Esai Kuntowijoyo: Tentang Program Sastra

Catatan: Esai ini disalin dari majalah Budaja Djaja No. 59, Tahun Keenam, April 1973. Tulisan ini semula adalah makalah yang dibentangkan penulisnya di Pertemuan Sastrawan Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM), pada 1972.

Tentang Program Sastra

Oleh Kuntowijoyo

SEBAIKNYA, setiap pengarang mempunyai program sastranya sendiri. Pengalaman, pendidikan, dan kepercayaan mempengaruhi memori, imajinasi, dan pemikiran. Jalinan kemampuan itu dapat dikembangkan dengan cara teratur hingga karya-karya  sastra pengarang dapat dilihat dari pikiran-pikiran dasar, masalah, tokoh-tokoh dan bangunan karya sastranya. Kepribadianlah yang membentuk program sastra.  Kepribadian yang matang, mantap, namun selalu terbuka dan sanggup menerima serta mencari kemungkinan baru. Di sinilah letak sifat kreatif kepribadian pengarang. Pribadi yang beku dan keras, hanya akan menghasilkan satu kata saja dari sejumlah karya sastra. Orang tidak akan menyukai ketunggalan berpikir.

Apakah pikiran-pikiran harus dikemukakan secara menyolok? Mereka yang halus menyembunyikan kepercayaan yang jadi pikiran dasar karya sastranya. Mereka yang kasar suka menonjolkan habis-habisan dan memaksa sejadi-jadinya. Sastra yang baik memilih kehalusan, kebebasan pembaca, dan tidak menggurui. Pikiran-pikiran tidak terpisah, tetapi menyatu dengan jalan cerita. Apabila dalam kalimat pertama saja orang sudah dapat menduga seluruh isi, dan tak ada kerahasiaan lagi, orang yang arif tak akan suka membaca.

Juga penyajian pikiran-pikiran kolektif dari pengarang tanpa kejujuran dan kepribadian berbuah sastra yang kering, sebagai mengulang perjalanan yang sama dan menjemukan.

Sebaliknya, pengarang yang tidak mempunyai kerangka pandangan, hanya akan menjadi pelapor dari khayal dan kehidupan yang tak bermakna. Kadang-kadang memang banyak yang  ditulis tetap tidak menjadi penting. Bisa saja dilupakan seperti orang melupakan banyak kejadian sehari-hari. Mesin-mesin penghasil cerita tidak akan sanggup memberi warna karya sastra.

Program sastra dilancarkan dalam karya sastra dengan prinsip patut mendapat upah yang berarti. Memang ada pembaca yang tak menuntut upah semacam itu, dan malah mencaci maki ketika upah itu dirasa terlalu banyak. Tetapi lupakanlah saja mereka, karena sikap itu tidak benar. Banyak orang menolak untuk berpikir, padahal peradaban dibangun oleh pikiran-pikiran. Sekali manusia berhenti berpikir, peradabanpun boleh lenyap. Kita takut kepada kemiskinan  pikiran, sebagai mana kita takut kepada kemiskinan material.

Program sastra dilancarkan dalam karya sastra dengan prinsip seleksi. Pengarang yang terprogram bersikap selektif terhadap realitas yang ditangkapnya, mengendalikan khayalnya. Tidak semua masalah, tokoh-tokoh cerita dapat mendukung pikiran-pikirannya. Ia harus melakukan pilihan dengan tepat, apa yang bisa ditulis dan apa yang harus ditinggalkan. Dalam benak pengarang kadang-kadang berjejal banyak cerita yang bisa dituturkan, tetapi tunggulah.  Pengarang harus mengendapkan dahulu bahan itu, sampai suatu ketika ia menemukan makna yang lebih dalam dari cerita itu, bukan sekedar mengasyikkan. Semua pengarang pasti ingin menulis sebanyak-banyaknya, tetapi baiklah dipakai prinsip seleksi. Seleksi itu akan timbul sewajarnya dari program sastra. Setiap karya yang dituliskan hendaknya adalah bagian dari program itu, seperti juga program sastra menjadi bagian dari pribadinya.

Setiap kerangka cerita harus dicarikan tempat duduknya dalam kerangka pikiran pengarang tentang hidup. Kemudian dituliskan, dan barulah suatu karya mempunyai arti, setidaknya menurut pengarangnya. Mungkin juga terjadi, apa yang dianggap berarti oleh pengarang tidak dianggap berarti oleh pembaca. Itu suatu hal yang biasa. Yang penting bagi pengarang ialah kalau semua karyanya mewakili dirinya, mencerminkan pribadinya. Pengarang tidak boleh asing dengan karyanya sendiri, artinya tidak boleh mencipta apa yang tak diyakininya. Kalau terjadi penciptaan tanpa kesadaran, karya sastra itu adalah anak haram. Melahirkannya adalah dosa.

