Ida Fitri – Musim Dingin yang Paling Dingin

people-snow-winter-favim-com-267412

Ida Fitri
Musim Dingin yang Paling Dingin

LUCRECE membenarkan letak kerah baju Ferrau, lelaki itu akan berperang bersama Napoleon yang berhasil meloloskan diri dari pulau Alba. Sudah dua tahun mereka hidup bersama—di sebuah pondok sederhana—tepi danau. Cinta bisa membuat anak manusia kehilangan akal sehat, seperti Ferrau, ia meninggalkan anak dan istrinya yang terhormat di puri megah dekat Château de Versailles, demi seorang perempuan berambut pirang dan bermata hijau.

Mon chery amore….” Lucrece menatap wajah lelaki yang dicintainya.

Ferrau memegang dagu perempuan itu, kemudian mengecup lembut bibir mungilnya, “Katakan padaku, apa yang mengganggumu, Ma chery?”

“Entahlah, aku, aku…” Perempuan itu terbata, seluruh kata tercekat di kerongkongan. Mati-matian ia menahan air mata. Medan perang adalah kehidupan lain kekasihnya.

“Jangan cemas, Ma chery. Aku pasti kembali untukmu,” ujar Ferrau, meski ia sendiri tidak mampu menebak medan perang. Peperangan merupakan ketidakpastian yang harus dijalani dengan tabah. Setelah mengecup lembut kening kekasihnya, Ferrau berjalan keluar.

Lucrece seperti terpaku di tempat. Kursi yang biasanya digunakan Ferrau, terlihat melompong, kain penutup jendela bewarna coklat muda melambai-lambai ditiup angin danau. Gratin Dauphinois, kentang yang dimasak bersama krim campuran mentega, bawang putih dan susu masih tersisa di atas meja makan.

Terdengar ringkihan kuda menjauh, pertahanan perempuan yang memakai baju berenda hijau itu runtuh. Ia berlari menuju halaman pondok, punggung Ferrau di atas kuda semakin mengecil. Perempuan itu menangis, menumpahkan galau yang mengganjal di hati.

Rasa mual menyerang, Lucrece memuntahkan isi perutnya sampai kosong. Mungkinkah ini sebuah firasat? Tidak, Ferrau telah berjanji untuk kembali. Atau…

Perempuan itu memegang perutnya, “Ini tidak boleh terjadi!”

***

Madam Antonie begitu gelisah, seluruh upaya sudah dilakukan, tapi ia tidak kunjung hamil jua. Garis-garis keriput di wajahnya semakin jelas, perempuan yang benama lengkap Marie Antonie itu menutup wajah dengan bantal-bantal kursi. Seorang lelaki yang umurnya tidak berbeda jauh menepuk punggung Marie.

“Sudahlah, Sayang. Mungkin sudah saatnya kita mengadopsi anak.”

“Aku ingin melahirkan anak dari rahimku,” terdengar isakan kecil.

“Kau sudah mendengar kata dokter. Kita tidak mungkin memiliki anak.” Suaminya diam sejenak. “Bukankah seorang anak tidak musti memiliki darah yang sama dengan kita?” Antonie kembali mengusap punggung istrinya. Sebenarnya, ia bisa saja meletakkan benihnya di rahim perempuan lain. Kedudukan terpandang dan wajah yang tampan di usia matang cukup membuat para perempuan berlomba untuk menjadi ibu dari anaknya, tapi Marie adalah wanita yang selama ini selalu menemaninya, saat berat ketika revolusi bergulir, atau saat bahagia ketika usaha mereka berkembang luas. Ia tidak tega kalau harus menyakiti hati Marie-nya.

Marie bangkit kemudian menatap suaminya, “Anak siapa? Anak siapa akan kita ambil? Haruskah kita ke rumah sakit? Atau ke gereja?” Perempuan itu terlihat sedikit bersemangat.

“Bersabarlah sedikit lagi, Sayang. Napoleon sedang berperang, hasilnya akan berpengaruh banyak pada negeri ini.”

“Iya, orang itu bersama pasukannya belum kembali. Mungkinkah ada hubungannya dengan musim dingin yang tidak kunjung selesai ini?”

Antonie tersenyum nakal pada istrinya sambil menghapuskan sisa-sisa air mata perempuan itu. “Kupikir hal itu tidak ada hubungannya dengan cuaca, Sayang. Kecuali kau mau menemaniku di peraduan sore ini.”

Meski sedikit cemberut, Marie menggandeng Antonie menuju kamar mereka yang mewah dan hangat itu.

