Kritik Sastra: Sastra dalam Kritik

Oleh Ignas Kleden

(Tiga Kontroversi dan Tiga Proposisi tentang Kritik Sastra)

KRITIK sastra adalah suatu disiplin yang menimbulkan banyak sekali kontroversi dan preferensi dalam mempraktekkannya. Untuk menyebut beberapa dari kontroversi itu, dengan mudah kita ingat apa yang pernah terjadi dalam kritik sastra di tanah air kita.

Pertama, apakah kritik sastra merupakan suatu disiplin keilmuan atau suatu disiplin kesenian, khususnya disiplin kesusastraan?

Kedua, apakah objektivitas merupakan hal yang menentukan kualitas suatu kritik sastra atau ada tuntutan lainnya?

Ketiga, apakah kualitas kritik sastra ditentukan oleh metode dan teori yang diterapkan dalam mengerjakan kritik itu?

Makalah ini adalah usaha menjawab tiga pertanyaan itu, tentu tidak dengan cara yang sangat mendalam, tetapi dengan mencoba meninjau berbagai orientasi yang ada, dan sekaligus juga mencoba melakukkan reorientasi dalam tinjauan itu.

Kontroversi 1: Apakah kritik sastra itu suatu disiplin ilmiah atau suatu disiplin kesusastraan?

Dalam usaha menulis kritik sastra saya berpedoman bahwa kritik sastra pertama sekali harus memperlakukan karya sastra seabgai pusat perhatian, dan bukan sebagai medium untuk suatu keperluan lain. Kalau seorang menulis sastra untuk mencari suatu struktur sebagaimana dimaksudkan oleh Levi-Strauss, maka pekerjaan itu menurut pengertian saya bukanlah kritik sastra, tetapi teori sastra. Dalam teori sastra, sebuah karya dijadikan data untuk membangun suatu teori, atau memverifikasi atau memfalsifikasi teori tersebut. Kepentingan utamanya adalah teori sastra dan bukan karya sastra yang dihadapi.

Suatu kritik sastra, pada hemat saya, harus menghadapi karya sastra sebagai kepentingan Utama dan bukan tujuan yang lain. Ini tidak berarti bahwa seorang kritikus tidak boleh menggunakan berbagai teori yang terdapat dalam ilmu sastra, ilmu sosiologi, ilmu psikologi, atau teori filsafat tertentu. Namun demikian, teori dan metode yang digunakan ditentukan relevansi penggunaannya berdasarkan pertimbangan, apakah teori atau metode itu membantu mendekatkan seseorang kepada karya sastra yang dihadapinya, atau mengasingkan karya sastra itu ke dalam suatu dunia ilmiah yang bukan menjadi tempat sastra dilahirkan dan diciptakan. Saya belum pernah mendengar bahwa ada pengarang sastra yang menulis karyanya sebagai pengejawantahan suatu teori atau suatu metode yang dianutnya. Usaha yang demikian sudah dipastikan tidak akan menghasilkan sastra yang otentik. Seorang menulis novel karena dia menyenangi prosa yagn baik, dan dia menulis sajak karena menyenangi puisi. Seorang kritikus paling jauh hanya perlu melihat apakah pilihan menulis novel itu telah dilakukan dengan baik, yaitu dengan kesungguhan dan kecermatan yang memenuhi syarat-syarat penulisan novel yang dianut para novelis, dan menulis puisi dengan memperlihatkan beberapa cara yang mengubah bahasa prosa menjadi puisi.

