Penghargaan Sepadan Agar Kritik Tumbuh Menggairahkan

Oleh Yusi Avianto Pareanom
(Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Periode 2016-2018)

DUA pekan sebelum hari terakhir penerimaan naskah Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2017, karya yang masuk baru berjumlah 20. Ini jelas bukan kabar baik karena penerimaan naskah sudah dibuka tiga beulan sebelumnya. Sepekan sesudahnya angkanya tak banyak bergerak sehingga sempat muncul usulan untuk memundurkan tenggat demi mendapatkan lebih banyak peserta. Namun, Komite Sastra akhirnya bersepakata bahwa bila demikian situasinya, kami harus berbesar hati dan selanjutnya memikirkan secara sungguh-sungguh bagaimana membuat penulisan kritik sastra di Tanah Air menjadi lebih bergairah. Beruntung, pada hari-hari terakhir naskah yang masuk meningkat signifikan sampai mencapai angka 93, hampir sama dengan jumlah naskah yang diterima tahun 2009. Jumlah naskah yang masuk tahun ini memang menurun dibandingkan jpenyelenggaraan tahun 2013 yang mencapai 106, tapi angkanya masih menerbitkan harapan.

Naskah yang masuk datang dari berbagai daerah di Indonesia. Rentang usia peserta pun sangat lebar, mulai dari belasan tahun sampai tujuh puluh tahun lebih. Sebagian besar naskah membahas karya penulis yang namanya dikenal luas, tapi tak kurang pula yang mengangkat karya yang karena satu dan lain alasan relatif kurang bergaung sehingga muncul pembahasan-pembahasan yang menarik.

Sayembara Kritik Sastra DKJ 2017 adalah kelanjutan kerja dari program serupa tahun-tahun sebelumnya. DKJ memulainya pada 2005 ketika menggelar Sayembara Kritik Seni untuk lima bidang: Sastra, Teater, Seni Rupa, Musik, Film, dan Tari.

Sayembara Kritik Sastra sendiri pertama kali diselenggarakan pada 2007 yang diikuti 64 peserta. Ajang ini diniatkan setiap dua tahun sekali, berselang-seling dengan Sayembara Novel DKJ. Hanya saja DKJ baru berhasil melakukannya empat kali yaitu pada 2007, 2009, 2013, dan 2017.

Karya-karya pemenang sudah kami bukukan dalam bentuk bunga rampai: Tamzil Zaman Citra (2007), Dari Zaman Citra ke Metafiksi (2009, gabungan tulisan pemenang tahun 2007 dan 2009), dan Memasak Nasi Goreng tanpa Nasi (2013).

Sayembara Kritik Sastra memunculkan nama-nama pemenang seperti Manneke Budiman, Arif Bagus Prasetyo, Katrin Bandel, Bandung Mawardi, Tia Setiadi, Bramantio, dan Martin Suryajaya yang sampai sekarang masih aktif menulis kritik sastra.

Dalam sejarah sastra di Indonesia, kritik berperan besar menumbuhkan percakapan-percakapan menarik dan penting, seperti seni untuk seni atau seni untuk masyarakat, orientasi ke Barat atau Timur, keuniversalan atau kenasionalan, realisme sosialis versus “Surat Kepercayaan Gelanggang”, metode kritik – khususnya tentang kritik Analitik versus Ganzheit di ujung periode 1960-an, dan masih banyak lagi.

Dibandingkan para penulis kritik pada masa lampau, para peminat penulisan kritik saat ini mempunyai akses yang lebih besar kepada karya-karya Tanah Air dan dunia serta referensi lain. Sepantasnyalah dari mereka muncul telaah yang tajam dan berkualitas yang pada gilirannya ikut memantik percakapan penting dalam kesusastraan Indonesia. Hanya saja, minat tak akan berkembang jika tak ada penghargaan yang sepadan.

Sayembara Kritik Sastra DKJ memberikan penghargaan, tapi jumlahnya tak bisa disebut luar biasa untuk sebuah kerja penulisan yang sungguh-sungguh. Penyelenggaraan dua tahunan (yang kadang juga bolong) juga masih jauh dari memadai. Semestinya, lomba kritik diadakan setidaknya satu tahun sekali dengan penghargaan yang lebih besar lagi agar minat penulis kritik masyarakat meningkat. Sayang, ada kendala klasik berupa pendanaan. Ke depan, DKJ harus memikirkan cara agar Sayembara Kritik Sastra hadir setiap tahun dalam bentuk idealnya.

Selain sayembara, salah satu cara yang DKJ lakukan untuk menumbuhkan penulis kritik baru adalah menggelar Kelas Penulisan Kritik Sastra. Kelas ini pertama kali diadakan pada 2016 dan DKJ rencananya menjadikannya kegiatan rutin. Kelas semacam ini semestinya hadir tak hanya di Jakarta.

Seperti kita tahu, pembaca sastra Indonesia cukup tiggi minatnya untuk menuliskan pengalaman mereka saat berhadapan dengan karya. Mereka mengekspresikannya di blog pribadi, situs berita, goodreads, dan media cetak. Minat tinggi ini tentu menggembirakan. Hanya saja, mayoritas tulisan yang muncul barulah sebatas kesan terhadap suatu karya, belum bisa digolongkan sebagai sebuah kritik. Jarang sekali muncul pembahasan seksama sebuah karya. Alasannya macam-macam, salah satunya keterbatasan ruang.

Situs khusus kritik sastra yang dikelola secara profesional bisa menghadirkan tulisan-tulisan panjang yang digarap serius yang tak tertampung di tempat lain. Pewadahan tulisan kritik di satu tempat juga bakal memudahkan pembaca mencari tulisan pembanding atau tulisan terkait untuk objek yang sama. Diskusi atau debat langsung yang melibatkan penulis-penulis yang berpolemik bisa menjadi kegiatan pembelajaran bersama yang menarik. Tentu saja, sebuah situs yang dikelola profesional membutuhkan dana yang pantas untuk operasional daring maupun luar daringnya.

Untuk menghasilkan tulisan yang bagus, kritikus mutlak melakukan penelitian yang komprehensif, dan penelitian selalu membutuhkan biaya. Hanya saja, sampai saat ini belum ada skema bantuan baik beasiswa maupun residensi khusus untuk penulisan kritik sastra. Seperti kita tahu, pemerintah menyediakan anggaran untuk residensi sejumlah penulis fiksi setiap tahunnya. Mengapa penulis kritik sastra tak berhak mendapatkan kesempatan yang sama jika proposal penulisannya penting untuk dunia sastra Indonesia?

Belasan tahun lalu, ajang Khatulistiwa Literary Award (yang sekarang sudah berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa) memberikan penghargaan tahunan untuk karya kritik terbaik yang sudah dibukukan. Sayang, pemberian untuk kategori ini tak berlanjut. Sekiranya penghargaan serupa dimunculkan lagi oleh para pemangku kepentingan, ini tentu bakal menjadi kabar yang menggembirakan.


 

Iklan