Lakon Eksperimental: Celana 1105

Lakon Eksperimental: Celana 1105

Oleh Muhammad Sadli

Meja dan empat kursi, kertas yang berserakan ada yang menggumpal, ada yang biasa saja, ada tas travel bag dibawah meja,peralatan tulis menulis.

ADEGAN 1

JEKO 1: (Asyik menggambar)

JEKO 2 dan 3: (Datang membawa peralatan gambar)

JEKO 4: (Datang tergopoh-gopoh, menarik kotak kardus tampak berat)

JEKO 1: (Di meja, menyulut sebatang rokok, melamun sebentar, kemudian mulai menggambar) –  Mati untuk hidup abadi…

JEKO 2: (Di meja, sibuk menggambar sopir mobil jenazah sambil dengan khidmat
menyedot rokok. Lalu ia menempelkan telapak tangan kanan kedada kiri dan  membungkuk terpejam) Hormatku padamu wahai lelaki tua yang penuh suka cita

JEKO 3: (Di meja, suntuk menggambar peti jenazah, sambil sesekali mempermainkan asap rokok) – Sempurna inilah rumah hunian idaman.

JEKO 4 :  (Ia berdiam saja, tangannya terlipat rapi diatas meja, kepalanya bertopang disana. Rokoknya nyelip di sela jari. Lalu ia bangkit, memindahkan posisi kursi, duduk menyelonjorkan kaki mematikan rokok di asbak, bersandar ke sandaran kursi, kepalanya tengadah dan mendekap buku.)

Suara hape berdering. Masing-masing JEKO mengambil hapenya – Halo!

ADEGAN II

JEKO 1,2 dan 3 tertidur nyenyak diatas meja.

JEKO 4: (Berdiri diatas meja, bergaya macam cowboy hendak beradu tembak. Lalu dengan cepat tangannya masuk kesaku celana dan mengeluarkan isinya)  Hallo! Iya itu pesanan saya… Menu makan dari langit biru. Ya! Sekulkas bayi, kucing dan…. Ya! Aku hendak membiakkan bintang dalam puisi.

JEKO 3: (Bangun dan turun dari meja. Lalu duduk di kursi). Nyenyakah tidurmu? Bangkit lagi lalu pergi.

JEKO 4: Ya, nyenyak sekali kawan! Senyenyak bintang-bintang yang berkerlip semalaman! Senyenyak bayi dalam kandungan!

JEKO 2: (Masih berbaring di meja) Selamat apa saja kawan!… Apakabar hari ini?

JEKO 3: Datang memakai jas hujan.

JEKO 4: Selamat saja kawan, kabar agak linglung! Dari mana?

JEKO 3:  (Mandi. Lalu membuka jas hujan, menyelimutkannya ke JEKO 2)  Bangun!

JEKO 2: (Memaki dengan akrab) Asu!… (Melempar jas hujan)  Aku suka bangun siang!

JEKO 4: Hobi?

JEKO 2: Ya!

JEKO 4: (Pergi tak lama masuk kembali sambil membawa gelas kopi dan mengaduknya sambil jalan).

JEKO 2: (Menyulut rokok)

JEKO 3: (Mengambil rokok dari selipan bibir dari JEKO 2)

JEKO 1: (Bangun, duduk masih di atas meja, menguap) Adakah kopi pagi ini?

JEKO 4: (Memberikan sebuah buku).

JEKO 1: (Membuka buku, membaca dan berbaring kembali. Sambil terus memabca buku)

JEKO 2: (Masuk ke bawah meja, membuka sebuah tas, mengeluarkan segala isinya, mengambil sarung. Memakai sarung)

JEKO 3: (Masuk pula ke bawah meja, membongkar tas yang sama lalu mengambil  bola, lalu bermain bola)

ADEGAN III

JEKO 4: (Masih berdiri diatas meja, ngangkang). Ibu, kenapa kau lahirkan aku?.. Padahal aku masih betah dalam kulkasmu, banyak sekali puisi dalam kulkasmu, puisi-puisi yang indah, sajak indah, prosa yang indah! Segalanya serba indah! Aku dalam kulkasmu adalah sajak-sajakmu ibu.

