Dari Kami – Menghidupkan Mimpi dan Membangun Kota dengan Secangkir Kopi

Dari Kami

Menghidupkan Mimpi dan Membangun Kota dengan Secangkir Kopi

Joko Pinurbo pernah menulis  “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi,” namun bagi petani, pengusaha warung kopi, justru dari secangkir kopilah ada rezeki yang bisa kurang atau lebih.  Baik pecinta kopi atau yang tidak, pastinya selalu bermimpi untuk bisa beroleh rezeki. Kapan dan di mana saja.

Konon, untuk bisa menikmati rezeki biar seminimal apapun yang didapat adalah dengan cara bersyukur. Dengan bersyukur, setiap yang terjadi dalam hidup bisa dirayakan meskipun hanya dengan seulas senyuman. Ada adagium Latin begini, “Dum spiro, spero,” yang artinya adalah “Selama saya (masih) bernapas, saya berharap,” maksudnya adalah hidup tidak bisa dipisahkan dengan harapan, dengan impian.

Rezeki, barangkali, dianggap sebagai harapan yang menjadi dalam kehidupan. Mimpi yang terwujud. Karena itulah kita akan merayakannya. Jadi antara mimpi, hidup, dan perayaan itu akan saling berkelindan dalam hidup seseorang. Sedangkan salah satu impian terbesar dari manusia adalah berkuasa. Pada zaman dahulu di Eropa, utamanya Yunani, yang disebut sebuah kerajaan itu bisa saja berbentuk sebuah negara kota (karena itu istilah buat warganegara adalah citizen). Mendirikan sebuah kota, yang berarti menjadi penguasa tunggal atas kota itu adalah impian terbesar manusia pada zaman itu. Tersebutlah kisah Romulus meskipun tidak terlalu berhasil sebagai pemimpin namun karena betapa hidupnya wiracarita di masyarakat – tentang Remus dan Romulus yang menyusu pada induk serigala lalu setelah dewasa mendirikan kota Roma dan saling bertikai – Romulus dianggap sebagai salah satu dewa atas jasanya mendirikan kota Roma. Impian besar semacam itu, sekarang menjadi bagian dari permainan elektronik mulai dari The Sims, Sim’s City dan lain-lain. Intinya, orang selalu berusaha menghidupkan mimpi untuk berkuasa. Mimpi semacam ini kadang menimbulkan penderitaan pada orang lain.

Ambillah kisah tanam paksa (Cultuurstelsel) yang menjadikan Indonesia mempunyai tanaman kopi. Seperti kita ketahui bahwa Perusahaan Dagang Hindia Belanda (VOC) hampir bangkrut lantaran menghadapi Perang Jawa yang dipelopori Pangeran Diponegoro yang berakhir di tahun 1830. Untuk menutupi kerugiannya, maka Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memerintahkan agar desa-desa menyisihkan 20% dari tanahnya untuk ditanami tanaman perkebunan yang bisa diekspor khususnya seperti kopi, tebu (karena gula pasir dulu mahal sekali), dan tarum (nila). Sampai tahun 1871 atau sekitar 40 tahun tanam paksa digulirkan, hasil yang didapat bukan saja Kota Batavia bisa mencukupi kebutuhan pembangunan wilayahnya sendiri tetapi dari Batavia bisa menyumbang 823 juta gulden untuk kas di Kerajaan Belanda. Jika sebelumnya Hindia Belanda hanya menyumbang 30% dari kas kerajaan, pada puncaknya karena tanam paksa 72% dari kas Kerakopjaan Belanda dipenuhi dari hasil bumi di Indonesia. Singkatnya, pada suatu keadaan, antara kopi, kota, dan mimpi bisa bertemu dan berkelindan. Meskipun itu – seperti rasa kopi – pahit.

Mungkin jika di dalam sebuah karya antara “kopi, kota, dan mimpi” bisa seperti “rezeki dan kopi” dalam puisi Joko Pinurbo yang terasa manis dan menyenangkan hingga edisi kali ini kami berupaya menghimpunnya. Selamat menikmati — kopi, kota, dan mimpi yang kami racik ini.

Iklan