Karena Kritik adalah Juga Karya Sastra

Oleh Hasan Aspahani
Kepala Stasiun LOKOMOTEKS

TAHUN 2017 banyak seminar dan musyawarah penting terkait sastra dan kritik sastra. Juni lalu ada Musyawarah Sastrawan Indonesia 2. Agustus ini ada pula Seminar Kritik Sastra. Keduanya diselenggarakan oleh Badan Bahasa. Saya dan Dedy Tri Riyadi hadir pada acara itu sebagai peserta.

Pada seminar kritik sastra itu, panitia menghubungi saya kembali tak lama setelah saya mendaftar, memastikan apakah benar saya mendaftar sebagai peserta dan saya jawab ya. Saya ditanya lagi kenapa tak menjadi pemakalah? Saya jawab saya hanya ingin belajar, duduk di kursi peserta, paling depan.

Kritik adalah juga karya sastra, kata Ignas Kleden. Dan kami rasanya ingin setuju dengan pendapat beliau itu.  Kritik yang baik seperti proses membedah sebuah teks dalam situasi yang menyenangkan. Hasilnya adalah pemahaman yang mendalam atas teks tersebut. Harusya, tak ada yang tersakiti, tak ada yang terluka.

Dengan semangat ingin sama-sama belajar itulah beberapa makalah para pembicara – ditambah makalah lain hasil perburuan kami kami hadirkan di LOKOMOTEKS edisi khusus kritik sastra. Tentu saja banyak sekali faedah dari mengikuti ceramah para ahli sastra kita, atau paling tidak membaca makalahnya.

Apa sebenarnya persoalan sastra Indonesia? Umumnya yang kerap terdengar berulang-ulang adalah: kualitas karya, karya yang belum memasyarakat secara luas, dengan kata lain pembaca yang sedikit, kelangkaan kritik sastra dan peran kritik dan kritikus sastra yang seakan diberi tanggung jawab untuk menjembatani itu.

Padahal, jauh-haruh hari dahulu Dami N. Toda sudah menulis “…jelas kelihatan bahwa kelangkaan kritik sastra, bukanlah kambing hitam paling langsung dari keadaan belum memasyarakatnya sastra nasional dewasa ini. Banyak masalah lain, yang lebih prinsipal.

Kata Dami, untuk memasyarakatkan sastra nasional sebagai “nilai budaya” bangsa, tidak cukup ditanggulangi oleh sebuah kritik sastra yang baik (apalagi sebuah kritik sastra biasanya “sukar dibaca” oleh orang kebanyakan, karena sifatnya yang kadang-kadang tidak sahaja).

Membesarkan sastra adalah kerja bersama. “Kaitan kerja sama antara pemerintah sebagai pengelola masyarakat bangsa,pendidik/tokoh-tokoh masyarakat, orang tua, pengarang, kritikus, penerbit, pencetak, toko buku, perpustakaan, rupanya bersama-sama merupakan serta membentuk “iklim” dan “tanah” bagi pertumbuhan/perkembangan sastra nasional sebuah bangsa,” ujar Dami dalam tulisannya.

Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Yusi Avianto Pareanom, menguraikan pentingnya sayembara kritik sastra dan media khusus kritik sastra yang dikelola secara professional yang bisa menghadirkan tulisan-tulisan panjang yang digarap serius yang tak tertampung di tempat lain.

“Pewadahan tulisan kritik di satu tempat juga bakal memudahkan pembaca mencari tulisan pembanding atau tulisan terkait untuk objek yang sama. Diskusi atau debat langsung yang melibatkan penulis-penulis yang berpolemik bisa menjadi kegiatan pembelajaran bersama yang menarik. Tentu saja, sebuah situs yang dikelola profesional membutuhkan dana yang pantas untuk operasional daring maupun luar daringnya,” ujarnya.

Senada dengan Yusi, Martin Suryajaya menyebut pentingnya sayembara kritik sastra yang terasa kurang. Oleh karena itu, ujarnya, sayembara kritik sastra mesti didukung pula lewat sejumlah program yang bertujuan menghadirkan “Sastra Indonesia” pada semua publik sastra kita.  “Kita perlu menjalankan stock opname atas perjalanan sejarah sastra Indonesia, menginventarisasi tulisan-tulisan kritik sastra yang penting bagi perjalanan sastra Indonesia dan menyebarluaskannya kepada public,” kata Martin.

Pembicaraan mendasar dan sangat menarik ada dalam majalah Ignas Kleden dan Sapardi Djoko Damono.  Ignas sampai pada penegasan bahwa kritik sastra adalah juga karya sastra.  “…kritik sastra, adalah suatu karya sastra dalam bentuk kritik dan bukannya suatu karya ilmiah, kecuali kalau karya ilmiah itu dipresentasikan dalam bentuk yang membenarkannya sebagai sebuah karya sastra,” tulis Ignas menutup makalahnya.

Sapardi memulai makalah dengan hal yang paling mendasar dengan menyebutkan bahwa kritik sastra bisa dianggap sebagai sejenis ‘jembatan’ yang menghubungkan pembaca dan karya sastra, tanpa harus berhadapan dengan karyanya secara langsung.

Dalam pengertian ini, katanya, kritik sastra adalah tulisan yang ditawarkan oleh kritikus untuk membantu pembaca dalam usahanya memahami atau menghayati karya sastra. Jenis tulisan yang bisa digolongkan sebagai kritik sastra dengan demikian berbagai-bagai ujudnya.

Sapardi kemudian menawarkan definisi lain memperluas arti kritik itu. Dengan cara pandang baru dan kesadaran akan berbagai media termasuk media sosial, maka sekadar ikon jempol di FB pun bisa dianggap sebagai bentuk apresiasi juga.

Terlalu kaya makalah-makalah tersebut untuk diringkus ke dalam satu tulisan pengantar pendek ini. Tak ada cara lain untuk mengunduh faedah sebanyak-banyaknya dari para maestro sastra kita itu kecuali dengan membaca makalah mereka. Membaca dengan kritis. Kami sepakat bahwa kritik sastra adalah juga karya sastra. Membaca dengan kritis atas kritik sastra bisa membawa kita ke pemikiran baru untuk mengkritik kritik tersebut.

Iklan