Esai Hasan Aspahani – Penyair Revolusioner Bersepeda di Belakang Truk

Hasan Aspahani
Penyair Revolusioner Bersepeda di Belakang Truk

– Catatan setelah membaca Kumpulan Puisi “Penyair Revolusioner” karya Deddy Arsya

sampul-depan-penyair-revolusionerSAJAK-SAJAK dalam buku ini tidak ditulis dalam suasana permenungan yang lirih. Sajak-sajak dalam buku ini adalah suara penyair yang memperkarakan banyak hal – jika tidak segala hal. Deddy Arsya dengan sajak-sajaknya di buku ini menggugat adat, transportasi, pembangunan, modernitas, kota, ideologi, agama, dan terutama ia melabrak sejarah, bahkan Tuhan dan hari kiamat.

Tidak ketinggalan, dia juga mempertanyakan daya guna puisi, peran penyair, yang kemudian dengan demikian dia juga menampar wajahnya sendiri. Karena itu, sajak-sajak dalam buku ini bersama-sama menciptakan keberisikan bahkan kebisingan yang mengusik dan asyik. Itu perlu karena dengan cara itulah gugatannya lebih terdengar. Dan karena itu juga, sajak-sajak dan buku ini sangat menarik perhatian kita.

Tapi benarkah gugatannya itu didengar? Siapa yang peduli pada puisi di zaman naif ini? Begitulah tampaknya Deddy Arsya, sebagai penyair, merawat ketegangan situasinya. Ia menulis karena gelisah, meski dia tahu, puisi yang ia tulis tak akan meredam apalagi menyelesaikan sumber kegelisahannya itu. Situasinya seperti apa yang ia kiaskan dalam sajak “Aku Bersepeda di Belakang Truk yang Melaju Kencang”…. Truk-truk bak terbuka / truk-truk yang penuh berisi / orang-orang dengan baju warna-warni / yang akan ke pesta lagi / sore ini!

7a115b48e863a8834bb17845a432d62dDeddy memilih menempatkan posisi kepenyairannya seperti seseorang menempuh jalan besar yang ramai itu dengan naik sepeda. Sepeda itu adalah puisinya. Zaman memang berubah dengan cepat. Tapi apakah secepat itu juga kita harus mengikut pada perubahan itu? Apa perlunya terburu-buru? Pesta penting apa gerangan yang sedang diburu sore itu? Deddy memperingatkan bahwa kita tak pernah siap dengan perubahan itu, apalagi kita berangkat dengan terburu-buru…. Sementara anak-anak di rumah / tertidur / … tapi mau tak mau kita harus terbawa juga, harus berubah juga, dengan segala perih-pedih, dengan segala ketidaknyamanan yang dipersebabkannya … – dalam mimpi mereka merangkak / masuk kota // bersama truk-truk / yang melaju kencang / beterbangan pasir / dari rodanya.

Gugatan Deddy Arsya kepada sejarah paling keras terasa pada sajak “Ke Makam Peto Syarif”. Pemilihan nama Peto Syarif dan bukan menyebut gelar penuh hormat Tuanku Imam Bonjol, misalnya, sudah menunjukkan sikap kritis itu. Peto Syarif adalah salah satu alias dari Mohammad Shahab, sebelum akhirnya ia lebih terkenal dengan Tuanku Imam Bonjol. Dalam sajak naratif itu, sang aku berziarah ke makam sang pahlawan nun di tanah pembuangannya sana. Tapi ia ragu apakah itu benar makam pahlawan yang – ia sebutkan adalah seorang yang peragu? …. Kadang-kadang ingin aku bertanya: / “betulkah Engku yang berkubur di dalam sana?”

Sang pahlawan sendiri, sejak bait pertama, sudah dibandingkan dengan anak yang merengek-rengek di rumah bermil-mil jauhnya. Bagaimana kemudian kedua hal itu disandingkan? … aku menepuk-nepuk pantat anakku: / “diamlah, Gadisku, ini zaman tak butuh perajuk / apalagi peragu macam Engkumu itu!”

Apa arti kepahlawanan seseorang? Apa guna seorang pahlawan bagi kita yang hidup sekarang? … makammu indah betul tampak / rumah kontrakanku akan habis akhir tahun ini / kalau boleh aku minta doa, Engku /sebagai penjaga diri / sebagai pembuka rezeki… Lantas selesai? Itu sajakah yang menautkan seorang pahlawan di masa lalu dengan seorang warga negara, anak negeri yang hidup di masa kini? Sekadar minta doa? Apa yang menautkan hamba yang hidup dengan Tuhan? Mungkin, tapi juga tampaknya percuma, sebab… Ada terbersit padaku dalam hati: / “kau minta doa pada seorang Padri?”

Perang Padri adalah trauma sejarah dalam batin dan alam pikir orang Minang. Kesediaan Imam Bonjol untuk berunding, kemudian ternyata ajakan itu hanya siasat Belanda untuk menangkap lalu mengasingkannya, juga pengkhiatanan kaum adat, yang membuat sang Imam berhasil dibekuk, perang antara kaum ulama atau Padri dan kaum adat, dan kesalahan serta penyesalan kaum adat ketika meminta bantuan Belanda, adalah rangkaian bahan sejarah yang tak akan pernah habis ditafsir.

Sikap kritis sajak-sajak Deddy bagi saya – untungnya – tidak sampai pada tarap sinis dan nyinyir. Dia dan sajak-sajaknya jelas sejoli yang usil.  Deddy bukan orang yang berziarah ke masa lalu sejarah. Ia membawa sejarah ke hari ini. Memperkarakan sejarah itu dalam situasi  hidupnya sekarang. Sejarah yang hidup bersama tukang bakso, pasien rumah sakit, padri terakhir,  bahkan Siti Nurbaya pun ia temui di Pasar Gadang, untuk kemudian ia temui Marah Rusli di makamnya lalu ia gugat: betapa mudah engku bunuh dia…

Kritik tak harus sampai pada menawarkan solusi. Tugas kritik selesai ketika ia berhasil mengajak pembaca merenungkan ulang nilai-nilai yang telah terasa jadi berhala, atau pada tingkat yang lebih sederhana, kritik bermanfaat jika bisa mengingatkan pada hal-hal penting yang mulai dilupakan. Deddy telah melakukan itu, karena itu sajak-sajaknya – sebagai rangkaian karya seni dengan medium bahasa – masih sangat bisa untuk saya nikmati. Itu dulce dan sekaligus itulah utile. Keindahan yang bisa dinikmati, dan itulah manfaat dari keindahan itu.

Batam, 1 Juli 2017

Iklan