Tentu saja penulis novel, cerpen, dan penyair bisa mencoba melakukan pembaruan dalam genre yang digunakannya. Iwan Simatupang, mencobanya dalam penulisan novel dan Sutardji Calzoum Bachri dalam puisi. Masalahnya, apakah inovasi yang dilakukan itu diterima sebagai aspek baru yang turut memperkaya penulisan novel atau puisi, yang memberi dimensi lain daripada yang hingga kini umum diterima? Sutardji misalnya menginginkan agar kata-kata dalam puisi dibebaskan dari beban konsep-konsep atau berbagai makna yang harus dipikul oleh kata itu. Seakan ada penjajahan konsep atas kata, yang kemudian tidak lagi mempunyai ruang gerak yang merdeka. Keinginan seperti ini bisa ditemukan juga dalam bidang kesenian lainnya. Dalam music ada usaha untuk membebaskan music dari beban harmoni dan melodi dan mengembalikan music hanya kepada bunyi. Music bukan melodi atau harmoni tetapi bunyi. Kalau Sutardji menghendaki kata bebas dari konsep dan beban makna, maka kata itu berfungsi sebagai apa? Jawab Sutardji kata adalah mantera.

Disini kita menghadapi soal. Dengan makna atau konsep kata mempunyai kemampuan untuk melakukan ekspresi dan representasi. Dalam mantera kata mempunyai fungsi tidak ada lagi representasi tetapi dibatasi pada fungsi performative, yaitu menciptakan atau suatu peristiwa tetapi tidak memberikan representasi. Kalau seorang ibu mengatakan kepada anaknya “terkutuklah kau” maka anaknya menjadi anak yang terkutuk. Sedangkan kalau ibu mengatakan kepada anak gadisnya “kamu sudah mulai dewasa sekarang”, maka ucapan itu memberikan suatu representasi, yaitu gambaran yang dapat kita bayangkan.

Kritik adalah memberi perhatian yang terfokus pada karya sastra, melakukan pembacaaan yang membuka jalan kepada suatu dunia yang diciptakan dalam karya itu. Dalam pembacaan kita karya itu seakan memberi janji tentang perkembangan narasinya dan tujuan yang hendak dicapainya. Pembaca yang kritis akan melihat dengan cermat apakah perkembangan yang terjadi dalam narasi sesuai dengan apa yang dijanjikan dalam karya itu, dan apakah tujuan yang hendak dicapai masih menjadi orientasi cerita dalam karya itu. Novel Umar Kayam Para Priyayi sedari awal memberi harapan bahwa narasi yang ada dalam novel itu melukiskan perubahan sosial yang terjadi pada kalangan priyayi. Dalam pembacaan saya, terkesan cukup kuat bahwa janji itu tidak terpenuhi, karena yang dilukiskan hanyalah perubahan dalam struktur priyayi, yang memungkinkan priyayi kecil menjadi priyayi agung, tetapi struktur priyayi berupa pengkastaan budaya melalui sertifikasi sosial itu tetap dan tidak berubah. Perubahan hanya terbatas pada mobilitas vertical yang berlangsung dalam struktur priyayi, sedangkan struktur pengkastaan budaya atau stratifikasi sosial itu tidak mengalami perubahan. Lain daripada itu, perubahan yang terjadi terbatas pada perubahan status seseorang, sedangkan bagaimana prosesnya dia mendapat status yang baru tidak dilukiskan. Kita tiba-tiba diberitahu bahwa Nugroho anak Sastrodarsono sudah menjadi kolonel dalam ketentaraan dan diangkat menjadi direktur sebuah perusahaan negara. Kita juga tidak tahu bagaimana prosesnya Hardojo, adik Nugroho, menjadi pegawai Mangkunegaran dan memimpin kantor urusan orang dewasa dan gerakan pramuka.

