Dari Kami: Merayakan Joko Pinurbo

Oleh Dedy Tri Riyadi

MERAYAKAN Joko Pinurbo adalah merayakan puisi Indonesia hari-hari ini. Kemana pun mata kita memandang di negeri puisi kita hari ini, tak bisa kita untuk tak terpandang pada sajak penyair yang bermukim di Yogyakarta ini. Joko Pinurbo berdiri, duduk, tegak, atau berjalan dengan langkah tegas tapi santai dan ketika kita mengira dia telah sampai, dia ternyata membuat rute perjalanan baru.

Sepertinya mudah menjajari langkahnya, tapi ternyata itu perlu stamina yang tangguh, stamina seorang pejalan jauh. Memasuki dunia puisi, bagi Joko Pinurbo, bukan keputusan yang main-main, meskipun di dunia itu, Joko Pinurbo tak berhenti mengajak pembacanya untuk bermain-main dengan sungguh-sungguh.

Di tangan Joko Pinurbo, Bahasa Indonesia kita yang selalu dipuja-puja (dengan mengatakan itu adalah bahasa persatuan, mutiara bangsa yang paling berjasa dan berharga) sambil sebagian dari kita menyia-nyiakannya (dengan lebih mempercayai bahasa asing), menjadi bahasa yang riang, plastis, ekspresif, keren, unyu, dan sekaligus juga kuat bertenaga. Joko Pinurbo mengajari kita bagaimana mencolek kata yang muram dan layu, kembali menjadi genit dan menggoda.

Joko Pinurbo membuat kita menyadari betapa luas, menantang, dan permainannya kemungkinan variasi tema yang bisa digarap oleh penyair Indonesia, tetapi puisi-puisinya juga mengingatkan untuk selektif, hei, tak semua harus disajakkan, bukan…

Itulah yang menjadi pertimbangan kami, para awak gerbong Lokomoteks, sehingga kami memilih tema: Menafsir dan Menaksir Joko Pinurbo. Kami tergoda untuk melihat sejauh mana puisi-puisi Joko Pinurbo dibaca dan terbaca. Lalu seberapa lihai para penulis kita menafsir dan menaksir kembali puisi-puisinya kedalam bentuk tulisan apa saja. Tetapi ternyata nyaris seluruh tulisan yang masuk berwujud puisi. Kami tak kecewa. Kami justru bahagia.

Bagi kami, sumbangsih besar Joko Pinurbo adalah gugahan yang menyadarkan bahwa jalan ke pengucapan baru di bentangan peta puisi Indonesia bisa, boleh, dan harus digarap oleh siapa saja yang ingin melihat puisi kita terus bergerak, tak berhenti tumbuh, dan tetap sehat. Menafsir dan menaksir Joko Pinurbo bukan berarti meniru mentah-mentah, mencontoh apa adanya, gaya ucap sajak-sajaknya. Menafsir Joko Pinurbo lewat sajak, bisa saja berarti mengingkarinya, lalu menawarkan hal lain yang (justru) mempertautkan kembali dengan hal paling fundamental dari Joko Pinurbo, juga oleh penyair mana saja yang bersungguh-sungguh menyair: mengolah bahasa.

Dari kiriman-kiriman tulisan yang masuk, yang kami baca, dan kami putuskan untuk ditampilkan di Edisi 2/Mei 2017 ini, setidaknya kami menangkap satu hal yang sama: ada kegembiraan mengolah kata, membolak-balik kalimat, niat membangun teks yang kuat. Ada kejahilan mengolah hal-hal kecil menjadi sesuatu yang mengejutkan dan membuat kita merenung tentang makna kehidupan, tapi juga keberanian untuk menggarap hal-hal besar dan menjadikannya dekat dan akrab.

Diakui atau tidak diakui, kemunculan puisi-puisi Joko Pinurbo mengakibatkan keterpengaruhan atau paling tidak ketertarikan terhadap gaya ucap dan diksi-diksi yang ia gunakan dalam puisi-puisinya.

Ketertarikan itu bisa diibaratkan seperti gulali, seperti yang diusung oleh Nanang Suryadi (dalam puisinya, Gulali itu Pinurbo) dan Cunong Nunuk Suradja (Mengemut Luka Suryadi di Gulali Pinurbo). Bahkan, secara terang-terangan, Erik Nusantara mengambil kata-kata yang ditulis oleh Joko Pinurbo, “Selamat menunaikan ibadah puisi,” ke dalam puisinya (Pidato Presiden Pak Joko).

Berbeda lagi dengan Agus R. Sarjono, yang ia lakukan adalah mengolah selop seperti halnya Joko Pinurbo mengolah celana. Jika tubuh merindukan celana, maka sepasang kaki pada puisi Dongeng Setengah Baya merindukan sepasang selop yang mengembara. Sementara itu, Agustinus Rangga Respati mengolah beberapa hal sebagaimana Joko Pinurbo mengolah aneka macam barang. Agustinus mengolah Puting Ibu yang mirip dengan Joko Pinurbo mengolah Tahi Lalat atau Kopi. Pada puisi “Pada Bulan Oktober,” Agustinus menulis, “Selamat hujan kemarau, semoga tidurmu basah.” Permainan personifikasi benda adalah apa yang mirip dengan Joko Pinurbo mengolah telepon genggam, kopi, atau batu, dan lain-lain. Kata makian, seperti “sialan” yang ditulis oleh Agustinus (Teras Hujan) juga seperti Joko Pinurbo menyelipkan kata “asu,” atau, “bangsat,” misalnya.  Sedang pada puisi “Sanjak Buku” karya Agustinus mempersonifikasikan buku.

