Lima Fatwa Sutardji: Puncak Penyair

Sikap terhadap kata, ikhtiar pencarian, dan kreativitas yang dimungkinkan dari sikap itu adalah pelajaran penting dari “Kredo” Sutardji Calzoum Bachri yang termasyhur itu. Orang banyak yang hanya terpesona pada isi kredo itu, baik si pemuja maupun si pembantah atas kredo itu. Lima pasal berikut dirumuskan dari “Kredo” dan “Pengantar Kapak”-nya. Saya hanya memberi penjelasan sebisanya.

Pasal 1.

Penyair harus berupaya mengolah kata-kata atau merumuskan sikapnya terhadap kata agar kreativitas dimungkinkan.

Penjelasan: Inilah yang disebut kredo. Kredo dirumuskan bukan untuk sekadar menunjukkan beda gaya atau sekadar ingin menunjukkan bahwa si penyair adalah orang yang paling tahu sajak-sajaknya. Kredo dirumuskan dengan dua tujuan: kedalam agar si penyair memungkinkan menyajak dengan kreatif dan keluar agar terbuka gerbang pemahaman atas karya-karyanya.

Pasal 2.

Menyair adalah suatu pekerjaan yang serius, namun penyair tidak harus menyair sampai mati. Dia boleh meninggalkan kepenyairannya kapan saja.

Penjelasan: Ini adalah sikap tegas. Daripada kita tidak bisa menyair dengan serius, atau bertekad mempertahankan sebutan penyair sampai mati padahal tak bisa menghasilkan karya yang bagus lagi, lebih baik kita tinggalkan saja kepenyairan kita.

Pasal 3.

Ketika menulis sajak, penyair harus dengan sunguh-sungguh mencari agar menemukan bahasanya sendiri.

Penjelasan: Inilah keseriusan itu. Bukan penemuan bahasa yang utama tapi usaha untuk mencari dan menemukan bahasa itulah yang terpenting. Tiap pencarian tidak akan sia-sia. Bila tidak menemkan, kita pasti akan bisa menciptakan bahasa sendiri.

Pasal 4.

Penyair harus terus berusaha mencapai puncak kepenyairan baru, setelah ia mencapai satu puncak kepenyairan.

Penjelasan: Inilah hakikat pencarian itu. Apakah yang sudah kita temukan harus kita anggap selesai sampai di situ. Kita harus mencari lagi hal-hal baru lainnya. Tak pernah berhenti.

Pasal 5.

Yang tidak menemukan bahasa tak akan pernah disebut penyair.

Penjelasan: Tapi pentingkah mendengar orang menyebut kita sebagai penyair? Sekali lagi yang penting adalah pencarian yang terus-menerus, dan penemuan yang tidak memenjarakan kita untuk terus melakukan pencarian baru.

 

* Disarikan dari “Kredo” dan “Pengantar Kapak” dalam buku “O Amuk Kapak” Sutardji Calzoum Bachri, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, Cetakan Pertama, 1981.

Iklan