Hal ini amat berbeda dengan perubahan sosial yang terjadi pada diri Nyai Ontosoro dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, karena di situ dilukiskan dengan jelas bahwa perubahan itu terjadi karena Nyai Ontosoro dapat melewati proses perubahan itu sebagai perubahan mode of production, dari seorang perempuan desa yang tidak mempunyai sesuatu kehalian kecuali tenaga kerjanya, menjadi seorang yang sanggup membuat pembukuan perusahaan, sanggup melakukan surat-menyurat dagang dengan bahasa Belanda, tahu bagaimana memerah sapi dan mengatur orang-orang yang bekerja di perkebunan dan tahu menyimpan uangnya di bank, karena keyakinan bahwa tanpa modal masa depan hidupnya akan tetap gelap gelita. Dengan singkat, perubahan sosial itu tejadi karena dia sanggup menjadi seseorang yang menguasai alat-alat produksi dan mengubah hubungan produksi dengan tuannya, penguasa perkebunan yang mengambilnya sebagai nyai tetapi kemudian mendidiknya dengan baik. Cerita perubahan status pada novel Kayam hanya melukiskan status baru yang diperoleh sebagai sesuatu yang given tanpa proses yang dapat meyakinkan pembaca bahwa perubahan itu adalah suatu akibat dari proses tersebut.

Dua contoh tersebut dapat memperlihatkan bahwa tanpa teori dan metode yang terlalu rumit pembaca dapat melakukan kritik narasi sebagai kritik sastra, dengan menggunakan karya itu sendiri sebagai sarana untuk membangun sebuah kritik dengn cara melihat apakah jalan yang dibuka oleh narasi membawa kita kepada suatu ujung yang dijanjikan atau merupakan jalan yang berkelok-kelok yang akhirnya membawa kita kepada jalan buntu. Tentu saja teori dapat lahir dari pembacaan karya sastra, sebagaimana teori tentang stratifikasi sosila muncul dari cerita Kayam tentang tokoh-tokohnya, dan bagaimana pula teori tentang hubungan produksi muncul dari cerita Pramoedya tentang Nyai Ontosoro. Akan tetapi teori semacam itu tidak diterapkan dari luar tetapi ditemukan dalam narasi cerita karena pembaca melakukan close reading terhadap karya itu sendiri.

Kontroversi 2: Apakah objektivitas menentukan kualitas suatu kritik sastra atau ada tuntutan lain?

Secara populer objektivitas diartikan sebagai pengamatan dan pandangan yang sejauh mungkin mendekati objek yang diamati, memperhatikan sifat objek tersebut, dan terindar dari kecenderungan subjektif, berupa perasaan suka atau tidak suka, tertarik atau tidak tertarik, merasa simpati atau antipasti terhadap objek yang diamati untuk dipahami dan dijelaskan keadaannya. Tentu saja ini benar untuk bidang pengamatan tertentu. Kalau seorang geology ingin meramalkan perkembangan keadaan sebuah gunung berapi, ramalannya tidak boleh dipengaruhi oleh perasaan pribadinya berupa suka atau tidak suka kepada gunung berapi tersebut, atau sikapnya yang kurang setuju dengan cara pemerintah melakukan evakuasi penduduk. Demikian pula kalau seorang sosiolog melakukan penelitian tentang Kelompok paling miskin di Jakarta atau Tangerang maka ia harus menetapkan kriteria bagi mereka yang digolongkan ke dalam Kelompok paling miskin, dan melihat dalam penelitiannya apakah suatu golongan memenuhi kriteria tersebut. Dia tidak boleh merasa tertekan oleh keinginan pemerintah untuk melihat jumlah orang miskin semakin berkurang. Ada bidang-bidang penelitian tertentu yang memang menuntut sikap objektif sejauh mungkin.

Patut dikatakan sambil lalu di sini, bahwa pengertian objektivitas yang berkembang juga dalam ilmu pengetahuan, berasa dari pengertian yang berlaku dalam bidang-bidang ilmu-ilmu kealaman atau natural sciences. Asas utamanya ialah bahwa gejala-gejala alam patut diselidik seteliti mungkin, tanpa terpengaruh oleh perasaan dan sikap pribadi kita, karena gejala-gejala alam pada dasarnya tidak berubah dalam berhadapan dengan penelitinya, tetapi simpati atau antipasti kita dapat mengubah persepsi kita tentang gejala-gejala itu. Antara peneliti dan gejala-gejala alam tidak ada interaksi, dan yang dibutuhkan hanyalah observasi yang cermat.

