Matlamat dan Manfaat “Kekejaman” Sutardji

Oleh Hasan Aspahani

Sutardji Calzoum Bachri adalah penyair yang banyak dikagumi dan sekaligus disalahpahami. Disegani juga ditakuti. Kekagumam dan salah paham padanya bisa berasal dari sumber yang sama, yaitu orang tak membaca dia secara utuh. Orang tidak membaca sajak-sajaknya dengan tunak, dan terlebih lagi esei-eseinya yang tersebar di sejumlah majalah dan surat kabar.

Dalam hal yang terakhir, terlebih dahulu kita harus mengucapkan terima kasih dan tahniah kepada Penerbit Indonesiatera yang telah mengumpulkan dan menerbitkan buku kumpulan esei Sutardji ini. Dengan demikian, maka pemikiran-pemikirannya yang menggedor dan pada beberapa hal bisa dianggap meletakkan pijakan bagi kepenyairan di Indonesia bisa mudah dibaca dalam satu buku.

Contoh kekurangpahaman itu misalnya terjadi atas kredonya yang masyhur itu. Kebanyakan orang membaca kredo itu sepenggal-sepenggal untuk menguji atau bahkan mengadili Sutardji. Kebanyakan orang menyimpulkan kredo itu ke dalam satu ihwal: Sutardji ingin membebaskan kata dari penjara kamus! Maka, ketika dia tak lagi menulis sajak-sajak yang taat pada kredonya, orang lantas bilang Sutardji telah gagal membebaskan kata, ia pun dianggap tergoda untuk berkomunikasi. Ia dianggap juga ikut membebankan makna kepada kata.

Dalam buku 506 halaman ini, Kredo Puisi ini diletakkan di urutan pertama pada penggalan pertama. Kredo itu ditulis pada tahun 1973, sebagai pengantar untuk sajak-sajak di buku “O” yang ia tulis sepanjang 1966-1973. Ia menuliskan kredo karena orang kepayahan memahami sajak-sajaknya itu. Kumpulan sajak “Amuk” ditulis kemudian, di sepanjang tahun 1973-1976. Untuk kumpulan sajak-sajak berikutnya yaitu “Kapak” (1976-1979), Tardji menulis lagi “Pengantar Kapak” (1979) yang saya pandang sebagai kredo untuk sajak-sajak “Kapak”.

Dua kredo itu ditulis di akhir masa penulisan atau periode kepenulisan sajak-sajaknya. Kredo ditulis atau dirumuskan setelah ia menganggap ekplorasi pada suatu hal selesai. Tak ada kredo khusus untuk kumpulan “Amuk”. Pilihan kita sebagai pembaca adalah menggolongkannya saja ke kumpulan “O” dengan kredo yang terkenal itu, atau melepaskannya saja mandiri tanpa kredo. Sebab, amat tidak mungkinlah kalau dimasukkan ke “Kapak”. Saya memilih membaca “Amuk” tanpa petunjuk apa-apa.

Peneliti dan pengamat sastra Indonesia yang tunak A. Teeuw ada menulis buku telaah “Tergantung pada Kata” (Pustaka Jaya, 1980). Itu buku berisi telaah dan kajian rinci atas sepuluh puisi karya sepuluh penyair Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri ada dalam buku itu. Teeuw mengulas penggalan sajak “Amuk”. Lepas dari banyak hal yang bisa dipetik jadi pelajaran berharga dalam ulasan Teeuw, saya kira ia termasuk kalangan yang terpesona — atau terjebak? — dengan kredo Sutardji. Ia mengulas sajak Tardji dari “Amuk” itu, bahkan dari alinea pertama ulasannya, dengan mengacu pada kredo itu.

Sutardji sangat menyadari posisinya di tempat yang sering disalahmengerti itu, dan pencapaiannya yang bagi sebagian orang terlampau-lampau itu. Dalam “Ihwal Personal”, satu tulisan yang di buku ini yang diminta dibaca lebih dahulu, karena diletakkan mengawali seluruh kelompok penggalan-penggalan lain, ia menulis bahwa suatu karya yang sangat di luar konvensi cenderung bisa membunuh kritikus yang mapan konvensional, namun akan cenderung pula menciptakan kritikus baru.

Teeuw barangkali amat berpegang pada konvensi. Maka, ulasannya atas berakhir pada kesimpulan yang ragu-ragu. Teeuw menyerahkan pada waktu. Teeuw tidak membuat kesimpulan yang yakin: Hanya waktu yang akan dapat membuktikan apakah Sutardji menjadi seorang perombak dan pembaharu yang pembaharuannya akan dicernakan oleh Bahasa Indonesia — ataukah dia hilang sebagai angin lalu, memberi kesegaran untuk sebentar, barangkali malahan akan mengadakan lingkungan epigon, tetapi yang nanti tidak ada bekasnya lagi.

Sebelum sampai pada kesimpulan yang tidak simpul itu ia menawarkan dua kemungkinan: kalau puisinya ternyata mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia, maka konvensi akan ditelan dan dicernakan oleh Bahasa Indonesia menadi unsur bahasa itu, atau puisinya hanya akan tinggal sebuah fashion sastra, gejala pinggiran yang dengan sendirinya akan menghilang.

Setelah 27 tahun berlalu, cukupkah waktu yang dicadangkan oleh Teeuw untuk memastikan manakah ramalan yang mewujud? Saya kira ramalan Teeuw menjadi tak relevan kini. Penyair seangkatan dan setelah Tardji tidak cukup percaya diri mengikuti jejaknya, atau sebaliknya mereka sadar Tardji telah membina puncaknya sendiri. Tak guna mengejar atau mencuil-cuil kaki gunung itu.