JEKO 3: (Dari belakang, menendang bola, melewati kangkangan kaki JEKO 4)  Goooooollll….  (merayakan golnya)

JEKO 2: Masih membaca buku. “Tidak anakku!… kau wajib dikeluarkan dari pembiakan, kau harus dilahirkan, sajakmu tentang ibu bapakmu dan hal ihwal tentang sarung dan celananya. Wajib kau tuliskan, lalu dimuat dikoran-koran. Lalu dibukukan. Dan diabadikan dikulkas-kulkas rumah masyarakat.

JEKO 4: Meloncat turun dari atas meja berjalan keluar.

JEKO 3: (Memainkan kursi. Lalu duduk)  Mei! Aku serahkan saja hidupku padamu mei, terserah kau apakan aku. Mei, seluruh waktuku padamu. Jika kau persilahkan aku keluar pada bulanmu, bulan yang ungu. Nanti biarkan aku menulis tentang dirimu mei. Tak usah kau terlalu mengimajinasi tentang wajah dan tubuhku. Seadanya saja, selayaknya manusia.

JEKO 1: (Turun dari atas meja, mendekati JEKO 2 duduk diantara kakinya. Masuk kedalam sarung)  “Mana bayi mungilmu?

JEKO 2: (Berdiri di belakang kursi tempat duduk JEKO 3) Kubiakkan di kamar mandi! Disana ia belajar bicara, desahan dan tangisan.

JEKO 1: (Hape berdering) Halo!… Kaukah gadis itu, gadis bertatapan kosong? Pandangan mata yang menyesatkan?

JEKO 3: (Terus memencet hapenya, sesaat dikuping, sesaat lagi di mulutnya)… Halo.. Halo… kaukah gadis pesta itu?.. (tampak kecewa, memandangi hapenya). Halo…

JEKO 2: (Mengeluarkan hapenya dari kantong celana) Ya hallo disini JEKO! Iya betul! Saya JEKO yang itu… Oh… Haaa… O bukan!.. Bukan yang itu, itu JEKO yang anu… Iya! Iya pelukis… Iya… Dia yang suka mandi… Bukan.. Bukan.. Nah… Itu… (mematikan hape) wong edan!

JEKO 3: (hape berdering)  Hallo, iya betul!.. oh begitu, Anda siapa?.. Kawan lama?.. Namamu siapa?.. Ah, saya gak merasa kenal dengan nama itu. Emm… Situ mau nipu ya? Saya kok mau ditipu, situ waras! Ahahaha su.. su.. (sambil mematikan hape).

JEKO 3: (Melempar hape, meringis sambil mengelus-elus perutnya kesakitan) Bayiku hendak lahir, tolong panggilkan perias bayi!

JEKO 4: (Masuk bersepeda kecil warna merah. Sambil membunyikan sirine dari mulutnya. Berkeliling)

ADEGAN IV

JEKO 4: (Terus berkeliling bersepeda dan membunyikan sirine mulutnya)

JEKO 2: (Kalang kabut, berperan sebagai bidan) “Tarik nafas… Ya… Ya bagus… Terus… Tarik nafas… Tahan…. Sekali lagi ejan yang kuat… Iiiiiii yak!…

JEKO 3: (Terus mengejan)

JEKO 2: (Menarik kaki JEKO 1) Nah bayimu lahir!

JEKO 2: (Kelelahan duduk lunglai)

JEKO 1: Aku hendak menjadi penyair! Penyair yang kecil saja, yang sibuk merangkai kata dan kata. Kata – kata yang nantinya menjelma istana. Buat ibu dan bapakku yang sarungnya berkibar selalu. Nanti biar aku yang mewarisi sarung itu, sarung itu warisan special untuk mengandangkan Bona si Gajah kecil yang berbelalai panjang.

JEKO 2: (Kaget dan berdiri) Jangan, jangan jadi penyair! Dalam sastra tak beredar uang, sastra hanya membuat tubuhmu telanjang!

JEKO 4: (Terus bersepeda) Jadi penyair itu hebat bu!… Paling tidak anakmu akan menjadi terkenal!

JEKO 2: Tidak, jangan jadi penyair. Penyair gak bisa kaya!

JEKO 3: (Menyetop  JEKO 4) Biarkan saja ia jadi penyair, Bu! Karna kata-kata tak bisa dikorupsi! (Pada JEKO 4) Boleh ngojek?..