Halnya akan berlainan kalau seorang antropologi hendak meneliti sebuah Kelompok budaya. Antara peneliti dan Kelompok yang ditelitinya segera berlangsung suatu interaksi, sehingga observasi yang dilakukan peneliti tersebut akan dipengaruhi oleh penerimaan Kelompok yang diteliti terhadap kehadiran peneliti, dan dipengaruhi juga oleh sikap dan pendekatan peneliti terhadap Kelompok yang ditelitinya. Artinya gejala-gejala sosial dan budaya selalu mengalami perubahan yang muncul karena adanya penelitian terhadap mereka. Observasi selalu dipengaruhi oleh interaksi. Dalam melakukan wawancara, peneliti setiap kali harus melakukan interpretasi terhadap jawaban yang diberikan oleh informan terhadap pertanyaannya, apakah jawab itu sesuai dengan kenyataan dalam kebudayaan bersangkutan, atau informan tersebut hendak menyenangkan hati peneliti dan mendapat simpati dari peneliti. Karena itulah selain melakukan interpretasi terhadap jawaban responden, peneliti harus melakukan pengecekan silang atau cross-check dengan bertanya kepada informan lainnya.

Bagaimana menghadapi suatu karya sastra? Apakah kita dapat bersifat objektif dengan mengekang semua perasaan subjektif kita? Sudah jelas bahwa metode observasi tidak berlaku di sini, karena sebuah karya sastra hadir pertama-tama untuk diapresiasi dan bukan untuk diobservasi. Saya membaca sebuah karya sastra dengan sungguh-sungguh karena karya itu menarik hari saya dan bukan karena sebab yang lain. Saya juga bisa membaca karya lain dengan tekun karena karya itu sama sekali tidak menarik perhatian saya. Kritik sastra dalam pengertian saya adalah usaha merumuskan mengapa sebuah karya amat menarik perhatian saya dan karya lain tidak menarik sama sekali. Tentu saja kita berurusan dengan berbagai subjektivitas di sini. Pembacaan sebuah karya sastra adalah perjumpaan dan bukan pengamatan. Dalam menulis sebuah kritik sastra, saya merasa harus melakukan semacam pertanggungan jawab mengenai apresiasi saya terhadap karya itu. Dengan kata lain, kritik lahir dari interaksi saya dengan karya itu, apa yang diberikan dan dilakukan oleh karya itu terhadap diri saya, dana pa yang saya lakukan terhadapnya dalam penerimaan dan penghayatan saya. Dalam arti ini kritik adalah wujud dari apresiasi, dan apresiasi yang otentik hanya mungkin kalau karya itu bisa diapropriasi sejauh mungkin, yaitu diterima ke dalam sistem nilai yang saya anut dan dikonfrontasikan dengan sistem nilai itu.

Dalam tindakan itu tentu saja teori sastra dan teori ilmu pengetahuan dapat membantu apresiasi saya. Akan tetapi teori itu bukan menjadi alasan apresiasi saya, tetapi hanya memberikan vokabuler untuk menguraikan apa yang terjadi dalam apresiasi saya. Teori dan metode datang belakangan dan bukannya menjadi sebab bagi apresiasi saya. Kritik sastra dalam penghayatan saya tidaklah bertugas membangun teori sastra atau teori sosiologi atau psikologi. Sebaliknya teori-teori itu bisa menjadi kerangka bagi saya uuntuk melihat mengapa saya sampai kepada apresiasi yagn saya hayati dan mengapa suatu karya membuka jalan kepada apresiasi itu. Dengan singkat, kritik sastra adalah apresiasi dengan suatu akuntabilitas yang eksplisit. Apakah akuntabilitas itu dapat diterima oleh kritisi lain atau oleh para sastrawan sendiri, bagi saya adalah soal sekunder.

