Joko Pinurbo: Tidak Ada Puisi yang Jatuh dari Langit

Oleh Dedy Tri Riyadi

“Tidak ada puisi yang jatuh dari langit, atau tidak ada puisi yang benar-benar baru di bawah matahari. Semua berasal dari apa yang sudah ada.” Demikian menurut Joko Pinurbo membuka perbincangan kami di jumat siang yang terik di dekat pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Bersama kami ada juga F. Aziz Manna yang kemudian harus pamit lebih awal karena mengejar penerbangan jam 4 sore dari Bandara Soeta, Cengkareng.

Sebelum menyair, Joko Pinurbo yang akrab disebut Jokpin lebih banyak mempelajari puisi-puisi dari beberapa tokoh. Ia mempelajari Chairil (Anwar), Sapardi (Djoko Damono), Subagio (Sastrowardoyo), dan lain-lain, untuk menimbulkan pengertian dan “perlawanan” terhadap puisi-puisi mereka itu. Menurutnya, kalau semua orang hanya membaca puisi-puisi Chairil mereka akan cepat mati muda atau paling tidak bosan dengan hidup. Baginya, puisi-puisi Chairil mengisyaratkan hidup yang begitu kelabu. Penuh penderitaan dalam hidup. Karenanya Jokpin tidak mau seperti itu. Apalagi dalam keyakinannya, Jokpin percaya ada hidup yang baru. Jadi, boleh dikatakan puisi-puisi Jokpin adalah anti-thesis bagi puisi-puisi Chairil.

“Jika Chairil bergetir-getir dalam hidup, saya lebih suka merayakan hidup. Dalam penulisannya pun, saya anti-thesis terhadap dia. Chairil sangat padat, irit kata, saya agak melonggarkannya.”

Tambahan yang dimaksudkan Jokpin sebagai anti-thesis terhadap puisi-puisi Chairil, adalah jika puisi-puisi Chairil banyak mengambil imaji perasaan, ia lebih memilih mengambil imaji benda-benda di sekitarnya.

Meskipun Jokpin menyadari upayanya itu sama halnya dengan yang dilakukan oleh Sapardi, namun ia memiliki perbedaan mendasar dengan penyair yang dikaguminya itu.

“Sapardi itu ‘kan priyayi dari Solo. Pilihan kata atau diksinya jelas terlihat tinggi. Saya ini proletar, saya pilih kata-kata yang sederhana. Meskipun Sapardi juga menggunakan kata-kata sederhana, tapi karena latar belakangnya yang priyayi tentu hasilnya akan beda dengan saya. Tidak akan ada kata-kata makian seperti dalam puisi saya pada puisi Sapardi.”

Meskipun demikian, Jokpin tidak mau dianggap hanya berpijak pada puisi-puisi keduanya. “Saya ini penyair oplosan. Ya kalau dilihat dari puisi-puisi saya, bisa dilihat sebenarnya ada Chairil-nya, ada Sapardi-nya, dan ada anti-thesis pada keduanya. Ada juga penyair-penyair lainnya.

Jika dilihat dari puisi-puisinya, pernyataannya itu tentulah benar. Boleh dibilang, Jokpin adalah penyair yang kerap memasukkan istilah-istilah kekinian dan religiusitas Alkitab ke dalam puisi-puisinya.

Dalam kesempatan itu, Jokpin memberi tips pada calon-calon penyair agar mau mempelajari dengan betul puisi-puisi dari para penyair-penyair ternama, mengapresiasinya, lalu mengambil sikap kepenyairan tersendiri atas puisi-puisi mereka.

“Sebenarnya, itulah yang saya lakukan. Saya apresiasi dan kritisi puisi-puisi yang saya pelajari, baru saya bisa menulis puisi. Itulah mengapa saya bilang; tidak ada puisi yang jatuh dari langit.”

Iklan