JEKO 2: Tidak jangan, nanti kau terjebak dalam kata-kata!

JEKO 4: Kemana?….

JEKO 3: Kesana, diatas bukit, kampung halaman. Berapa?

JEKO 4: Entah..

JEKO 3: Ayolah… Ya… Mau ya.. Please deh ah!.. Ini sudah malam tak ada kendaraan yang mau mengantarkanku kesana!

JEKO 4: Mahal! (wajahnya ragu dan agak ketakutan)

JEKO 3: Oke! Kubayar! (naik diboncengan, dengan khawatir dan ketakutan)

JEKO 4: (Masih diam, bersedekap dada, memandang kedepan saja)

JEKO 3: Ayolah, kubayar mahal, plus celana (menunjuk celana yang dipakainya) Oke ya!.. mau…

JEKO 4: Bayar mahal, plus celana dan buatkan aku puisi!

JEKO 3: Iyesssss…. Deal…..

JEKO 3 dan 4: (Berboncengan)

JEKO 1: Mungkin nanti aku hanya jadi tikus, tikus yang terus mencericit di panggung sastra! Mencuri ide kata, menyulam kata, mematung kata, melukis kata, berdansa kata – kata!

JEKO 2: (Mendekati JEKO 1) “Jangan! Jangan jadi tikus, jadi kucing saja!… Paling tidak kau tak akan terjebak atau dijebak! Kucing itu hebat, dia suka mandi, wangi dan bisa jadi hewan kesayangan yang manja.

JEKO 4: (Berhenti bersepeda, melepas sembarangan sepedanya, mendekat ke JEKO 1 dan JEKO 2) Saya kira jadi kucing baik juga. Kucing ungu yang lucu, berbulu lebat dan halus…. Miauuuu…. (bergaya kucing) kucing… Ya macam pemain bola, kucing sangat pandai bermain bola, mengejar kesana kemari, bola tak akan lepas dari terkaman kakinya. Kau baiknya jadi pemain bola saja dan bermainlah seperti kucing, masuk timnas dan mengharumkan nama Negara. Dan jika kau main seperti kucing mungkin kau bisa bermain di Barcelona!

JEKO 3: (Mendekati tig JEKO lainnnya) Nah…

JEKO 1: Ah… Boleh juga!….Tapi tetap aku akan jadi penyair. Penyair yang sambil main bola!

JEKO 2: Jadi pemain bola saja!

JEKO 1: Penyair hobby bola!

JEKO 4: Jadi sopir saja bung! Supir ambulan!

JEKO 3: Jadi sopir becak saja!

JEKO 1: Sopir kata-kata!

JEKO 2: Ah… Itu penyair juga!

ADEGAN V

JEKO 1 dan JEKO 2 berkelahi. Bak pesilat yang sedang berhadap-hadapan.

JEKO 1: Ayo sini maju kalau berani!

JEKO 2: Kamu yang sini kalau berani!

JEKO 1: Kau yang kesini, ini. (Menunjuk pipi).

JEKO 2: Kau…. (Memanggil dengan tangan). Ini… (Menunjuk ulu hati)

JEKO 3: Ini ibumu! (Menaruh segumpal kertas, lalu menunjuk JEKO 1, lalu menoleh ke JEKO 2) kalau kau berani, injak ini!

JEKO 2: (Menginjak gumpalan kertas yang dimaksud. Dan lalu mengepalkan kedua tinju ke udara)

JEKO 4: Ini bapakmu! (Menunjuk JEKO 2, lalu menoleh ke JEKO 1). Jika kau berani, tendang ini!

JEKO 1: Ragu- ragu.

JEKO 4: “Pengecut lu.. Laki.. (Menunjukkan kepalnya)

JEKO 1: Mendekat ke gumpalan kertas dengan waspada.”Ciyat… Ciyat! Menendang-nendang kertas yang dimaksud, lalu berlari-lari bak merayakan gol!

JEKO 3: Ke JEKO 4. “Apa cita-citamu?

JEKO 4: “Ingin jadi kenangan!

JEKO 3: “Goblok! Cita-cita itu harusnya jadi… Presiden!

JEKO 4: Meninju JEKO 3. “Ssssttt…. Jangan itu 2 kali gobloknya!… Masih ada Om Tardji yang menjabat presiden!

JEKO 3: Aduh! Kenapa kau tinju aku!

