Dari Kami: Menjelajah Wilayah Tema Sajak-Sajak Perempuan Penyair Indonesia

Dari Kami:

Menjelajah Wilayah Tema
Sajak-Sajak Perempuan Penyair
Indonesia

Dalam sebuah pertemuan di sekitar peringatan Hari Puisi Indonesia, di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu silam, kami mendengar penuturan dari seseorang yang diam-diam mengamati sajak-sajak perempuan penyair di Indonesia, yang menurutnya belum banyak perubahan dari tema yang diangkat. “Masih sekitar sini,” katanya sambil menunjuk dada. Maksudnya, tema-tema yang diangkat oleh perempuan penyair Indonesia masih soal perasaan. Kami tak membantah saat itu. Kami penasaran. Benarkah tema-tema perempuan penyair Indonesia hanya berputar soal emosi, perasaan? Namun,  bukankah puisi memang sangat bertalian erat dengan emosi, dengan perasaan?

Menjelang akhir tahun, kami melakukan riset kecil-kecilan terhadap sajak-sajak ataupun puisi-puisi yang ditulis oleh para perempuan penyair Indonesia. Kami mulai dari Isma Sawitri, dan Siti Nuraini. Dua perempuan penyair yang namanya muncul buku Tonggak 2. Ternyata, puisi-puisi mereka berbicara tentang alam. Lanjut, kami baca sajak Toeti Heraty yang bicara soal eufimisme dalam perkataan.

Dan seterusnya, kami perhatikan ternyata tema-tema yang digarap oleh perempuan penyair Indonesia begitu kaya. Memang ada yang wilayah pribadi, perasaan, seperti dikatakan di awal tulisan, tapi banyak juga yang sudah menjelajah pada tema-tema universal, kehidupan secara umum, maupun hal-hal detail semacam hubungan ibu-anak, hubungan antar umat beragama, kota tempat tinggal, bahkan tema kematian seekor bebek.

Tidak. Kami tidak sedang ingin berbantahan, tapi lewat edisi khusus kali ini, biarkanlah kami berbagi melalui pandangan (pembacaan) kami bahwa perempuan-perempuan penyair Indonesia begitu detail memperhatikan dunia ini. Sehingga ada kekayaan tersendiri ketika kita membaca karya-karya mereka. Yang menarik, seperti dalam puisi Ritus karya Oka Rusmini, ada ketegasan tersendiri bahwa (wilayah persoalan/tema) justru tidak lagi soal tubuh, tidak lagi soal hati. Dituliskan demikian, “aku tak lagi memiliki tubuh, apalagi hati. dst,” yang bahkan mereka sendiri terkejut sampai, “aku takut wujudku sendiri!”

Lewat puisi Mezra E. Pellondou, kami akhirnya paham bahwa wilayah persoalan mereka atau bagaimana para perempuan penyair itu memaknai dirinya adalah sudah seluas bumi ini.  Tubuh mereka bukan lagi sebagai tubuh perempuan yang hanya bisa memproduksi anak, melainkan tumbuh-tumbuhan! Dituliskan demikian, “Amak Gun harus dilahirkan untuk ditanami / jagung, ubi-ubian  dan kacang …” Betapa dahsyat pengertian para penyair perempuan bagi tubuh dan hidupnya itu.

Begitulah kiranya mengapa kami harus hadirkan “Serawan Sajak-Sajak Perempuan” sebagai Edisi khusus Lokomoteks. Semoga berkenan di hadapan majelis pembaca sekalian.

Jakarta, Januari 2018

Iklan