Saya selalu terkesan oleh sebuah nasihat dari pelopor hermeneutika Jerman, F.D.E. Schleiermacher (1768-1834), katanya,”es gilt einen verfasser besser zuverstehen als er sich selbst verstanden hat,” artinya seorang pembaca dapat memahami seorang pengarang atas cara yagn lebih baik dari pengarang itu memahami dirinya sendiri. Alasan yang dijelaskan oleh para filosof yang datang kemudian ialah karena sebuah karya sastra sudah mempunyai otonomi sendiri berupa otonomi semantic, dengan akibat bahwa maksud dari teks tertulis itu sudah berdiri sendiri, dan tidak tergantung lagi pada maksud pengarang. Makna menurut pengarang bersifat intensional tergantung pada apa yang dimaksudkannya, sedangkan makna teks bersifat proposisional dan sudah tergantung pada hubungan kebahasaan dalam karya itu. Saya akan memberikan sebuah contoh di sini, Sapardi Djoko Damono pernah menulis sebuah sajak berjudul “Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari”. Saya kutip selengkapnya sajak ini.

Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku dari belakang

Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang menciptakan bayang-bayang

Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Sajak itu amat mencengkam perhatian saya hingga sekarang. Saya selalu bertanya kembali mengapa sajak itu mempunyai daya Tarik yang demikian besarnya kepada perhatian dan simpati saya. Saya akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa persoalannya menyangkut filsafat ilmu pengetahuan. Apakah manusia yang menjelaskan alam, atau alam yang menjelaskan kehidupan manusia. Para filosof pertama di Yunani pada adab 5 sebelum masehi juga memberi perhatian besar kepada alam. Tetapi perhatian mereka yang Utama bukannya kepada astronomi, tetapi kepada kosmologi dengan tekanan besar kepada etika. Pertanyaan mereka adalah apa yang dapat dipelajari manusia dari alam semesta ini untuk kehidupan yang baik? Dan saya merasa sebuah jawaban yang tepat diberikan oleh sajak Sapardi tersebut. Matahari dan aku tidak bertengkar tentang siapa yang membuat bayang-bayang. Bayang-bayang dan aku tidak bertengkar tentang siapa yang harus berjalan di depan.

Kontroversi 3: Apakah kualitas kritik sastra ditentukan oleh teori dan metode yang diterapkan dalam kritik itu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terus-terang saya menganut asas filsafat metodologi yang mengatakan teori dan metode harus disesuaikan dengan masalah penelitian, dan bukannya masalah masalah penelitian mengikuti teori dan metode. Para ahli metodologi mengajarkan bahwa metode dan teori adalah instrument yaitu alat untuk menjelaskan atau menafsirkan suatu kenyataan alam atau kenyataan dalam masyarakat dan kebudayaan. Sebagai instrument, teori dan metode ibarat martil. Tetapi martil hanya berguna untuk memaku paku pada kayu atau pada dinding. Martil tidak berguna untuk menyerut papan atau menggergaji. Dengan demikian siapa yang menguasai hanya satu teori dan satu metode saja dan memaksa semua masalah penelitian harus menggunakan teori dan metode tersebut, sama perilakunya dengan seseorang yang hanya mempunyai martil di tangannya dan memaksa semua benda dan kenyataan yang dihadapinya berubah jadi paku.

Sudah saya uraikan di depan bahwa kritik sastra lahir dari apresiasi dan apresiasi yang baik dimungkinkan oleh apropriasi. Teori dan metode dalam praktekny bukan menjadi alasan bagi apresiasi saya dalam berhadapan dengan sebauh karya sastra, tetapi membantu saya dengan memberikan vokabuler yaitu peralatan yang memungkinkan saya mengeksplisitkan alasan saya dalam apresiasi terbsut. Pembacaan suatu karya sastra adalah mencari dan menemukan jalan kepada penghayatan berupa apresiasi. Teori dan metode menolong saya untuk mengkomunikasikan apresiasi tersebut, sehingga menjadi intersubjektif, bukannya menjadi objektif. Teori dan metode memberikan kosa kata atau vokabuler yaitu alat-alat akademis yang dikenal dalam teori sastra dan ilmu pengetahuan, dan memungkinkan orang lain memahami alasan mengapa saya sampai kepada apresiasi tertentu.

