Mashuri – Ruang Tamu Peristiwa

Mashuri
Ruang Tamu Peristiwa

lelaki itu mencukur rambut kemaluannya di televisi
di ruang tamuku, handuk dan sikat gigi di meja
aku hendak berangkat kerja
aku teringat pada jeda, kisah bunda mengantarku
meneguk mimpi ketiga, tentang peri yang terperangkap
lalu ditelanjangi beramai-ramai
oleh bibir perempuan yang menidurkan anak-anaknya
tapi tak ada bidadari dalam memoriku, juga memori
anak-anakku, pun tak ada keajaiban karena keajaiban
hanya milik peri yang menghuni kisah-kisah pengantar tidur
ketika aku angkat telepon, nenekku segera dikubur
terwarta: ada pentol bakso nyangkut di tenggorokannya
yang menyudahi tugas jantungnya selama 100 tahun
aku teringat pada labirin dongeng 1001 malam itu,
jalannya berliku dengan pusat-darah dicatat berbuku-buku
cerita berbingkai itu membingkai hidupku —sampai aku bisa
onani sendiri dengan pasta gigi
lalu bisa melupakan peri dan cerita parsi itu
tapi lelaki itu tak juga berhenti mencukur di ruang tamuku
setelah rambut kemaluan, ia mencukur rambut ketiak, cambang,
kumis dan rambutnya sendiri; setelah ia sempurna dari evolusi
—ia kemudian mencukur rambut anak-anakku,
istriku, juga rambutku —aku pun membebaskan tubuhku dari bulu
aku lalu bertanya pada istriku yang gundul: ‘masihkah peri itu
tinggal di ranjang kita, agar anak-anak kita segera tidur
sebelum kita sadar bahwa di antara kita tak menghuni ruang
yang sama, kita telah sama-sama mengungsi dari rumah, terusir
dari ruang tamu kita yang berjejalan peristiwa’

Surabaya, 2008

Iklan