Sajak Sutardji juga bukan sekadar fashion, trend mode sesaat dalam sastra. Ia memang tidak hendak menjual atau menularkan suatu gaya. Ia hanya menunjukkan jenis dan potongan pakaiannya sendiri. Sejenis busana inggil. Ia tunjukkan bagaimana cara memakainya. Dan ia yakinkan bahwa pakaian itu pun boleh saja tidak dipakai sesekali.
Saya kira kesalahpahaman bisa dihindari dan manfaat bisa dipetik bila kita melihat kredo itu sebagai cara Sutardji memberi teladan pada penyair Indonesia bagaimana bersikap terhadap puisi dan kata. Tengoklah alinea kelima kredo puisinya: “Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.

Kalau diringkas, kata-kata dalam sajak Tardji ia bebaskan dari tiga hal: 1. belenggu kamus, 2. beban moral kata, 3. penjajahan gramatika. Jadi bukan hanya kamus. Dan yang terpenting adalah, apa tujuan dari upaya pembebasan itu. Apa itu? Bila kata telah dibebaskan maka kreativitas dimungkinkan. Nah, inilah intinya, yaitu bagaimana penyair bersikap terhadap kata dan sikap itu kemudian memungkinkan kreativitas pesajakannya. Inilah matlamat penting dari kredo itu.

Buku ini terdiri atas empat penggalan. Pertama penggalan Tardji tentang Tardji berisi 11 tulisan. Kedua, penggalan Tardji Mengaji Puisi berisi (34 tulisan), lalu penggalan Tardji, Sastra, Seni dan Budaya (33 tulisan), dan penggalan terakhir Tardji Mencatat Nama (29 tulisan).

Sutan Takdir Alisyahbana pernah mengatakan karya Sutardji sebagai sesuatu yang main-main dan karenanya bukan sajak. Bagi penyair manapun ini adalah tudingan yang amat menyakitkan.

Ini digunakan oleh Nirwan Dewanto menghantam Sutardji berkaitan dengan wawancaranya yang bicara soal trend “puisi gelap” dalam satu kurun waktu persajakan 1980-1990 (“Trend Puisi Mutakhir: Sajak Gelap”, hal 163). Debat pun tersulut. Sutardji lantas menulis esei menjawab pendebatnya (“Puisi Muncul dan Penyairnya Mati – Polemik Puisi Gelap: Sekilas Jawaban”, halaman 168).

Terhadap hantaman Takdir, Sutardji justru membalas dengan positif. Tulisnya, “Pendapat Takdir terhadap puisi saya itu dilandaskan pada kejujurannya dan tanpa bias, suatu sikap positif yang dia peroleh dari pergaulan intenasionalnya, dan bukan dengan niat menekan generasi di bawahnya.” Tangkisan ini perlu dikemukan Sutardji sebab ia dalam esei-eseinya di buku ini menunjukkan betapa dia adalah juga seorang kritikus dan penganalisa sajak yang tajam. “Dan kejam,” kata orang yang kena kritik. “Kritik yang menyerang,” kata Afrizal Malna. Ia misalnya mengulas dengan teliti sajak-sajak Budiman S Hartoyo dan akhirnya menyimpulkannya sebagai sajak-sajak yang membuat dia mengantuk dan tertidur (halaman 187).

Sutardji saya kira tidak asal kejam. Sebab dia ingatkan bahwa dunia persajakan memang keras dan kejam (“Tentang Sikap Kepenyairan”, halaman 145). Ada matlamat dari sikap kerasnya itu, dan tentu juga ada manfaat besar bisa dipetik dari sana. Saya kira dia adalah motivator hebat. Ia misalnya, bisa dilihat di buku ini, memberi contoh bagaimana menjadi Popeye yang kuat dengan banyak makan bayam, tanpa menjadi sekedar bayam (“Aku Tak Mau menjadi Bayam, Kata Popeye”, halaman 70). Ia adalah pengagum Chairil, ia ambil pelajaran dari sajak-sajak penyair itu, tanpa merebakkan aroma Chairil sedikit pun dalam sajaknya. Sehingga kritikus Dami N Toda sampai pada kesimpulan terkenal soal mata kanan dan mata kiri itu.

Saya kira ada dua pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan menyusul buku ini. Pertama, lekas kumpulkan tulisan-tulisan perdebatan yang dipicu atau melibatkan Sutardji. Kedua, tak kalah penting adalah menerbitkan rekaman pembacaan puisi-puisinya. Keduanya saya kira sama-sama memberi manfaat besar bagi kesemarakan dan kekuatan perpuisian di Indonesia.

Bila ada yang mencemaskan bahwa persajakan Indonesia tidak pernah dibangun di atas pondasi yang kukuh, maka menurut saya sesungguhnya, pondasi itu sebagian besar telah dibina oleh Sutardji. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar puisi dan sikap kepenyairan telah ia beri jawaban dalam esei-eseinya di buku ini – atau setidaknya ia tunjukkan dimana jawaban itu berada – dan sebagian besar lagi ia beri contoh dengan apa yang telah ia perbuat.

 

* Hasan Aspahani, penyair dan wartawan

https://lokomoteks.files.wordpress.com/2018/04/b30d8-img01485-20140527-0901.jpg?w=748

Judul Buku: Isyarat
Pengarang: Sutardji Calzoum Bachri
Penerbit: Indonesiatera, Yogyakarta, Juli 2007
Tebal Buku: 506 halaman

Iklan