Penyair Sebagai Bendahara Sabda

KEPADA penyairlah sabda itu diserahkan untuk dipelihara. Sabda itu lebih padat daripada gagasan saja: sabda adalah gagasan yang telah mendarah dan mendaging. Karena jiwa dan badan itu terlebur menjadi satu keesaan, maka sabda adalah lebih daripada suatu hembusan napas yang hanya mengisyaratkan suatu gagasan. Isyarat itu hanya menunjukkan ke arah sesuatu yang lain: awas, nanti ada persimpangan jalan; awas nanti kita sampai ke jembatan.

Tanda-tanda ini lepas daripada kenyataan (persimpangan, jembatan) dan hanya berdasarkan semacam kontrak, semacam persetujuan yang dibuat-buat menurut kemauan kita sendiri. Bukan demikianlah sabda. Sabda adalah gagasan yang telah menjelma. Maka, seperti manusia yang utuh itu mengatasi badan dan jiwanya masing-masing, demikian juga sabda itu mengatasi gagasan saja.

Dari sebab itu tak mungkinlah suatu bahasa menggantikan bahasa lain, seperti jiwaku tak mungkin menitis dalam badan lain. Andaikata hal ini mungkin, maka ekspresiku, gerak-gerikku pasti akan sangat berlainan, lagi pula jiwaku itu akan menyesuaikan diri kepada badan lain itu, atau sebaliknya badan itu digembleng menjadi badanku sendiri.

Tentu saja, orang-orang yang memakai bahasa yang berbeda-beda, toh dapat saling mengerti maksudnya, sehingga buku-buku dapat diterjemahkan dari bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain. Sama halnya dengan orang-orang yang mempunyai kepribadiannya sendiri-sendiri toh dapat saling bergaul dan kawin. Tetapi ini tidak berarti, bahwa bahasa-bahasa itu hanya merupakan rangkaian topeng-topeng saja, yang akhir-akhirnya menutupi gagasan yang sama. Bila Juan a Croce, mistikus Spanyol itu, berkata “noche”, maka isinya berlainan dengan “Nacht”nya Nietzsche misalnya atau “malam”nya Chairil Anwar. Bila Paulus berbicara tentang “agape”, maka tidak hanya penerapannya saja yang berbeda dengan “love”nya orang-orang Inggris dan “cinta”nya orang Indonesia.

Terdapat sabda-sabda yang memisahkan, dan sabda-sabda yang menyatukan; sabda-sabda yang dengan seenaknya dapat kita rangkaikan atau tetapkan isinya, dan sabda-sabda yang tiap-tiap kali seakan-akan lahir kembali karena sesuatu mukjizat, segar bugar harum semerbak. Terdapat kata-kata yang meleburkan keseluruhan untuk lebih menjelaskan satu bagian saja, dan kata-kata yang bagaikan seorang empu mengucapkan mantra-mantra dengan khidmat. Terdapat kata-kata yang dengan terang menyoroti sebagian saja dari kenyataan, dan kata-kata yang menjadikan kita bijaksana karena mampu memperdengarkan macam-macam nada dalam satu petikan kecapi. Terdapat pula sabda-sabda yang menerangi suatu benda dari dalam sehingga samudera kenyataan tanpa batas terlibat melaluinya. Sabda-sabda ini mirip dengan keong-keong, yang betapa kecil pun, mampu memperdengarkan gemuruh samudera raya bila dipasang pada telinga. Kata-kata itu menerangi kita, bukan kita yang menerangi kata-kata. Kata-kata itu mempunyai kekuasaan terhadap kita karena merupakan karunia dari Tuhan, bukan barang buatan manusia, sekalipun sering disampaikan kepada kita melalui manusia.

