Pengantar Pemilihan Puisi Edisi Mei 2017

Diakui atau tidak diakui, kemunculan puisi-puisi Joko Pinurbo mengakibatkan keterpengaruhan atau paling tidak ketertarikan terhadap gaya ucap dan diksi-diksi yang ia gunakan dalam puisi-puisinya. Ketertarikan itu bisa diibaratkan seperti gulali, seperti yang diusung oleh Nanang Suryadi (dalam puisinya, Gulali itu Pinurbo) dan Cunong Nunuk Suradja (Mengemut Luka Suryadi di Gulali Pinurbo). Bahkan, secara terang-terangan, Erik Nusantara mengambil kata-kata yang ditulis oleh Joko Pinurbo, “Selamat menunaikan ibadah puisi,” ke dalam puisinya (Pidato Presiden Pak Joko).

Berbeda lagi dengan Agus R. Sarjono, yang ia lakukan adalah mengolah selop seperti halnya Joko Pinurbo mengolah celana. Jika tubuh merindukan celana, maka sepasang kaki pada puisi Dongeng Setengah Baya merindukan sepasang selop yang mengembara. Sementara itu, Agustinus Rangga Respati mengolah beberapa hal sebagaimana Joko Pinurbo mengolah aneka macam barang. Agustinus mengolah Puting Ibu yang mirip dengan Joko Pinurbo mengolah Tahi Lalat atau Kopi. Pada puisi “Pada Bulan Oktober,” Agustinus menulis, “Selamat hujan kemarau, semoga tidurmu basah.” Permainan personifikasi benda adalah apa yang mirip dengan Joko Pinurbo mengolah telepon genggam, kopi, atau batu, dan lain-lain. Kata makian, seperti “sialan” yang ditulis oleh Agustinus (Teras Hujan) juga seperti Joko Pinurbo menyelipkan kata “asu,” atau, “bangsat,” misalnya.  Sedang pada puisi “Sanjak Buku” karya Agustinus mempersonifikasikan buku.

Eko Ragil Ar-Rahman menggabungkan dua kata yang sering digunakan Joko Pinurbo yaitu “Ranjang” dan “Celana,” menjadi “Ranjang Celana” yang diolah sebagaimana Joko Pinurbo mengolah puisi-puisinya. Muhammad Daffa, lain lagi, ia mengolah dengan satire (Pasar Malam, Kitab Suci Bermimpi Buruk, Putaran Waktu), humor getir yang biasa digunakan oleh Joko Pinurbo. Tiga puisi Muhammad Daffa jelas-jelas mengambil imaji yang sering digunakan oleh Joko Pinurbo yaitu “Mata”,“Telepon”, dan “Celana” (Bermain di Matamu, Telepon, Celana Koyak).

Asu atau anjing, yang beberapa kali muncul di puisi-puisi Joko Pinurbo digarap kembali oleh Alexander R. Nainggolan meskipun dengan gaya yang sama sekali berbeda. Sementara puisi Penyadap Makna menggunakan ironitas yang kental dan ditujukan pada penyair Joko Pinurbo. Budhi Setyawan secara jelas menggunakan imaji “Celana” dan “Asu” dan mendedikasikan kedua puisinya itu kepada Joko Pinurbo. Sedangkan tiga puisinya yang lain mengambil gaya puisi-puisi twitter Joko Pinurbo dalam buku “Haduh! Aku Difollow.”

Puput Amiranti, dengan dua puisinya (Hikayat Piburbo, Joko) menunjukkan bahwa ia mengikuti perjalanan (baca: puisi-puisi) Joko Pinurbo. Karena itu ia bisa menuliskan bahwa “bapak tahu, apa itu artinya tua” karena banyak sekali puisi-puisi Joko Pinurbo menyinggung soal usia, tua, bahkan kematian (jenazah, mayat). Ditambah pada puisi Hikayat Pinurbo, misalnya, ia menulis juga “kibaran sarung.” Sedangkan di puisinya yang kedua (Joko) Puput Amiranti menulis, “engkau bikin lelucon,” yang menyoal gaya satire dalam puisi-puisi Joko Pinurbo.