JEKO 1: Itu adalah bogem apem, bair kau belajar mingkem, supaya tak dapat durjana cangkem!

JEKO 4: Ya! Itu bogem! Hahaha.

JEKO 2: Ah… Tenang saja, minum saja obat anti ini dan anti itu, beressss!

JEKO 4: Jika kau hendak jadi presiden, kau harus bikin teori puisi sendiri, minimal seperti penyair paling terkini. Hah… Hah… Hah.. Hahaha…

JEKO 3: Jadi menteri saja! Menteri kata-kata. Biar ada penghubung dan penjelas antara presiden dan warga negara.

JEKO 4 : Kredo sarung dan celana, cukup menjadi legitimasi tesis ilmiah kata-kata.

JEKO 3 : Kredo bogem cangkem pengincar Nobel! Ngahahaha..

JEKO 2 : Ibu! Maafkan aku. Aku tetap memilih menjadi penyair dan bekerja sebagai sampinganku.

 

ADEGAN VI

Mereka duduk mengelilingi meja.

JEKO 1 : (Menyalakan korek kayu, membiarkannya sampai habis) Berpuluh tahun mengarung, dari sarung ke sarung. Masih belum ketemu juga apa sesungguhnya selembar layar yang berkibar yang di jahitannya setetes darah ibu mengering.

JEKO 2 : (Menyalakan korek pemantiknya, beberapa saat lalu meniupnya).Berpuluh tahun berkelana dari celana ke celana! Menebak si Bona kalau besar nanti akan jadi apa? Apakah iya jadi Donald Bebek atau Bobo kelinci? Atau ia menjelma Penyair dunia.

JEKO 3: (Menyalakan lilin dengan zippo, lalu ia memainkan buka tutup zipponya) Berpuluh tahun mengembara dari kulkas ke bola. Dari Huesca ke Barcalona. Terdampar di Jogja, memunguti kata-kata, mencari ucapan yang paling mapan agar bisa kusisipkan ke kuping kalian.

JEKO 4: (Memainkan rokoknya yang tak disulut juga. Dipatah-patahkannya rokoknya kemudian ia ambil lagi dari dalam kotak). Berpuluh tahun berjalan-jalan dari kucing, tikus dan entah burung apa yang selalu menyanyikan lagu sunyinya di pucuk sawo yang rindang, Menunggu Ratu Nirmala dan tongkat ajaibnya. Biar nanti bisa disihir jadi Chairil.

JEKO 1: Berpuluh tahun eksodus dari koran ke Koran! Menjejak peta cinta di tubuh ibu yang menjelma ke mulus tubuhmu, mengejar harta karun yang paling anggun, kesumat yang paling nikmat, wasiat terbejat.

JEKO 2:  Berpuluh tahun berlari dari kamus-kekamus!kucari kata tembuni. Ia dikubur dikamus ini, kamus kamar mandi sunyi bercahayakan kerlip bintang dan lilin sebatang dengan sumbu diujung terbawah! Kalau lagi beruntung, kau bisa bermandi cahaya bulan.

JEKO 3: Berpuluh tahun berlayar dari buku kebuku!aku kembali kebukit ini, kampung kelahiran, dimana kawan kecil pun akhirnya pulang membangun rumah idaman.

JEKO 4: Berpuluh tahun menyusun kata-kata, inilah persembahan rumah sederhana kata-kata. 1×2 saja.

JEKO 3:  Yuk mari kita ngopi! Sebelum dijemput ambulan menuju k bulan bermain dengan bintang-bintang. Lalu mendiami rumah idaman.

JEKO 2: Kemana kita naik ambulan?

JEKO 1:  Aku hendak ke rumah sakit bersalin!

JEKO 3: Istrimu melahirkan?

JEKO 1: (Menggeleng) Aku yang hendak dilahirkan!

 

 

TAMAT

Catatan : Lakon eksperimental ini, masih banyak peluang untuk dikembangkan, disetiap adegannya. Sutradara dan aktor akan bebas berimajinasi tentang sang penyair.


Muhammad Sadli adalah penulis lakon, sutradara semasa kuliah. Kini menggerakkan komunitas kreatif MACAN DAHAN, di Sei Raden, Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara, Kaltim, desa kelahirannya, sambil memelihara ayam.

Iklan