Kata-kata kategori pertama memang jelas, karena bersifat rata dan datar, tanpa lekuk-liku. Kata-kata ini memuaskan akal budi. Dengan kata-kata ini barang-barang dan benda-benda dapat kita kuasai. Kata-kata kategori yang kedua tampaknya gelap, tetapi mampu menelaah jurang-jurang kenyataan. Kata-kata ini timbul dari hati sanubari dan berkumandang dalam madah-madah.

Kata-kata ini membuka pintu gerbang terhaap karya-karya agung dan menentukan tentang masa-masa abadi. Kata-kata inilah, yang timbul dari hati sanubari, yang menguasai kita, yang menyatukan, yang memuliakan, yang dikaruniakan oleh Tuhan — kata-kata ini ingin kusebut kata-kata purba. Sedangkan kata-kata kategori pertama dapat kita sebut kata-kata bikinan, kata-kata teknis, kata-kata kegunaan.

Tentu saja, tidak semua kata dapat kita bagi-bagikan demikian saja. Pembagian ini lebih mirip dengan semacam nasib mengenai kata-kata: nasib yang memuliakan dan nasib yang menghiaskan, nasib yang mengangkat dan merendahkan, yang menyemangatkan dan membekukan — seperti juga terjadi dalam kalangan manusia.

Di sini kita tidak berbicara mengenai kata-kata yang telah mati, dan yang telah kita simpan dalam kamus-kamus bagaikan kupu-kupu dalam kotak. Yang kita maksudkan yaitu kata-kata yang hidup, yang kita pakai dalam pergaulan sehari-hari, dalam kalimat-kalimat, pidato-pidato, dan nyanyian-nyanyian. Kata-kata itu mempunyai sejarahnya. Dan seperti dalam sejarah umat manusia, maka juga dalam sejarah ini hanya seorang saja yang menguasainya, yaitu Tuhan. Bahkan menurut anggapan orang- orang Kristen, Tuhan sendiri pernah masuk ke dalam sejarah, ketika dalam wujud kemanusiaan-Nya Ia mengucapkan kata-kata serupa itu dan mencatatkannya sebagai sabda-Nya sendiri.

Tak terbilang jumlah kata yang sekadar dengan pemakaiannya oleh manusia lalu meningkat menjadi kata-kata purba, atau seperti sering terjadi, merosot menjadi kata-kata kegunaan saja.

Bila seorang penyair atau si miskin dari Assisia mengucapkan kata “air” itu, maka isinya lebih padat dan asli daripada H2O-nya seorang ahli kimia dalam laboratorium. Air itu, menurut suatu ucapan Goethe, mirip dengan jiwa manusia. Hal ini tak dapat kita katakan mengenai H2O. Air yang dilihat oleh manusia, yang dipuji oleh sang penyair bukanlah semacam peningratan terhadap airnya seorang ahli kimia, seolah-olah air dalam laboratorium itu
merupakan air sejati. “Air”-nya seorang ahli kimia lebih bersifat semacam perasaan teknis terhadap airnya manusia. Dalam peristilahan kimia suatu kata purba telah merosot menjadi istilah teknis belaka, dan dalam kemerosotanya sebagian daripada kodratnya telah hilang. Maka dalam riwayat istilah ini tecerminlah riwayat seluruh umat manusia beribu-ribu tahun lamanya.

Jangan kita secara tolol lalu berkata: apa gunanya kita ambil pusing mengenai semuanya ini. Padat tidaknya seluruh kata, inilah setali tiga uang. Asal kita maklum dengan jelas, apakah sebetulnya isi kata itu, maka semua kata sama derajatnya. Lain kata, asal kita tahu akan definisinya.

Tetapi justru di sini kita berhadapan dengan kesukaran- kesukaran yang maha berat, karena kata-kata purba itu tak dapat diuraikan dalam sebuah definisi. Dapat saja diuraikan, tetapi dengan mematikannya. Ataukah ada seorang yang berpendapat bahwa segala-galanya dapat didefiniskan? Hal ini adalah mustahil.