Dua puisi bernuansa celana karya Maulidan Rahman Siregar yaitu “Celana” dan “Ada yang Diam dalam Celana” menunjukkan bahwa celana Joko Pinurbo memang punya keterpengaruhan besar. Namun demikian, Maulidan membawanya ke nuansa yang agak lebih riang dengan tetap memberi tekanan pada “celana” tersebut, sehingga muncul frasa yang agak banal seperti “jangan sebut puisi dulu, kita sedang membahas celana,..” tetapi justru terasa dalam ketika sampai pada pertanyaan,”celana, celana siapa sih yang ingin menggapai celanaMu tanpa pakai celana?” Sedangkan pada puisi Ada yang Diam dalam Celana, menempatkan celana sebagai sesuatu yang lebih besar dari semua peristiwa yang digambarkan pada puisi itu. Dan gong-nya, puisi itu ditutup dengan larik yang mirip dengan puisi Goenawan Mohamad yang menunjukkan bahwa Maulidan memang punya selera humor yang tinggi dalam menggarap puisi-puisinya.

“Jadi penyair harus rendah hati, buatlah karya yang bisa merengkuh pembaca, menyentuh pengalaman sehari-hari mereka, tanpa mengorbankan konten dan kualitas. Itu tantangan beratnya. Penyair bukan dewa bahasa.” Joko Pinurbo menyampaikan dengan hangat dalam dingin hujan yang mengguyur Kemang saat peluncuran buku Surat Kopi dan Bulu Matamu: Padang Ilalang. Dan sajak-sajak Galuh Puspita, penyair asal Banyumas yang kami pilih semuanya peristiwa sehari-hari, menggunakan bahasa figurtif yang wajar, tentu saja kabar baiknya akhir seluruh sajaknya selalu mengejutkan. Simak bagaimana penyair kita terusik dengan hal biasa dalam sajak Setelahnya, “Baru pernah kuperhatikan komputer kasir di dalam kafe ini.” Lalu berpengharapan yang nyaris sederhana dalam sajak Sekelumit Doa, “Aku ingin menjadi lengan yang pertama menimang gelisahmu sampai ia tertidur”. Pergolakan batin antara anak dan orang tua dalam sajak Irreversible , “Saat kecil aku gemar bermain jam pasir antik yang terpajang di sudut ruang tamu sambil menunggu ayah pulang dari kantor dan ibu terbangun dari sepinya dunia ranjang.” Menakzimi kisah silam dalam sajak Pada Akhirnya, “Dan kita terlampau asyik–masyuk dalam rotasi piringan hitam, larik ingatan yang terus diputar ulang hingga gramofon selesai dimainkan.” Membuat jeda yang cukup panjang di benak usai pembacaan semisal dalam sajak Takdir, ” Ia memanggilku ibu dan meminta segelas susu. Ia memanggilmu entah dan mundur beberapa langkah. Bukan. Bukan. Bukan. Katanya.” Memainkan simbol dalam sajak Firman, “Bukan waktu yang siput.” Berkelakar dengan diri sendiri dalam sajak Kepada: Kata-kata, “aku kehilangan kau seperti perempuan yang asing dengan meja rias bertanya-tanya mengapa ada enam lipstik dengan warna yang berbeda sementara wajahnya cuma punya satu bibir.” Mengkritik kehidupan masyarakat Indonesia dalam sajak Idul Fitri, “Ia lahir dari gerobak tukang sayur dari bibir ibu-ibu komplek ke tiap-tiap bibir pintu dan baru akan mati pada hari raya Idul Fitri”. Sajak-sajak Joko Pinurbo yang kental dengan spiritualitas sehari-hari telah ditaksir dan ditafsir dengan baik oleh penyair kita, Galuh Puspita asal Banyumas ini.

Iklan