Puisi Khalish Abniswarin: Ode Seseorang yang Menerbitkan Buku Puisi di Awal Bulan Puasa

Khalish Abniswarin
Ode Seseorang yang Menerbitkan Buku Puisi di Awal Bulan Puasa

Di bulan ini perut yatim piatu
Amarah dan nafsu adalah ibu tiri jahat yang layak didurhakai.

Senja makin merah.
Kau kunyah rakus sepiring marah dan kelaparan.
Selepas azan
Perutmu sesak kenyang dengan puisi dan kesabaran.

Ini bulan yang bimbang
Di ketiakmu kau kepit sejumlah rincian tagihan utang
Dan
namamu  ditulis sebagai satu dari delapan
Pemungut paling berhak
Dua setengah kilogram kata-kata yang berserakan.

Ini bulan yang rindang.
Meski ditebang lapar berkali-kali.
Bulan itu bulan puisi.
‘Tak ada puisi yang turun dari langit’.
Itu suara Tuhan atau hanya bunyi petasan?
Di malam ganjil akhir bulan
Puisi dan sayap malaikat turun runtuh berguguran.

Sebentar lagi lebaran.
Di depan gerbong yang penuh dengan penyair berdesakan.
‘Kau juga ingin pulang atau sekedar jalan-jalan?’
Ia mengangguk pelan.
Tiba-tiba ia merasa memiliki kampung halaman.


Khalish Abniswarin adalah penyair bermukim di Handil Baru, Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara, Kaltim. Tahun ini menerbitkan Sujud Sebelas Bintang, kumpulan puisi pertamanya,

Iklan