Fina Lanahdiana: Ode Seekor Kucing Hilang

Fina Lanahdiana
Ode Seekor Kucing Hilang

Kelak jika aku pergi, jangan sisakan apa pun tentangku, tentang kita. Kenangan kau tahu, adalah kesedihan yang menjelma bukit panjang di helai-helai rambutmu. Ia terus menerus tumbuh dan menua, mencairkan warna hitam menjadi kelabu, lalu lebih muda menjadi putih pudar dan tampak rapuh. Aku hanya ingin melangkah, menikmati jalan-jalan asing yang kelak usang oleh yang disebut waktu, ditimbun debu-debu yang tergesa sebab tidak tahu untuk apa dirinya diciptakan: udara.

Bulan berwarna tembaga, kadang-kadang biru, dan lebih sering putih susu, memancarkan terang keperakan menabrak warna hitam yang dominan. Lampu-lampu seolah ribuan kunang-kunang yang tersesat tidak tahu caranya terbang. Tiang-tiang di pinggir jalan menjelma pohon, hidup dan kelak melahirkan biji-biji matahari menjadi pecahan-pecahan yang menerobos kisi jendela: sayap-sayap burung.

Bayangan tetap saja gelap dan panjang bagai kuku-kuku yang dipangkas setiap hari Jumat—agar tidak menjelma hantu-hantu—sebelum senja berubah Sabtu. Seperti nasihat ibumu: Jangan memotong kuku setiap malam Sabtu!

Seorang bayi menangis—adalah keponakanmu—dan ibumu melarangku mendekatinya. Aku hanya ingin tidur dan kau mengunci pintu kamarmu. Kelak jika aku pergi, jangan sisakan apa pun tentangku, tentang kita. Kenangan kau tahu, adalah kesedihan yang menjelma bukit panjang di helai-helai rambutmu.

04.03.2016

Sumber: Medium Fina Lanahdiana, 4 Maret 2016. 

 

 

 

Iklan