Menguraikan sebuah kata dengan membeberkan definisinya berarti menjajarkan kata-kata baru, sehingga akhirnya kita harus berhenti pada kata-kata yang tak dapat dijelaskan lagi. Inilah kata-kata purba yang merupakan sendir dasar bagi kehidupan rohani kita. Kata-kata ini sudah tersedia. Tak dapat dibikin semau-maunya, tak dapat diiris-iris menjadi sebuah definisi yang jelas.

Tetapi, mungkin diutarakan, alasan ini sangat kurang jelas, kabur. Tentu saja, jalan pikiran yang memecahbelahkan kenyataan sering lebih jelas. Namun, lebih benarkah juga, lebih sesuai dengan kenyataan? Apakah “ada” itu jelas? Tentu, jawab seorang yang suka mengobrol, ada itu bukan yang tidak ada.

Tetapi, apakah gerangan tidak ada itu? Kuntum, malam, bintang dan hari, akar dan sumber, angin, senyum, bumi, asap, cium, napas, kilat, dan sepi — itulah beberapa saja dari sekian banyak kata purba yang dipakai oleh para penyair dan ahli pikir. Dalam setiap kata purba terbukalah bagi kita sebuah pintu yang mengajak kita untuk menelaah samudera kenyataan tanpa batas. Kata-kata purba itu, berdampingan dengan artinya yang harafiah, mengandung pula arti yang rohani, yang spiritual, maka tanpa arti ini arti harafiah juga kehilangan isinya. Lain kata, kata-kata purba itu terletak pada perbatasan alam spiritual dan alam material. dengan demikian mencerminkan kedwitunggalan manusia itu pula.

Adapun satu sifat dalam kata-kata purba itu yang tak boleh kita lupakan: kata purba itu menghadirkan dengan sesungguhnya barang yang diisyaratkannya. Tentu saja, cara kehadirannya berbeda-beda menurut macam-macam kenyataan yang dipanggil dan kesaktian kata itu. Tetapi setiap kali suatu kata purba diucapkan, maka barang yang dimaksudkan lalu mendekati si pendengar. Bila aku berkata “pohon”, maka bukan aku saja yang menguasai pohon itu, tetapi pohon sendiri juga memasuki duniaku, maka dengan demikian keadaannya bertambah kaya dan padat. Sebuah barang yang sebelumnya mati, setelah dinamakan, lalu seakan-akan diangkat ke dunia manusiawi, dunia rohani, maka dengan demikian memperoleh tingkat kenyataan yang lebih padat, apalagi bila panggilan itu disertai dengan penuh perasaan dan cinta kasih.

Kenyataan ini terutama berlaku dalam dunia antarmanusia, dan pada tingkat yang jauh lebih padat dalam hubungan antara makhluk dan Tuhan. Bahwa aku dimaklumi, dikenal dan dicintai sungguh berarti, bahwa hidupku bertambah kaya. Dan justru karena aku dicintai Tuhan dan dipanggil dengan namaku sendiri oleh Tuhan, maka aku lalu mulai berada. Dunia material pun mengandung kerinduan untuk dipanggil oleh manusia, untuk dimaklumi, bahkan juga untuk dicintai, untuk diberi nama. Dengan diberi nama, maka barang itu keluar dari kegelapan, memasuki lingkaran terang benderang, dunia manusia, dan dengan demikian mencapai kesempurnaannya.

Hal ini khusus berlaku bagi para penyar. Mereka mempunyai kesaktian yang ajaib, sehingga barang-barang biasa pun lantas menjadi cemerlang setelah disuarakan oleh syair seorang penyair, karena pernah disentuh oleh sabda sang penyair. Dengan sabdanya, sang penyair itu memanggil kenyataan dunia ini supaya tampil ke depan, keluar dari gua-gua yang gelap, lalu masuk ke dalam dunia manusia yang terang benderang.


Sumber: Maman S Mahayana (ed.); Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam; Badan Bahasa; 2017; dari: Saksi Budaya, (PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1975).

Iklan