Tentu saja para ahli ilmu pengetahuan seperti ahli filologi, ahli psikologi, ahli sosiologi, atau ahli ilmu politik, dapat menjadikan karya sastra untuk membangun suatu teori dalam bidang yang menjadi keahlian mereka. Jelas bahwa teori-teori itu dapat mempengaruhi juga berbagai pendekatan dalam kritik sastra. Namun demikian penelitian para ahli ilmu pengetahuan tersebut memperlakukan karya sastra sebagai data untuk membangun teori mereka dalam suatu bidang ilmu pengetahuan, dan merumuskan metode tertentu dalam penelitian yang mereka lakukan. Teori dan metode yang mereka bangun dapat berguna dalam mengerjakan kritik sastra, tetapi teori dan metode itu sendiri bukanlah produk kritik sastra, tetapi produk teori sastra atau teori ilmu pengetahuan. Perdebatan mengenai metode dan teori adalah perdebatan ilmu pengetahuan. Perdebatan itu baru menjadi perdebatan kritik sastra kalau sebuah teori atau metode sudah diterapkan dalam menafsirkan dan menguraikan suatu karya sastra tertentu.

Sebuah contoh soal yang masih banyak diingat ialah gagasan Arief Budiman pada tahun 1980-an tentang sastra kontekstual. Manfaat dari gagasn itu memang ada yaitu mengingatkan para pengarang dan penyair kita bahwa inspirasi tidak harus dicari dalam dunia yang jauh. Tidak perlu seorang penyair di Jakarta atau di NTT bersusah payah menulis tentang musim dingin dan salju dari Alpen, karena dia bisa menulis tentang tanah yang kerontang karena perubahan musim, bisa menulis tentang lahan yang rusak karena kebakaran hutan, atau karena banjir akibat sungai yang meluap, yang tentu lebih dekat dengan konteks hidupnya sehari-hari, atau tentang nasib nelayan yang tidak bisa melaut karena gelombang laut amat ganas pada musim yang tidak semestinya. Semua ini bermanfaat.

Namun demikian, dalam metode kontekstual ini dilupakan bahwa konteks bukanlah pengertian yang statis. Konteks penulisan suatu karya dan konteks pembacaan karya itu oleh seorang pembaca mungkin sekali amat berbeda. Paul Ricoeur dalam teori teksnya mengajarkan bahwa konteks itu selalu dapat di-dekontekstualisasikan, dan dapat juga di-rekontekstualisasikan kembali oleh pembaca. Kalau tidak ada dekontekstualisasi dan rekontekstualisasi, Rendra tidak akan mampu mementaskan karya Sophocles dari masa Yunani antic, dan Nano Rintiarno tidak akan sanggup mementaskan Shakespeare di Jakarta saat ini. Semuanya mungkin karena baik karya Sophocles dari awal Yunani Antik maupun karya Shakespeare di Inggris abad 16 dapat dilepaskan dari konteks penulisan karya itu melalui de-kontekstualisasi, dan dapat di-rekontekstualisasikan kembali menurut konteks di Indonesia pada abad 20 dan abad 21.

Mudah-mudahan apa yang saya maksudkan dalam judul makalah kecil ini agak jelas melalui uraian yang ada. Yaitu bahwa kritik sastra, adalah suatu karya sastra dalam bentuk kritik dan bukannya suatu karya ilmiah, kecuali kalau karya ilmiah itu dipresentasikan dalam bentuk yang membenarkannya sebagai sebuah karya sastra.

Jakarta, 15 Agustus 2017

Iklan