Hanna Fransisca – Surat Buat Pahlawan

Hanna Fransisca
Surat Buat Pahlawan

: Bebek Peking

Berjuanglah kekasih, di rentang tali
sepanjang sungai mengalir
yang mengikat lehermu, dalam tali simpul mati
agar rentang sayang dan kakimu bebas menari

Lepaskan lemak, lepas peluh dalam tubuh
Surga menanti di pintu yang teduh!

Arus deras yang mengalir di bawah kakimu, jangan takut
Tak akan hanyut badan ke muara,
tak kan putus rentang tali di simpul mati.
Maka bergeraklah wahai kekasih,
kepak sayapmu, rentang tubuhmu hingga hilang
lemah dan apak, yang kelak jadi bukti bahwa engkau
benar lelaki.

Adalah tugas lelaki,
menyiapkan cinta dalam kuali

Baiklah kukatakan ini: Jikalau ada pacar sempat mampir
dalam semalam, pamitlah sebelum tiba fajar.
Sebab tajam pisau di lehermu nanti,
akan menjadi doa terakhir bagi betinamu yang khawatir,
Katakan padanya, “Tak perlu khawatir.
Bukankah telah kutanam benih di rahim subur,
dan tugasmu adalah merawat telur?
Aku cinta padamu, di surga kita bertemu.”

Tahukah engkau nasib anjing belum genap umur
sebelum diracik bumbu dapur?
Dibekap mulut dalam karung,
dibentur batu
agar darah tetap beku. Sebab kelezatan darah beku,
mengalahkan rasa malu dari kalbu. Mau kamu begitu?
Tahukah engkau nasib babi panggang
yang ditikam besi panjang sebelum maut
benar menjemput?

Sebagai kekasih, tugasmu ringan sekali
sebab meski leher diikat tali panjang sepanjang malam,
engkau masih bisa terus bernyanyi.
Tak kan ada makanan di perutmu,
sebab perut kenyang selalu menghalang kesempurnaan.
Deras sungai akan mengalirkan kasih,
dingin malam begitu indah.
Bernyanyilah.
Asal kaki selalu berjejak rindu,
mengepak semua bulu di riak menderu.

Bernyanyilah.
Kutunggu nasibmu di fajar subuh:
laparmu hilang, dagingmu kesat,
dan apak tubuhmu lenyap begitu cepat.
Begitulah kewajiban dan seluruh kebahagiaan dimulai,
hingga jasadmu terbaring
di dasar kuali

Jika tajam pisau membuatmu ngeri,
sesendok cuka di perut kosongmu segera membuatmu lupa.
Percayalah, jika cuka masam dituang
sebelum mata pisau membenam,
seluruh bulumu akan merinding berdiri.
Urat-urat perutmu memang terkoyak,
mengejang sebentar
dalam gelepar,
lalu meradang mengaburkan pandang.
Untuk itulah bulumu terpaksa berdiri.
Jangan takut sebab matamu pasti buta.
Tak perlu gentar jika telinga tak lagi mendengar.
Pisau tajam akan menolongmu
untuk mati.

Apakah itu sakit?
Dengarkan: sakit yang melampaui batas sakit
akan menghilangkan rasa sakit.
Sebab engkau memang tengah sekarat.
Tapi hal terpenting dari semua pelajaran: adalah bakti
dari seluruh bulumu sepenuh hati.

Bagaimana kelak kulitmu licin seperti bayi,
jika kau sembunyikan urat akarmu di balik bulu?
Bukankah setiap makhluk selalu ingin kembali
seperti bayi?

Orang-orang sungguh mencintaimu, kekasih.
Terimalah, segenap pujian hanya untukmu.
Hanya untukmu saja. Bila kelak
mereka bicara, “Daging ini sedap sungguh.
Tak lengket di lidah.
Licin tak ada bulu. Tandas tak ada bau.”
Semua itu semata demi nama baikmu.
Engkau boleh tersenyum tentu.
Di alam tempat segala kebaikan.
Di mana Tuhan
selalu bersemayam.

Semoga engkau berbahagia.
Amin.

Iklan