Mengimani Sepakbola dan Ibadah Puisi ala Jokpin

Oleh Arco Transept

KEGAGALAN Barcelona untuk lolos ke semifinal Liga Champions Eropa usai kalah agregat 0-3 dari Juventus di babak perempat final membuat saya teringat dengan tema LOKOMOTEKS edisi 2/ Mei 2017 ini: Menafsir Joko Pinurbo. Kalau bertemu lagi dengan Jokpin, saya ingin tahu perasaanya atas kejutan dari kekalahan Barcelona dan diterbitkan-ulangnya buku “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” yang sama-sama terjadi di bulan April ini?

“Saya tak pernah bercita-cita menjadi penyair. Cita-cita saya adalah menjadi puisi yang tak dikenal siapa penulisnya” – Joko Pinurbo

Sajak pendek yang ditulisnya pada 5 Juni 2012 di akun @jokopinurbo ini membuat saya hening dan duduk tenang dalam pikiran. Tidak ada kata-kata yang bisa saya ucapkan ketika berada di hadapan seorang Jokpin, penyair yang sajak-sajaknya mulai saya baca sekitar tahun 2010 di sebuah surat kabar yang memuat puisi-puisinya. Selain itu, saya membaca sajak-sajak pendeknya di media sosial Twitter.

Beberapa sajak pendek yang ditulis Jokpin dalam 140 karakter sempat viral di sosial media ini berkali-kali mengentak-entak benak saya. Jokpin yang memiliki nama lengkap Joko Pinurbo adalah penyair kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat ini pernah menerbitkan bukunya yang diberi judul “Baju Bulan”, tapi sebelum ini Jokpin menerbitkan kumpulan puitwitnya dengan nama “Haduh, Aku Di-follow” di awal tahun 2013 sebelum Baju Bulan terbit. Sepilihan sajak yang ditulis Jokpin di “Baju Bulan” ini membuat saya menemukan sebuah keasyikan seorang penyair kelahiran 11 Mei 1962 memoles kata yang biasa kita gunakan sehari-hari dengan muda dan balutan humor yang menjadi sarat makna. Mulai saat itu saya mulai memburu karya-karya Jokpin lainnya.

Setelah Nanang Suryadi, penyair asal Malang ini menjebloskan saya di kalimat “cintai dulu puisi itu”, saya tergerak melanjutkan kembali kegemaran saya menuliskan sepi-sepi puisi. Sampai akhirnya saya menemukan “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono dan buku “Luka Mata” karya Hasan Aspahani yang menjadikan saya seorang penyelam yang terus tenggelam mencari palung rupa puisi yang asing dan dalam. Saya tidak melupakan Jokpin dan sajak-sajaknya yang membuat saya terombang-ambing dalam bunyi dan makna sajaknya.

Begitu saya menganggap peran keempat penyair ini sangat besar dalam proses pencarian sajak-sajak yang saya tulis. Tidak disangka hasil kerja keras saya mencari dan menulis puisi dalam buku “Protokol Hujan” (Indiebook Corner, Yogyakarta, 2016) membuat saya menjadi salah satu peserta di Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia 2016 dan bisa bertatap muka untuk sungkem dengan Jokpin.

“Astaga, Aku Ketemu Jokpin”, dalam hati sewaktu berada di hotel Bidakara dalam Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia 2016 yang kemudian disingkat menjadi MUNSI 2016. Saya tidak tahu kalau Jokpin akan berada di sana. Saya lebih dulu berjanji untuk bertemu Hasan Aspahani, dan akhirnya beliaulah yang membuat saya bersalaman dengan penyair celana ini. Di lobi hotel itu saya seperti sedang mengumpulkan bubuk mesiu yang ingin meledakkan bahagia karena banyak sekali sastrawan tanah air berkumpul. Sambil menahan letupan-letupan bahagia itu akhirnya saya bisa menjabat tangan Jokpin, D Zawawi Imron, dan sastrawan lainnya.

“Ayo cari tempat ngopi,” kata Jokpin. Mendengar kata kopi lantas saya ingat dengan bukunya Surat Kopi. Akhirnya kami berempat; saya, Hasan Aspahani, Jokpin, dan Mutia Sukma menemukan tempat ngobrol. Sebuah cafe yang terkenal yang harganya tak mengenal kantong. Jokpin memesan kopi Mandheling, begitu juga saya. Kami memulai obrolan dari kegemaran Jokpin yang senang mencuri kata dari sobekan surat kabar lalu mengolahnya jadi puisi untuk menghindari writers block. Kita tahu Jokpin adalah penulis yang khusyuk dalam puisi-puisinya. Bagaimana tidak, Jokpin sudah menjadikan puisi ini sebuah kegemaran yang ditekuninya sejak di Sekolah Menengah Atas.

