Hanya Ada Satu Huruf K pada Kata Kucing

Oleh Dedy Tri Riyadi

HANYA ada satu huruf ‘k’ pada kata kucing, namun, apakah itu penting? Urang Sunda menyebut kucing dengan kata “ucing” tanpa huruf ‘k’ di depannya. Dengan demikian, dengan atau tanpa huruf tersebut kucing tetaplah kucing. Uniknya lagi, jika dipanggil kucing atau ucing, binatang tersebut tidaklah akan menyahut dengan mengeong. Kucing hanya akan mengeong bila dipanggil dengans sebutan “pus.”

Konon sejarahnya orang mulai senang memelihara kucing sejak jaman kerajaan Mesir masih giat membangun piramida. Buktinya, ada mumi kucing di dalam piramida dekat dengan makam raja-raja atau keluarga kerajaan lain. Kesukaan orang memelihara kucing masih berlangsung sampai kini. Di Uni Emirat Arab, aneka kucing besar mulai dari ceetah, macan tutul, harimau belang, sampai singa sering dipergoki duduk di bangku penumpang sebelah depan mobil mewah yang dikendarai para pengusaha multijutawan sana. Di Amerika Serikat, selebriti-selebriti dunia memelihara kucing-kucing besar. Beberapa kebun binatang lokal biasanya menampung harimau dan singa dari para pesulap, dan beberapa di antaranya berakhir di animal shelter setelah di-rescue para penyelamat binatang. Meskipun begitu, kecintaan orang memelihara kucing dan kucing besar masih belum surut. Sifat yang membuat kucing atau kucing besar diminati adalah mereka gemar bermanja-manja apalagi dielus bagian leher atau perutnya. Gambaran bahwa mereka (jika kucing besar) sebagai pemangsa yang ganas akan hilang jika sifat manja itu muncul.

Sejarah lain, menyatakan bahwa kucing adalah binatang kesukaan Nabi Muhammad SAW, sehingga banyak keluarga muslim memperkenalkan dan memasukkan kucing ke dalam rumah sebagai binatang peliharaan. Kehormatan yang berlebih bagi kucing menyisakan semacam kepercayaan bahwa jika seseorang menabrak sampai mati seekor kucing dengan kendaraannya, maka ia wajib menguburkannya bahkan di beberapa daerah harus membungkusnya dengan baju yang dipakai saat kejadian itu agar ia tak bernasib sial.

Salah satu takhayul tentang kucing adalah soal bagaimana seekor kucing memiliki sembilan nyawa. Tentu bukan tanpa sebab ada orang yang memercayai hal semacam itu. Hal ini terjadi karena kelenturan tubuh kucing yang ditopang oleh lebih banyak tulang pada tulang belakangnya dibandingkan manusia sehingga jika dijatuhkan dari sebuah ketinggian, kucing akan mampu membalikkan badan sehingga bisa jatuh dalam kondisi ke empat tungkai kakinya menjejak ke tanah. Takhayul lainnya adalah berkenaan dengan warna bulu kucing, semisal jika seekor kucing berbulu hitam atau pernah mendengar rumor bahwa tak ada kucing belang tiga berjenis kelamin jantan?

Kucing adalah kucing meski dalam bahasa mandarin disebut seperti mereka bersuara atau mengeong. Dan hanya ada satu huruf k pada kata kucing yang memang tidak penting tetapi penting. Huruf k pada kucing bisa saja kependekan dari kata kesetiaan. Meskipun kita sering lihat betapa kucing-kucing yang tidak menghargai perasaan para jomlo di malam minggu mengeong berebut pasangan atau menunggu giliran untuk kawin-mawin, namun pada habitat asalnya, di jaman dulu kala, kucing baik yang kecil atau yang besar adalah hewan monogamistik. Namun, seiring dengan jaman, kesetiaan memang patut dipertanyakan.

Kemungkinan lain, huruf k pada kata kucing adalah ketabahan. Agak menyedihkan memang, tapi itu patut dikemukakan. Sering kita lihat kucing itu cacat. Terutama kucing-kucing yang tak berumah. Yang terabaikan. Dan banyak sekali alasan dibuat untuk melukai kucing-kucing itu. Mulai dari yang kawin-mawin dengan ributnya, mencuri lauk kita, atau sekadar iseng mencoba senapan baru seperti beberapa waktu lalu pernah heboh di Facebook, ada orang yang iseng menembaki kucing di lingkungannya.

Dan satu huruf k pada kata kucing itu bisa saja kependekan dari kasih. Sesuatu yang mulai jarang dibicarakan. Kasih itu lebih tinggi dari cinta. Kasih tidak pernah membedakan, dan kasih berkenaan dengan sabar. Pernah melihat kucing mengeong minta makan di bawah meja? Berapa kali diusir pun dia hanya akan beringsut lalu duduk lagi, mengeong, dan memandang dengan tatapan penuh harap.

Ya. Hanya ada satu huruf k pada kata kucing dan kita bisa duduk membincang beragam kemungkinan dengan jenak alih-alih menyoal pilkada yang tak ada habisnya. Meskipun kucing dan pemimpin daerah di Indonesia memang tidak bisa dipisahkan karena sampai hari ini belum pernah ada peraturan daerah yang mengatur bagaimana agar kota bisa tertata rapi dalam hal pemeliharaan atau pembatasan hewan mamalia seperti anjing, kucing, tikus, dan lain-lain. Tidak percaya? Silakan cari.

Jakarta, Maret 2017

Iklan