Puisi Muhammad Sadli: Oda bagi Penjinak Macan Dahan

Muhammad Sadli
Oda Bagi Penjinak Macan Dahan

Cita-cita adalah musuh terberat,
Ia serupa macan dahan dari perih denyut hutan.

Akulah bimbang yang melompat dari dahan ke dahan
Pohonan yang tak lagi mencakar akar.

Penyair itu, sangat tahu ngeri jiwaku.
Ia menjerat aku dalam panggung jiwa yang mempesona.
Lalu aku mengutuk diri di atas panggungku sendiri.
Menjelma macan dahan yang beratraksi dari panggung ke panggung.
Menerkam segala bimbang sebagai jalang yang terlambat datang.

Dari rahim hutan yang tumbang, jejak yang berserak.
Menjejaki kota ke kota, mencakar dan menanda dimana diri berada.
Menerka reka adegan, meneriakkan segala keresahan
Mencipta mantra kepuncak sepi diantara riuh tepukan.

Seribu pasang mata lapar mengintai sejumput kesalahan.
Aku mengelak dari seribu penghakiman.
Seribu peluru membidik mantap pada jantung.
Aku belum mau menyerah pada musuh bebuyutan.

Di sebuah panggung yang tak mau berakhir,
Tuhan datang, berbincang sebagai sesama sutradara.
“Hei, Tuhan, izinkan aku bermain di panggung sandiwaramu.
Aku belum mau menyerah!

Di kandang sunyi, aku mengajari macan muda cara mengaum,
Menerkam bimbang, menerjang minda keterasingan.
Di kandang sunyi, aku mengutuk diri kembali.
Walau tak pernah jinak macan dalam diri. Dalam mimpi.

Sei Raden, Mei 2017

 


Muhammad Sadli adalah penulis lakon, sutradara semasa kuliah. Kini menggerakkan komunitas kreatif MACAN DAHAN, di Sei Raden, Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara, Kaltim, desa kelahirannya, sambil memelihara ayam.

Iklan