Komang Ira Puspitaningsih – Impermanence

Komang Ira Puspitaningsih
Impermanence

Puisi beterbangan jauh ke langit
Kian tak terjangkau lenganku
Meski warna-warna melambungkan nyawaku
Tanda-tanda kembali menjatuhkan hujan
juga aku

Kita selalu menyepi dalam diri
Di kota yang selalu gegas dengan bunyi
Jerat apakah yang tuhan nyatakan untukku
Sesat apakah yang tuhan nyanyikan padaku

Ini kotak pandora yang dititipkan Minerva
Peti berukiran cahaya kata-kata
Mantra-mantra luruh menyentuh cahaya

Dan puisi
Puisi-puisi pergi menjauh dengan gaduh
Bersama nujuman yang ranum oleh waktu

Siapa yang berani menitah kuasa waktu
Bermain-main dengan kesementaraan waktu

Tukang tenun yang ditenung itu
Melilitku dengan benang-benang hitam
Menghimpitku tanpa celah arah
Aku tak melihat anak panah
menuju pintu-pintu cahaya

Aku menyerah
Sejenak menapaki jalan menuju rumah
Burung-burung menderukan angin
Menderukanmu yang sekarat dan hampir mati

Aku membaca perangai riangmu
Mengiangkan igau-igau kesakitan
Di senyum alis matamu

Dan aku
Aku tak mampu berlari
Aku tak dapat lagi menjangkau puisi

 

Jogja, 2012

Iklan