Nur Wahida Idris – Ketugtug

Nur Wahida Idris
Ketugtug

ketugtug, kampung hulu
kudengar sumur-sumur mulai dangkal
dan gemerincing uang logam
jadi hiasan kalung bidak catur

kampung hulu, derak gerobak perempuan yang berjaga
bunda malam yang riang dalam rinai
mengelus embun dengan syahdu

kini kudengar lagi jerit yang menggeretak
akar bambu terbakar, sungai lenyap dalam semalam
kampung ditinggalkan buaiannya
yang hendak menyelam rindu
ke mana pergi?
jembatan rubuh
hawa angin bersisik peluh
apakah hujan hendak berkabar?

sementara aku di sini
menunggu gerak angin
memulihkan mainan kenangan
berlayar di lautan daun musim gugur
menghalau gigil perahuku
menggapai tepi

 

miri-sawit, 2000

Iklan