Di cafe itu Jokpin lebih senang diam menikmati segelas kopi dan rokok seolah-olah ia sedang membuang racun dari kemacetan ibukota. Dalam sesap kopinya, Jokpin seolah sedang ritual meresapi dan menangkap berbagai ide menulis dari tempat duduknya. Ya, sebenarnya tidak beda jauh dengan saya yang lebih banyak diam karena masih belum percaya kalau sedang duduk ngopi dengan seorang Joko Pinurbo. Logat jawanya membuat saya tidak asing lagi, karena saya sendiri pernah tinggal di Jogjakarta. Siang itu obrolan kami terpotong oleh jadwal dari MUNSI 2016 dan menyisakan rasa penasaran saya akan prosesnya dalam menulis puisi dalam buku Celana yang terbit di tahun 1999. Karena sejak saat itu Jokpin melekat dengan julukan Penyair Celana.

Malam hari usai jadwal MUNSI 2016, saya dan Jokpin janji untuk bertemu dengan Penyair Sepatu, Dedy Tri Riyadi yang puisinya sering nongkrong di berbagai surat kabar. Niat untuk cari warung kopi untuk ngobrol pun gagal karena di sekitar hotel tidak menemukan warung kopi yang buka. Jadi kami memilih untuk ngopi di cafe tadi siang. Malam itu Jokpin tidak cukup banyak diam karena siaran tv di kamar hotelnya tidak menayangkan pertandingan Liga Champion Eropa. Saya baru tahu jikalau penyair yang mendapat penghargaan di South East Asian (SEA) Write Award tahun 2014 ini gemar menonton sepakbola. Tim kesukaannya adalah Barcelona. Sepakbola baginya adalah hidup yang penuh kejutan, keriangan, dan ketekunan sama seperti puisi.

Jadi, saya menangkap sebuah pelajaran proses menulis puisi dari kegemaran Jokpin menonton pertandingan sepakbola, seperti ini:

1. KETEKUNAN.  Penyair harus menyadari jika puisi butuh ketekunan. Tekun di sini bukan setiap hari membuka kamus untuk mencari diksi-diksi yang asik. Tidak cukup dengan membaca buku puisi, tapi penyair juga harus mempelajari metode-metode tulisan dari penyair-penyair terdahulu. Dengan ketekunan ini kita akan menemukan peta dan proses kreatif menyair si penyair dalam puisi-puisinya untuk membuat kita menemukan daya ucap yang mutakhir.

2. KERIANGAN. Menyair adalah sebuah keriangan seorang penyair selama masa berkarya. Maksudnya adalah tidak menjadikan menulis puisi itu sebuah beban. Kalau menurut saya, justru jika ada beban akan lapang jika ditumpahkan ke dalam bentuk tulisan seperti puisi. Kita bisa melihat bagaimana Jokpin dengan riang menjadikan keresahan yang ada di sekitarnya menjadi puisi yang membalut komedi dan satir dalam bentuk puisi yang daya ucapnya sangat perlu ditaksir dan ditafsir.

3. KEJUTAN. Penyair adalah seorang manusia yang menyadari jika realitas hidup penuh dengan kejutan. Kejutan dalam hidup bisa merupa kebahagiaan dan kesedihan. Tidak terlalu terkejut dengan kebahagiaan, dan tidak pula larut dalam kejutan yang berupa kesedihan. Peran penyair di sini adalah bisa membuat kejutan dalam karya-karyanya. Dan jokpin sering melakukan kejutan dalam puisi-puisinya berupa tabrakan antara realitas dan absurditas dalam bentuk tragedi dan komedi dengan sepenuh hati. Malam itu saya juga bercerita pada Jokpin dan Dedy Tri Riyadi tentang metode menulis puisi yang sedang saya jalani tahun 2016 lalu untuk buku kedua saya yang segera terbit tahun ini, yaitu dengan menyinggahi tempat-tempat wisata di kota yang saya huni, anggap saja semacam wisata sastra. Berwisata sembari mempertahankan budaya menulis dan membaca.

Saya teringat obrolan dengan Hasan Aspahani saat bertemu di acara Penghargaan Hari Puisi Indonesia 2016 sebelum kami bertemu lagi di MUNSI 2016. “Bayangkan jika Indonesia seperti sebuah benua yang tiap provinsinya adalah negara-negara. Seperti Eropa misalnya, Prancis punya Baudelaire dan Rimbaud, Inggris punya Shakespeare dan T.S. Eliot, dan Jerman punya Goethe dan Rainer Maria Rilke.”

Beberapa bulan lalu saya berbincang sedikit dengan Jokpin di Whatsapp tentang buku “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” yang akan terbit ulang. Lalu dia berpesan, “Buku yang lama hadiahkan saja buat teman, kamu beli yang baru.”

Semoga kita bisa ngopi lagi sambil terus mengimani ibadah puisi, Jokpin….

Palembang, 21 April 2017

Iklan