Hiroshima, Cintaku

Goenawan Mohamad
Hiroshima, Cintaku

Seperti kau basuh aku
dalam desah asap
saunamu.

“Ah,
lakukan,
lekukkan,
lekaskan.”

Sadarkan kau
kian kubenamkan
kangen
ke gemas tubuhmu?

Mungkin tidak.

Tapi harum kelenjar rusa jantan
merah mengusta malam
lenguh dan peluh
merambat gelap

Dan angin jadi lambat.

Setelah itu kita saling bercerita

Dan aku tak tahu kenapa kau bercerita tentang Hiroshima

“Dengarlah. Aku lahir 26 Desember 1965.
Titisan
dari bayang-bayang kesakitan
yang membekas, tersisa
di puing lantai bank
ketika bom itu pecah
ke cuaca”

Kau datang dari surga?
“Aku datang dari utara”

Aku baru tahu bahwa kita berbahagia.

Kaurasa hari itu Jumat
Kurasa kuingat Sabtu
Apa pun detik tak bersaat
Jam tak mengadu

Yang telah kudengar
adalah kain yang jatuh
kancing yang runtuh
dan cermin itu, aduh

Hawa,
rasa,
magma,
senyummu yang tahu
siapa yang akan datang ke panas suhumu

Lalu kulepaskan lidahku
dari langit-langitmu.

“Tahukah kau siapa kakekku?”

Tentu saja aku tak tahu. Siapa dia?

“Ia seorang komandan Kenpetai
di sebuah negeri Selatan
yang memperkosa seorang pemuda dan
menggantungnya di sore hari”

Ah, tapi tadi aku telah berkata
bahwa kita bahagia

“Ya. Tapi malam tinggal separoh
dan bulan pelan
seperti permainan Noh”

Kini
kau gelarkan rambutmu,
hitam, hitam seragam
pada bantal sedapmalam

Bukankah sudah lama kita duga
di loteng ini tak ada surga
dan kau, aku, mereka, tak mencarinya.

1989-1990

Iklan