***

Aku tidak seperti mereka yang mencemarkan nama yang mereka warisi,” ucapan Voltaire yang terkenal itu memantrai telinga Lucrece. Ia bukan keturunan bangsawan seperti halnya Ferrau, tak ada nama besar yang perlu dikhawatirkan. Perempuan itu mengelus perut buncitnya. Musim dingin kali ini seperti tak berujung. Matahari enggan menampakkan diri, salju ada dimana-mana. Yang lebih menyedihkan, Lucrece sekarang berada di jalanan kota Paris, bukan di pondoknya yang hangat.

Sepeninggalan Ferrau, banyak hal buruk terjadi. Lucrece masih ingat ketika Adele datang bersama bocah lelaki dan dua orang pengawal berwajah bulat.  Perempuan berambut coklat kemerahan itu meng-klaim pondok dan seisinya adalah miliknya sebagai istri sah sang suami. Mata wanita itu berapi-api ketika mengusir Lucrece dari pondok di pinggir danau. Sumpah serapah dan segala keburukan hanya milik Lucrece hari itu, tidak ada rasa iba sedikit pun pada perempuan yang mengandung anak suaminya itu. Ferrau sedang pergi berperang bersama Napoleon, bisa saja wanita laknat itu telah tidur dengan dua atau tiga lelaki lain.

Katedral Chartres berdiri megah di seberang jalan, Lucrece terlihat ragu untuk menyeberang, padahal gereja adalah tempat satu-satunya yang mungkin bermurah hati pada perempuan hamil itu. Kejadian buruk yang pernah dialaminya di sebuah gereja lain membuatnya ragu.

Setelah diusir Adele, berbagai kesialan membuntuti Lucrece, dicaci-maki karena mengandung anak haram, sampai kejadian buruk di sebuah gereja. Penduduk desa tidak mau menerima perempuan seperti Lucrece, ia nekat mencari perlindungan di sebuah gereja. Sialnya seorang sacrist malah memperkosa perempuan itu. Ketika ia melapor pada kepala biara, sacrist yang sama melaporkan kasus pencurian benda suci. Sebuah patung rococo kecil, ditemukan bersama barang-barang Lucrece. Lucrece tidak bisa mengelak dari tuduhan pencurian.

Seseorang yang dikenalnya sebagai pengawal Adele ikut bersaksi, jika Lucrece juga pernah mencuri lukisan karya Lois Le Nain milik majikannya. Ia tercekat, lukisan Happy Family yang dibuat pada tahun 1642 itu adalah hadiah Ferrau tercinta. Sang kekasih tidak bisa bersaksi untuknya hari ini. Senyum licik Adele di bangku para pengunjung sidang membuat Lucrece mengerti, kenapa hal-hal buruk terus mengikutinya. Mungkin kesalahannya mencintai suami orang lain merupakan dosa yang tidak terampuni.

Kemudian Lucrece dijebloskan ke penjara biara yang gelap dan berbau tidak sedap.  Setiap saat ia berusaha memahat wajah Ferrau dalam hatinya, berharap wajah lelaki itu menjadi wajah terakhir yang diingatnya. Perempuan itu tak pernah menduga, jika suster Beatric, sahabat kecil dulu menjadi penyelamatnya. Suster yang mengabdi di gereja itu tahu persis kalau temannya tidak bersalah. Melalui saluruan kotoran manusia yang mengalir di bawah penjara, ia membantu temannya kabur.

Saat ini, Lucrece menjadi seoarang pelarian dan sedang termenung di depan gereja yang lain. Hawa dingin semakin menusuk tulang. Giginya gemelutuk mencoba melawan udara ekstrem. Makhluk kecil dalam perutnya menendang-nendang ikut merasa kedinginan. Tak kuat, Lucrece memegang dinding dingin bagunan yang berada di dekatnya. Sebuah kereta kuda berhenti tidak jauh dari tempatnya berada.

***

Seorang lelaki yang memakai jaket tebal membimbing Lucrece ke atas kereta kuda. Wajah perempuan muda itu terlihat pucat seperti kehabisan darah. Telinganya masih sanggup menangkap suara –suara seorang perempuan. Mungkinkah itu malaikat yang akan membawanya ke surga?

“Ia sedang hamil, kenapa berada di jalanan saat dingin begini? Siapa ia? Cepat bawa pulang ke rumah. Ia harus berada dalam ruangan yang hangat.” Lucrece mendengar suara seorang wanita di antara sadar dan tidak. Ketika ia benar-benar sadar, ia mendapati dirinya berada di bawah selimut yang hangat.

“Syukurlah, kamu sudah sadar,” ujar perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi. “Siapa namamu?” lanjut perempuan itu lagi.

Lucrece menyadari dirinya hanyalah seorang buronan. “Aku … aku…,”

“Istirahatlah dulu, jangan paksakan untuk berbicara. Aku Marie Antonie, sekarang kamu aman di rumahku,” ujar perempuan itu sebelum meninggalkan Lucrece sendirian.

