya di tahun 2017 ini.

Mengutip apa yang Saut Situmorang tulis dalam sajaknya, rasa empati yang besar, bahkan sangat besar, yang seharusnya dimiliki oleh para pelaku sastra, pada akhirnya harus bisa kita gali agar kita bisa tak sekadar merasakan tetapi mendaku bahwa “Aku adalah mayat yang terapung di sungai di samping rumahmu.”

Jakarta, 1 Juli 2017

Iklan