Mardi Luhung – Sedap Malam

Mardi Luhung
Sedap Malam

Semalam aku bermimpi memakan sekantung manisan.
Paginya aku benar-benar memakannya dengan lahap dan
hati-hati. Semalam yang lain aku bermimpi pergi ke pasar.
Paginya aku berdesakan di los kecambah dan bawang. Dan
semalam yang lain lagi aku bermimpi mendaki bukit. Paginya
aku melepas penat di antara cemara dan tanda untuk terus
mendaki. Dan semalam, semalam yang lain lagi aku
bermimpi yang lain dan lainnya. Dan paginya semua itu aku
alamai. Memang begitu banyak mimpiku. Begitu banyak yang
terjadi. Semuanya saling terbuka dan terbentang. Dan
semuanya seperti kawan sejalan. Ada yang setia. Ada yang
jauh. Dan ada yang diam-diam membuntut. Tapi seketika
segera menyerimpung ketika ada tempat. Seperti kisah si
pecinta yang menyerimpungi yang dicintai sampai tiga kali.
Padahal sebelumnya berkata: “Aku ingin bersamamu ke
mana saja. Seperti asap yang mengikuti api. Atau api yang
mengikuti minyak.” Semalam, ya semalam aku bermimpi
lagi. Dan kali ini, mimpiku itu juga bermimpi dan bermimpi.
Dan di dalam mimpi-mimpinya mimpiku itu, aku mendengar
sebaris bisik: “Izinkanlah kami terus bermimpi. Sebab di luar
semuanya, kami telah mencucuk kedua mata kami, agar tak
lagi terbangun.”

(Gresik, 2013)

Iklan