Imajinasi Wawancara: Santai di Dunia yang Keras

karikatur-sutardji-calzoum-bachri

(gambar dari sini)

Oleh Hasan Aspahani

Sutardji Calzoum Bachri, perlukah saya perkenalkan lagi? Namanya jauh lebih besar dari tubuhnya yang tergolong mungil untuk ukuran orang Indonesia.  Ia berjaket. Nyaris selalu berjaket. Saya membayangkan tubuh di balik jaket itu adalah tubuh yang sewaktu ia muda suka tampil telanjang dada di panggung pembacaan puisi-puisinya.

Penyair besar kita ini pernah menjadi redaktur puisi di majalah-majalah sastra penting di Indonesia, juga di berbagai surat kabar. Terakhir kali – sebelum mengundurkan diri – beliau menjadi redaktur puisi untuk halaman “Bentara” Kompas.

Apa yang bisa kita petik bagi kepenyairan kita dari pengalamannya sebagai redaktur puisi? Saya mewawancarainya di sebuah tempat di suatu waktu yang seperti biasa tak perlu dipermanai di mana persisnya.

 

Apa kabar, Pak Tardji? Sehat?

Yah, beginilah. Saya sudah tua. Kau tahu nanti apa rasanya menjadi tua. Semuanya menua. Selera makan, selera seks. Organ-organ tubuh pun menua. Mata pun letih kalau banyak membaca dan menulis.

Ah, kita tidak sedang ingin bicara soal usia tua. Saya mau bertanya soal pengalaman Anda menjadi redaktur puisi dan bagaimana dulu abang menghadapi “kekuasaan” redaktur puisi.

Yang mana dulu? Sebagai redaktur atau sebagai…

Sebagai redaktur dulu deh.

Di manapun saya menjadi redaktur puisi, selalu saja saya menemukan betapa banyak puisi yang tidak menghiraukan puisi itu sendiri. Ini menyedihkan. Tapi, ini sebenarnya juga memudahkan kerja redaktur. Karena bagaimana pun halaman tempat memuat puisi sangat terbatas. Seleksi harus berlaku ketat. Puisi yang tidak menghiraukan puisi tempatnya kembali ke map, dan pada gilirannya ke tempat sampah.

Bagaimanakah puisi yang tidak menghiraukan puisi itu?

Puisi yang merasa telah meraih puisi hanya dengan menampilkan pesan atau tema sosial (reformasi), religius, moral dan lain-lain.

Lho, bukannya tema itu juga penting, Pak?

Puisi bukan sekadar menghiraukan pesan, isi, tema, tetapi terutama memberikan perhatian maksimal terhadap cara pengungkapan bahasanya. Saya bilang, jika engkau sengaja meniatkan puisimu kosong dari tema atau pesan, sekadar elaborasi ungkapan atau kata-kata, bahkan sekadar bunyi-bunyian dari kata-kata namun jika engkau membuatnya padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa, saya yakin pembaca akan segera sibuk mencarikan tema atau pesan untuk sajakmu yang kau klaim kosong tema atau tanpa makna itu.

Engkau tinggal ongkang-ongkang senyum ketawa-ketawa sementara para pembaca dan kritikus ikhlas gembira memeras keringat hati dan otaknya untuk mencarikan pesan atau makna pada sajakmu itu.

Bukankah tema-tema besar itu menantang, Pak? Sangat menantang?

Memang, sangat menantang. Tetapi, sajak yang mengandung pesan sebesar apapun jika ia tidak menghiraukan cara pengucapannya, takkan kunjung dianggap sajak yang berhasil. Ibarat perempuan dengan kandungan besar namun tak kunjung melahirkan.

Cara mudahnya, bagaimana melihat kegagalan pengucapan sajak, meskipun dengan tema besar-besar itu?

Sajak-sajak dengan tema besar – menurut penyairnya – seringkali jatuh nilainya karena  sarat dengan ungkapan klise. Ini  menunjukkan sang penyair kurang perhatian terhadap cara berucap, salah satu unsur penting untuk mendapatkan nilai plus dari sebuah sajak.

Jadi kita harus menghindari klise, memperhatikan cara ucap. Hmm, usah juga ya…

Memang, membuat puisi yang berhasil itu tidak mudah. Kalau sekadar menulis saja ya mudah sekali. Dunia persajakan memang keras dan kejam. Dan di situ tak ada yang menghibur. Di situ berlaku hukum survival of the fittest. Untuk menjadi penyair di dunia kepenyairan yang galak ini, tidak ada jalan lain kecuali kita harus kuat. Kuat menghadapi badai kritik meskipun ini tidak berarti tidak usah mempedulikan kritik, kuat menghadapi sikap bloon dari para komentator puisi, dan kuat menghadapi kedangkalan dari pada konsumen puisi.

Nah, bagaimana caranya supaya kita menjadi kuat?

Untuk kuat diperlukan  keyakinan. Seorang penyair harus yakin akan kepenyairannya. Jika dia tidak yakin jika ragu-ragu, maka dia akan berada dalam situasi gawat. Jika dia sudah gawat di dalam hiruk pikuk dunia persajakan yang buas ini, maka mudahlah dapat dibayangkan apa yang bisa terjadi pada situasi mentalnya sebagai penyair. Dia akan terhuyung-huyung dan akan mencari pegangan pada acc-acc redaktur puisi yang dianggap berwibawa. Dengan kata lain, dia mencoba meminjam wibawa redaktur agar dia bisa mencapatkan kewibaannya sebagai penyair.

Tetapi, pemuatan sajak di surat kabar atau majalah, bukankah itu juga ukuran atau cara menguji kekuatan seorang penyair?

Betul, tetapi kau jangan lupa, bahwa eksistensi kepenyairan bukanlah seharusnya disandarkan pada para redaktur puisi. Menjadi penyair ialah dengan membuat sajak. Cukup! Itu saja. Sikap mengemis agar sajak bisa dimuat oleh redaktur puisi adalah suatu sikap yang harus disingkirkan oleh seorang penyair. Seorang penyair harus bersikap menantang bila dia menyerahkan sajak-sajaknya kepada redaktur sajak.

Baik, saya mau kembali ke soal tema besar dan sajak yang berhasil. Apakah lantas kita hanya menulis sajak yang ringan-ringan saja?

Tema besar bukannya selalu harus dihindari. Tapi jangan tegang-teganglah. Bersantai-santai sajalah.  Sebuah sajak bisa saja dengan gaya santai. Tetapi kalau itu sebuah sajak yang baik, kesantaian itu pastilah hasil dari batin yang berkeringat, mengembara, berdarah, berdenyut, dan merasakan.

Bagaimana cara mencapai tingkat kepenyairan seperti itu, dan menghasilkan sajak-sajak seperti itu?

Begini, seorang penyair haruslah bisa menyuruh batinnya mengembara masuk dalam ceruk yang dalam dari kehidupan. Bagaikan jaring nelayan, batinnya harus bisa menangkap makna laut kehidupan untuk kemudian kembali menyerahkan pada sajak-sajak yang diciptakannya.

Apa yang harus dilakukan penyair, kalau begitu?

Saya tak tahu bagaimana persisnya. Yang jelas tantangan utama bagi seorang penyair ialah dirinya sendiri: bagaimana memperkaya batinnya dengan menangkap makna kehidupan.Maka untuk itulah penyair hidup, luka ketawa-tawa, lapar, bersetubuh, setengah gila dan mengatakan “hai” pada dunia. []

 

Iklan