Mungkin terjadi, gairah menulis akan hilang bila pengarang menunda gairah menulisnya. Tidak perlu putus asa, pengarang yang baik tak akan kehabisan bahan. Untuk mengisi karya sastra dengan kadar intelektuil diperlukan waktu dan tenaga. Pergulatan antara rangsang untuk menulis dan kehendak untuk memberi bobot adalah ujian bagi kesabaran pengarang. Pengarang harus berusaha mengendalikan rangsangan-rangsangan alamiah untuk dipadukan dengan kekuatan akal. Pengarang jangan condong kepada salah satu saja. Intelektualisme dapat membahayakan sastra, karena sifat abstrak dan keringnya. Padahal sastra kurang lebih adalah hidup yang aktuil. Untuk menuliskannya hanya pikiran-pikiran baik diserahkan orang lain. Sastra yang lengkap ialah yang hidup, sebagai hidup sehari-hari, tetapi dengan makna. Sastra yang pincang ialah yang mengawang, atau yang sangat keseharian. Pikiran filosofis sering cenderung ke sastra yang abstrak, kritik sosial yang cenderung ke keseharian.

Untuk membenarkan kedudukan sastra dalam masyarakat, sastra harus mempunyai jalannya sendiri. Yaitu jalan yang tidak ditempuh oleh sejarah, filsafat, sosiologi, psikologi, antropologi, dan juga yang  bukan mata orang awam. Sastra terletak sedikit di atas atau dibawah kehidupan sehari-hari. Di atas, dalam arti sanggup menarik makna dari kehidupan. Di bawah, yaitu sanggup melihat bagian yang paling kecilpun dari kehidupan. Ia sanggup melihat manusia dari abstraknya dari konkritnya, semua dimensinya, manusia luar dan dalam.

Tokoh-tokoh dalam karya sastra adalah orang dari hidup sehari-hari, tetapi yang tak terjangkau oleh filsafat, ilmu dan mata awam. Gambaran sastra tentang hidup lebih tajam dan cermat. Sastra dapat menangkap manusia secara lengkap. Pengarang yang mencipta tokohnya, mengetahuinya sedalam-dalamnya, kesadaran dan ketidaksadarannya. Pengetahuannya tidak terbatas kepada data-data faktuil, tetapi mengetahui seginya yang paling rahasia. Oleh karena itu pengarang dapat menjadi wakil yang tepat dari kemanusiaan.

Penerapan prinsip seleksi sering mengebiri kemampuan mencipta pengarang. Kekurangan itu dapat ditutup dengan usaha mencari pengalaman baru, mempertajam kepekaan, memperkaya diri dengan kecerdasan dan pengetahuan empiris. Fiksi yang bertumpu pada ingatan, pengalaman, khayal, penyelidikan tidak akan kehabisan tenaga.

Tanpa ikatan dengan suatu program karya-karya sastra pengarang akan nampak sebagai cakar ayam. Tidak menunjuk ke kesatuan pernyataan pengarang. Apakah program itu suatu belenggu? Ya dan tidak. Tergantung dari kelenturan pikiran pengarang. Dogmatis terbelenggu oleh pikirannya, tetapi mereka yang longgar pikiran tidak. Program hanya penunjuk jalan. Perlu diingat pula, pengarang tidak dinilai dari programnya, tetapi dari karya sastranya. Sebab, sastra masih saja tetap sebagai sastra, yang dapat dinikmati dan dibaca itu.

Program sastra menguntungkan pengarang. Pertama, sebagai pedoman untuk menjadikan karya sastranya sebagai suatu keutuhan. Kedua, dapat menjadikan sastra sebagai bagian yang sah dari pribadinya. Ketiga, ada sumbangan positif kepada sesamanya, kalau pikiran-pikirannya diperhatikan. Tetapi apabila dengan program ia dikuasai oleh kebekuan, maka sastranya akan terasing, terpencil, tidak ada relevansi dengan kehidupan. Memang tidak selalu pengarang yang terpencil adalah dogmatis, tetapi pengarang yang dogmatis pasti terpencil. Keterpencilan pengarang yang berprogram diterima sebagai tragedi. Pengarang yang tak punya pamrih, kecuali menyatakan kejujuran tentang apa yang diketahuinya, bisa terasing dari masyarakat. Marilah kita mendorong pemberani-pemberani.

Program sastra dapat dianggap sebagai pertanggungan jawab pengarang. Mengarang tanpa suatu program, sama dengan mengobral kata dengan sia-sia. Kesia-siaan adalah musuh peradaban, kecuali kalau orang menganggap hidup itu sia-sia. Sekali pengarang menangkap makna dari kehidupan, ia mengambil sikap, dan tak jemu-jemunya ia menyajikan lewat karya-karyanya.

Program itu tidak harus dituturkan dalam satu sistem filsafat, tetapi tersirat dalam setiap karya sastra. Pendek kata, pengarang harus tahu untuk apa dia itu menulis, hingga pekerjaan itu tidak muspra. Hanya pengarang yang mempunyai program sastra dapat mengetahui tujuan-tujuannya sendiri, dan mengembangkan kreativitasnya.

Pikir-pikirlah tentang suatu program sastra!

Jakarta, Desember 1972


Kuntowijoyo, Prof, Dr., lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta (18 September 1943 – meninggal 22 Februari 2005 pada umur 61 tahun) adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan Indonesia.

Iklan