Ngiau!

Suatu gang panjang menuju lumpur dan terang tubuhku mengapa panjang. Seekor kucing menjinjit tikus yang menggelepar tengkuknya. Seorang perempuan dan seorang lelaki bergigitan. Yang mana kucing yang mana tikusnya? (Ngiau, Sutardji Calzoum Bachri, dalam kumpulan sajak O, 1973)

Dengan aba-aba: Ngiau, maka berangkatlah gerbong pertama LOKOMOTEKS!  Ya, inilah edisi perdana majalah sastra bulanan yang kami gerakkan untuk “menggerakkan sastra Indonesia”.

Mungkin, inilah majalah sastra pertama di Indonesia dengan konsep seperti ini: tematik. Setiap bulan kami memilih dan mengumumkan tema tulisan yang akan kami muat.  Yang pertama atau tidak, sesungguhnya tidaklah penting benar.  Yang lebih menggembirakan kami adalah sambutan para penulis. Email kami kebanjiran naskah: terutama puisi dan cerpen.

Mereka yang mengirim pun membesarkan hati kami, dari penyair senior hingga nama-nama yang benar-benar baru pertama kami baca.  Untuk itu kami mengucapkan, Ngiau! (baca: terima kasih yang sebesar-besarnya).

Kenapa kucing? Sebagaimana sampul poster yang kami umumkan untuk mengundang penulis, kami terinspirasi sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri dan T.S. Eliot. Eliot menulis satu buku dengan tema kucing:  “Old Possum’s Book of Practical Cats”.  Sebenarnya dengan penyebutan itu ingin omong: hei, sebelum menulis dan kirim ke kami, baca itu, dong!  Dari karya-karya yang kami terima, tampaknya isyarat itu tak tertangkap. Bahkan banyak yang mengirim karya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kucing.

Kami juga terinspirasi penyair besar kita: Sutardji Calzoum Bachri. Ada tiga sajaknya yang mengarap kucing dengan sangat intens: Ngiau (yang kami kutip di awal pengantar ini), Amuk, dan, Kucing.

Dalam sajak Ngiau, peristiwa kucing menggigit tikus dijukstaposisikan dengan perempuan dan lelaki bergigitan. Lantas dipertanyakan: yang mana kucing yang mana tikusnya? Dengan kata lain, penyair mengajukan renungan abadi dalam hubungan manusia berjenis kelamin perempuan dan lelaki: siapa korban dan siapa pemangsa? Begitulah senantiasa tugas penyair dengan puisinya, yakni mempertanyakan nilai-nilai lama, sumber kecemasan kuno, dengan simbol, metafora, imaji baru yang khas, yang segar.

Puisi-puisi seperti itu yang kami harapkan.  Puisi-puisi yang kami pilih, kira-kira membawa kami ke pembacaan yang seperti itu.

Menyadari pentingnya melongok ke luar, kami menerjemahkan beberapa sajak penyair luar. Tentu saja itu lebih afdol jika dibaca sambil membandingkan dengan sajak dalam bahasa aslinya. Kami tak mencantumkan tautan karena toh itu suatu hal yang mudah sekali ditemukan.

Kami juga memuat puisi-puisi karya penyair-penyair kita yang kami temukan di buku-buku mereka yang sudah terbit. Menemukan sajak-sajak bertema kucing yang ditulis penyair-penyair kita juga sebuah kejutan lain bagi kami. Pelajarannya adalah: tema kucing ini telah memukau penyair kita sejak lama, digarap dengan berbagai gaya ucap, dan memperlihatkan kematangan, keberagaman, dan pencapaian yang mengagumkan.

Salah satu sastrawan terkuat kita saat ini Triyanto Triwikromo mengirim cerita pendek.

Masinis Dedy Tri Riyadi yang hari itu pertama membuka email dan lantas ia kirim pesan di grup WA awak gerbong LOKOMOTEKS. Saya mula-mula tidak percaya, jangan-jangan itu hanya kebetulan saja namanya mirip. Nyatanya benar. Cerpennya bersama terjemahan atas Haruki Murakami oleh Dedy kami muat di gerbong cerpen.

Demikianlah, kami berangkatkan edisi perdana LOKOMOTEKS. Kami deg-degan tapi bahagia, kami senang tapi jelas kami tak puas. Rasanya banyak ide kami yang belum bisa kami wujudkan: misalnya menggarap, menyajikan, dan melepas versi PDF, di mana majalah ini bisa dibaca dalam bentuk dan rasa  cetak.

Sekali lagi terima kasih untuk semua penulis yang sudah kirim naskah, yang terangkut maupun yang tak terangkut bagi kami sama-sama membahagiakan dan menyemangati kami untuk bilang: Ngiau! (baca: berangkat!)  – HA

Iklan