Mata perempuan hamil itu menatap sekeliling, tirai bewarna kuning keemasan, tempat tidur yang terpahat indah ditambah sepasang kursi berwarna senada diletakkan di dekat jendela besar. Lucrece bisa menebak, jika ia berada dalam sebuah rumah borjuis Paris. Orang kaya yang memiliki selera tinggi. Mungkin Ferrau juga pernah tidur di kamar dengan dekorasi seindah ini.

Lagi ia merasakan tendangan kecil calon bayi di dalam perutnya. Tangannya mengelus perut, sambil berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang? Nyonya pemilik rumah terlihat baik. Mereka tidak boleh tahu, jika Lucrece buronan. Matikan saja perempuan yang bernama Lucrece, demi kehidupan makluk kecil yang kini berada dalam perutnya.

***

“Bagaimana keadaan perempuan itu?”

“Ia terlihat semakin sehat, hanya cuaca dingin itu telah membunuh setiap ingatannya, bahkan perempuan itu tidak ingat namanya sendiri.”

“Kasihan. Kita tidak tahu harus mengantarnya kemana.”

“Antonie, kupikir ini pertanda Tuhan mendengar doa kita. Perempuan itu sedang hamil tua, Tuhan mengirimnya pada kita.”

“Maksudmu, Sayang?”

“Aku ingin menjadikan anaknya sebagai anak kita. Napoleon telah kalah dan Tuhan mengirim kita sesosok bayi.” Senyum kecil merekah di bibir Marie, ia merasa mulai hidup kembali. Perapian di ruang duduk itu menyala sedikit lebih redup. Antonie berjalan untuk menambahkan beberapa batu bara.

Lucrece melangkah mundur, percakapan yang baru saja didengarnya ibarat badai yang semakin menenggelamkan musim dingin ini. Napoleon kalah? Bagaimana nasib Ferrau? Dan, mereka ingin mengambil anaknya? Ia harus melakukan sesuatu. Ferrau tak mungkin mati dengan mudah. Lelaki itu telah benjanji untuk kembali kepadanya.

***

Antonie merasa perempuan itu semakin cantik saja. Sudah lama ia berharap perut Marie membuncit, tapi tak kunjung terjadi. Perempuan hamil memang terlihat sangat memikat. Rona merah di pipi Lucrece telah sepenuhnya kembali, mungkin usianya belasan tahu lebih muda dari Marrie. Ia cantik dan bisa hamil.

Ah, Antonie membuang jauh-jauh pikiran aneh dari kepalanya. Marie sedang membeli perlengkapan bayi di tempat terbaik yang bisa ditawarkan kota itu. Istrinya sangat bersemangat menanti kelahiran sang bayi. Antonie merasa bersalah karena telah memikirkan perempuan lain.

“Tuan ingin kopi?”

Antonie terkejut mendapati Lucrece sudah berdiri di kamarnya. Ia terlihat sangat cantik di balik gaun tipis dengan nampan kopi di tangan. Antonie bangkit dari pembaringan dan mendekati perempuan itu. Sesuatu dalam dirinya pun ikut bangkit tanpa bisa ditahan lagi. Lucrece terlihat pasrah pada tarian yang ditawarkan Antonie. Ketika akal sehat kembali ke kepala lelaki itu, ia mendapatkan dirinya telanjang di samping Lucrece yang menangis.

“Maafkan aku. Aku…,” Antonie seperti kehilangan kata-kata. Perempuan itu tertunduk semakin dalam. “Aku, aku akan bertanggung jawab,” ujarnya terbata.

“Apa yang bisa dilakukan lelaki beristri seperti, Tuan?” Lucrece menantang mata lelaki yang sedang tidak berdaya itu. Pada saat itu, Antonie sadar, perempuan itu sengaja menjeratnya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Berikan saja saya sedikit uang dan tiket kapal ke  Dover.”

“Baiklah, besok aku antar kamu ke pelabuhan, katakan pada istriku kalau kamu sudah ingat siapa dirimu dan ingin pergi ke Inggris.”

Lucrece meninggalkan kamar itu sambil mengelus perutnya, maafkan aku anakku, aku hanya ingin mencari ayahmu.

Sementara di dalam kamar, Antonie berpikir untuk tidak pernah melepaskan perempuan yang baru saja keluar dari kamarnya itu.

Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur. Cerpen-cerpennya pernah terbit di Koran Tempo, Tabloid Nova, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat dan media cetak lainnya. Buku kumpulan cerpen pertamanya “Air Mata Shakespeare”. Rencananya akan menerbitkan kumpulan cerpen yang kedua, “Cemong”.

 

Iklan