Kolom: Dari 25 Ekor Kucing,Lahir Seekor Garfield

Oleh Hasan Aspahani

Pencinta kucing suka Garfield,
Pembenci kucing juga suka dia.

KAUS kelas kami waktu SMA dulu bergambar karakter komik Garfield, si kucing gemuk berbulu jingga, dan tampangnya menggemaskan. Sayalah yang dipercaya kawan-kawan sekelas merancang kaus itu. Eh, bukan dipercaya, saya sebenarnya sedikit otoriter, karena saya waktu itu ketua kelas. Tentu saja waktu itu saya tak mengerti soal hak cipta, tapi saya suka Garfield, kawan sekelas saya suka juga. Rasanya, itulah kaus kelas paling keren dibandingkan dengan kaus kelas-kelas lain di angkatan kami dulu.

Saya mengenal Garfield di koran berbahasa Inggris yang dilanggani paman saya. Dia guru bahasa Inggris. Saya pada waktu SMA memang ‘rakus’ melahap apa saja. Termasuk mencari rujukan tentang kartun dan komik strip, karena saat itu saya bekerja di surat kabar lokal, membuat komik strip. Nama serial komik strip saya: Ketupat.

Pada saat yang sama, saya juga sangat menyukai Peanuts, komik strip karya kartunis kaya-raya Charlie M Schulz – saya entah kenapa, merasa amat kehilangan ketika beliau meninggal pada tahun 2000 lalu – dengan tokoh sekawanan anak-anak, Charlie Brown CS, dan anjingnya yang kemudian menjadi lebih terkenal daripada tuannya: Snoopy. Ketupat saya, amat dipengaruhi oleh Peanuts.

Garfield – seperti halnya Peanuts – adalah contoh nyata tentang buah lebat yang bisa kita petik jika kita menanam benih keyakinan, kerja keras, dan kreativitas. Jim Davis – begitulah James Robert Davis mencantumkan nama akrab di setiap helai karyanya – menderita asma sewaktu masih kanak-kanak. Karena itu ia banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Penyakit ssmanya disebabkan alergi pada bulu hewan. Harap maklum, ayah dan ibunya adalah keluarga peternak. Rumah peternakan mereka dikepung oleh kawanan sapi, kuda, dan di dalam rumah – ini bukan hewan ternak – mereka memelihara 25 ekor kucing kampung.

Apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil – dengan seorang saudara kandung yang sebaya – ketika harus berlama-lama di dalam rumah? Ibunda Jim memberinya pensil dan kertas. Maka menggambarlah Jim. Sebagaimana layaknya gambar anak-anak, Jim menggambar dengan anatomi yang tak becus. Ia melihat sapi, ia menggambar sapi. Tapi gambarnya tak mirip sapi. Jim kecil menambahkan tulisan: Ini sapi. Sesuatu yang sepele. Tapi, dari peristiwa kecil itu, Jim teryakinkan bahwa ketika gambar dan teks dipadukan lahir sebuah kekuatan. Dan itulah prinsip komik.

Sejak itu, dia tahu dia ingin jadi apa: dia ingin jadi kartunis. Jim kecil pun tak berhenti menggambar. Ia menggambar di mana saja, dinding, lantai, tangga, di mana saja. Berkah lain, karena betah menggambar di dalam rumah, asmanya pun berangsur pulih.

Selepas SMA, Jim masuk politeknik, jurusan seni. Di situ bakatnya semakin terasah, karena fasilitas pendidikan dan buku rujukan yang lengkap. Di sana ia juga belajar drama. Di sini kita bisa belajar, betapa sarana pendidikan yang lengkap, pengajar yang baik, bisa memunculkan potensi maksimal dari anak-anak, yang kita tak tahu kelak ia akan jadi sebesar apa.

Selepas kolese, Jim magang di sebuah biro iklan. Niatnya cuma satu: bisa menjadi asisten Tom K Ryan, kartunis yang saat itu sudah berhasil dengan serial komik strip Tumbleweeds. Jim mengerjakan apa saja, menyapu lantai studio, mengepel, dan pekerjaan remeh, seperti menggambar latar dan menulis teks kartun. Pelajaran lain dari Jim, tak cukup belajar teori menggambar di perguruan tinggi, pengalaman langsung justru lebih banyak memberi pelajaran dan kelak menentukan keberhasilan Jim sebagai kartunis.

