Mardi Luhung – Kapal Selam

Mardi Luhung

Kapal Selam
di depan wonny

Dua menara. Yang satu menjulang. Satunya lagi masih
setengah jadi. Dikurung cetakan yang mirip ramraman.
Atau kandang besi bagi ular besar yang membeku dan
Menegak ke atas. Seperti ingin menyentuh awan di angkasa.

Lalu di bawahnya rumah ibadah. Rumah ibadah lenggang
Jam 9 pagi. Dan di depan rumah ibadah orang-orang begitu
bergegas. Seperti ada yang diarah. Padahal, Cuma
berputaran. Dan sorenya balik lagi ke rumah. Rumah
dengan keluarga yang melambai.

Apa kau masih menatap rumah ibadah itu? Ahai, lampu-
lampu yang dipadamkan. Kabel-kabel yang dibentang. Apa
kau juga masih membayangkan, jika seluruh tanah yang kita
pijak ini bukanlah daratan? Daratan keras dengan rumput
dan pohon?

Lalu, lihat air mancur di kejauhan. Air-mancur yang
sesekali macet. Air-mancur dengan kolam yang keruh. Dan
penuh berudu. Di sanalah pernah kita bicarakan:
“Seandainya, dulu di zaman-air kita dilahirkan, pastilah
tidak begini.”

Tapi punya sirip, ekor, insang dan sedikit sisik yang licin.
Sisik yang warnanya gampang dipilih. Juga dua bola mata yang
leluasa melihat, betapa rumah ibadah itu dan semua
perabotannya akan melayang. Melayang dengan luwes.

Melayang di kedalaman aor yang biru. Melayang seperti
Kapal selam yang bertenaga ricik dan debar. Kapal selam
yang persis di jantungnya, ada kulit tipis menyala yang
tembus pandang. Kulit tipis yang lebih mirip tirai daripada
sekat.

Kulit tipis yang membuat siapa saja dapat keluar-masuk.
Dengan penuh keriangan. Dan selaan: “Inilah zaman-air.
Zaman, di mana kita bisa mengalir dan menghilir ke mana
saja. Dan beribadah pada-Nya, yang juga mengalir dan
menghilir ke mana saja itu.”

(Gresik, 2012)

Iklan