Eko Ragil Ar-Rahman menggabungkan dua kata yang sering digunakan Joko Pinurbo yaitu “Ranjang” dan “Celana,” menjadi “Ranjang Celana” yang diolah sebagaimana Joko Pinurbo mengolah puisi-puisinya. Muhammad Daffa, lain lagi, ia mengolah dengan satire (Pasar Malam, Kitab Suci Bermimpi Buruk, Putaran Waktu), humor getir yang biasa digunakan oleh Joko Pinurbo. Tiga puisi Muhammad Daffa jelas-jelas mengambil imaji yang sering digunakan oleh Joko Pinurbo yaitu “Mata”,“Telepon”, dan “Celana” (Bermain di Matamu, Telepon, Celana Koyak).

Asu atau anjing, yang beberapa kali muncul di puisi-puisi Joko Pinurbo digarap kembali oleh Alexander R. Nainggolan meskipun dengan gaya yang sama sekali berbeda. Sementara puisi Penyadap Makna menggunakan ironitas yang kental dan ditujukan pada penyair Joko Pinurbo. Budhi Setyawan secara jelas menggunakan imaji “Celana” dan “Asu” dan mendedikasikan kedua puisinya itu kepada Joko Pinurbo. Sedangkan tiga puisinya yang lain mengambil gaya puisi-puisi twitter Joko Pinurbo dalam buku “Haduh! Aku Difollow.”

Puput Amiranti, dengan dua puisinya (Hikayat Pinurbo, Joko) menunjukkan bahwa ia mengikuti perjalanan (baca: puisi-puisi) Joko Pinurbo. Karena itu ia bisa menuliskan bahwa “bapak tahu, apa itu artinya tua” karena banyak sekali puisi-puisi Joko Pinurbo menyinggung soal usia, tua, bahkan kematian (jenazah, mayat). Ditambah pada puisi Hikayat Pinurbo, misalnya, ia menulis juga “kibaran sarung.” Sedangkan di puisinya yang kedua (Joko) Puput Amiranti menulis, “engkau bikin lelucon,” yang menyoal gaya satire dalam puisi-puisi Joko Pinurbo.

“Jadi penyair harus rendah hati, buatlah karya yang bisa merengkuh pembaca, menyentuh pengalaman sehari-hari mereka, tanpa mengorbankan konten dan kualitas. Itu tantangan beratnya. Penyair bukan dewa bahasa.” Joko Pinurbo menyampaikan dengan hangat di sela hujan yang mengguyur Kemang saat peluncuran buku Surat Kopi dan Bulu Matamu: Padang Ilalang.

Dan sajak-sajak Galuh Puspita, penyair asal Banyumas yang kami pilih semuanya peristiwa sehari-hari, menggunakan bahasa figurtif yang wajar, tentu saja kabar baiknya akhir seluruh sajaknya selalu mengejutkan.

Simak bagaimana penyair kita terusik dengan hal biasa dalam sajak Setelahnya, “Baru pernah kuperhatikan komputer kasir di dalam kafe ini.”

Lalu berpengharapan yang nyaris sederhana dalam sajak Sekelumit Doa, “Aku ingin menjadi lengan yang pertama menimang gelisahmu sampai ia tertidur”.

Pergolakan batin antara anak dan orang tua dalam sajak Irreversible , “Saat kecil aku gemar bermain jam pasir antik yang terpajang di sudut ruang tamu sambil menunggu ayah pulang dari kantor dan ibu terbangun dari sepinya dunia ranjang.”

Menakzimi kisah silam dalam sajak Pada Akhirnya, “Dan kita terlampau asyik–masyuk dalam rotasi piringan hitam, larik ingatan yang terus diputar ulang hingga gramofon selesai dimainkan.”

Membuat jeda yang cukup panjang di benak usai pembacaan semisal dalam sajak Takdir, ” Ia memanggilku ibu dan meminta segelas susu. Ia memanggilmu entah dan mundur beberapa langkah. Bukan. Bukan. Bukan. Katanya.”

Memainkan simbol dalam sajak Firman, “Bukan waktu yang siput.” Berkelakar dengan diri sendiri dalam sajak Kepada: Kata-kata, “aku kehilangan kau seperti perempuan yang asing dengan meja rias bertanya-tanya mengapa ada enam lipstik dengan warna yang berbeda sementara wajahnya cuma punya satu bibir.”

Mengkritik kehidupan masyarakat Indonesia dalam sajak Idul Fitri, “Ia lahir dari gerobak tukang sayur dari bibir ibu-ibu komplek ke tiap-tiap bibir pintu dan baru akan mati pada hari raya Idul Fitri”. Sajak-sajak Joko Pinurbo yang kental dengan spiritualitas sehari-hari telah ditaksir dan ditafsir dengan baik oleh penyair kita, Galuh Puspita asal Banyumas ini.

Puisi-puisi dari Budhi Setyawan dan Alfian Dippahatang juga mengambil gaya puisi Jokpin dituliskan, sedangkan puisi Hasta Indriyana dan F. Aziz Manna adalah puisi-puisi yang didedikasikan untuk Jokpin dan Jokpin memintanya sendiri untuk dimasukkan ke dalam edisi ini.

[]

Iklan