Jim pun memulai komik stripnya sendiri. Ia langsung menemukan Garfield? Tidak. Ia membuat kartun dengan tokoh kutu, Gnome Gnates. Kartun ini gagal, meskipun sudah sempat lima tahun ia berusaha untuk membesarkannya.

“Kartunmu lucu. Gambarmu bagus. Tapi, kutu? Siapa sih yang suka kutu?” kata seorang editor di sebuah perusahaan sindikat kartun. Jim menyadari kekeliruannya. Ia banting setir mencari karakter lain. Jim tidak putus asa, ia tahu, tidak ada keberhasilan yang sekali jadi. Tapi, itu tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja keras.

Ia mengamati banyak kartun yang berhasil tokohnya anjing. Dan waktu itu tak ada satupun tokohnya kucing. Ia pun mulai merancang, dan Garfield baru tercipta setelah dua tahun lamanya ia mereka-reka. Ia memanggil kembali kenangan pada 25 ekor kucing yang dulu hidup bersamanya di peternakan. Nama Garfield sendiri ia pinjam dari nama kakeknya. Karakter si kakek pun dia curi: ya sikap keras kepalanya itu. Awalnya si kucing pemalas, sarkastik, sok pintar, sok filosofis itu, hanya menjadi tokoh pendamping si tokoh utama: Jon Arbukle, kartunis berwajah culun.

Menyadari potensi kebintangan pada diri Garfield, Jim memberi peran besar pada si kucing. Kartunnya langsung disambar oleh perusahaan sindikasi kartun yang sejak pertama kali terbit pada tanggal 18 Juni 1978 Garfield langsung tampil di 41 koran di Amerika, di kota Boston, Dallas, dan Chicago. Jalan kesuksesan membentang di hadapan Jim yang saat itu sudah – atau baru? – berusia 33 tahun.

Popularitas Garfield lekas melejit. Pada tahun 1982, komik Garfield terbit di 1.000 surat kabar. Tahun 1987, si kucing gendut itu tampil di 2.000 surat kabar. Dan saat ini, terbit di 2,600 surat kabar di seluruh dunia. Guiness World Book of Record mengganjarinya sebagai komik strip tersindikasi paling banyak di dunia. Dibaca oleh – ditaksir secara kasar 263 juta orang setiap hari, termasuk saya yang membaca lewat lembar “Life” di surat kabar negeri Jiran The Strait Times yang saya langgani lewat kantor.

Ada satu peristiwa yang memicu – dan meyakinkan Jim – betapa dicintainya Garfield oleh para pembacanya. Beberapa bulan setelah terbit, sebuah surat kabar di Chicago menghentikan pemunculan Garfield. Apa yang terjadi? 1,300 turun ke jalan, meluruk ke kantor surat kabar tersebut, marah akibat dihentikannya komik strip itu.

Jim saat ini masih aktif menggambar. Kini, pria yang bulan Juli tanggal 28 nanti tepat berusia 67 tahun itu – mempekerjakan 50 tukang gambar, di bawah bendera perusahaan Paws, Inc. Perusahaan ini memproduksi kartun, film, serial TV, dan yang mengurusi hak cipta dan bisnis pernak-pernik barang berlogo Garfield, di Albany, negara bagian Indiana.

Kalau kepadanya ditanya bagaimana caranya menjadi kartunis yang berhasil? Ia punya jawaban begini: “…membaca, membaca, dan membaca. Untuk menjadi seniman strip-komik kau harus jadi penulis yang baik. Menguasai seni menggambar penting, tapi kemampuan menulislah yang membentuk atau menghancurkan kamu. Belajarlah apa saja, dan seberapa bisa kamu belajar,” katanya.

Itu saja? Belum cukup! “Menontonlah. TV, bioskop. Bergaullah. Cari kawan, dan kegiatan. Cobalah berbagai alat gambar yang berbeda dan coba berbagai gaya. Di atas semuanya itu – milikilah sesuatu yang ingin kau sampaikan, sesuatu yang unik dan berbeda – sesuatu yang “khas” kamu,” katanya.

Iklan